NovelToon NovelToon
Malam Jum'At Keliwon

Malam Jum'At Keliwon

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.

Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: TAMU TAK DIUNDANG

Matahari pagi itu bersinar terang, menyinari seluruh penjuru Desa Karang dewo. Sinar keemasan itu menembus celah-celah daun pohon kelapa, menciptakan pola bercak-bercak cahaya di atas tanah yang masih basah. Secara visual, pemandangan di depan rumah Raga terlihat begitu damai, begitu indah, dan sangat biasa. Burung-burung berkicau riang, beberapa warga sudah terdengar sibuk beraktivitas di sawah atau di halaman rumah masing-masing.

Namun, bagi Raga dan Mbah Joyo, dunia di sekitar mereka terasa berbeda. Pemandangan yang sama itu kini terasa asing dan penuh ancaman. Jejak-jejak kaki aneh yang berlumuran darah itu masih tercetak jelas di tanah didepan rumah, menjadi bukti nyata bahwa apa yang terjadi semalam bukanlah sekedar mimpi buruk, melainkan kenyataan pahit yang harus mereka hadapi.

Raga berjongkok di dekat salah satu bekas tapak kaki itu. Ia menyentuh noda hitam kemerahan yang sudah mulai mengering di tanah. Tangannya gemetar. Teksturnya lengket dan berbau anyir. Itu benar-benar darah.

"Darah manusia kah itu, Kek?" tanya Raga tanpa menoleh, suaranya terdengar parau.

Mbah Joyo berdiri tegak di sampingnya, memandangi jejak-jejak itu dengan tatapan tajam. Wajah lelaki tua itu tampak lebih tua dari biasanya, seolah beban berat baru saja ditumpahkan di pundaknya semalam.

"itu Bukan darah manusia, Nak," jawab Mbah Joyo pelan. "Darah mereka berbeda. Baunya lebih tajam, lebih menyengat, dan rasanya itu dingin. Itu adalah darah dari makhluk yang tidak hidup, tapi juga tidak mati sepenuhnya. Makhluk di dimensi lain."

Raga berdiri dan menatap ke arah hutan jati yang lebat di ujung desa. Pohon-pohon besar di sana tampak menjulang tinggi dengan batang-batang yang gelap dan kusam. Di sana, di balik rimbunnya dedaunan, ia merasa seolah ada ribuan mata yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan.

"Kenapa mereka begitu membenci kita, Kek?" tanya Raga lagi. "Apa salah kita? Kita cuma tinggal di sini, berusaha hidup dengan tenang."

Mbah Joyo menghela napas panjang, lalu duduk di tangga rumah. Ia menepuk-nepuk tempat di sebelahnya, menyuruh Raga duduk.

"Mereka tidak membenci kita, ga. Tapi mereka... iri. Sangat iri," jelas Mbah Joyo. "Kita punya tubuh fisik, bisa merasakan hangat nya sinar matahari, bisa makan, bisa berkembang biak, dan punya kehidupan yang nyata. Sedangkan mereka? Mereka hanya bayang-bayang. Hawa yang tak berbentuk nyata, terperangkap dalam kegelapan dan kesendirian selama berabad-abad lamanya."

Lelaki tua itu menatap cucunya lekat-lekat.

"Maka dari itu, mereka selalu ingin mengambil alih. Ingin masuk ke dalam tubuh kita, ingin merasakan apa yang kita rasakan. Atau setidaknya, mereka ingin kita merasakan penderitaan yang sama seperti yang mereka rasakan. Mereka ingin teman sebangku."

Raga merinding mendengarnya. Bayangan kejadian semalam kembali berputar di kepalanya. Suara ibunya yang memelas, suara gamelan yang mencekam, dan bayangan kaki di bawah pintu.

"Terus apa yang harus kita lakukan dengan jejak ini, Kek? Kalau warga desa melihatnya, pasti akan heboh dan bertanya-tanya," kata Raga khawatir.

"Kita harus menghapusnya. Sekarang juga," tegas Mbah Joyo. "Tapi tidak boleh cuma disapu atau ditimbun tanah. Itu tidak akan mempan. Kita harus menetralkan energinya dulu agar mereka tidak bisa menelusuri jejak ini dan kembali dengan mudah."

Mbah Joyo lalu menyuruh Raga mengambilkan air di dalam gentong yang dicampur dengan daun pero noto dan garam kasar. Lelaki tua itu kemudian memercikkan air tersebut ke seluruh area bekas jejak kaki sambil melantunkan mantra-mantra kuno yang tidak dimengerti oleh Raga. Suaranya rendah, berirama, dan penuh wibawa.

