Kisah seorang anak perempuan yang selalu mendapatkan ketidakadilan dari sang ibu. gadis itu sering di bandingkan dengan saudara saudara nya sendiri. karena tuntutan ibunya, Lusiana harus terjun menjadi wanita malam, di sebuah club ternama di kota.
bagaimana car gadis itu bertahan dari keras nya dunia. apakah gadis itu mampu bahagia, atau malah sebaliknya?? ikuti kisah Lusiana sekarang juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.3
"Drtttt.....drttt.... Suara telpon memanggil membuat Lusi langsung menoleh ke ponsel nya.
"Udah diangkat belum?" tanya ibunya di kampung dengan tatapan gelisah nya.
"Belum Bu, tunggu saja mungkin dia lagi kerja."
"Ckck, anak itu selalu aja menghindar kalau kita lagi butuh."
"Udah ibu tenang aja, hari ini Lusi pasti akan mengirimkan uang nya."
Ibunya mengangguk saja, dengan ucapan anak pertama nya itu.
"Halo assalamualaikum." ucap lusi yang mengangkat panggilan di ponsel nya.
"Walaikumsalam lus, ini kakak. Ibu lagi sakit, kamu kok belum kirim uang nya." desak Dimas yang saat ini sedang bersandiwara dengan ibunya. Agar Lusi memberikan uang dan dia bisa bersenang-senang di luar dengan menggunakan uang Lusi.
"Ibu sakit apa kak?" tanya nya dengan cemas dan raut wajah sendu nya. Merasa bersalah karena ibunya pasti sakit karena tak dikirim uang oleh nya.
"Sakit demam aja."
"Kak, aku mau cerita sama ibu kak, tolong kasih hp nya ke telinga ibu."
Saat mendengar Lusi ingin bercerita dengan nya, Marni langsung menggelengkan kepalanya itu. dia masih malas untuk bercerita dengan putri bungsu nya itu.
"Ibu ga mau cerita sama kamu lus, lagi marah sama kamu dia."
"Astaghfirullah." gumam Lusi yang berusaha untuk tetap sabar menghadapi tingkah ibunya itu.
"Yaudah kak, nanti sore ya aku kirim. Aku belum gajian kak, mungkin nanti aku pinjam ke teman dulu."
"Nah saat gini aja kamu baru lancar mikir nya. Bukanya dari kemarin, liat ibu sakit begini gara gara kamu." ketus Dimas yang sama sekali tak memikirkan perasaan Lusi.
"Tes....tes... Air mata Lusi yang dia tahan tahan akhirnya mengalir juga. Bahkan gadis itu dengan cepat menghapus nya, sebelum ada orang yang melihat saat dia menangis.
"Tut...." karena merasa tak sanggup untuk berbicara lagi, dia langsung mematikan panggilan ponsel nya itu.
dengan Bergegas dia langsung lari ke kamar mandi, dan langsung menangis di dalam sana. untung saja bar tersebut masih tutup, dan belum buka jadi Lusi bisa sempat mempersiapkan dirinya.
"Hiks....aku cape. Kenapa harus anak perempuan yang memikul tanggung jawab keluarga ini. Aku juga ingin seperti teman teman ku." ucap lusi dengan wajah yang tersedu seduh
"Kenapa harus aku tuhan. aku merasa lelah dengan semua cobaan mu ini. Padahal kakak ku juga laki laki, seharusnya dia yang bertanggung jawab nafkahi keluarga kami. Tapi dia tak pernah sekalipun bekerja untuk kebutuhan dapur. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri, dan tak perduli dengan ayah dan ibu."
gadis itu tetap terus mengoceh pelan, seolah melampiaskan kekesalannya terhadap kakak nya itu. Terkadang dia juga tak pernah akur dengan Dimas, sebab pria itu selalu menuntut nya dan mencoba untuk membuat mental nya down.
"Tok...tok...tok... Siapa di dalam?" ucap seorang wanita berpakaian menor dengan rambut badai nya itu. Dia adalah mami bar yang bertugas untuk memberikan sambutan baik kepada para tamu VIP.
Tentu saja mami bar ini, memerlukan gadis gadis polos untuk bisa menemani para om om kaya dan bisa menjadi sumber ladang uang untuk nya.
