Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ORANG YANG TIDAK BISA DISELAMATKAN
Hujan deras mengguyur kota sejak dini hari.
Rintik-rintik air yang jatuh menghantam kaca jendela apartemen yang retak, menciptakan ketukan monoton yang konstan di tengah keheningan. Tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bisa terlelap malam itu. Kepergian Joko beserta lima orang lainnya meninggalkan lubang yang tak kasat mata, namun sisa-sisa keberadaan mereka yang hilang mendadak terasa begitu membebani ruangan.
Kelompok mereka kini semakin mengecil. Dan yang lebih mengkhawatirkan, fondasi kepercayaan yang selama ini merekatkan mereka perlahan-lahan mulai retak, menyisakan kecurigaan yang sunyi.
Damar berdiri mematung di dekat jendela, kedua tangannya mendekap erat senapan laras panjang miliknya. Matanya menyipit, waspada mengamati bentangan jalanan sepi yang samar tertutup tirai hujan di bawah sana.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan kelompok Joko. Tidak ada jejak kaki, tidak ada riak pergerakan—kosong. Seolah-olah kota mati ini telah menelan mereka bulat-bulat tanpa sisa.
"Menurut lo... mereka masih hidup?"
Suara serak Alya memecah kesunyian dari arah belakang.
Damar mengembuskan napas berat, matanya tetap terpaku ke luar. "Gak tahu."
"Itu bukan jawaban, Dam."
Damar memutar tubuhnya. Alya berdiri tak jauh darinya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Gurat kelelahan tercetak jelas di wajah gadis itu. Sebenarnya, bukan hanya Alya. Mereka semua sudah berada di titik nadir.
"Gue cuma berusaha realistis, Al," sahut Damar pelan.
Alya melangkah mendekat, ikut melemparkan pandangannya menembus kaca jendela yang buram oleh embun. "Kalau tiba-tiba mereka balik?"
"Ya kita terima lagi."
"Kalau mereka gak pernah balik?"
Damar bungkam. Pertanyaan itu dibiarkan menggantung di udara, karena jauh di lubuk hati, mereka berdua sudah tahu apa kemungkinan terbesar yang menanti orang-orang yang nekat berkelana di luar sana.
Begitu pagi menyapa, Kapten Rendra langsung menginstruksikan seluruh anggota untuk berkemas. Apartemen ini terlalu terbuka dan rawan, bukan tempat yang ideal untuk bertahan lama. Apalagi setelah insiden bentrokan dengan para tentara yang terinfeksi kemarin, mereka tidak boleh lagi meremehkan risiko sekecil apa pun.
Usai menyantap sarapan seadanya—beberapa keping biskuit kering yang jatahnya dikurangi dan beberapa teguk air bersih—mereka mulai bergerak cepat. Ransel diperiksa ulang, senjata dipastikan siap pakai, dan sisa peluru didistribusikan secara merata.
Semua aktivitas itu dilakukan dalam keheningan yang pekat. Atmosfer hangat yang dulu sering tercipta saat mereka masih mendiami markas lama kini menguap tanpa bekas.
Rania bahkan tampak jauh lebih murung dari biasanya. Bocah perempuan itu hanya duduk meringkuk di sudut ruangan sambil mendekap erat sebuah boneka beruang lusuh—satu-satunya harta benda yang berhasil ia selamatkan dari markas mereka yang hancur.
Pak Rangga berlutut di samping putrinya, mengusap puncak rambut Rania dengan gerakan lembut yang menenangkan. "Kita bakal baik-baik aja, Sayang. Ayah janji."
Rania mengangguk kecil, namun binar di matanya sama sekali tidak menyiratkan keyakinan. Menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan, Damar merasakan ada sebongkah batu tak kasat mata yang menekan dadanya. Sudah terlalu lama mereka hidup dalam pelarian seperti ini, melompat dari satu bencana ke petaka berikutnya tanpa pernah tahu kapan semua kegilaan ini akan berakhir.
Menjelang siang, mereka akhirnya melangkah meninggalkan area apartemen. Rute perjalanan yang dipilih Kapten Rendra kali ini memotong kawasan perumahan tua di sisi barat distrik. Berdasarkan peta navigasi lama yang mereka miliki, daerah ini relatif sepi dan jarang tersentuh oleh pergerakan masif para *infected*.