Setelah dirasa cukup, barulah Raga menyapu dan menimbun tanah baru di atas bekas jejak kaki itu hingga rata kembali. Jejak fisiknya hilang, tapi rasa takut dan ketegangan itu tetap melekat kuat di udara.

 

Siang harinya, suasana desa kembali normal. Raga berusaha bersikap biasa saja saat bertetangga, tapi hatinya tetap waspada. Ia sadar betul bahwa bahaya itu tidak hilang hanya karena matahari bersinar. Mereka hanya bersembunyi, menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Menjelang sore, saat matahari mulai condong ke barat dan langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, seseorang datang berkunjung ke rumah mereka.

Terdengar suara derap kaki dan derit gerbang kayu depan dibuka.

"Assalamu’alaikum..." suara seorang pria terdengar dari halaman.

Raga yang sedang duduk di beranda segera menoleh. Di sana, terlihat seorang pria paruh baya mengenakan sarung dan kemeja putih bersih. Wajah nya tampak ramah, berkulit gelap, dan memiliki kumis yang cukup lebat.

Itu Pak Rukun Tetangga, tetangga sekaligus pemimpin lingkungan di desa itu.

"Wa’alaikumsalam, Pak Re Te," jawab Raga cepat, lalu bangkit berdiri menyambut. "Monggo, Pak. Masuk."

Mbah Joyo yang sedang duduk memijat kakinya juga menoleh. "Eh, Bapak Re Te. Monggo... monggo pak lebet (masuk)."

Pak RT tersenyum ramah lalu berjalan mendekat. "Lagi ngapain, Mbah? Sehat semua?"

"Alhamdulillah, sehat Pak. Cuma lagi istirahat saja," jawab Mbah Joyo. "Ada keperluan apa Bapak ke sini?"

Pak Re Te duduk di bangku kayu yang disodorkan Raga. Ia tampak berpikir sejenak, lalu menatap Mbah Joyo dengan wajah serius.

"Begini Mbah, saya dapat laporan dari beberapa warga. Katanya semalam... suasana di sekitar sini agak aneh ya? Ada yang dengar suara gamelan, ada juga yang lihat ada cahaya aneh melayang-layang di dekat hutan."

Jantung Raga berdegup kencang. Ternyata tidak hanya mereka yang merasakannya.

Mbah Joyo tampak tenang, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oh ya? Ya mungkin angin kali ya Pak. Atau mungkin suara dari rumah warga lain. Soalnya saya dan Raga juga tidur cepat kok semalam, tidak dengar apa-apa."

Raga terkejut mendengar kakeknya berbohong. Tapi ia segera mengerti, itu demi kebaikan bersama. Tidak baik kalau hal ini diperbesar, bisa-bisa desa menjadi panik dan terjadi kerusuhan.

Pak RT mengangguk-angguk, tapi matanya tampak menyelidik. "Oh begitu ya. Tapi ada satu hal lagi yang bikin saya bingung, Mbah."

"Apa itu Pak?"

"Tadi pagi, saat saya lewat sini, saya lihat ada jejak-jejak aneh di tanah depan rumah ini," kata Pak Re Te pelan. "Besar sekali jejaknya. Dan... sepertinya ada bercak darah juga. Apa benar itu jejak hewan besar?"

Suasana seketika menjadi hening. Angin sore berhembus pelan, membuat daun-daun pohon berdesir. Raga menelan ludah, ia tidak berani menjawab.

Mbah Joyo tersenyum tipis. "Ah itu Pak, tadi malam ada banteng liar yang turun dari hutan kayaknya. Kakinya mungkin terluka kena duri makanya ada darahnya. Sudah saya bersihkan tadi pagi, takutnya warga pada takut."

"Oh banteng ya..." Pak RT tampak ragu, tapi ia tidak mempersoalkan lebih jauh. "Ya sudah, kalau begitu. Saya cuma ingin memastikan keadaan aman saja. Soalnya kan habis Jumat Kliwon, orang-orang desa kan masih percaya hal-hal begituan."

"Tenang saja Pak Re Te, aman kok," jawab Mbah Joyo meyakinkan.

Setelah berbasa-basi beberapa menit, akhirnya Pak RT pamit pulang. Raga mengantar sampai ke gerbang.

