“Jangan pernah kembali ke rumah ini sebelum membawa laki-laki itu, untuk bertanggung jawab.”
Diana Rosemery Falika merasa hidupnya runtuh: diusir dari rumah karena kehamilan, dikhianati oleh laki-laki yang mengambil kehormatannya lalu menghilang tanpa jejak.
Di tengah kesedihannya, Aksatama Dikara hadir sebagai penopang—membantunya bangkit, dan perlahan membuat hatinya kembali percaya pada cinta.
Namun saat ia mulai berdamai dengan masa lalu, sosok yang menghilang itu kembali… Tibra Janari Sajana muncul membawa sebuah fakta mengenai transaksi rahasia yang berpotensi mengubah segalanya—fakta yang bisa menyeret Diana kembali pada luka yang sama.
Kini Diana harus memilih: menyambut masa lalu yang kembali menuntut tempat, atau menjauh demi melindungi hatinya sendiri.
Spin-off Rush Wedding. Lanjutan kisah Diana dan Tibra—dua hati dari dua kasta berbeda. Sebagian kisah awal mereka bisa ditemukan di novel pertama, namun buku ini dapat dinikmati secara terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muffin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melahirkan?
.......
.......
.......
...🍓🍓🍓🍓...
Ruang perawatan itu terang oleh lampu putih yang menusuk mata, membuat setiap detail tampak lebih jelas—termasuk wajah Diana yang pucat. Tangan kirinya terpasang infus yang menetes perlahan.
Aksa duduk di samping ranjang, wajahnya kusut. Kaosnya masih berantakan, napasnya masih terengah sebab, ia tadi berlari dari parkiran rumah sakit menuju ruang perawatan.
Dua jam sebelumnya, saat ponsel Diana akhirnya bisa dihubungi, bukan Diana yang menjawab. Melainkan suara seorang laki-laki—terdengar cemas.
“Mbaknya pingsan di pinggir jalan, mas… tolong cepat,”
Aksa, yang waktu itu baru melangkah menuju basement apartemen, langsung berhenti. Jantungnya seolah jatuh ke perut.
“Di rumah sakit mana, Pak?” tanyanya cepat, nadanya tajam.
“Rumah Sakit Cempaka Putih.”
“Oke. Saya segera ke sana.”
Ingatan itu buyar ketika Diana mulai bergerak. Kelopak matanya terangkat perlahan, tampak berat. Tatapannya masih buram saat mencoba mencari fokus.
“Aku… di mana?” bisiknya, suara serak, nyaris tak terdengar.
“Rumah sakit,” jawab Aksa cepat. Nada kesalnya sulit ditahan. “Lagian lo dari mana aja sih? Kenapa bisa sampai pingsan di pinggir jalan?”
Diana mengerjap pelan. Ia tidak mungkin menjelaskan bahwa ia baru saja dari rumah orang tuanya, tapi juga tidak punya alasan lain untuk menjawab. Saat tubuhnya refleks mencoba bangun, tangan besar Aksa lebih dulu menahan bahunya.
“Lain kali, kabarin gue kalau lo mau ke mana-mana,” ucap Aksa ketus. “Lo tahu kan Tessa nitipin lo ke gue. Kalau lo kenapa-kenapa, gue yang dipepes sama dia!”
Diana terdiam. Ia menunduk, jemarinya saling bertaut dengan gelisah—ada rasa bersalah yang menempel pada sorot matanya.
“Sorry… kalau gue bikin lo susah.”
Melihat Diana begitu, ketegangan di wajah Aksa perlahan melunak. Ia mengembuskan napas kasar, membuang sisa kesal yang menekan sejak tadi.
Tak lama, pintu ruangan terbuka. Dokter Riana dan satu perawat muncul di baliknya.
“Diperiksa dulu ya, Bu,” kata perawat sambil mendekat dan memeriksa kondisi Diana.
Dokter Riana membaca hasil pengecekan sebentar, lalu tersenyum tipis. “Kondisinya lumayan stabil. Usia kehamilan sudah matang, jadi wajar kalau muncul kontraksi palsu.”
Ia kemudian menoleh ke arah Aksa. “Pak, tolong dijaga pola makan istrinya, ya. Jangan sampai telat makan. Dan… jangan terlalu capek atau stres.”
Aksa sempat mengerjap, jelas kaget dipanggil “Pak” dan dianggap suami. Tapi pada akhirnya ia hanya mengangguk cepat.
“Iya, Dok.”
Dokter Riana dan perawat keluar, menutup pintu perlahan. Ruangan kembali hening, hanya suara mesin AC dan aroma antiseptik yang menggantung. Aksa berdiri di sisi ranjang beberapa detik, memastikan napas Diana stabil.
Lalu—
kruk.
Perut Diana berbunyi cukup keras. Suaranya memantul jelas di ruangan yang terlalu tenang. Keduanya refleks saling melirik. Aksa mengangkat alis, sementara Diana buru-buru menatap langit-langit seolah menemukan sesuatu yang penting di sana.
“…Gue beliin makan dulu,” ujar Aksa akhirnya, langkah kakinya langsung bergerak menuju pintu.
Diana cuma meringis kecil. Ada rasa malu yang membuat pipinya merona, tapi ia tak berkomentar apa-apa, hanya menatap punggung pria itu yang menghilang dibalik pintu.
Tak sampai tiga puluh menit, Aksa kembali. Plastik makanan masih hangat di tangannya, dan begitu dibuka, aroma nasi goreng langsung memenuhi ruangan.