Mereka bergerak dalam formasi siaga yang ketat. Kapten Rendra memimpin di garda terdepan sebagai pembuka jalur, disusul Damar dan Alya yang mengapit sisi tengah. Pak Rangga berjalan persis di belakang mereka demi menjaga Rania, sementara Rudi mengambil posisi paling belakang untuk memastikan tidak ada ancaman yang mengendap-endap dari arah buritan.
Perjalanan melintasi rumah-rumah berlumut itu berlangsung tanpa kendala selama hampir dua jam. Semuanya terasa begitu tenang. Namun, di dunia yang sudah runtuh seperti sekarang, ketenangan yang berlebihan justru sering kali menjadi pertanda dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kekacauan itu sendiri.
Saat mereka hendak berbelok melewati sebuah gang sempit di antara deretan rumah tua yang terbengkalai, Damar mendadak mengepalkan tangan ke udara. Isyarat mutlak untuk berhenti.
Seketika itu juga, seluruh anggota kelompok mengunci pergerakan mereka. Tubuh mereka menegang.
"Ada apa, Dam?" bisik Alya hampir tak terdengar, jemarinya sudah siap di atas pelatuk senapan.
Damar tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan menunjuk ke arah permukaan aspal di depan mereka menggunakan ujung laras senjatanya.
Bercak darah. Warnanya masih merah pekat dan tampak segar, membentuk sebuah jejak seretan yang memanjang menuju sebuah rumah berlantai dua yang daun pintu depannya menganga lebar.
Kapten Rendra melangkah mendekat, berjongkok sesaat untuk memeriksa cairan kental tersebut sebelum mendongak dengan kening berkerut. "Masih baru."
Rudi menelan ludah dengan susah payah, wajahnya mendadak pias. "Kelompok... Joko?"
Tidak ada yang bisa memastikan. Namun, logika dasar mereka langsung mengarah pada satu kesimpulan yang sama. Rendra memberikan kode tangan agar mereka bergerak merapat.
Dengan senjata yang terarah lurus ke depan, mereka melangkah seringan mungkin mendekati rumah tersebut. Detak jantung masing-masing berpacu gila-gilaan, berdentum keras di dalam dada.
Rumah itu terasa begitu sunyi—bahkan terlalu sunyi untuk sebuah tempat yang baru saja dialiri darah. Begitu kaki mereka melintasi ambang pintu dan menginjak ruang tamu, bau anyir yang pekat dan menyengat langsung menusuk indra penciuman, memicu rasa mual yang hebat.
Damar merasakan otot-otot perutnya menegang seketika. Permukaan lantai semen di hadapan mereka dipenuhi oleh cipratan darah yang berantakan. Kursi-kursi kayu terjungkal patah, sementara dinding ruang tamu dipenuhi bekas benturan keras. Jelas telah terjadi sebuah pergulatan yang sangat brutal di tempat ini beberapa saat lalu.
Alya refleks menutup hidung dan mulutnya dengan sebelah tangan. "Astaga..."
Langkah mereka membawa mereka lebih dalam ke area dapur, dan di sanalah mereka akhirnya menemukan jawabannya.
Sesosok tubuh tergeletak kaku di dekat meja konter dapur. Itu adalah salah satu pria dari kelompok yang pergi bersama Joko semalam. Kondisinya sangat mengenaskan—tubuhnya terkoyak hebat dengan luka-luka fatal yang memastikan bahwa nyawanya sudah melayang seketika.
Sebelum Rania sempat menangkap pemandangan mengerikan itu, Pak Rangga dengan cekatan langsung memutar tubuh putrinya dan mendekap wajah bocah itu ke dadanya.
Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi sangat berat dan menekan.
"Kita telat," gumam Damar, suaranya tercekat di tenggorokan.
Kapten Rendra berlutut di samping jasad tersebut, dengan hati-hati memeriksa beberapa bagian tubuh yang mengalami kerusakan parah. Namun, sedetik kemudian, raut wajah perwira itu berubah drastis.
"Ada yang gak beres di sini," cetus Rendra dingin.
Semua orang langsung menaruh perhatian penuh. Jari Rendra menunjuk ke arah lengan atas korban, memperlihatkan sebuah bekas luka yang polanya sangat spesifik.
Itu adalah bekas gigitan manusia. Gigitan dari seorang *infected*.
Namun, bukan fakta keberadaan luka itu yang membuat Rendra tertegun, melainkan kondisi jaringannya. Pinggiran luka tersebut sudah mulai membusuk dan menghitam, mengering dengan noda darah lama yang sudah berkerak.
"Luka ini udah berumur beberapa hari," lanjut Rendra, suaranya bergaung berat di dapur yang sunyi. "Bukan luka baru dari serangan hari ini."
