NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Pondok di Ujung Hutan

Matahari sudah bergeser tinggi ketika Wira, Panca, dan Ki Rangga akhirnya meninggalkan jalur batu terakhir dan memasuki hutan yang lebih rapat.

Hutan di timur lembah itu berbeda dari kebun dan rumpun bambu di dekat desa. Di sini, pohon-pohon tumbuh lebih tua dan lebih tinggi. Batang-batangnya lurus, akar-akarnya menjulur seperti urat besar yang menahan tanah, dan dedaunannya membentuk atap alami yang membuat cahaya siang terpecah menjadi garis-garis tipis di lantai hutan. Udara terasa lembap, tanah lebih lunak, dan bau lumut bercampur dengan aroma kayu lapuk yang lama tak tersentuh. Bagi Wira, tempat itu asing sekaligus menenangkan. Tidak ada teriakan. Tidak ada asap. Tidak ada kuda yang mengejar. Namun justru karena terlalu sunyi, hatinya tetap belum mau tenang.

Panca berjalan di sampingnya dengan wajah lesu. Bajunya kotor oleh tanah, rambutnya menempel di kening, dan napasnya masih belum benar-benar teratur. Sesekali ia menoleh ke belakang, seperti takut para penunggang dari desa masih muncul di antara pepohonan. Wira sendiri menahan rasa lelah dengan susah payah. Kakinya mulai pegal, telapak sepatunya terasa basah karena tanah lembap, dan pinggangnya masih menahan benda kecil warisan ibunya yang terus ia simpan erat-erat.

Di depan, Ki Rangga berjalan dengan tenang. Ia tidak tampak seperti orang yang baru saja berlari dari kepungan. Langkahnya terukur, punggungnya tegak, dan pandangannya terus menyapu jalur di depan. Sesekali ia berhenti sebentar untuk melihat arah matahari yang menembus sela dahan. Dari caranya bergerak, Wira bisa menebak bahwa Ki Rangga sudah berkali-kali melewati hutan seperti ini. Ia tahu mana tanah yang rapuh, mana akar yang licin, dan mana jalur yang mungkin dilalui orang tanpa meninggalkan jejak jelas.

Setelah cukup jauh dari bekas desa, Ki Rangga akhirnya berhenti di sebuah pohon besar yang akarnya naik di atas tanah seperti dinding rendah.

“Berhenti sebentar,” katanya.

Wira segera menghela napas. Panca langsung menjatuhkan diri ke akar pohon dan mengusap wajahnya dengan punggung tangan.

“Aku bisa tidur berdiri,” gumam Panca.

“Kalau begitu bangun lagi saat ada bahaya,” jawab Ki Rangga singkat.

Panca mendengus. “Kau selalu punya cara membuat orang merasa tidak punya hak untuk lelah.”

Ki Rangga menatapnya sekilas. “Karena lelah tidak akan mengubah situasi.”

Wira yang mendengar itu menoleh. “Kau bicara seolah lelah bukan hal penting.”

“Bukan begitu,” jawab Ki Rangga. “Tapi musuh tidak peduli apakah kau lelah atau tidak.”

Wira diam. Kalimat itu terasa keras, tapi benar. Sejak desa mereka diserang, ia sudah beberapa kali merasakan tubuhnya nyaris menyerah. Namun setiap kali berhenti, dunia tetap bergerak. Api tetap membesar. Musuh tetap mencari. Dan dirinya tetap diburu. Tidak ada waktu untuk benar-benar memikirkan rasa sakit.

Ki Rangga menatap Wira, lalu berkata, “Kau lebih tenang dari yang kuduga.”

Wira mengernyit. “Tenang?”

“Kau belum menangis, belum berteriak, dan belum lari tanpa arah. Itu berarti kau masih bisa berpikir.”

Panca tertawa pendek. “Itu pujian atau hinaan?”

“Penilaian,” jawab Ki Rangga datar.

