NovelToon NovelToon
NEW FAMILY

NEW FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Keluarga & Kasih Sayang / Slice of Life
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Rizz Kyy

Lucky, seorang remaja kelas 3 SMP yang tumbuh besar di Pesantren Assalam sejak usia lima tahun, menjalani hidup penuh kesederhanaan tanpa orang tua maupun kerabat yang menunggu. Hari-harinya diisi belajar, menghafal, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, meski kesepian sering menghampiri. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan tekad kuat untuk bertahan dan meraih masa depan yang berbeda dari garis hidup yang tampak sudah ditakdirkan untuknya. Semua itu berubah ketika suatu hari ia tanpa sengaja menolong keluarga seorang konglomerat. Tindakan kecil yang lahir dari ketulusan itu membuka perjalanan baru baginya—perjalanan yang mempertemukannya dengan kesempatan, harapan, dan rahasia besar yang perlahan mengungkap siapa sebenarnya Lucky dan mengapa takdirnya terasa begitu berbeda sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz Kyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI CINTAI ATAU DIKASIHANI

Satu bulan berlalu sejak malam kebakaran itu. Hidup Lucky di pesantren kembali berjalan seperti biasa—tenang, teratur, dan jauh dari hiruk pikuk dunia luar. Rutinitas harian yang padat membuat waktu berlalu cepat: belajar di kelas pagi, hafalan siang hari, pekerjaan asrama, lalu mengaji setelah salat Isya.

Malam itu, tepat pukul sembilan, ketika para santri lain mulai beristirahat atau sibuk menyelesaikan tugas piket, Lucky melangkah menuju rumah kecil yang berada di sisi timur kompleks pesantren. Rumah itu milik pemimpin pondok—Kyai Ahmad—atau yang akrab dipanggil Abie oleh seluruh santri. Panggilan yang hangat dan penuh hormat.

Lucky mengetuk pelan pintu kayu tua itu.

Tok… tok…

“Masuk, nak Lucky,” suara Abie langsung terdengar dari dalam, seolah beliau tahu siapa yang datang hanya dari suara langkahnya.

Lucky tersenyum tipis lalu masuk. Ruangan itu sederhana, hanya berisi rak buku tua, meja panjang penuh kitab, serta tikar pandan yang digelar rapi. Aroma kayu dan minyak wangi khas ulama memenuhi udara, membuat hati siapa pun yang masuk merasa tenang.

Seperti biasanya, Abie duduk dengan punggung sedikit bungkuk namun sorot matanya tajam penuh kebijaksanaan. Lucky mengambil posisi duduk di hadapannya.

“Bagaimana harimu, Nak?” tanya Abie sambil menutup kitabnya.

Lucky menghela napas panjang. “Alhamdulillah, Bi… seperti biasa. Tapi… ada beberapa hal yang pengen Lucky tanya.”

Abie tersenyum. “Kamu memang tak pernah kehabisan pertanyaan.”

Lucky tertawa kecil. Inilah rutinitas yang selalu ia nantikan. Di sini, di ruangan sederhana ini, ia bebas bercerita apa saja—tentang kegelisahan, mimpi-mimpi, rasa penasaran terhadap ilmu pengetahuan, bahkan hal-hal kecil yang ia temui di kesehariannya.

Bagi Lucky, Abie adalah tempat pulang kedua.

Dan malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, percakapan panjang pun dimulai—tanpa ia sadar bahwa di luar sana, seseorang masih mencari keberadaannya.

...****************...

Di kediaman Jenderal Ardan yang megah—sebuah rumah besar dengan arsitektur klasik yang mencerminkan wibawa dan kekuatan—suasana makan malam berlangsung hangat. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan, membuat meja makan panjang yang penuh hidangan tampak semakin mewah.

Di ujung meja, Jenderal Ardan duduk dengan tenang, sikap tubuhnya tegak namun santai. Di sampingnya, Glasya—masih terlihat lemah tetapi sudah jauh lebih sehat—berusaha menikmati hidangan sambil sesekali menatap keluarganya dengan penuh rasa syukur.

Tiga putri mereka pun hadir.