Damar langsung menangkap arah pembicaraan Rendra, matanya membelalak tak percaya. "Maksud lo..."
Rendra mengangguk pelan, membenarkan spekulasi mengerikan tersebut. "Pria ini sudah digigit bahkan sebelum kelompok Joko memutuskan untuk memisahkan diri semalam."
Keheningan yang dingin seketika menyelimuti mereka. Jika analisis Rendra akurat, itu berarti ada seseorang di antara mereka yang dengan sengaja menyembunyikan fakta fatal ini demi bisa terus bertahan di dalam kelompok. Kecurigaan yang selama ini mereka takuti kini terbukti nyata.
Mereka menguburkan jasad pria itu di halaman belakang rumah secara terburu-buru. Tidak ada upacara penghormatan, tidak ada kalimat doa yang panjang. Hanya ada keheningan yang kaku mengiringi tanah yang menguruk liang lahat. Dunia yang mereka tinggali sekarang sudah terlampau kejam untuk sekadar menyisakan kemewahan berupa prosesi perpisahan yang layak.
Setelah selesai, kelompok kembali melanjutkan perjalanan membelah rute barat. Namun, atmosfer di antara mereka kini bertransformasi menjadi jauh lebih suram dan dipenuhi ketegangan. Benak setiap orang dipaksa bergelut dengan sebuah pertanyaan menghantui yang sama:
*Jika pria dari kelompok Joko bisa menyembunyikan luka gigitannya, siapa lagi di antara mereka yang sedang melakukan kebohongan yang sama sekarang?*
Pertanyaan beracun itu terus menggantung tanpa jawaban sepanjang perjalanan, memicu pandangan-pandangan curiga yang saling melempar secara sembunyi-sembunyi. Dan hanya butuh waktu beberapa jam bagi mereka untuk akhirnya mendapatkan jawaban dari semesta.
Menjelang sore, kelompok berhasil menemukan sebuah bangunan klinik kesehatan kecil yang strukturnya masih cukup kokoh dan utuh untuk dijadikan tempat bermalam. Mereka segera membagi tugas—membersihkan ruang utama, memeriksa kekokohan kunci pintu, dan mengatur posisi tidur. Sebuah rutinitas bertahan hidup yang sudah terlalu sering mereka lakukan hingga terasa mekanis.
Di tengah kesibukan itu, telinga Damar menangkap sesuatu. Sebuah suara rintihan samar. Sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara deru angin dari luar.
Mengikuti intuisi jalangnya, Damar melangkah pelan memisahkan diri dari kelompok, menelusuri koridor pendek klinik hingga langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan penyimpanan obat yang pintunya sedikit renggang. Ia mendorong pintu itu perlahan.
Dan di sana, di sudut ruangan yang remang-remang, ia menemukan seseorang.
Salah satu *survivor* perempuan yang telah bersama mereka sejak masa-masa sulit di markas lama. Wanita berusia kepala tiga itu duduk meringkuk di atas lantai ubin yang dingin. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, wajahnya pucat pasi bagai mayat, sementara bulir-bulir keringat dingin membasahi dahi dan pelipisnya.
"Santi?" panggil Damar berbisik.
Wanita itu tersentak kaget, seolah baru saja disengat listrik. Sepasang matanya membelalak penuh teror saat mendapati sosok Damar di ambang pintu. "Da—Damar..."
"Kenapa? Sakit?"
"Enggak... gak apa-apa. Gue gak apa-apa."
Jawaban itu keluar terlalu cepat, nadanya bergetar hebat dan terdengar sangat dipaksakan. Kecurigaan Damar langsung meroket tajam. Ia melangkah masuk, memperkecil jarak. "Santi, jujur sama gue."
Santi menggelengkan kepalanya panik, tubuhnya semakin merapat ke dinding seolah ingin menghilang di sana. "Tolong, Dam... pergi dari sini. Jangan di sini."
"Santi."
"Gue mohon, Dam... pergi!" Suara wanita itu pecah, berubah menjadi isakan tertahan yang menyedihkan.
Namun, di detik itulah pandangan mata Damar terkunci pada satu titik. Ada noda merah tua yang merembes, membasahi bagian bawah jaket tebal yang dikenakan Santi. Insting Damar seketika menuntut jawaban buruk. Jantungnya terasa mencelos jatuh ke dasar perut.
"Santi... buka jaket lo."