Wira menunduk ke tanah. Ia sendiri tidak tahu harus merasa apa atas semua ini. Dalam beberapa jam, hidupnya berubah total. Desa terbakar, ibunya hilang dari pandangan, orang-orang asing mengejarnya, dan kini ia berjalan bersama seorang pria yang katanya tahu banyak tentang masa lalu keluarganya. Namun ada satu hal yang ia rasakan jelas: jika ia menyerah sekarang, semua yang terjadi pagi tadi akan sia-sia.

Mereka berangkat lagi setelah istirahat singkat. Hutan makin rapat ketika jalur mulai menurun ke lembah kecil di sisi timur. Di beberapa tempat, semak tinggi menutup pandangan. Di tempat lain, akar pohon memaksa mereka memutar. Wira mulai memperhatikan bahwa Ki Rangga sengaja memilih jalur yang tidak terlalu terbuka. Ia menghindari tanah lapang, menghindari tepian yang bisa dilihat dari jauh, dan memilih tempat di mana suara langkah mudah tersamarkan oleh daun kering.

Setelah hampir satu jam berjalan, Ki Rangga berhenti di hadapan dinding batu rendah yang tertutup lumut. Di depannya, ada celah sempit di antara pohon besar dan batu yang hampir tidak terlihat kalau tidak diperhatikan baik-baik.

“Ini dia,” katanya.

Panca langsung menatap celah itu curiga. “Pondok di mana?”

Ki Rangga menunjuk ke balik dinding batu. “Masih sedikit ke atas. Kita lewat sini.”

Wira mengikuti arah tunjuknya. Di balik batu itu terdapat jalur naik yang sempit, cukup untuk satu orang lewat sambil menunduk. Mereka harus melewati akar besar dan beberapa batu kecil yang membuat langkah tak nyaman. Namun setelah mendaki sebentar, Wira mulai melihat sesuatu di depan: atap ilalang tua, sebagian tertutup daun dan dahan.

Sebuah pondok tua berdiri di tengah hutan.

Bangunannya tidak besar. Dindingnya dari kayu tua yang mulai kusam, atapnya miring di satu sisi, dan bagian depan ditutupi semak liar yang tumbuh terlalu dekat. Dari jauh, pondok itu hampir tampak seperti bagian dari hutan sendiri. Tidak ada pagar. Tidak ada asap dapur. Tidak ada tanda-tanda penghuni baru-baru ini. Namun Ki Rangga berjalan ke sana tanpa ragu, seolah tempat itu memang ditujukan untuk mereka.

Panca mengangkat alis. “Ini aman?”

“Cukup aman untuk malam ini,” jawab Ki Rangga.

Wira menatap pondok itu dengan hati-hati. “Pernah dipakai siapa?”

“Orang yang tahu cara menghilang.”

Jawaban itu membuat Panca mendecak pelan. “Kau memang tidak pernah menjawab dengan cara normal.”

Ki Rangga membuka pintu kayu yang miring. Engselnya berderit pelan. Di dalam, ruangan itu gelap, namun tidak terlalu sempit. Ada tikar tua yang digulung di sudut, tungku kecil yang tampaknya lama tidak dipakai, serta rak kayu lapuk di sisi dinding. Beberapa peralatan sederhana masih tergantung di sana, tapi sebagian sudah berdebu. Di salah satu sudut, ada kendi tanah liat pecah sedikit di bagian lehernya. Wira melihat dengan cepat bahwa tempat itu pernah dihuni, tetapi sudah lama ditinggalkan.

Panca masuk lebih dulu dan langsung mengerutkan hidung. “Baunya seperti tikus.”

“Karena rumah tua biasanya memang bau tua,” balas Wira.

“Terima kasih atas penjelasan ilmiahmu.”