Chelsea, putri sulung, sebuah sosok elegan dengan mata yang selalu terlihat menghitung dan menganalisis, seolah bisnis besar terus berputar di kepalanya.

Grace, putri kedua, berparas lembut dan menenangkan, senyum seorang dokter yang pernah berkali-kali menyelematkan nyawa pasiennya.

Dan Cleo, putri bungsu yang paling ceria—seorang idol terkenal dengan kepribadian manis yang membuat siapa pun merasa nyaman.

Di tengah perjamuan itu, Jenderal Ardan meletakkan sendoknya perlahan. Suaranya tenang, namun cukup kuat membuat semua kepala mengarah padanya.

“Aku sudah mendapatkan informasi tentang anak yang menyelamatkan kalian.”

Suasana meja langsung hening.

Chelsea berhenti mengunyah, Grace menatap ayahnya dengan penuh penasaran, dan Cleo menutup mulutnya yang masih berisi makanan, matanya membesar.

Namun yang paling terkejut adalah Glasya.

Sendok di tangannya jatuh, menimbulkan bunyi kecil namun jelas. Kursi yang ia duduki bergeser ketika tubuhnya spontan berdiri, matanya berkaca-kaca, suara bergetar menahan haru.

“Siapa dia?” Glasya bertanya cepat, seakan tak sabar menahan perasaan yang selama ini ia pendam.

“Di mana dia? Kita harus menemui dia sekarang juga, Ardan. Sekarang juga.”

Glasya bahkan sudah mulai melangkah mundur, bersiap meninggalkan meja makan. “Aku akan berganti pakaian. Kita pergi malam ini!”

Semua yang duduk di meja hanya bisa saling pandang—kaget melihat betapa besarnya keinginan Glasya untuk bertemu dengan sang penyelamat.

Ardan mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat agar Glasya menahan diri.

“Duduk dulu, sayang,” ucapnya lembut namun tegas.

Glasya berhenti di tempatnya. Ia menarik napas panjang, lalu kembali duduk perlahan, meski sorot matanya menunjukkan bahwa hatinya masih bergolak.

Ardan merapikan posisinya di kursi, kemudian mulai bercerita—bukan dengan nada dramatis, tetapi dengan keseriusan seorang pemimpin yang sedang menyampaikan fakta penting.

“Anak itu… hidupnya tidak mudah,” katanya pelan.

“Dia tidak punya saudara. Tidak punya kerabat. Bahkan wajah orang tuanya saja dia tidak tahu.”

Chelsea, Grace, dan Cleo mulai menunduk, mendengarkan dengan lebih saksama.

“Sejak umur lima tahun, dia hidup dan dibesarkan di sebuah pesantren,” lanjut Ardan. “Anak itu tumbuh mandiri, keras kepala, tapi cerdas… sangat cerdas. Dia bukan hanya menolong kalian waktu itu—dia sudah terbiasa berjuang sendirian sejak kecil.”

Glasya menggigit bibirnya, dan air mata yang sejak tadi ia tahan mulai mengalir perlahan. Tangannya mengepal di pangkuan, seolah menahan sesuatu yang sudah lama memenuhi dadanya.

“Ardan…” suaranya bergetar. “Anak seperti itu… sendirian selama ini?”

Ardan hanya mengangguk.

Di seberang meja, Chelsea menatap ibunya dengan raut prihatin. Grace menutupi mulutnya, sedangkan Cleo memeluk kedua tangannya sendiri, mencoba memahami bagaimana seorang anak bisa hidup tanpa siapa pun sejak kecil.

Glasya mengusap matanya, lalu menatap suaminya dengan tekad yang berbeda—lebih kuat, lebih dalam.

“Ardan,” ucapnya dengan suara yang tak terbantahkan, “aku ingin bertemu dengannya.”

Ia menarik napas sekali lagi, lalu menambahkan dengan suara tegas namun penuh rasa keibuan:

“Aku ingin menjadikannya anak angkat kita.”

Ruangan itu kembali hening, kali ini lebih berat, seperti waktu ikut berhenti untuk menunggu jawaban Ardan.