Santi memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata kini mengalir deras, membasahi pipinya yang kuyu. Dengan jemari yang gemetar hebat menahan ketakutan yang luar biasa, ia perlahan-lahan menyibak ritsleting dan lapisan jaketnya.
Sebuah luka gigitan terpampang jelas di bagian samping perutnya. Jaringan kulit di sekitar luka itu sudah mulai membusuk, berubah warna menjadi kehitaman yang mengerikan.
Tubuh Damar membeku seketika. Seluruh sendinya seolah terkunci, dan dunia di sekitarnya mendadak berhenti berputar. "Sudah... berapa lama, San?"
Santi menangis tersedu-sedu, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lutut. "Tiga hari..."
Tiga hari. Itu berarti peristiwa jahanam itu terjadi bahkan sebelum markas utama mereka diserang.
"Gak mungkin..." gumam Damar lirih, melangkah mundur satu tapak.
"Gue takut, Dam... gue takut banget," isak Santi, suaranya terdengar begitu rapuh dan hancur. "Gue... gue gak mau mati kayak mereka..."
Damar kehilangan kata-kata. Lidahnya mendadak kelu, karena apa yang bisa ia ucapkan untuk menghibur seseorang yang sudah berada di ambang kematian? Mereka semua telah menyaksikan proses transformasi itu berulang kali dengan mata kepala sendiri. Tidak ada satu pun manusia yang pernah selamat atau kembali setelah gigi monster itu menembus kulit mereka. Tidak ada pengecualian.
Santi menggigit bibir bawahnya erat-erat, mencoba meredam volume tangisnya agar tidak memancing perhatian yang lain. "Gue pikir... gue pikir mungkin tubuh gue punya imun yang beda, Dam. Gue pikir mungkin gue bakal kebal..."
Damar terpaksa memejamkan mata, merasakan kepedihan yang mendalam menjalar di dadanya. Ia sangat memahami delusi itu. Harapan palsu yang lahir dari keputusasaan akut. Jika ia berada di posisi Santi sekarang, ia pun pasti akan mengutuk takdir dan mempercayai kebohongan yang sama demi bisa menipu kematian.
"Gue gak mau berubah jadi monster-monster sialan itu, Dam..."
Kalimat lirih itu menghantam kesadaran Damar jauh lebih telak daripada hantaman fisik apa pun. Sebab, bagi mereka yang masih tersisa di dunia mati ini, ketakutan terbesar yang sesungguhnya bukanlah akhir dari kehidupan itu sendiri. Melainkan fakta bahwa tubuh mereka akan diambil alih, membusuk, lalu bergerak memburu dan mencabik-cabik orang-orang yang selama ini mereka cintai.
Malam harinya, rahasia kelam itu tidak lagi bisa disembunyikan. Kabar mengenai kondisi Santi menyebar, dan persis seperti apa yang sudah diprediksikan oleh Damar sebelumnya, reaksi kelompok kecil mereka mengarah pada skenario terburuk.
"KITA HARUS USIR DIA DARI SINI SEKARANG JUGA!"
Rudi berteriak lantang, berdiri di barisan paling depan dengan napas memburu. Wajahnya tampak pucat pasi, dikendalikan sepenuhnya oleh rasa panik dan ketakutan yang primitif. "Lo semua mikir gak, sih?! Kalau malam ini dia tiba-tiba berubah pas kita semua lagi tidur, kita semua bakal mati konyol di tempat ini!"
"Tenang dulu, Rudi! Jaga mulut lo!" bentak Pak Rangga mencoba meredam kepanikan agar tidak menjalar ke *survivor* lain.
"TENANG KATANYA?!" Rudi membalas bentakan itu, jarinya menunjuk dengan gemetar ke arah pintu ruangan tempat Santi dikarantina. "Dia udah tergigit, Pak! Udah tiga hari! Dia itu bom waktu!"
Suasana di ruang tengah klinik berubah drastis menjadi zona penuh kecemasan. Tidak ada satu pun orang yang berani mendekati area koridor obat. Beberapa *survivor* bahkan secara sadar mulai menggeser posisi duduk mereka menjauh, mengemasi barang-barang mereka seolah-olah udara di sekitar mereka sudah terkontaminasi. Ketakutan, pada kenyataannya, selalu menular jauh lebih cepat daripada virus itu sendiri.
Kapten Rendra berdiri tegap di tengah ruangan, ekspresi wajahnya tampak sedingin es, namun sorot matanya menyiratkan beban yang sangat berat.