Ki Rangga meletakkan senjata kecilnya di dekat dinding, lalu memeriksa jendela dan pintu belakang. Setelah memastikan tidak ada yang terbuka, barulah ia duduk di bangku kayu dekat tungku. Wira melihat gerakannya, lalu tanpa sadar merasakan sedikit lega. Lelaki itu tidak sembrono. Ia memeriksa tempat ini dengan teliti, seakan menganggap keselamatan mereka sebagai sesuatu yang harus dijaga serius.

Wira menurunkan tubuh di dekat dinding. Kaki dan pinggangnya terasa sangat berat. Begitu duduk, rasa lelah yang sejak tadi ditahan langsung menghantam tubuhnya. Panca bahkan lebih buruk; sahabatnya itu mengeluh kecil sambil memegangi betis.

Ki Rangga memperhatikan mereka berdua sejenak, lalu berkata, “Kalian bisa istirahat di sini. Tapi jangan terlalu lama tidur. Kita mungkin harus pindah sebelum malam benar-benar turun.”

Panca menghela napas. “Tentu saja.”

Wira tidak bicara. Ia mengeluarkan lempeng kayu kecil dari lipatan kainnya dan memandangi ukiran tanda di permukaannya. Dalam cahaya yang masuk dari sela papan, tanda itu terlihat lebih jelas. Garis-garisnya saling bertemu di satu titik, dengan bentuk lengkung di sekelilingnya. Ia masih belum tahu maknanya, tetapi kini ia lebih yakin bahwa benda ini bukan sekadar warisan keluarga. Benda ini adalah petunjuk. Atau lebih buruk, alasan orang-orang memburu dirinya.

Ki Rangga memperhatikannya. “Boleh kulihat lagi?”

Wira menyerahkannya tanpa banyak bicara.

Ki Rangga membolak-balik benda itu di tangan. “Kalau ibumu menyuruhmu menyimpan ini, berarti dia tahu saatnya akan tiba.”

Wira menatapnya. “Saat apa?”

Ki Rangga diam sesaat, lalu menjawab, “Saat masa lalu datang menagih.”

Panca menatap mereka bergantian. “Kalian bicara seperti orang tua yang sengaja menyembunyikan semuanya.”

Wira menoleh ke sahabatnya. “Aku juga tidak suka.”

“Bagus,” kata Ki Rangga. “Kalau begitu, kau masih punya naluri yang sehat.”

Wira mendengus kecil. Meskipun suasana masih tegang, kata-kata Ki Rangga yang datar justru membuat ruangan kecil itu terasa sedikit lebih ringan. Namun pertanyaan-pertanyaan Wira belum habis. Ia mengangkat kepala dan menatap lurus ke arah gurunya itu.

“Siapa mereka sebenarnya?” tanyanya. “Orang-orang yang menyerang desa.”

Ki Rangga meletakkan lempeng kayu itu di telapak tangannya, lalu menjawab, “Sebagian adalah pengikut Gelang-Gelang. Sebagian lagi bukan.”

“Bukan?”

“Ya. Ada orang yang bergerak bersama mereka karena alasan sendiri.”

Wira mengernyit. “Kau tahu siapa?”

“Belum semuanya.”

Panca memiringkan kepala. “Dan mereka mengejar Wira karena tanda ini?”

“Bukan hanya itu.” Ki Rangga menatap Wira. “Ada hubungan yang lebih tua. Lebih dalam.”

Wira menunggu, tetapi Ki Rangga tidak melanjutkan. Sebagai gantinya, ia bangkit dan membuka pintu belakang pondok untuk memeriksa sisi luar. Wira mengikutinya dengan pandangan. Dari depan pondok, terlihat hutan yang rapat dan sunyi. Tidak ada suara kuda. Tidak ada langkah. Hanya desir angin yang menggerakkan daun.

Ki Rangga kembali masuk dan berkata, “Istirahat dulu. Kita makan setelah itu.”

“Masih ada makan?” tanya Panca cepat.