"Monggo Pak, hati-hati," kata Raga.

"Iya Rag, kamu juga jaga diri baik-baik ya," balas Pak RT sambil melangkah pergi.

Raga kembali ke beranda dan duduk di sebelah kakeknya. "Kek, kenapa Kakek berbohong soal banteng? Kalau Pak RT tahu yang sebenarnya kan bisa minta tolong bantuan atau..."

"Jangan!" potong Mbah Joyo tegas. "Jangan pernah ceritakan yang sebenarnya pada sembarang orang, ga. Orang biasa tidak akan mengerti. Mereka malah akan menganggap kita gila, atau malah menganggap rumah ini angker dan membawa sial. Lebih buruk lagi... kalau kita ceritakan, kita justru akan menarik perhatian makhluk itu lebih banyak lagi. Mereka suka kalau ada yang membicarakan mereka."

Raga mengangguk paham meski masih merasa cemas.

"Sudah, sekarang masuk. Siapkan lilin dan dupa. Matahari sebentar lagi tenggelam. Malam ini... kita harus lebih waspada dari semalam," perintah Mbah Joyo.

Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Pintu ditutup tapi belum dikunci. Raga mulai menyiapkan segala keperluan sesuai perintah kakeknya. Namun, saat ia sedang mengambil korek api di atas meja dapur, ia menyadari sesuatu yang aneh.

Suasana di luar tiba-tiba menjadi sangat sunyi. Tidak ada suara ayam berkokok, tidak ada suara anak-anak bermain, tidak ada suara radio tetangga. Semua suara itu hilang seketika.

Dan yang lebih aneh lagi... langit di luar sana berubah warna menjadi sangat gelap dalam waktu yang sangat singkat. Seolah-olah malam datang lebih cepat dua jam dari jadwalnya.

"Kek..." panggil Raga pelan. "Kenapa jadi gelap sekali?"

Mbah Joyo yang sedang duduk di ruang tengah menoleh kaget. Ia menatap ke arah jendela. Wajahnya berubah pucat pasi.

"Bukan malam yang datang lebih cepat, Rag..." bisik Mbah Joyo dengan suara bergetar. "Tapi... awan hitam itu yang menutupi matahari. Lihat!"

Raga menoleh ke arah luar. Benar saja! Di langit, tepat di atas desa mereka, berkumpul awan hitam pekat yang sangat tebal. Bentuknya tidak seperti awan biasa, melainkan berputar-putar membentuk seperti pusaran raksasa. Dan dari dalam awan itu... terlihat kilat-kilat merah menyala tanpa disertai suara guntur.

Dan di tengah suasana yang mencekam itu, terdengar suara langkah kaki lagi.

Tap... tap... tap...

Bukan dari arah jalan raya. Tapi dari arah belakang rumah. Dari arah kebun belakang.

Suara langkah itu berat, lambat, dan semakin lama semakin dekat.

DhUuuM... DhuUuM... DhuuUM...

Seperti suara genderang perang.

Mbah Joyo segera berdiri, tangannya mencengkeram tongkat kayu jatinya dengan kuat. "Mereka datang lebih awal hari ini. Mereka tidak mau menunggu gelap total!"

Tiba-tiba, pintu belakang rumah bergetar hebat. Gemboknya berbunyi krek... krek... seolah didorong oleh kekuatan yang sangat besar dari luar.

"Raga! Ambil air doa! Segera percikkan ke semua pintu dan jendela!" teriak Mbah Joyo.

Raga berlari panik mengambil air di dalam botol bekas sirup yang sudah diberi doa oleh kakeknya. Namun, sebelum ia sempat bergerak, sesuatu yang mengerikan terjadi.

Dinding kayu di sebelah pintu utama tiba-tiba melengkung ke dalam! Kayu-kayu yang tebal dan keras itu melengkung seperti kertas yang ditekan oleh benda berat!

Dan di situ, di antara celah-celah papan dinding yang mulai renggang, mereka melihatnya.

Sebuah mata.

Mata yang besar, bulat, dan berwarna merah menyala tanpa putih mata. Mata itu mengintip ke dalam rumah, menatap lurus ke arah Raga dan Mbah Joyo.

Dan suara berat, serak, dan dalam terdengar bergema dari segala arah, seolah keluar dari dinding, dari lantai, dan dari langit-langit sekaligus.

"SUDAH WAKTUNYA KALIAN MASUK... KE DUNIA KAMI!!!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!