NovelToon NovelToon
War Of The Gods

War Of The Gods

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Ahli Bela Diri Kuno / Budidaya dan Peningkatan / Tamat
Popularitas:98.1k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Di langit berbintang, seorang pria misterius bertopeng perunggu duduk di atas perahu kecil, membawa rahasia yang mampu mengguncang alam semesta. Ia telah kehilangan segalanya. ayah, ibu, sahabat, dan Yin’er, wanita yang tak tergantikan di hatinya. Demi memenuhi janji pada Yin’er, ia mengorbankan setengah sumber kehidupannya untuk menciptakan sebuah Klon Dao, wujud sempurna dari gabungan hidup mereka.
Namun, keputusannya menimbulkan kemarahan Zingtian, pria berjubah merah yang memanggilnya bajingan dan memperingatkan bahaya besar yang mengintai. Terlepas dari peringatan itu, proses penyatuan berlangsung selama sebulan, melahirkan jiwa janin istimewa yang bahkan disentuh oleh Kitab Takdir.
Kini, jiwa itu akan dikirim ke dunia kecil ChangYuan, disegel kekuatannya, agar tumbuh merasakan pahitnya dunia kultivator. Di balik keputusan itu tersembunyi rencana besar, rahasia para dewa, dan masa depan yang akan mengubah seluruh tatanan langi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelatihan!!

Udara sore yang sejuk merambat masuk melalui celah jendela kayu berukir, membawa serta aroma dedaunan musim semi yang segar dan sedikit harum bunga persik yang mekar di taman. Chen Yu tetap berdiri di tengah ruangan megah itu, tidak bergerak. Matanya menatap telapak tangannya sendiri, memutar pergelangan, mengepal jari-jemari, seolah-olah memverifikasi setiap inci dari kenyataan yang baru ini. Kehangatan kehidupan mengalir di balik kulit, denyut nadi yang mantap, dan sesuatu yang lain... sesuatu yang asing namun akrab, seperti melodi yang pernah didengar di mimpi dan kini bergema di dalam darahnya.

Tubuh ini, tubuh Chen Yu, kuat secara alami karena kehidupan sebagai petani, namun belum terasah oleh disiplin kultivasi. Otot-ototnya padat, tapi tidak liat oleh sirkulasi energi. Tulang-tulangnya kokoh, namun belum dimurnikan oleh YuanQi. Tapi itu semua adalah hal lahiriah. Yang lebih penting, jauh di dalam, di kedalaman DanTian dan lautan meridian yang sebelumnya gelap, kini ada sebuah kehadiran baru.

Sebuah kekuatan asing.

Tidak agresif, tidak mendominasi, melainkan diam, tenang, dan mendasar. Seperti benih yang tertanam di tanah subur, menunggu saat yang tepat untuk berkecambah. Itu adalah YuanQi. Bukan YuanQi yang dia kumpulkan sendiri, tetapi YuanQi yang sudah ada di dalam tubuh ini sejak dia membuka mata, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari jiwanya yang baru. YuanQi yang murni, jernih, dan memiliki kualitas yang membuatnya bertanya-tanya. Dari mana asalnya? Dari proses kebangkitankah? Atau dari sesuatu yang lain, dari bola cahaya biru dan jiwa janin yang misterius? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya, namun tidak ada jawaban yang datang.

Dia memejamkan mata, tenggelam dalam keheningan dirinya sendiri. Dunia luar memudar. Suara angin, aroma bunga, bahkan dinginnya lantai giok di bawah kakinya, semua menghilang. Yang tersisa hanya gelapnya ruang batin dan sorotan kesadarannya yang tajam.

Dia mencoba merasakannya lagi, menyelam ke dalam lautan kesadaran yang baru saja dia tinggalkan, tempat dua arus jiwa bertabrakan. Tidak ada lagi badai, tidak ada lagi rasa sakit yang menghancurkan. Sekarang, lautan itu tenang, permukaannya seperti cermin yang memantulkan langit jiwanya yang baru. Dan di kedalaman yang tak terlihat, dia bisa merasakannya.

Percikan. Aliran. Sebuah energi tipis, hampir tak kasat mata, mengalir pelan di dalam jaringan meridian tubuh ini. Itu seperti sungai kecil yang baru saja menemukan jalurnya, mengalir dengan malu-malu namun gigih, membersihkan kotoran duniawi, menyentuh dinding meridian yang masih sempit dan tersumbat. Setiap sentuhannya terasa hangat, hidup, dan penuh potensi. Energi yang belum pernah dia rasakan sepanjang hidupnya, baik sebagai Chen Yu yang lama maupun sebagai kesadaran yang baru.