“Ada bekal kecil.”

Panca langsung bersyukur setengah mati. Wira malah diam. Ia menyadari sesuatu sejak tadi: Ki Rangga tidak pernah panik. Bahkan ketika desa mereka diserang, lelaki itu tetap bergerak dengan kepala dingin. Sikap itu sedikit menenangkan, tetapi juga membuat Wira curiga. Orang yang terlalu tenang biasanya menyimpan banyak hal.

Beberapa saat kemudian, mereka bertiga duduk di lantai papan pondok yang tidak rata sambil makan bekal sederhana. Ada singkong rebus, sedikit garam, dan sepotong kecil lauk kering yang dibawa Ki Rangga. Panca yang paling lapar segera menghabiskan bagiannya lebih dulu. Wira makan perlahan, masih terlalu banyak berpikir. Namun rasa kenyang sedikit demi sedikit membantu meredakan gemetar di tubuhnya.

Panca meneguk air dari kendi kecil, lalu berkata, “Aku baru sadar, kita belum sempat cari tahu apakah ibumu selamat.”

Kalimat itu membuat Wira berhenti mengunyah.

Ki Rangga menoleh pelan. Tidak ada perubahan emosi di wajahnya, tetapi ia juga tidak memotong percakapan.

Wira menunduk. “Aku tahu.”

“Apa kau ingin kembali?” tanya Panca hati-hati.

Wira diam lama. Ia memang ingin. Sangat ingin. Tetapi bayangan desa yang terbakar masih terlalu kuat. Bayangan para penunggang kuda juga masih terlalu jelas. “Kalau aku kembali sekarang, aku cuma akan membuat semuanya lebih buruk.”

Panca mengangguk pelan. “Aku juga mikir begitu.”

Ki Rangga memandang Wira dengan tatapan yang lebih halus dari biasanya. “Kau mulai belajar menahan keinginanmu sendiri.”

Wira menatapnya. “Itu bukan hal bagus.”

“Justru itu penting.”

“Kenapa?”

“Karena orang yang terburu-buru sering jatuh ke perangkap yang paling mudah.”

Wira terdiam. Kata-kata itu terasa sederhana, tapi masuk ke kepalanya seperti duri kecil. Ia memandangi tanah pondok, lalu kembali ke gurunya. “Kalau begitu, kapan kita bergerak lagi?”

“Saat malam turun,” jawab Ki Rangga.

Panca langsung mengerang. “Jadi kami harus duduk di sini selama itu?”

“Kalau kau tidak suka duduk, kau boleh berdiri.”

“Terima kasih atas pilihan yang sangat berguna.”

Wira hampir tersenyum, tetapi ia menahan diri. Di luar pondok, hutan tetap sunyi. Sesekali ada suara burung dari kejauhan. Angin bergerak lembut di antara dahan. Tidak ada tanda pengejaran dalam jarak dekat. Namun justru karena keadaan tampak tenang, Wira merasa firasatnya belum selesai. Sejak pagi, segala sesuatu berubah terlalu cepat. Dan kalau ada satu hal yang ia pelajari hari ini, itu adalah bahwa ketenangan di permukaan tidak berarti aman.

Saat matahari mulai bergerak turun perlahan, warna cahaya di dalam pondok berubah lebih hangat. Bayangan dinding memanjang. Wira duduk sambil memegang lempeng kayu, sesekali memandang ke pintu belakang yang setengah terbuka. Ki Rangga beristirahat tanpa benar-benar tidur. Panca, yang kelelahan, akhirnya tertidur setengah duduk dengan kepala miring ke dinding.

Wira menatap sahabatnya sebentar, lalu berkata pelan, “Ki Rangga.”

“Ya.”

“Kalau malam ini kita pindah, apakah kau akan memberitahuku lebih banyak?”

Ki Rangga tidak langsung menjawab. Ia memandang Wira, lalu ke benda di tangan pemuda itu. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Kalau kau siap mendengar, ya.”

