NovelToon NovelToon
Love Journey Story

Love Journey Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Persahabatan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Geamul

Novel ini menceritakan kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang bernama Syajia, nama panggilanya Jia.

Seorang perempuan yang sangat sederhana ini mampu menarik perhatian seorang laki-laki dari anak ketua yayasan di kampusnya dan seorang pemilik kafe tempat ia bekerja.

Tentu keduanya mempunyai cara tersendiri untuk bisa mendapatkan Jia. Namun Jia sudah terlanjur menaruh hatinya pada anak ketua yayasan itu.

Sayangnya perjalanan cinta tidak selalu lurus dan mulus. Banyak sekali lika-liku bahkan jalan yang sangat curam dalam kisah cinta Jia.

Apakah Jia mampu melewati Kisah Perjalanan Cinta nya? Dan siapakah yang akan mendapatkan Jia seutuhnya? Ikuti terus kisahnya di dalam novel ini yang mampu membawamu terjun kedalam Kisah Perjalanan Cinta Syajia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Geamul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Maaf

Jia sangat berharap Al tidak akan pernah mengganggunya lagi. Tapi sayang sekali harapannya pun tak terkabulkan. Rasanya ia selalu saja melihat Al dimana-mana. Dan saat berada di perpustakaan pun Jia bertemu dengan Al, lagi.

“Kamu ngapain disini? Mau cari gara-gara lagi?” ketus Jia dengan volume suara yang sedikit rendah.

“Ya terserah gue dong, emang perpustakaan ini punya lo?” jawab Al dengan volume suara yang sama.

Jia hanya terdiam dan melanjutkan kembali aktivitasnya yang sedang mencari-cari buku dan mengabaikan perkataan laki-laki itu. Al yang masih berdiri di dekat Jia berusaha untuk memulai percakapannya.

“Btw, kita belum kenalan. Nama gue Alvino,” sambung Al.

“Udah tahu,” jawab Jia singkat dan masih tetap sibuk mencari-cari buku.

“Nama lo?”

“Namaku Syajia, panggil aja Jia,” Jia pun menghentikan aktivitasnya dan mulai berbicara serius.

“Udah kan tanya-tanya-nya? Kalau udah, plis jangan ganggu aku!” Jia menatap mata Al dengan tajam.

“Tapi Ji, gue mau ...” belum selesai bicara, Al spontan menghentikan ucapannya saat Jia mengangkat tangan.

“Yaudah, kalau gitu aku yang akan pergi.”

Jia pun langsung meninggalkan Al yang masih tetap berdiri membeku. Al tak habis pikir bisa bertemu dengan perempuan seperti Jia. Yang selama ini menganggap semua perempuan selalu bisa di taklukinnya, tapi berbeda dengan Jia. Dia tak seperti perempuan yang lain, yang selalu terpesona ketika bertemu dengan Al.

Tak bosan-bosannya Al selalu saja menganggu Jia. Jia pun tak bisa berbuat apa-apa, ia terpaksa untuk terus bertemu dengan Al dan dengan waktu yang lama. Tak apa, ini akan membuat dirinya berlatih bersabar dalam situasi apapun. Meskipun kepalanya akan sedikit terasa sakit.

“Hai Ji..” Al menghentikan langkah Jia yang sedang menuju ke kelas.

“Kamu?” kesal Jia yang sedikit kaget.

“Iya gue,” jawab Al cengengesan.

“Gue benar-benar mau minta maaf, kalau selama ini gue selalu bikin lo kesal,” sambung Al.

Wajah Al pun seketika berubah saat mengatakan maaf pada Jia. Wajah yang semula menyebalkan seperti anak kecil nakal yang di jalanan, seketika berubah menjadi wajah yang lugu dan sopan. Jia pun merasa tak tega melihatnya, ia merasa bahwa Al benar-benar tulus meminta maaf. Hal seperti ini nih yang mampu membuat hati Jia luluh.

Jia benar-benar tak bisa menolak atas permintaan maaf Al. Dan pikirnya kita sebagai manusia haruslah saling memaafkan.

Jia menghela nafasnya. “Oke, aku maafin kamu.”

“Makasih banyak ya Jia,” ucap Al gembira. Mereka pun saling melempar senyuman satu sama lain.