"Jalan Yuan..." gumamnya, suaranya lirih bagai desisan angin melalui daun bambu. Mata yang terpejam itu berkerut sedikit, bukan karena sakit, tetapi karena konsentrasi mendalam. "Jadi, inilah rasanya. Permulaan dari dunia yang sama sekali baru."

Ini bukan sekadar pengetahuan dari kenangan nenek. Ini adalah pengalaman langsung. Sensasi YuanQi yang bergerak di dalam dirinya adalah bukti nyata bahwa semua yang diceritakan itu benar. Dunia kultivator itu nyata. Kekuatan yang bisa menembus langit itu ada. Dan sekarang, dia memegang kunci untuk memasuki dunia itu, meski kuncinya masih terbuat dari kayu rapuh.

Suara gemeretak halus dari engsel pintu menyentak kesadarannya kembali ke dunia fisik.

Chen Yu membuka mata. Pelayan wanita dari tadi, gadis muda dengan wajah masih dipenuhi sisa-sisa kecemasan, masuk dengan hati-hati. Di tangannya terdapat sebuah nampan kayu sederhana yang berisi semangkuk bubur beras hangat yang masih mengepulkan asap tipis, serta segelas air herbal berwarna kecoklatan. Aroma sederhana namun menenangkan memenuhi sudut ruangan.

"Tuan muda..." suara pelayan itu lembut, penuh keraguan dan kekhawatiran yang belum sepenuhnya lenyap. Matanya mengamati Chen Yu dengan cermat, seolah memastikan bahwa dia tidak akan tiba-tiba roboh lagi. "Apakah... apakah kau benar-benar tidak apa-apa? Tubuhmu..."

Chen Yu mengatur ekspresinya, mencoba meniru kelembutan dan keragu-raguan Chen Yu yang lama. Dia memberikan senyuman tipis, sebuah senyuman yang ingin terlihat meyakinkan namun tetap mengandung sedikit kelemahan. "Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing tadi. Sudah reda." Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih hangat, "Terima kasih. Terima kasih sudah membantuku tadi."

Kata-kata itu membuat pelayan itu sedikit terkejut. Sepertinya Chen Yu yang lama tidak sering berterima kasih, atau mungkin tidak dengan tulus seperti ini. Gadis itu segera menunduk, pipinya memerah sedikit. "I... ini tugas hamba, Tuan muda." Dia buru-buru meletakkan nampan di atas meja kecil di dekat tempat tidur, lalu berdiri dengan ragu-ragu, tangannya meremas-remas ujung apronnya. "Jika Tuan muda membutuhkan sesuatu lagi... hamba ada di luar kamar. Jangan ragu untuk memanggil."

Setelah memberi hormat sekali lagi, dia berbalik dan pergi, meninggalkan Chen Yu sendirian dengan makanan sederhana itu.

Chen Yu mendekati meja. Dia mengambil mangkuk bubur yang masih hangat. Uapnya menyentuh wajahnya, membawa aroma beras yang familiar dan menenangkan. Dia mengambil sendok kayu dan mencicipinya. Rasa yang sederhana, sedikit tawar, tapi memuaskan. Dan saat makanan itu menyentuh perutnya, dia menyadari betapa lapar tubuh ini. Kelaparan yang bukan hanya fisik, tetapi seolah-olah setiap sel dalam tubuhnya merindukan energi, merindukan pengisian.

Dia makan dengan perlahan namun lahap, sementara pikirannya berputar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Tidak ada waktu. Tidak ada waktu untuk bersantai, untuk merenung, apalagi untuk berduka.

Fakta itu menggedor kesadarannya dengan keras. Seseorang telah membunuh Chen Yu yang lama. Seseorang telah menusuk jantung tubuh ini dengan niat yang jelas, memusnahkan. Itu bukan kecelakaan, bukan perampokan yang gagal. Itu adalah pembunuhan yang terencana, dilakukan di dalam kamar pengantinnya sendiri di kediaman Klan Mu. Itu berarti si pembunuh memiliki akses, memiliki keberanian, dan memiliki alasan.

Siapa? Klan Wen, yang merasa direndahkan karena pernikahan paksa ini? Atau mungkin faksi di dalam Klan Mu sendiri yang tidak menyukai kehadirannya? Atau musuh lain yang bahkan belum dia ketahui?

Dia harus tahu. Tapi untuk mengetahui, untuk menyelidiki, bahkan sekadar untuk bertahan dari kemungkinan percobaan pembunuhan berikutnya, dia membutuhkan satu hal: kekuatan.

Kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri. Kekuatan untuk membuat orang lain berpikir dua kali sebelum mengangkat tangan. Kekuatan untuk memiliki hak bersuara, hak memilih, dan hak untuk membalas.

Bubur di mangkuknya habis. Dia meneguk air herbal, yang terasa pahit di ujung lidah namun meninggalkan rasa hangat di tenggorokan. Dia meletakkan gelasnya, dan matanya menatap keluar jendela.

Malam telah turun sepenuhnya di langit ChangYuan. Kegelapan yang pekat, hanya dipecah oleh cahaya redup dari bintang-bintang yang jauh dan beberapa lampion kuning yang mulai dinyalakan di sepanjang koridor dan taman kediaman Klan Mu. Bayangan-bayangan pohon bambu yang tinggi menari-nari di dinding batu putih, ditiup angin malam yang lembut namun gigih. Suasana terlihat tenang, damai, hampir romantis.

Tapi Chen Yu tahu. Di balik ketenangan itu, di balik kemegahan tembok tinggi dan lampu-lampu indah, tersembunyi intrik, persaingan, dan bahaya yang siap menerkam. Dia seperti seekor rusa yang baru saja masuk ke dalam kandang harimau, tanpa tahu kapan gigi tajam itu akan mencengkeram tengkuknya.

Dia berjalan menuju sebuah tikar meditasi sederhana yang tergeletak di sudut ruangan, mungkin peninggalan Chen Yu yang lama yang dibawa dari rumah lamanya. Tikar itu anyaman sederhana, sudah usang, tapi bersih. Dia duduk bersila di atasnya, punggung tegak, tangan diletakkan dengan santai di atas lutut. Dia menutup matanya.

Pikirannya mengembara, menggali kenangan yang baru saja diintegrasikan. Suara Nenek Su, lemah namun jelas, bergema di telinga batinnya.

"Langkah pertama di Jalan Yuan, Yu'er, adalah Ju Jing. Mengumpulkan Esensi. Tubuh manusia itu seperti bejana kosong di awal. Meridian-meridiannya tersumbat oleh kotoran duniawi. Tugasmu adalah membersihkan sumbatan itu, membuka jalan, dan menarik YuanQi dari alam ke dalam dirimu. Bukan dengan kekuatan otot, bukan dengan teriakan. Tapi dengan kehendakmu. Dengan kesadaranmu. Pikiranmu adalah pemandu, nafasmu adalah kendaraan, dan tekadmu adalah bahan bakarnya."

Chen Yu mengatur napasnya. Tarikan napas panjang dan perlahan melalui hidung, mengisi paru-paru, merasakan diafragma mengembang. Kemudian hembusan yang sama panjang dan perlahan melalui mulut, membuang segala kekacauan pikiran.

Dia memusatkan kesadarannya ke dalam.

Di lautan kesadaran yang gelap, dia membayangkan tubuhnya bukan sebagai daging dan tulang, tetapi sebagai sebuah gua kosong yang luas. Gua itu gelap, lembap, dan penuh dengan lorong-lorong sempit yang tersumbat oleh batu dan puing-puing. Itu adalah meridian-meridiannya.

Lalu, dia membayangkan YuanQi. Bukan sebagai kekuatan kasar, tetapi sebagai kabut perak yang lembut dan bersinar, mengambang di udara di sekeliling gua itu. Kabut itu penuh kehidupan, penuh potensi, menunggu untuk diundang masuk.

Dengan kehendaknya, dia "mengulurkan tangan". Bukan tangan fisik, tetapi sebuah niat, sebuah tarikan halus dari kesadarannya.

Masuklah.

Awalnya, tidak ada reaksi. Hanya kegelapan dan keheningan di dalam gua imajinernya.

Dia tidak putus asa. Dia terus bernapas, terus memusatkan pikiran, terus memancarkan niat itu. Satu tarikan napas. Dua tarikan napas. Sepuluh tarikan napas.

Kemudian, sesuatu bergerak.

Di dalam kegelapan gua, tepat di area dada, sebuah titik cahaya hijau pucat muncul. Sangat samar, seperti kunang-kunang di malam yang sangat gelap. Titik cahaya itu berdenyut perlahan, selaras dengan detak jantungnya.

Chen Yu menahan napas dalam imajinasinya, karena napas fisiknya tetap teratur. Dia mengarahkan semua perhatiannya ke titik cahaya itu.

Titik cahaya itu mulai bergerak. Perlahan, sangat perlahan, seperti tetesan air yang merayap di dinding batu. Ia merambat turun, mengikuti sebuah jalur samar yang terasa familiar dalam ingatan tubuh ini. Jalur itu adalah meridian Ren Mai, salah satu dari delapan meridian ajaib.