“Makan yang banyak,” katanya datar sambil meletakkan es teh manis di meja samping.
Tanpa banyak protes, Diana mulai makan perlahan. Tangannya sedikit tremor, tapi suap demi suap tetap masuk. Aksa duduk menyandar di sofa, kedua tangan terlipat di dada, matanya tak lepas dari gerakan wanita yang terlihat kelaparan didepannya.
Setiap kali sendok itu terangkat lagi, bahunya turun sedikit—seperti ada beban kecil yang lepas. Ia tidak bilang apa pun, tapi lega itu jelas.
Setelah piring kosong, Diana bersandar kembali ke bantal. Kelopak matanya mengerjap pelan—berat dan lelah.
“Udah, lo istirahat aja,” ucap Aksa, suaranya sudah jauh lebih lunak. Ia menyambar ponselnya di meja.
“Gue ke bawah bentar, cari angin. Kalo ada apa-apa, telepon gue langsung. Jangan nunggu pingsan dulu.”
Diana meringis kecil, tapi tidak tersinggung. Justru ada sedikit rasa hangat karena dijaga seperti itu. “Oke… thanks ya.”
Aksa hanya mengangguk sekali sebelum melangkah keluar, menutup pintu dengan hati-hati.
Ruangan kembali hening—hanya suara infus yang menetes perlahan dan denting jarum jam yang stabil di dinding.
Diana memejamkan mata sebentar. Napasnya naik turun pelan. Di sela kantuk yang berat, satu nama muncul begitu saja di kepalanya.
Tibra.
Seharusnya… pria itu yang ada di sini. Yang mengurusnya. Yang tahu kondisinya. Bukan Aksa.
“Hhh… stop, Di. Dia bahkan belum tentu tau lo lagi hamil anaknya,” gumamnya lirih, seperti menegur dirinya sendiri. Mengingatkan diri untuk tidak berharap pada seseorang yang bahkan tidak ada.
Ia mengembuskan napas panjang—antara lelah, bingung, dan pasrah—lalu membiarkan kelopak matanya perlahan tertutup kembali.
……….
Sementara itu, di bawah—di kafe kecil sebelah rumah sakit—Aksa menjatuhkan diri ke kursi kosong. Ia menghela napas panjang, seperti baru selesai lari maraton.
Kala dan Jevan yang sudah menunggu sejak tadi spontan menoleh.
“Ngagetin aja, njing,” celetuk Jevan, kaget.
Kala menyipitkan mata, menatap tampilan Aksa yang benar-benar kusut: baju berantakan, rambut acak-acakan.
“Lo udah mirip suami siaga, gue rasa,” gumam Kala. “Kenapa nggak lo nikahin aja sekalian si Diana?”
Jevan yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya langsung menoleh. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, alis terangkat tinggi. “Setuju gue sama Kala, Sa… lo segitunya ngurusin Diana.” Tubuhnya condong ke depan, mata menyipit penuh curiga. “Suka lo sama dia?”
Aksa menggeleng cepat. Terlalu cepat.
Ia meraih gelas kopi di depannya dan meneguk dalam-dalam—lebih untuk menutupi reaksi daripada karena haus.
Belum sempat ia kopi itu membasahi tenggorokan, suara Jevan terdengar keras dan penuh antusias:
“Oh… atau jangan-jangan lo ikut patungan ya sama si Tibra?” Telunjuk nya langsung terangkat menuding ke wajah Aksa.
Pria itu tersedak. Hampir saja kopi itu muncrat dari mulutnya.
“Anj— ngaco banget mulut lo!”
Jevan malah makin semangat. “Terus kalau bukan karena patungan, karena apa? Hah? Delapan bulan lo begini. Sa!”
Kala ikut menatap wajah sahabatnya—kali ini jauh lebih serius. “Nggak mungkin cuma karena Tessa, Sa. Segitunya lo repot.”
Aksa merasa terpojok. Ia menatap dua pria di depannya bergantian—Jevan yang menunggu dengan tatapan menggali, Kala yang tenang tapi menekan.
Aksa menggeser duduknya sedikit, seolah mencari ruang bernapas yang tidak ada. “Mmmm… gue.”Suaranya terdengar serak.
Mulutnya terbuka… tapi tidak ada kata yang benar-benar keluar. Aksa memijat tengkuknya, gelisah. Ia tahu dua pasang mata di depannya sedang menuntut jawaban. Dan ia juga tahu jawaban yang sebenarnya bukan sesuatu yang bisa ia ucapkan sembarangan.
“Gue cuma…”
Ia menelan ludah, lidahnya terasa kering.
Ia mencoba merangkai alasan paling aman, dan masuk akal.
“…gue cuma—”
Ddrrtt. Ddrrtt.
Ponselnya tiba-tiba bergetar keras di atas meja, memotong kalimat itu tepat sebelum rahasia apa pun terucap.
Ketiganya spontan menoleh.
Layar ponsel menyala.
Diana memanggil…
Aksa reflek meraih ponsel itu dan menekan tombol hijau tanpa pikir panjang.
“Kenapa, Di?”
Ada jeda satu detik.
Hanya satu detik—tapi cukup untuk membuat wajah Aksa langsung tegang.
“—hah? KETUBAN PECAH?”
...Hampir aja Aksa buka rahasiaaa nih 🙄...
...Stay tuned, guys… sebentar lagi kita sambang bayi nih! Kwkw 👶💖...
...Jangan lupa like dan komen kalian yaa, biar aku makin semangat bikin bab berikutnya! 💌...