“Ternyata Jia cantik juga ya kalau senyum,” bisik Al pada dirinya sendiri.

“Kenapa Al?” Jia pun tak mendengarnya.

“Eh enggak, gue cuma mau bilang. Gue bolehkan jadi teman lo?”

“Oh.. iya boleh.”

Mereka pun memasuki kelas bersamaan. Tak ada yang memperhatikannya kecuali Nana dan Bima. Bahkan Bima melihat Al dengan tatapan yang tajam dan terus menerus menatapnya sampai Al menduduki kursinya.

“Kamu habis dari mana Ji? Kok bisa barengan gitu sama Al?” tanya Nana penasaran.

“Aku habis dari toilet, kebetulan di depan aku ketemu Al.”

“Bener ni cuma kebetulan?” goda Nana.

“Jangan mulai deh, lagian dia cuma mau minta maaf.”

“Oh, terus kamu maafin?”

“Hmm, awalnya sih ragu, tapi aku maafin kok.”

“Nah gitu dong, bagus deh..”

***

Perkuliahan pun telah selesai. Hari ini Jia, Nana dan Bima akan melanjutkan kegiatannya untuk belajar tambahan. Kali ini mereka akan belajar di rumah Jia. Tetapi saat mereka akan berangkat, tiba-tiba Al menghampiri Jia dengan motor klasiknya.

“Al, kamu belum pulang?” tanya Jia.

“Hai Al,” Nana pun menyambar. Dan Bima terlihat sangat kesal melihat kedatangan Al.

“Hai, gue sengaja belum pulang karena gue mau ngajak lo pulang bareng. Lo mau kan?”

Jia terperanjat. “Pulang bareng? Tapi ...” belum sempat melanjutkan ucapannya, Nana memotong ucapan Jia.

“Ya mau dong Al, Jia pasti mau pulang bareng kamu, iya kan Ji?” Nana menarik tangan Jia memaksa untuk menjawab iya.

“Tapi Na,” lagi-lagi ucapan Jia dipotong.

“Gapapa kok Ji, aku juga mau langsung pulang. Jadi kamu bisa pulang bareng sama Al,” sambar Nana mendorong Jia untuk naik motor Al dan memastikan Jia untuk pulang dengan Al. Jia langsung menaiki motor Al walaupun terpaksa, ia hanya terdiam dan kebingungan.

“Yaudah, kita duluan ya,” pamit Al.

“Iya Al hati-hati di jalan!” ucap Nana yang sumringah karena sahabatnya bisa dekat dengan Al.

Berbeda dengan Bima. Dia malah semakin panas saat melihat Jia pergi bersama Al. dia terlihat begitu kesal dan marah, dadanya memanas dan bergetar, matannya pun memerah seperti banteng yang akan mengamuk. Tak sedikit pun Bima mengeluarkan suaranya sampai dia pun pergi meninggalkan Nana sendiri.

“Eh Bim mau kemana?” Nana kebingungan dengan kepergian Bima begitu saja. “Aneh banget. tapi gapapa, yang penting Jia bisa jalan sama Al,” Nana mengenyahkan kepergian Bima. “Selamat bersenang-senang Jia,” teriaknya sumringah.

***

Saat beberapa menit di perjalanan, Al membelokkan motornya ke sebuah kafe bernama singgah yang tak jauh dari rumah Jia.

“Loh kok berhenti disini?”

“Kita mampir dulu ya, gapapa kan?”

Jia hanya mengangguk, mereka pun masuk ke kafe tersebut. Saat di ambang pintu, Jia tertabrak oleh salah satu pegawai kafe yang terpeleset sampai lengan Jia terkena tumpahan kopi.

“aww …” jerit Jia.

“Ya ampun maaf Mba saya gak sengaja,” pinta pegawai itu.

Al yang melihat kejadian itu langsung mengamankan Jia dan menyambar memarahi pegawai tersebut.

“Kalau jalan lihat-hat dong, jadi kotor kan?” kesal Al.

“Maaf banget Mas saya gak sengaja.” Pegawai itu merasa sangat tidak enak.

“Udah Al aku gapapa kok, ini cuma kotor sedikit aja.”