Sensasi hangat mulai menyebar di dadanya. Hangat yang nyaman, seperti minum air jahe di pagi yang dingin. YuanQi itu, meski hanya seberkas, mulai mengalir.

Tapi jalannya tidak mulus. Setelah turun beberapa jengkal dalam persepsi batin, cahaya hijau itu seolah membentur sesuatu. Sebuah hambatan. Sumbatan.

Rasa hangat berubah menjadi tekanan. Lalu, tekanan itu menjadi rasa sakit yang tajam dan menusuk. Seperti ada duri yang tersangkut di dalam pembuluh darahnya.

Tubuh Chen Yu di dunia nyata bergetar. Keningnya berkerut, peluh dingin mulai membentuk butiran-butiran di pelipisnya. Napas fisiknya untuk pertama kalinya menjadi sedikit tersendat.

Inilah rasa sakit membuka meridian. Rasa sakit yang ditakuti banyak pemula, yang membuat banyak orang menyerah di ambang pintu kultivasi.

Tapi Chen Yu yang baru ini bukan pemula biasa. Di dalam dirinya mengalir tekad dari dua kehidupan: tekad seorang yatim piatu yang ingin menemukan tempatnya di dunia yang kejam, dan tekad sebuah jiwa misterius yang telah melalui proses penciptaan yang tak terbayangkan. Rasa sakit ini? Ini hanyalah pengingat bahwa dia masih hidup. Bahwa dia memiliki kesempatan.

"Dengan kehendakku..." bisiknya dalam hati, suara batinnya menggema di gua kesadarannya. "Bukalah!"

Dia tidak menyerang sumbatan itu dengan brutal. Dia mengerahkan kesadarannya, memusatkan "kabut perak" YuanQi imajiner itu ke titik hambatan. Dia membayangkan kabut itu halus, gigih, seperti air yang menetes terus-menerus melubangi batu.

Satu detik. Dua detik. Sepuluh detik.

Krek!

Suara yang tidak terdengar oleh telinga, tetapi terasa sangat jelas di seluruh tubuh dan jiwanya. Sebuah sensasi pecah, seperti tali yang putus atau segel yang terbuka.

Sumbatan itu jebol!

Cahaya hijau yang tadinya hanya seberkas tiba-tiba menjadi lebih terang, lebih kuat. Alirannya menjadi lancar, deras, seperti sungai kecil yang akhirnya menemukan jalan keluar dari bendungan. Sensasi hangat yang nyaman menyebar dari dadanya ke arah pusar, mengisi area DanTian bawah dengan kehangatan yang membara.

Chen Yu di dunia nyata membuka matanya.

Dia terengah-engah. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat, pakaian dalamnya menempel di kulit. Kepalanya pening, otot-ototnya lemas seperti baru saja mengangkat beban berat. Tapi di balik semua kelelahan fisik itu, sorot matanya bersinar. Bukan hanya karena pencapaian, tetapi karena sebuah pemahaman.

Dia berhasil. Dia benar-benar membuka satu meridian.

Bukan dengan bimbingan guru, bukan dengan pil ajaib atau lingkungan kaya YuanQi. Hanya dengan tekad, kenangan, dan "benih" YuanQi asing yang sudah ada di dalam dirinya.

Langkah pertama, yang paling krusial, telah diambil.

Dia masih sangat lemah. Lebih lemah dari anak sekte paling muda sekalipun. Tapi kini, dia memiliki fondasi. Sebuah jalur di mana YuanQi bisa mengalir. Sebuah pintu yang telah terbuka, dan di baliknya terbentang jalan panjang nan berliku yang disebut Jalan Yuan.

Dan satu hal yang pasti, di lubuk hatinya yang paling dalam, Chen Yu yang dulu, petani yatim yang polos dan mudah digerakkan, telah tiada. Dia telah mati, ditikam di kamar ini. Yang tersisa, yang bernapas, yang berkeringat di atas tikar meditasi ini, adalah Chen Yu yang baru. Sebuah entitas yang lahir dari kematian dan misteri, dengan tekad yang dingin seperti es di puncak gunung dan ambisi yang membara seperti api di perut bumi.

Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantung yang berdebar kencang. Pencapaian kecil ini hanyalah awal. Dia harus terus berjalan.

Dia menutup matanya lagi, siap untuk menyelam kembali ke dalam gua kesadarannya, untuk membuka meridian berikutnya.

 

Beberapa jam telah berlalu.