"Kita tunggu sampai pagi," ujar Rendra, memotong semua perdebatan dengan nada komandonya yang mutlak.
"Apa?! Lo gila, Kapten?!" seru Rudi tak percaya.
"Kita amati perkembangannya sampai fajar tiba," tegas Rendra lagi, menatap Rudi dengan pandangan mengintimidasi. "Tidak ada diskusi lagi soal ini."
Keputusan mutlak sang perwira berhasil memaksa ruangan kembali senyap. Namun, Damar yang berdiri di sudut gelap tahu benar; perintah Rendra malam itu tidak lebih dari sekadar taktik untuk menunda sebuah akhir tragis yang mustahil untuk mereka hindari.
Larut malam pun tiba, namun tak satu pun nyawa di dalam klinik itu yang berani membiarkan kesadaran mereka terenggut oleh kantuk. Semua orang terjaga dalam kecemasan masing-masing.
Damar memilih duduk bersandar di dinding lorong, tepat di luar pintu ruang perawatan tempat Santi dikunci dari luar. Di dalam sana, Santi terbaring sendirian di atas ranjang periksa yang dingin. Suhu tubuh wanita itu terus meroket tinggi akibat demam yang membakar memorinya. Dari balik celah pintu, sesekali terdengar suara isak tangis yang tertahan, disusul oleh gumaman doa-doa pendek yang dipanjatkannya dengan suara yang terus bergetar hebat.
Damar menundukkan kepala dalam-dalam, kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sangat membenci momen-momen seperti ini. Membenci ketidakberdayaan mereka yang nyata, membenci fakta bahwa mereka tidak bisa melakukan apa pun selain menonton rekan mereka perlahan-lahan lenyap, dan mengutuk dunia brengsek ini yang terus-menerus memaksa mereka untuk menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang harus dikorbankan.
Tiba-tiba, sebuah panggilan lemah terdengar dari balik dinding kayu pintu.
"Damar..."
Damar menarik napas dalam, lalu perlahan membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang remang-remang tersebut.
Santi menolehkan kepalanya perlahan, memaksakan sebuah senyuman lemah yang tampak sangat menyedihkan di wajahnya yang kini kian memucat dan dipenuhi urat-urat halus keunguan. "Gue... gue rasa waktu gue udah gak banyak lagi, Dam."
Damar memilih diam, tidak ingin memberikan konfirmasi yang akan menghancurkan sisa-sisa kemanusiaan wanita itu.
Santi mengalihkan pandangannya, menatap langit-langit klinik yang berdebu dengan tatapan kosong. "Sebelum semua kegilaan ini dimulai... gue sebenarnya seorang guru TK."
Damar tertegun sejenak. "Gue... belum pernah denger cerita itu."
Santi terkekeh kecil, sebuah tawa getir yang langsung disambung oleh helaan napas pendek yang berat. "Iya, ya? Gue emang jarang cerita soal masa lalu. Gue... gue kangen banget sama anak-anak murid gue, Dam. Gue kangen rumah gue yang dulu."
Air mata kembali menetes dari sudut mata Santi, mengalir melewati pelipisnya yang basah oleh keringat dingin. Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi dan hampa, menyisakan deru napas Santi yang kian pendek dan tersendat.
Santi kemudian memutar kepalanya kembali, menatap lurus ke dalam manik mata Damar. Tatapan itu tidak lagi dipenuhi oleh kepanikan, melainkan sebuah kepasrahan yang teramat dalam.
Dan dengan volume suara yang nyaris tenggelam oleh kesunyian, ia berbisik, "Kalau nanti... kesadaran gue akhirnya hilang dan gue berubah..."
Damar langsung tahu ke mana arah kalimat itu pergi, bahkan sebelum Santi sempat menyelesaikannya.
"...tolong, jangan biarkan gue menyakiti siapa pun di kelompok ini. Akhiri gue, Dam."
Permintaan terakhir itu menggantung lama di udara, terasa begitu dingin dan menusuk. Dan untuk pertama kalinya sejak wabah sialan ini merenggut seluruh peradaban manusia, Damar mendapati dirinya berdoa dengan sangat egois di dalam hati—berharap sebuah mukjizat yang mustahil tiba-tiba turun malam itu.
Sebab, jauh di dalam lubuk jiwanya yang terdalam, Damar sudah mengetahui satu kebenaran yang mutlak: di dunia yang baru ini, ada beberapa orang yang memang ditakdirkan untuk tidak akan pernah bisa diselamatkan.