NovelToon NovelToon
CASANOVA ARROGANT

CASANOVA ARROGANT

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:56.7k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.

Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.

Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

"Viona larasati, bukankah kemarin saya sudah peringatkan. Kopi untuk Pak Teguh, gulanya cukup setengah sendok saja!" tegur seorang wanita bertubuh gempal, sembari meletakkan kasar cangkir kopi yang isinya berkurang lebih dari separuh ke atas meja. Dalam satu minggu, wanita itu sudah tiga kali mendapat aduan dari salah satu atasannya tentang kopi buatan Viona yang tidak sesuai pesanan.

Gadis bernama Viona itu hanya menunduk diam. Ia sudah berusaha berhati-hati mengikuti setiap keinginan pria yang sudah tiga kali membuatnya terkena teguran. Namun tetap saja, pria itu selalu memiliki alasan yang membuatnya kembali mendapat teguran.

"Viona. Kenapa diam saja? kamu dengar saya ngomong, tidak?!" Karena tidak kunjung mendengar jawaban, wanita bertubuh gempal itu kembali berkata dengan suara tegas.

"Saya hanya menambahkan setengah sendok gula di kopi Pak Teguh, Bu... Sesuai dengan yang ibu arahkan kemarin, " jawab Viona, berusaha bersikap setenang mungkin. Kali ini ia tidak ingin lagi di salahkan karena sudah berusaha menuruti perintah sebelumnya. "Kalau Bu Siska tidak percaya, Ibu bisa cek rekaman CCTV... Saya sengaja membuat kopi untuk Pak Teguh, di area yang tertangkap jelas oleh kamera, lalu mengantarnya langsung ke ruangan Pak Teguh."

Wanita bertubuh gempal bernama Siska, tampak mengernyitkan dahi. Tidak menyangka, gadis muda di hadapannya memiliki ide membuat kopi di area yang terpantau CCTV. "Kamu beneran membawa mesin kopi itu ke sana?" tanyanya kembali memastikan.

Viona mengangguk penuh keyakinan. Ia memang sengaja membuat Kopi untuk Pak Teguh di area yang terekam jelas oleh kamera CCTV, meski sedikit kerepotan, karena harus memindahkan mesin kopi yang cukup berat dan peralatan lainnya ke area depan, namun tetap ia lakukan agar saat pria paruh baya itu kembali memprotes, ia bisa langsung memberi pembelaan sekaligus pembuktian, jika ia hanya menambahkan gula pada kopi yang sudah jadi itu sesuai arahan Bu Siska.

"Lagipula, kalau kopi buatan saya tidak sesuai keinginan Pak Teguh, kenapa kopinya hanya tersisa sedikit?" Viona berujar tenang.

"Dua hari kemarin juga seperti itu. Beliau mengeluhkan rasa kopinya yang terlalu manis, tapi kopi dalam cangkirnya selalu habis," imbuh Viona.

Bu Siska melirik sekilas pada cangkir yang sempat ia letakkan tadi, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ucapan Viona memang ada benarnya. Ia juga merasa, terdapat keganjilan terhadap laporan Pak Teguh. Apalagi, bukan kali ini saja, Ia mendapat laporan dari pria paruh baya berkepala plontos itu. Beberapa pegawai wanita sebelum Viona pun mengalami hal yang sama, bahkan memilih mengundurkan diri karena tidak tahan selalu mendapat komplain dari Pak Teguh.

"Baiklah. Lebih baik saya lihat dulu rekaman CCTV seperti yang kamu bilang tadi", ucapnya yang kemudian berlalu untuk kembali ke ruangannya. Sebelumnya, ia sempat mengira Viona menambahkan gula lebih dari yang ia sarankan hingga kembali memicu protes dari salah satu atasannya.

Melihat Bu Siska keluar dan dirasa situasi cukup aman. Seorang wanita yang sedari tadi diam di pojokan sambil mencuri dengar perdebatan itu, bergegas menghampiri Viona. Ia menepuk gemas pundak rekan satu shiftnya. "Kalau seperti ini terus, kamu bakal di kira nantangin Pak Teguh." bisiknya setelah lebih dulu memastikan tidak ada orang lain yang mendengar obrolannya.

