Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Malam turun pekat menyelimuti kawasan pelabuhan tua. Tempat ini sudah lama ditinggalkan, bangunan-bangunan gudang berdiri suram dan berkarat, diterangi hanya oleh beberapa lampu jalan yang nyalunya redup dan berkedip-kedip seolah mau mati. Bau amis air laut, minyak bercampur karat, dan debu tua memenuhi udara. Suasana sunyi, hanya terdengar suara deburan ombak yang menghantam dinding pelabuhan dan derit besi yang bergesekan tertiup angin kencang.
Di balik tumpukan peti kemas yang berkarat, dua sosok sedang diam bersembunyi dalam kegelapan.
Arjuna Adhitama mengenakan pakaian serba gelap, pas dan elegan sekaligus fungsional. Wajahnya tertutup sebagian bayangan, matanya menajam mengamati setiap pergerakan penjaga yang berpatroli di kejauhan. Posturnya tegak, tenang, memancarkan aura bahaya yang terpendam persis seperti harimau yang sedang mengintai mangsanya.
Di sebelahnya, Kirana ... ah, Kirana.
Gadis itu mengenakan jaket kulit warna hitam kesayangannya di padukan dengan celana panjang dengan warna yang senada dan sepatu bot kerja yang entah dari mana dia dapatkan. Rambut panjangnya dikepang sangat rapi dan ketat ke belakang, tidak ada helai pun yang terurai, supaya tidak menghalangi gerakan. Di ikat pinggangnya, tergantung deretan kunci pas, obeng, dan alat bengkel kecil yang terbuat dari baja keras, bagi Kirana, itu adalah senjata paling ampuh di dunia.
Dan yang paling khas ... gadis itu duduk bersila di atas tanah berdebu dan pecahan kaca tajam seolah sedang duduk di sofa empuk ruang tamu. Wajahnya santai sekali, bahkan dia sempat menguap santai sambil menatap Arjuna yang sedang serius mengamati peta di layar kecil genggamannya.
"Berisik," bisik Arjuna tanpa menoleh, nada suaranya rendah dan datar. "Kamu mau memberi tahu posisi kita ke seluruh penjaga di sini dengan uapan itu?"
Kirana mendengus pelan, menyandarkan punggungnya ke dinding besi dingin.
"Yaelah, santai dong, Tuan Muda. Mereka itu matanya cuma bisa lihat ke depan dan lurus aja. Nggak ada yang lihat ke samping atau ke atas. Persis sama kayak sistem rem tangan yang macet ... kaku, kaku, dan kaku. Nggak ada keluwesan sama sekali," jawab Kirana santai, matanya berkeliling menilai keadaan sekeliling dengan pandangan elangnya.
Arjuna memutar kepalanya sedikit, menatap gadis itu dengan tatapan tak percaya tapi juga terbiasa. Di tengah misi rahasia berbahaya seperti ini, gadis ini malah sedang menganalisis cara kerja patroli musuh seolah sedang memeriksa kerusakan motor langganannya.
"Penjagaan ketat. Ada dua gerbang utama, dijaga masing-masing tiga orang bersenjata. Di menara pengawas ada titik sorot. Jarak pandang luas. Kita tidak bisa lewat depan," jelas Arjuna singkat, kembali fokus ke rencananya. Otak strateginya bekerja cepat, menghitung risiko dan kemungkinan. "Kita harus putar jauh ke kanan, lewat pinggir air. Jalannya licin dan sempit, tapi itu satu-satunya celah."
Belum sempat Arjuna bergerak, tangan Kirana menyambar lengan jaketnya pelan. Arjuna menoleh, melihat Kirana menatapnya dengan wajah polos tapi matanya berkilat jenius.
"Arjuna ... kamu itu kalau mikir selalu pakai peta, pakai aturan, pakai jalur resmi ya? Capek deh sama otakmu yang kaku kayak poros engsel nggak dikasih oli," cibir Kirana pelan, lalu menunjuk ke arah atap-atap gudang yang tinggi dan berderet.
"Lihat deh. Gudang Angin itu kan bangunan paling besar dan paling tua di sini, kan? Dulu kan tempat ini ramai banget, barang masuk keluar terus. Kalau cuma ada jalan masuk depan dan samping, itu namanya pabrik bodoh. Dulu Ayahku pernah bilang, bangunan yang bagus itu harus punya Jalur Pelaras."
"Jalur Pelaras?" ulang Arjuna bingung, alisnya berkerut. Istilah apa lagi ini?
"Iya! Jalur Pelaras! Namanya juga pelabuhan, tempat angkut barang berat. Kalau ada bagian mesin macet, atau ada bencana, atau ada barang yang salah masuk ... pasti ada jalan pintas buat bawa barang keluar atau masuk lewat atas. Biar nggak ngalir di satu tempat aja. Biar alirannya lancar!"
Kirana berdiri, membersihkan debu di celananya dengan tepukan santai, lalu menunjuk sebuah tangga besi tua yang hampir putus dan tertutup tumpukan sampah di sudut gelap yang sangat sulit dilihat mata biasa.
"Lihat itu? Tangga darurat. Karatan parah, kelihatannya mau rubuh. Itu sengaja dibuat kelihatan rusak biar orang nggak ada yang naik. Tapi coba lihat struktur besi penyangganya ... bagian luarnya aja yang dikupas dan dikasih karatan palsu, dalemnya masih besi baja tebal yang kuat banget. Ayahku suka banget bikin jebakan mata kayak gitu. Dia bilang, 'Kalau mau nyembunyiin harta, taruh di tempat paling jelas tapi paling jelek kelihatannya. Orang kaya kayak kamu pasti ogah deketin barang kotor dan rusak'."
