Ketika dosa, ego & cinta saling ingin unjuk diri di waktu yg sama, maka takdirlah yg akan menjadi hakimnya!!
Elleanor berkisah seorang gadis muda yang sudah mulai memasuki usia matang untuk sebuah pernikahan. Ayahnya mulai mencarikan jodoh untuk dirinya.
Namun, begitulah darah muda. Tak mau di atur, tak mau di kekang. Elleanor menolak & memilih seorang pria yg dia kenal di lapangan golf.
Tetapi, pilihannya salah, dia malah terjebak menjadi orang ketiga saat dia mengetahui jodoh pilihan ayahnya sudah kembali dari luar negeri.
Entah siapa yg akan Elleanor pilih kali ini. Terus terjebak dalam hubungan toxic yg menjanjikan kenikmatan tetapi di todong rasa bersalah atau memulai hubungan baru dengan si pria misterius yg nampak tak kenal kata ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SabdaAhessa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergok
Seperti hari-hari sebelumnya. Selepas jogging, Ellea pergi mandi lalu sarapan bersama ayahnya. Ellea di buat bingung sekaligus gundah karena belum mendapat kabar apapun dari Alan hingga pagi ini. Dia jadi tidak fokus untuk sarapan.
Sedangkan gelagat itu dapat terbaca jelas oleh Mark. Diam-diam dia memperhatikan putri semata wayangnya itu. Dia tau, ada yang salah dan ada yang di sembunyikan oleh Ellea. Ini pasti lebih dari sekedar pacar yang belum di kenalkan pada dirinya.
"Ayah harap nanti malam kita tidak ada reschedule ya!" Ucap Mark memastikan.
Ellea menelan potongan dagingnya dengan susah payah. Ayahnya itu memang selalu memukul telak lawannya. Seakan dia tau apa yang di sembunyikan olehnya selama ini.
"Iya." Jawab Ellea singkat.
Setelah sarapan dia berpamitan pada ayahnya untuk menghabiskan hari bersama Ginny yang sudah berangkat lebih dulu karena ada janji dengan kliennya.
Ginny adalah seorang model profesional. Dia cantik, seksi dan menggoda. Perpaduan yang pas sekali untuk jamuan para lelaki hidung belang. Namun, Ginny tidak seperti itu. Dia malah amat hati-hati saat memilih lelaki. Bahkan, dia tak pernah memberitahu siapapun sedang dekat dengan siapa agar tidak menjadi pembicaraan publik.
Ya, begitu lah publik figur, tak pernah lepas dari ocehan para netizen yang mencibir hal sekecil apapun. Bahkan cara makan pun bisa menjadi tranding topik yang panas.
Ellea melajukan mobilnya menuju mall yang mewah dan gagah itu. Memarkirkan mobilnya lalu menelpon Ginny untuk bertanya dimana keberadaan wanita itu.
Setelah mengetahuinya, Ellea segera naik lift ke lantai empat. Ternyata Ginny menunggunya di sebuah restoran Jepang. Wanita itu nampak sedang makan susi seorang diri sambil menatap layar ponselnya.
"Hy.. Maaf ya menunggu lama." Ucap Ellea.
Ginny melambaikan tangannya. "Tidak, aku juga baru selesai meeting. Ayo duduk!"
Ellea duduk di sebrang Ginny. Berhadapan. Lalu mata Ellea tak sengaja menangkap sosok yang sangat familiar baginya.
"Tunggu.." Batin Ellea memicingkan mata agar melihat lebih jelas.
"Alan?" Ucapnya pelan memastikan.
Sontak Ginny ikut menoleh, memperhatikan objek yang sedang di awasi oleh Ellea. Seorang pria tampan, tinggi dan gagah itu sedang menggendong seorang bayi lelaki dan ada seorang balita juga disana. Mungkin masih sekitar usia dua tahunan sedang menggandeng tangan Alan dengan erat.
Dia berada di sebuah toko pakaian wanita. Sekilas, Ellea dapat melihat ada seorang wanita yang menunjukkan sebuah gaun pada Alan. Namun, wajahnya tertutupi oleh gaun itu. Sehingga Ellea tak dapat melihat dengan jelas perawakannya.
"Kenapa, El?" Tanya Ginny membuyarkan lamunan Ellea. "Udah pengen punya anak ya?" Goda Ginny.
Ellea tersadar dan terkekeh mendengar hal itu. Pikirannya berkelahi seketika. Banyak pertanyaan yang muncul. Siapa wanita itu? Siapa anak-anak itu? Itu benar Alan kan?