"Biarin aja, Kak. Aku udah bosan kena bully Pak Teguh," sahut Viona santai. Ia mengambil cangkir bekas kopi tadi kemudian membawanya ke Wastafel untuk dicuci.

Tidak puas dengan jawaban santai Viona, wanita itu kembali menghampiri Viona. "Tapi Vio, gimana kalau sampai Pak Teguh ga terima? yang ada kamu bakal di pecat." ucapnya khawatir.

Viona berbalik badan setelah meletakkan lebih dulu cangkir yang sudah ia cuci di tempatnya, lantas menatap Rina yang merupakan rekan satu shift selama satu bulan ia bekerja di tempat itu. "Sepertinya, Bu Siska tidak akan memecat pegawainya... Dalam dua minggu ini saja, beliau sudah kehilangan Mba Sasih, Mba Wina dan Kak Dian," ucap Viona yang malah mengabsen nama beberapa rekan satu shiftnya yang lebih dulu mengundurkan diri. "Belum lagi, Bang Arip yang tiba-tiba kena pecat cuma karena gantiin Mba Sasih anterin Teh buat Pak Teguh."

"Tapi, Vio... "

"Tidak perlu menunggu hingga di pecat. Aku memang berniat mengundurkan diri setelah memberi sedikit pelajaran pada pria mesum itu... Aku tidak ingin, Kak Rina atau pegawai lain seperti kita, kembali diperlakukan tidak senonoh seperti yang sudah-sudah," ucap Viona berapi-api. "Semoga saja... Setelah ini, Bu Siska jadi lebih memperhatikan alasan pegawainya mengundurkan diri, kemudian mencari tahu lebih dalam alasan dibaliknya," imbuh Viona penuh harap.

Viona memang sudah cukup muak dengan perlakuan salah satu atasannya yang kerap berbuat mesum pada pegawai biasa seperti dirinya. Jika perbuatan mesum yang dilakukan pria bernama Teguh itu mendapat penolakan, maka pria itu tidak segan membuat masalah dengan mencari kesalahan hingga berakhir dengan surat pengunduran diri atau bahkan pemecatan sepihak.

"Kalau begitu, tolong bertahanlah sedikit lagi. Aku tidak mau bekerja di sini sendirian," pinta Rina penuh harap. Menatap kagum pada gadis yang baru berusia sembilan belas tahun, namun memiliki ketegasan dan keberanian yang tidak dimiliki olehnya.

****

Di belahan dunia lain. Agam yang baru saja masuk ke dalam unit Apartemen miliknya sepulang bekerja, dikejutkan dengan kehadiran Shera yang tengah duduk manis di sofa sambil menunggu kedatangannya.

"Shera, apa yang kau lakukan di sini?" Agam berkata seraya melangkah menghampiri Shera yang duduk tenang dengan pakaian minim.

Shera tersenyum tipis, ia beranjak dari duduknya kemudian mengalungkan kedua tangan pada leher Agam. "Aku ingin mengulang malam panas kita," bisiknya manja. Shera berusaha mengikis jarak dengan menempelkan bagian menonjol tubuhnya pada tubuh Agam, wanita cantik itu juga berusaha mendekatkan wajahnya untuk menyatukan bibir tipisnya pada bibir pria yang kerap membuatnya melayang dan mendesah sepanjang malam. Namun belum juga kedua bibir itu saling bersentuhan, Agam lebih dulu memalingkan wajah, hingga bibir Shera hanya mampu menjangkau pipi Agam.

Shera tersenyum pahit saat bibirnya hanya menempel di kulit pipi Agam. Bibir pria itu benar-benar sulit ia sentuh. Agam tidak pernah mau dicium atau mencium bibirnya, sekalipun tengah bermain panas di atas ranjang.

"Kamu menolakku?" tanyanya dengan bibir yang masih nyaris menempel di pipi Agam.

Menghela napas, Agam melepas tangan Shera yang masih melingkar di lehernya, pria itu lantas mundur satu langkah untuk memberi jarak. "Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?" tanyanya sedikit menaikan intonasi bicara.

Agam tidak pernah mengizinkan wanita manapun masuk ke dalam apartemen pribadinya. Ia hanya akan bermain di hotel atau apartemen milik wanita yang ia tiduri.