Arjuna menatap tangga itu, lalu menatap Kirana. Rasa kagum yang selalu sama kembali muncul. Dia jenius di ruang ber-AC dengan data lengkap, tapi gadis ini jenius di lapangan, membaca kode dan rahasia hanya dengan melihat warna karat dan posisi paku.
"Jadi rencanamu ... naik ke atas, jalan lewat atap, terus masuk lewat langit-langit?" tanya Arjuna memastikan.
"Nah! Akhirnya nyambung juga!" Kirana menepuk bahu Arjuna dengan keras, suara tepukan yang terdengar jelas di keheningan, bikin Arjuna langsung menarik gadis itu mendekat dan mendekap mulutnya dengan tangan lebarnya, matanya melotot marah tapi khawatir.
"Kau mau kita ketahuan, hah?!" bisik Arjuna geram, wajahnya berjarak sangat dekat dengan wajah Kirana. Napas mereka beradu.
Kirana hanya mengedipkan mata berkali-kali di balik telapak tangan Arjuna, wajahnya tetap santai dan tidak merasa bersalah sama sekali. Saat Arjuna melepaskan tangannya pelan, Kirana langsung berbisik dengan senyum jahil.
"Tenang aja, Tuan Muda galak. Suara langkah kakimu yang berat itu jauh lebih kedengaran ketimbang tepukanku. Udah, ayo ikut aku. Dan ingat ya ... kalau atapnya bunyi 'krek' sedikit aja, itu bukan mau rubuh, itu cuma minta dikasih perhatian. Jangan teriak atau lari histeris kayak anak kecil."
Tanpa menunggu jawaban Arjuna, Kirana sudah melompat gesit mendekati tangga tua itu. Dengan cekatan, dia memanjatnya seolah itu tangga istana, menginjak bagian-bagian tertentu saja yang dia sudah hitung kuatnya. Arjuna menghela napas panjang, menatap langit sebentar memohon kesabaran, lalu ikut memanjat di belakangnya, memastikan kalau-kalau tangga itu benar-benar mau rubuh, dia akan menangkap gadis itu sebelum jatuh.
Di atas atap, angin bertiup makin kencang. Atap itu terbuat dari lembaran besi gelombang yang sudah tua, dingin dan licin terkena embun malam. Arjuna berjalan hati-hati, langkahnya berat dan berirama, berusaha tidak membuat suara. Sementara Kirana ... gadis itu berjalan santai, kadang melompat melewati celah, kadang berjalan di tepi yang sempit sekali seolah sedang berjalan di jalan raya lebar.
"Kau tidak pusing? Tidak takut jatuh?" tanya Arjuna pelan, matanya terus memantau keseimbangan gadis itu dengan napas tertahan. Jantungnya selalu berpacu kencang setiap kali melihat Kirana bertindak nekat begini.
Kirana berhenti sebentar, berbalik menghadap Arjuna sambil berjalan mundur hal gila yang bikin Arjuna hampir melompat memeganginya.
"Takut? Buat apa? Ini kan cuma keseimbangan, Arjuna. Sama persis kayak nyetir motor. Kalau kau tegang, kaku, mikir jatuh ... pasti jatuh. Tapi kalau kau santai, ikutin aliran, rasain berat bebannya ... kau bakal bisa jalan di mana aja. Hidup itu juga gitu lho, Tuan Muda. Kau terlalu tegang terus, makanya hidupmu berat banget rasanya."
Arjuna terdiam. Di atas atap berbahaya ini, di tengah misi berbahaya ini, gadis ini malah memberinya pelajaran hidup dengan analogi nyetir motor. Arjuna tersenyum tipis. Gadis ini benar-benar obat sekaligus penyakit baginya.
Mereka sampai di atas bangunan utama Gudang Angin. Di bawah sana, lewat celah-celah kecil di atap, terlihat jelas ada banyak orang bersenjata sedang berjaga, ada meja-meja kerja, brankas besar, dan tumpukan peti tertutup. Suasana di bawah sangat ketat.
"Nah, sampai tujuan," bisik Kirana, berjongkok tepat di samping sebuah lubang persegi tertutup piringan besi berat dengan gembok raksasa di tengahnya. Dia menatap gembok itu sambil menyeringai, seolah melihat makanan kesukaannya.
"Ini dia kuncinya. Gembok model lama, sistem gigi mekanis. Kelihatannya kuat dan rumit, tapi ..." Kirana merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sepotong kawat besi tipis dan obeng kecil, lalu tersenyum ke arah Arjuna. "... kalau kamu tahu cara kerjanya, dia bakal terbuka sendiri dengan sendirinya. Sama persis kayak hati manusia."
Arjuna berjongkok di sampingnya, menutupi punggung Kirana dan mengawasi sekeliling. Matanya menatap tangan gadis itu yang bergerak sangat cepat, lincah, dan presisi. Jari-jarinya yang kecil, bergerak dengan kelembutan dan ketepatan tinggi seperti tangan seorang seniman atau dokter bedah.
"Kau belajar buka gembok dari mana?" tanya Arjuna pelan, matanya tidak lepas menatap wajah serius Kirana. Wajah yang saat ini terlihat sangat indah, sangat fokus, penuh konsentrasi tinggi.
Bersambung ....
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️