"Cklek.... Maaf nyonya, saya tadi merasa tak tahan dan segera buang air." ucap lusi dengan menundukkan kepalanya.
Wajah mami bar yang tadinya kesal, kini tampak cerah saat melihat ke arah Lusi. Dia juga melihat pakaian Lusi, menggunakan pakaian pelayan. pasti gadis itu, yang melayani para tamu untuk sekedar minum saja. Tiba tiba dia memiliki ide yang menarik.
"Ah, tidak apa apa cantik. Siapa nama mu?" tanya mami bar dengan raut wajah penasaran nya. Apalagi wajah Lusi tampak cukup cantik, dan merasa ini kesempatan nya untuk meraup keuntungan lebih besar untuk gadis itu.
"LUSIANA nyonya." ucap nya dengan sedikit kaget saat wanita di depan bertanya tentang nama nya.
"Wow, nama yang cantik. Kalau begitu ayo berbincang dengan ku. apakah kau memiliki waktu?"
"Tapi nyonya, saya harus kembali bekerja. karena pekerjaan saya masih menumpuk." ucap lusi yang merasa tak nyaman dengan wanita di hadapan nya.
"Eh, tunggu dulu cantik. jangan takut, mami ini orang baik. Tenang saja oke, keep calm."
"Saya benar benar harus bekerja nyonya!" ucap lusi dengan tegas nya. walaupun dia tau siapa wanita itu, dia berusaha untuk menghindari nya. sebab mami bar ini sudah terkenal dengan agen wanita malam.
"Hahaha, baiklah. kapan kapan saja kita bercerita lagi, aku akan tetap menunggu mu ya. jangan takut dengan mami ini. Okey cantik."
Setelah wanita itu pergi, Lusi tampak menghela nafas lega nya. Dia merasa bahwa firasat nya buruk saat berdekatan dengan mami bar itu.
"Huft .....untung saja dia pergi. Aku tau pasti dia ingin mengajak ku, melayani para laki laki hidung belang disini." ucap lusi dengan nada pelan dan langsung menuju ke ruangan kerja nya.
Sedangkan mami bar yang tampak santai berjalan menuju ke ruangan sang manager.
"Ada apa lu datang ke tempat gue?" tanya manager dengan tatapan santai nya itu.
"hahaha, Bram. Kau memiliki barang bagus, tapi malah dijadikan pelayan aja." ucap mami bar yang langsung to the point dengan tujuan. Nya.
"Ckckck, jangan mengusik para pelayan disini we!" ucap Bram dengan tatapan datar nya.
"Hahaha, tenang saja. Aku tak pernah mengusik para pelayan disini kok. Tapi ada satu gadis yang cukup membuat ku tertarik."
"Siapa yang kau maksud?" tanya Bram yang cukup penasaran dengan ucapan wanita itu.
Mami we berjalan dengan berlenggak-lenggok menuju ke arah Bram. Tatapan nya penuh dengan sensual sehingga membuat Bram berusaha mengontrol kewarasan nya.
Jari Lentik mami we, langsung menuju ke arah wajah Bram. wanita itu cukup membuat Bram panas dingin saat ini.
"Kau sangat tampan Bram."
"Jangan menggoda ku we." ucap nya dengan menahan tangan wanita itu, yang berusaha menggoda iman nya.
"Kapan lagi kita bermain seperti ini. Kau melupakan cinta kita." ucap mami we dengan nada manja dan mengusap dagu pria itu.
"Aku memiliki istri dan anak. Jangan menggoda ku!"
"Hahaha, bram Bram, kau terlalu naif. ayolah kita bermain main hari ini, apakah kau tak merindukan ku?"
Mami we membuka rok nya dan hanya menampilkan celana dalam nya saja. Hal itu membuat Bram panas dingin seketika. Siapa yang bisa menolak dengan keadaan seperti ini. akhirnya pun terjadi, Bram dan mami we bermain cinta di dalam ruangan. Lusi yang tak sengaja mendengar suara suara laknat itu, langsung menjauh seketika.
Bukan sekali dua kali Lusi mendengar desahan desahan di ruangan tersebut. Bahkan beberapa kali dia sering mendengar nya. Tetapi dia berusaha acuh dan tetap profesional dengan tugas nya itu.
Apa mgkin Lusi putri konglomerat yg di culik waktu bayi..