"Hyun yang memberi tahu passcodenya," jawab Shera santai. Karena Agam selalu menolak panggilan dan tidak membalas pesannya, Shera pun mencoba menghubungi Hyun. Bak gayung bersambut, Hyun malah memberi tahu passcode unit apartemen Agam, untuk membalas kekesalannya pada Agam yang sudah berani tidur di ranjang keramatnya semalam.

Shera kembali mendekat pada Agam. Dengan jemari lentiknya, ia membelai dada bidang prianya begitu lembut, sementara wajahnya berada di ceruk leher Agam, mengendus aroma tubuh prianya yang begitu membuatnya merasa candu.

"Bermainlah dulu denganku sebelum kau pergi," bisiknya manja setelah menciumi leher Agam untuk memancing hasrat. Shera bahkan mulai membuka kancing kemeja Agam dengan jemarinya yang sudah begitu lincah.

"Aturan main ku masih sama," jawab Agam. Ia mencengkram tangan Shera yang tengah sibuk melepas kancing kemeja, kemudian menghempasnya kasar. Wajah datar dan intonasi Agam yang terkesan dingin, membuat Shera berdecak kesal.

"Hanya untuk malam ini saja, Agam," ucapnya manja. Berharap Agam memberinya sedikit kelonggaran. Ia ingin merasakan sensasi bercinta di apartemen milik Agam yang konon tidak pernah dimasuki wanita lain selain Kakak perempuannya.

Agam tidak menjawab. Ia hanya memberi tatapan datar pada Shera sebagai jawaban pasti darinya.

Shera kembali berdecak, ia meraih tas miliknya yang masih tergeletak di atas sofa. Menatap sejenak pada Agam sebelum beranjak pergi. "Aku menunggumu di apartemen ku malam ini. Datanglah sebelum kau kembali ke sana." Meski harus gagal bercinta di apartemen milik Agam, ia masih berharap pria itu kembali berbagi peluh dengannya malam ini di apartemen miliknya.

Setelah Shera pergi tanpa mendengar jawaban apapun. Agam merogoh ponsel di saku celana, lantas mengirim pesan pada seseorang dengan menyertakan sebuah foto sebagai bukti. Agam berencana membalas Hyun yang sudah berani membocorkan passcode apartemen. "Lihat saja. Setelah ini, kau akan benar-benar menyesal, Hyun," gumam Agam. Senyum tipis tersemat di sudut bibir, kala membayangkan reaksi Hyun setelah ini.

****

1
Three Flowers
ciee.. Viona ikutan baper. Memang enak kalo mempunyai seorang pelindung
Three Flowers
dia lagi marah, Viona
Three Flowers
kamu terlambat, Damar
Three Flowers
mulai timbul sifat posesif nya nih
Three Flowers
apakah damar naksir viona?😅
Three Flowers
apa yang terjadi semalam?😅
Three Flowers
jadi sedih, ternyata dibikin nyaman untuk viona seorang diri, bukan bersama Agam
Three Flowers
berarti secara tidak langsung, Agam ingin rumah itu terasa nyaman saat ia mudik ke rumah mertua, ya? ciee...berasa nikah beneran, bukan sekedar kontrak 😍
Three Flowers
takut ada yang ngintip, ya Gam?
Three Flowers
perhatian banget Viona sama Agam😍
Three Flowers
Veronica masih cinta Hyun ya?
Three Flowers
ternyata viona berprestasi ya
Three Flowers
enak banget, duit segitu banyak buat pasangan beracun ini
Three Flowers
kenapa pamannya kejam sekali nyebut vio jalang?😭
Three Flowers
mereka mau kemana sih?
Three Flowers
minta ditampol mulutnya si Agam
Three Flowers
enak saja ngomongnya... nggak ikut mengandung malah mau ambil anaknya
Three Flowers
ish ish... yang dipanggil calon suaminya.. wkwk 😂
Three Flowers
daddy siapa ini maksudnya?
Teteh Lia: Daddy Rayyan, ayah angkat Agam. mantan suami bunda alya
total 1 replies
Three Flowers
jangan main jodoh2an saja, bu... Agam udah mau nikah sama cewek lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!