Wira menelan ludah. “Aku siap.”

“Belum,” jawab Ki Rangga tenang.

Wira mengerutkan kening. “Kau bahkan belum tahu aku mau bicara apa.”

“Aku tahu dari matamu.”

Wira terdiam. Ki Rangga menatapnya dalam-dalam, lalu melanjutkan, “Kau ingin tahu tentang ibumu. Tentang ayahmu. Tentang mengapa namamu disebut orang asing. Dan tentang kenapa desa kalian jadi sasaran.”

Wira menegang. Semua itu tepat seperti yang ada di kepalanya. “Kalau begitu jawab.”

“Nanti.”

“Kenapa selalu nanti?”

“Karena yang kau cari bukan hanya jawaban. Kau juga harus siap dengan akibatnya.”

Wira menggertakkan rahang. Ia ingin membantah, tetapi nada suara Ki Rangga tidak memberi ruang untuk memaksa. Lelaki itu tahu betul kapan harus membuka sedikit, dan kapan harus menutup lebih rapat. Di satu sisi, Wira kesal. Di sisi lain, ia merasa gurunya memang menyimpan pengetahuan yang jauh lebih besar dari dirinya. Mungkin memang belum saatnya ia tahu semuanya.

Waktu bergerak lambat di pondok tua itu. Menjelang senja, sinar matahari mulai menipis dan berganti warna keemasan. Hutan di luar jadi lebih gelap. Panca terbangun beberapa kali, lalu kembali tertidur. Wira tetap duduk, tak banyak bergerak. Di dalam dadanya, rasa kehilangan dan marah masih ada, tetapi kini bercampur dengan keyakinan baru: ia tidak akan selamanya jadi anak desa yang hanya tahu berlari. Kalau memang ada sesuatu yang berhubungan dengan dirinya dan masa lalu keluarganya, ia akan mencari tahu, meski sedikit demi sedikit.

Ketika bayangan pohon di luar pondok mulai memanjang dan malam perlahan turun, Ki Rangga berdiri.

“Kita berangkat sekarang.”

Wira langsung bangkit. Panca yang masih setengah mengantuk ikut tersentak dan buru-buru berdiri sambil mengucek mata.

“Sudah malam?” tanyanya.

“Sebentar lagi,” jawab Ki Rangga.

Wira menyimpan lempeng kayu kembali ke lipatan kain. Ia menatap pondok tua itu sekali lagi. Tempat itu telah memberi mereka perlindungan sementara, tetapi juga menegaskan bahwa perjalanannya belum selesai. Masih ada banyak jawaban yang tertinggal di belakang, dan malam yang akan mereka lewati mungkin membawa pertanyaan baru.

Sebelum melangkah keluar, Wira menoleh ke Ki Rangga.

“Kalau aku ikut jalanmu,” katanya pelan, “kau harus janji satu hal.”

Ki Rangga menatapnya. “Apa?”

“Jangan biarkan aku dibohongi terlalu lama.”

Untuk sesaat, Ki Rangga diam. Lalu ia mengangguk sekali. “Kalau kau benar-benar siap, aku tidak akan membohongimu.”

Wira menatapnya, mencoba membaca apakah janji itu cukup. Mungkin belum. Tapi setidaknya, itu awal.

Mereka meninggalkan pondok tua itu saat bayang-bayang hutan mulai menutup tanah. Di belakang, tempat itu kembali sunyi, seolah tak pernah dihuni siapa pun. Di depan, jalan menuju tempat yang lebih jauh menanti. Wira berjalan di antara Panca dan Ki Rangga, membawa lempeng kayu kecil di pinggangnya, membawa pertanyaan yang belum terjawab, dan membawa tekad yang semakin jelas.

Desa mereka telah menjadi api.

Sekarang, ia harus belajar menjadi arah.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!