"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 3
Pagi itu, suasana di penthouse terasa lebih sibuk dari biasanya. Arvin sudah rapi dengan setelan jas navy buatan penjahit ternama di London, sementara Zoya masih berkutat di dapur dengan gerakan yang sedikit lebih cepat.
Ia harus mengejar kelas pagi pukul delapan, sementara waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit.
Zoya meletakkan kotak bekal di dekat tas kantor Arvin. "Ini untuk makan siangmu, Tuan Arvin. Saya sudah menyiapkan menu yang praktis agar Anda tidak perlu keluar kantor saat sibuk."
Arvin melirik kotak bekal berwarna pastel itu dengan kening berkerut. "Sudah kubilang, Zoya, asistenku bisa mengurus segalanya. Kau tidak perlu bertingkah seperti istri di drama televisi."
"Hanya makanan, Tuan. Bukan drama," jawab Zoya tenang seraya membenahi letak tas ranselnya. "Saya berangkat sekarang."
Arvin hanya berdehem tanpa menoleh. Namun, matanya sempat menangkap Zoya yang sedikit pincang saat melangkah menuju pintu.
'Apa karena luka air panas semalam ?' pikir Arvin sekilas, sebelum kemudian ia menggelengkan kepala, mengusir rasa peduli yang dianggapnya sebagai gangguan.
Zoya berdiri di lobi apartemen, menatap layar ponselnya dengan cemas. Aplikasi transportasi daring yang ia gunakan terus menunjukkan status searching. Hujan sisa semalam menyisakan kemacetan parah di jalanan protokol Jakarta, dan tak satu pun pengemudi taksi yang mengambil pesanannya.
"Ya Allah, lima belas menit lagi kelas Pak Hamzah dimulai," gumam Zoya panik. Pak Hamzah adalah dosen paling disiplin di Fakultas Ekonomi, telat satu menit berarti pintu tertutup rapat.
Tepat saat itu, sebuah mobil sedan mewah hitam keluar dari basement apartemen. Itu mobil Arvin. Mobil itu melambat di depan lobi, namun kacanya tidak turun. Arvin menatap Zoya dari balik kaca gelap. Ia melihat istrinya itu berdiri dengan gelisah, berkali-kali melihat jam tangan.
Arvin punya pilihan, berhenti dan memberinya tumpangan, atau jalan terus sesuai kesepakatannya semalam bahwa Zoya tidak boleh menggunakan sopir pribadinya.
'Dia punya kaki, dia bisa mengurus dirinya sendiri,' batin Arvin dingin. Ia memberi isyarat pada sopirnya untuk terus melaju. Mobil itu melesat melewati Zoya begitu saja, meninggalkan genangan air yang hampir mengenai gamis Zoya.
Zoya menghela napas panjang. Ia tidak sakit hati, ia hanya kecewa pada keadaan. Namun, tepat saat ia hampir menyerah, sebuah motor sport merah berhenti tepat di depannya.
"Zoya? Kamu belum berangkat?"
Zoya mendongak. Di balik helm full-face itu, tampak wajah ceria Liam Pradana. Liam adalah teman satu angkatan Zoya yang dikenal ramah dan selalu menjadi penengah jika ada perdebatan di kelas.
"Liam? Iya, ini... taksinya nggak dapat-dapat," jawab Zoya lega.
"Ayo naik! Pak Hamzah hari ini masuk lebih pagi, lho. Kalau nunggu taksi, kamu pasti kena kunci di luar. Nih, pakai helm cadanganku," Liam menyodorkan helm dengan senyum tulus.
Zoya ragu sejenak. Namun, keadaan darurat mengalahkan keraguannya. "Terima kasih banyak, Liam. Maaf merepotkan."
"Santai saja, Zoya. Kita kan teman."
Motor itu menderu, membelah kemacetan dengan lincah. Zoya berpegangan pada pembatas besi di belakang motor, menjaga jarak agar tidak bersentuhan langsung dengan Liam.
Di sisi lain jalan, mobil Arvin terjebak macet total tepat di lampu merah yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari apartemen. Arvin sedang memeriksa laporan keuangan di tabletnya saat pandangannya teralih ke arah spion samping.
Ia melihat sebuah motor merah melaju di antara celah mobil. Matanya menyipit saat melihat sosok wanita yang duduk di boncengan motor itu. Gamis nude, cadar berwarna senada, dan tas ransel yang sangat ia kenal.
Zoya.
Dan pria yang memboncengnya, pria itu tampak jauh lebih muda, mengenakan jaket denim, dan sesekali berbicara pada Zoya lewat spion motor sambil tertawa. Zoya tampak mengangguk, terlihat begitu akrab dan nyaman.
Arvin merasakan sesuatu yang aneh bergejolak di dadanya. Bukan cinta, pikirnya. Itu adalah rasa tidak suka karena miliknya, meski tidak ia inginkan terlihat begitu bebas dengan pria lain di depan umum.
"Pak, itu bukannya Ibu?" tanya sopir Arvin, memecah keheningan.
"Bukan urusanmu. Jalan saja kalau sudah hijau," sahut Arvin dengan nada yang jauh lebih tajam dari biasanya. Ia membanting tabletnya ke jok samping dan melonggarkan dasinya yang tiba-tiba terasa mencekik.
Zoya sampai di kelas tepat satu menit sebelum Pak Hamzah menutup pintu. Ia terduduk di bangkunya dengan napas terengah-engah.
"Makasih ya, Liam. Kamu penyelamat hari ini," bisik Zoya saat mereka sudah di dalam kelas.
"Sama-sama, Zoya. Oh iya, nanti pulang jam berapa? Kalau searah, aku antar lagi ya?" tanya Liam ramah.