"Kau kenal?" Tanya Ginny lagi.
Ellea memutuskan untuk menggeleng. Agar tidak mendapat banyak pertanyaan lagi dari Ginny.
"Benarkah? Itu mantan ku, El! Si Tommy! Dia dulu juga seorang model, kita satu management dan ya.. mungkin bukan jodoh jadi kita putus, lalu dia keluar dari management kita karena dia harus keluar negeri bersama keluarganya." Ucap Ginny.
"Oia?" Ellea terkejut."Tommy?" Ellea memperjelas pendengarannya agar tidak salah informasi.
"Nama panggung, namanya aslinya Alan." Jelas Ginny. "Mungkin itu anak-anaknya." Tambah Ginny.
Membuat Ellea segera berpaling dari Ginny ke arah Alan yang mulai menghilang di balik rak-rak pakaian. Sungguh, Ellea seperti orang linglung sekarang. Tak tau harus bereaksi bagaimana.
"Hy, kenapa, El?" Ginny mulai curiga melihat Ellea yang kebingungan.
"Oh tidak, aku.. Aku hanya baru tau kau punya mantan yang satu management dengan mu." Ucap Ellea gelagapan. Berusaha tersenyum meski terlihat kecut dan terpaksa.
"Itu sudah lama sekali, sepertinya waktu itu kita tidak seakrab ini."
Ellea hanya mengangguk-ngangguk sebagai jawaban. Meski masih di buat kaget, bingung dan sedikit kecewa jika benar itu adalah anak Alan. Tetapi, Ellea berusaha bersikap biasa saja. Karena memang tidak ada yang tau hubungan mereka.
Ellea jadi kepikiran soal makan malam nanti, apa mungkin Alan akan datang? Sedangkan pria itu tidak membalas satu pesan pun dari Ellea dan malah kepergok sedang.. sedang menggendong anak dan kemungkinan besar bersama istrinya. Jika benar.
Tapi dalam hati kecilnya, Ellea masih berharap itu bukanlah anak Alan, bukan juga istrinya. Namun, bagaimana pun juga, Ellea cemburu. Hanya bisa cemburu untuk saat ini.
Lalu dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Mencari nomor telpon Alan dan sekali lagi menelponnya.
Seakan sebuah keajaiban bagi Ellea, karena tiba-tiba panggilan telpon itu di jawab. "Baca semua pesan ku!" Titah Ellea lalu menutup telpon.
Matanya menatap nanar keluar restoran, berusaha menghindar dari tatapan Ginny yang berada di depannya. Dia juga menuliskan sebuah pesan untuk Alan. Dimana, dia meminta pria itu untuk menemuinya di apartement siang ini.
Lalu, sebuah notifikasi pesan masuk. Balasan dari Alan, "Ok sayang." Jawabnya singkat dan padat.
"El, kau baik-baik saja?" Tanya Ginny khawatir.
"Oh, ya.. Tentu saja.." Jawab Ellea sambil menelan ludah dengan susah payah.
"Apa kau ada masalah dengan Alan?" Tanya Ginny lagi.
"Tidak, tidak ada." Ellea menjawab dengan cepat.
"Baguslah kalau begitu." Ucap Ginny.
"Kenapa?"
"Entahlah, aku rasa dia orang yang problematik dan nekat, egonya terlalu tinggi. Dan.. Dia itu banyak drama." Ginny nampak kesal saat menjelaskannya.
"Banyak drama bagaimana?" Ellea nampak penasaran.
"Ya.. Banyak bohongnya! Ahh!! Sudahlah, aku malas membahas dia, lagi pula nampaknya dia sudah punya keluarga, bukan urusan ku lagi." Ginny memakan susinya yang tinggal satu.
Ellea kembali terdiam sejenak. Memikirkan kata-kata Ginny lagi. Problematik. Drama. Pembohong. Sungguh perpaduan yang pas sekali sebagai bajingan. Jika itu benar, maka Ellea rasa Alan ini jauh lebih buruk daripada Felix mantan kekasihnya dulu.
Untuk menutupi kegugupannya. Ellea segera mengajak Ginny untuk berkeliling mall. Mencari beberapa pakaian dan tas. Meskipun dia tau, sepertinya makan malam nanti akan batal, tetapi dia tetap memilih berbelanja untuk menutupi keresahannya.
Bersambung...
.
good luck authorrr