“Tapi Ji …”

“Gapapa Al. Mba lain kali hati-hati ya!” ucap Jia dengan lembut.

“Iya Mba terimakasih, sekali lagi saya mohon maaf,” ucap pegawai itu menyesal sembari membungkukkan tubuhnya.

Mereka pun duduk di tempat biasa Jia dan Nana duduk. Lalu Al memanggil pegawai untuk memesan minuman.

“Eh Mba Jia, gak sama Mba Nana?” tanya pegawai yang biasa melayani Jia dan Nana.

“Engga Mba, tadi Nana udah pulang duluan,” jawab Jia yang terlihat akrab dengan pegawai itu.

“Mba Jia pesan yang biasa kan ya, matcha latte?”

“Yap betul.”

“Kalau Masnya mau pesan apa?”

“Saya pesan expresso.”

“Baik, ditunggu ya Mas, Mba.”

Mereka pun hanya tersenyum, otak Al mulai bertanya-tanya. Bagaimana tak penasaran, pegawai itu seperti sudah lama kenal dengan Jia. Raut wajah Al sangatlah ketara sehingga Jia pun sudah mengerti dengan raut wajah Al.

“Yap, aku udah sering banget kesini. Dari dulu, dari pertama kali kafe ini buka. Dan bisa dibilang rumah keduaku. Aku juga sering kesini bareng Nana.”

“Oh gitu ya. Gue mau tanya deh. Lo, kenapa sih gampang banget maafin orang?”

Jia tersenyum, “Hmm, lebih tepatnya sih aku mencintai kedamaian. Awalnya juga gak gampang,” Jia menghela nafas sekejap. “Tapi, aku belajar dari ayahku. Beliau bilang, kita sebagai manusia harus saling memaafkan karena dengan begitu kita akan mendapatkan balasan yang sangat indah,” jelas Jia.

“Tadinya aku juga belum mampu melakukannya, tapi dengan kebiasaan membuatku gampang untuk memaafkan,” Jia tersenyum manis di akhir ucapannya.

Al hanya mengangguk dan menyimak cerita Jia dengan perasaan yang kagum. Memandang wajah Jia yang mampu menimbulkan rasa nyaman di hati Al. Sampai pesanan mereka pun menghentikan pandangan Al pada Jia.

“Ini pesanannya, silahkan menikmati. Mas ini pacarnya Mba Jia ya?” tanya pegawai itu.

Jia dan Al terkejut dan saling menatap satu sama lain. Pantas saja pegawai itu mengira mereka adalah sepasang kekasih, karena mereka sangatlah serasi. Sampai-sampai pegawai itupun mengatakan mereka mirip. Apakah mereka berjodoh?

“Enggak kok Mba, dia teman baru saya,” ucap Jia bergegas.

“Oh gitu ya Mba, kalau gitu saya permisi.”

Al terus menatap wajah Jia. Ucapan pegawai itu membuatnya semakin menyukai Jia. Dan Jia memalingkan pandangannya sembari meminum minuman favoritnya karena merasa malu dengan ucapan pegawai itu.

Sesampainya di rumah Jia.

“Makasih ya, udah anterin aku pulang,”

“Dengan senang hati. Nganter setiap hari pun, gue ga masalah,” ucap Al tersenyum.

“Maksudnya?” Jia tak mengerti perkataan Al. Namun Ia pun melanjutkan perkataannya dan tak memberi Al peluang untuk menjelaskan maksudnya. “Lupain ajalah, yaudah aku masuk duluan ya. sekali lagi makasih.”

Jia langsung meninggalkan Al yang masih di depan pagar rumahnya. Al terus menatapnya masuk ke dalam rumah sembari menggurutu.

“Tu cewek gak peka apa gimana sih? Tapi, gue salut sih sama dia.”

1
Aixaming
Aku gak pernah menyangka kalau membaca cerita bisa membuatku merasa sebahagia ini.
Ayu Geamul: terimakasih ya sudah membaca ceritaku🙌🏻
total 1 replies
Dianapunky
Cocok di hati nih.
Ayu Geamul: terimakasih kak 🥰 jangan lupa mampir lagi untuk baca bab selanjutnya 🤗☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!