"Nggak usah, Liam. Aku nggak mau merepotkan terus."
"Nggak repot, beneran. Lagipula, aku mau mampir ke toko buku dekat apartemen kamu," Liam memberi alasan agar Zoya tidak merasa tidak enak hati.
Zoya hanya tersenyum sopan tanpa memberi jawaban pasti. Sepanjang kelas, ia mencoba fokus, namun bayangan mobil Arvin yang melewatinya tadi pagi sempat terlintas. Ia mengusir pikiran itu. 'Arvin sedang bekerja, dia punya dunianya sendiri,' ingatnya pada diri sendiri.
~~
Sore harinya, Arvin berada di tengah rapat penting dengan para pemegang saham. Namun, konsentrasinya buyar setiap kali ia teringat pemandangan di spion pagi tadi. Suara tawa Liam, yang sebenarnya tidak ia dengar, tapi ia bayangkan seolah terus terngiang.
"Pak Arvin? Bagaimana menurut Anda soal ekspansi ke Surabaya?" tanya salah satu direktur.
Arvin terdiam sejenak, lalu berdehem. "Lakukan riset lebih dalam. Saya tidak ingin keputusan terburu-buru."
Setelah rapat selesai, Arvin kembali ke ruangannya. Ia melihat kotak bekal dari Zoya di atas mejanya. Ia membukanya perlahan. Ayam bakar madu dengan tumis sayuran yang masih tampak segar. Ia mengambil garpu dan mencicipinya.
Lagi-lagi, rasanya begitu pas. Tapi kali ini, rasa enak itu justru membuatnya kesal.
"Kenapa dia harus bersikap sebaik ini padaku kalau dia bisa tertawa selebar itu dengan pria lain ?" batin Arvin sinis.
Ia segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. "Halo, Val? Kamu di mana? Jemput aku di kantor. Kita makan malam di luar."
Zoya pulang dengan taksi kali ini, karena Liam ternyata ada rapat organisasi mendadak. Sesampainya di apartemen, ia mendapati rumah masih kosong.
Ia segera membersihkan diri dan mulai memasak makan malam. Ia ingin membuat sesuatu yang spesial karena hari ini ia mendapat nilai tertinggi di kuis Pak Hamzah.
Ia memasak cumi hitam kesukaan ayahnya, yang ia harap Arvin juga akan menyukainya. Namun, jam menunjukkan pukul delapan, sembilan, hingga sepuluh malam, Arvin belum juga pulang.
Pukul sebelas malam, pintu penthouse terbuka. Arvin masuk dengan langkah yang sedikit tidak stabil. Aroma parfum wanita yang menyengat, parfum Valerie langsung tercium oleh indra penciuman Zoya yang sedang tertidur di sofa sambil menunggu.
Zoya terbangun dan segera berdiri. "Tuan Arvin? Anda sudah pulang?"
Arvin menatap Zoya dengan pandangan yang sulit diartikan. Matanya merah, mungkin karena kelelahan atau sesuatu yang lain. "Kenapa belum tidur?"
"Saya menunggu Anda untuk makan malam. Saya memasak cumi..."
"Aku sudah makan di luar dengan Valerie," potong Arvin dingin. Ia melangkah menuju tangga, namun kemudian berhenti dan berbalik. "Oh, satu lagi. Lain kali, kalau mau cari tumpangan, carilah yang lebih berkelas. Jangan memalukanku dengan naik motor berduaan dengan pria asing di jalanan macet. Orang-orang bisa berpikir aku tidak mampu membelikanmu kendaraan."
Zoya terpaku di tempatnya. Jadi, Arvin melihatnya?
"Tuan, tadi pagi saya hampir terlambat karena taksi tidak datang. Dan Liam adalah teman saya, dia hanya membantu..."
"Aku tidak peduli alasannya!" nada suara Arvin meninggi, menggema di ruangan yang luas itu. "Statusmu adalah istriku di mata hukum dan keluargaku. Jaga sikapmu. Aku tidak ingin nama Dewangga terseret dalam gosip murahan mahasiswa."
Zoya menatap Arvin dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Jika Anda begitu peduli dengan nama baik Anda, kenapa tadi pagi Anda tidak berhenti untuk menolong saya?"
Pertanyaan itu membuat Arvin terbungkam. Ia menatap Zoya dengan kemarahan yang bercampur dengan rasa malu yang tidak mau ia akui.
"Karena kau bukan tanggung jawab pribadiku, Zoya. Kau hanya kesepakatan bisnis," ucap Arvin dengan suara yang rendah namun sangat menyakitkan.
Arvin melanjutkan langkahnya ke lantai atas, meninggalkan Zoya yang berdiri gemetar di ruang tengah. Zoya menatap meja makan yang sudah ia tata dengan cantik. Makanan itu kini sudah dingin, sama dinginnya dengan hati pria yang baru saja naik ke atas.
Zoya mendekati meja, membereskan makanan itu satu per satu ke dalam wadah plastik. Air matanya jatuh satu tetes, mengenai punggung tangannya.
"Sabar, Zoya... sabar," bisiknya lirih.
Di atas, Arvin berdiri di balik pintu kamarnya, menyandarkan keningnya di kayu pintu. Ia mendengar suara piring yang beradu pelan di bawah. Ia merasa menang karena telah menjatuhkan mental Zoya, namun di sisi lain, ada rongga hampa di dadanya yang terasa semakin lebar.
Ia tidak suka melihat Zoya dengan Liam. Dan ia lebih tidak suka lagi karena ia tidak tahu kenapa ia tidak menyukainya.
...----------------...
To Be Continue ....