Mendengar ucapan Glasya, ketiga putrinya terdiam. Keheningan itu bukan karena tidak setuju, melainkan karena mereka sedang menimbang sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Chelsea menatap meja makan, memainkan sendok di ujung jarinya. Grace menarik napas perlahan, matanya menerawang. Tetapi Cleo—yang sejak tadi tampak paling gelisah—menunduk dalam-dalam.

Bagi Cleo, kehadiran laki-laki asing bukan hal mudah. Luka lamanya—dilecehkan oleh salah satu penggemar pria—masih meninggalkan bayang-bayang yang sulit hilang. Meski ia tidak membenci laki-laki, rasa takutnya kadang datang seperti kilatan petir yang tak bisa ia kendalikan.

Namun justru di saat Ardan hendak menengahi, suara Chelsea memecah kesunyian.

“Aku setuju,” ucapnya tiba-tiba.

Semua kepala menoleh ke arahnya.

Chelsea duduk tegak, menatap ibunya dengan ketenangan yang selalu membuatnya tampak dewasa.

“Dia sudah menyelamatkan kita. Dan… aku selalu ingin punya adik laki-laki.”

Ia tersenyum tipis, hangat namun sungguh-sungguh. “Kalau Mama ingin menjadikannya bagian dari keluarga ini, aku ikut.”

Grace perlahan mengangguk, mendukung. Cleo tidak berkata apa-apa, tetapi tidak pula menolak—ia hanya memeluk lengannya lebih erat, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.

Ardan akhirnya bangkit dari kursinya, menepuk lembut bahu istrinya.

“Tenang dulu, sayang,” ujarnya pelan. “Semua ini perlu waktu.”

Ia menatap seluruh keluarganya satu per satu sebelum melanjutkan.

“Pesantren tempat Lucky tinggal—Assalam—adalah pesantren yang selama ini kita bantu. Aku bahkan mengenal pemimpinnya secara pribadi.”

Ardan menghela napas, lalu menambahkan dengan suara yang lebih mantap:

“Aku berjanji… kita akan menemui Lucky. Kalau bukan minggu ini, minggu depan. Aku pastikan itu.”

Sorot mata Glasya melembut, meski masih basah oleh air mata.

Chelsea tersenyum kecil.

Grace tampak lega.

Dan Cleo, meski masih memeluk tubuhnya sendiri, mulai mengangguk perlahan.

Di meja makan keluarga Welton malam itu, untuk pertama kalinya setelah musibah, muncul harapan baru—harapan akan hadirnya seseorang yang tanpa sadar telah mengguncang hidup mereka semua.

...****************...

Mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa usia Glasya dan Chelsea tampak begitu dekat, seolah mereka bukan ibu dan anak, melainkan kakak dan adik?

Jawabannya sederhana namun penuh cerita.

Glasya bukan ibu kandung dari Chelsea maupun kedua saudarinya. Ibu kandung mereka telah meninggal ketika ketiga putri itu masih kecil—terlalu kecil untuk mengerti arti kehilangan sebesar itu. Sejak saat itu, Ardan berjuang seorang diri mengurus mereka, meski ia tahu dirinya bukan tipe ayah yang lembut. Tanggung jawab besar sebagai seorang jenderal menjauhkan waktunya dari kelembutan yang dibutuhkan anak-anaknya.

Tak lama setelah itu, takdir membawanya ke sebuah gedung konser, tempat seorang pianis sekaligus aktor Jepang yang telah lama tinggal di Indonesia tampil—Glasya. Ardan malam itu bertugas mengawal sang pianis.

Pertemuan pertama hanya sekilas. Pertemuan kedua, mereka bertukar senyum.

Dan pertemuan-pertemuan berikutnya membuat Ardan menyadari sesuatu yang sulit ia jelaskan: ada ketenangan pada Glasya yang tidak ia temukan pada siapa pun.

Glasya juga melihat sisi lain Ardan—bukan hanya seorang pemimpin militer yang tegas, tetapi pria yang memikul beban besar dan tetap berdiri tegak. Kejujuran dan tanggung jawab Ardan membuatnya luluh.

Tak butuh waktu lama bagi Ardan untuk melamar. Dan yang mengejutkan, Glasya menerimanya tanpa ragu. Ia menikah bukan karena kemewahan atau gelar, tetapi karena ia merasa bisa mencintai dan melindungi ketiga anak yang ditinggal ibu mereka itu.

Sejak hari itu, Glasya menjadi pelindung sekaligus cahaya baru bagi keluarga Ardan.

Namun ada satu hal yang tak bisa mereka dapatkan—mereka tidak pernah dikaruniai anak lagi.

Meski begitu, rumah tangga mereka tetap hangat, dipenuhi tawa tiga putri Ardan yang tumbuh besar di bawah perawatan seorang wanita yang mencintai mereka layaknya darah daging sendiri.

...****************...

...****************...

Satu minggu berlalu.

Minggu pagi yang cerah menyelimuti Pondok Pesantren Assalam. Setelah jadwal mengaji subuh selesai sekitar pukul enam, para santri langsung menjalankan rutinitas wajib setiap Minggu: piket bersih-bersih. Ada yang menyapu halaman, ada yang mengguyur kamar mandi, ada yang membersihkan selokan, dan sebagian lagi merapikan mushola.

Lucky berada di mushola pagi itu, mengepel lantai bersama teman-temannya. Suasana penuh tawa ringan dan obrolan khas santri yang riuh namun hangat. Lucky sesekali bercanda, sesekali menggoda temannya, sambil tetap fokus menggerakkan kain pel di sepanjang lantai yang dingin.

Tiba-tiba suara mesin halus terdengar dari arah gerbang.

Sebuah sedan mewah berwarna hitam berhenti dengan anggun di halaman pondok—kontras sekali dengan bangunan sederhana pesantren.

Para santri langsung berhenti bekerja, saling menatap bingung.

“Mobil siapa itu?” bisik salah satu dari mereka.

Santri lain menegakkan tubuh, memicingkan mata, berusaha mengenali.

Saat pintu mobil terbuka, beberapa santri langsung terperangah. Ada yang sampai menjatuhkan sapunya.

Mereka mengenali sosok-sosok yang turun dari mobil itu.

Jenderal Ardan Welton.

Glasya Welton.

Dan ketiga putri mereka.

Namun sebagian santri lain malah saling bertanya-tanya, karena tidak tahu siapa keluarga yang begitu mencolok itu.

Di tengah semua kegaduhan kecil itu, ada satu orang yang sama sekali tidak memedulikan apa yang terjadi: Lucky.

Ia tetap jongkok, menyikat sudut mushola, menggulung kain pel, lalu berdiri lagi untuk menarik garis air ke luar ruangan.

Bagi Lucky, yang terpenting adalah lantai cepat kering… lalu setelah itu ia bisa memanjakan perutnya dengan nasi uduk langganannya.

Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun, seakan kedatangan keluarga paling berpengaruh di negeri ini hanyalah angin lewat.

1
Eka Budi
sangat bagus
alma ajidu
sudah selesai kah ceritanya....?
Rita Indah
up lagi kak
Eka Budi
masih lama kah, belum up lagi?
Sutono jijien 1976 Sugeng
👍👍👍👍bagus
Riz Kyy: Terimakasih orang baik 🙏/Determined//Applaud/
total 1 replies
Dania
semangat tor
Riz Kyy: /Determined//Determined//Determined/
total 1 replies
Dania
misi
Riz Kyy: Puntenn mhamank /Smile/
total 1 replies
Aghitsna Agis
harusnya jgn langsung bilang msu adopsi tapi mau ngucapin terima kasih ksrena telah menyelamatkan dari kobaran apj pastj nga akan menjauh kalau udah dekat dan luckynya nyaman baru bilang mau adopsi
Riz Kyy: Seharusnya begitu/Cry//Frown/, mungkin glasya sudah terbiasa dengan setiap keinginanya yang selalu terpenuhi, namun ketika keinginanya baru saja ditolak halus oleh lucky, glasya pun tersadar dan berusaha sendiri untuk mendapatkanya /Determined//Determined/
total 1 replies
laki laki
up lagi thor
laki laki: monitor thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!