Lentera minyak di sudut kamar telah berkurang nyalanya, minyaknya hampir habis. Bayangan di dalam ruangan menjadi lebih panjang dan lebih mengancam. Langit di luar jendela masih gelap pekat, bintang-bintang bersinar tanpa ampun, mengisyaratkan bahwa fajar masih lama.

Di atas tikar meditasi yang sederhana, Chen Yu masih duduk bersila. Namun kondisinya jauh berbeda dari beberapa jam lalu. Sekarang, tubuhnya gemetar tak terkendali, seperti orang yang kedinginan parah. Setiap otot terasa sakit, setiap sendi berderak. Napasnya keluar dalam desahan berat dan tidak teratur, seperti banteng yang kelelahan. Peluhnya bukan lagi sekadar keringat, tetapi seperti mandi, membasahi seluruh pakaiannya hingga bisa diperas. Wajahnya pucat, bibirnya kering dan pecah-pecah.

Tapi, di balik semua penderitaan fisik itu, ada api di matanya. Api yang tidak bisa dipadamkan oleh kelelahan atau rasa sakit.

"Ini..." pikirnya, sambil menahan rasa mual yang naik ke kerongkongan, "... bukan sekadar pelatihan. Ini adalah pertaruhan. Pertaruhan antara hidup yang akan terus menjadi mangsa, atau hidup yang suatu hari nanti bisa menjadi pemangsa."

Di tangan kanannya yang terkepal erat, tergenggam sebuah objek. Sebuah batu kecil, tidak lebih besar dari kelereng, berwarna biru kehijauan yang kusam. Permukaannya tidak rata, terasa kasar di telapak tangan. Inilah Batu Yuan, harta paling berharga yang dimiliki Chen Yu yang lama, warisan terakhir dari Kakek Chen yang petani itu. Menurut kenangan, kakeknya menemukannya secara tidak sengaja saat menggali sumur di belakang rumah, tersembunyi di dalam sebuah kotak kayu lapuk yang terkubur. Kakeknya, meski bukan kultivator, merasa batu ini aneh dan hangat, lalu menyimpannya untuk cucunya, berharap suatu hari bisa berguna.

Dan sekarang, batu itu berguna. Saat digenggam, ada kehangatan stabil yang memancar darinya, sebuah kehangatan yang berbeda dari suhu tubuh. Di dalamnya tersimpan sejumlah kecil YuanQi tingkat rendah, murni dan mudah diserap, sangat cocok untuk pemula yang merintis jalan. Inilah "makanan" pertamanya di Jalan Yuan.

Chen Yu memusatkan sisa-sisa kesadarannya yang terkoyak oleh rasa sakit. Dia membayangkan udara di sekelilingnya, yang di dunia kultivasi dipenuhi dengan partikel-partikel YuanQi yang halus, mulai bergerak menuju tubuhnya. Tidak dengan kekerasan, tetapi dengan tarikan halus dari meridian yang telah terbuka. Aliran energi yang masuk itu tidak lagi sehalus kabut perak di imajinasinya. Sekarang rasanya seperti pasir kasar yang ditiupkan melalui pipa sempit, mengikis dinding meridian dari dalam.

Setiap kali seberkas YuanQi baru masuk dan bergabung dengan aliran yang sudah ada, rasa sakit yang tajam dan menusuk menjalar, seolah urat-uratnya dipotong dari dalam oleh pisau tumpul. Chen Yu menggigit bibirnya hingga berdarah, rasa logam mengisi mulutnya. Dia menahan suara erangan yang ingin keluar.

"Kalau aku bersuara," pikirnya, naluri survivalnya berbicara dengan jelas, "bisa saja seseorang mendengarnya. Pelayan, penjaga, atau bahkan... si pembunuh yang mungkin masih mengawasi. Aku tidak boleh menarik perhatian. Tidak boleh menunjukkan kemajuan, atau bahkan menunjukkan bahwa aku masih berniat untuk maju. Aku harus menjadi bayangan, menjadi orang yang tak berdaya, sampai saatnya tiba."

Jadi dia menderita dalam diam. Dalam keheningan kamar yang hanya diterangi oleh lentera yang sekarat, seorang pria muda bergumul dengan rasa sakit yang akan membuat kebanyakan orang pingsan, tanpa mengeluarkan suara kecuali desahan napas yang berat.

Dia tidak punya guru untuk membimbingnya, tidak ada senior untuk memberi nasihat. Hanya warisan kenangan dari Nenek Su, yang pengetahuannya pun terbatas dan samar-samar. Dia mengandalkan diagram kasar di gulungan bambu tua, mengandalkan naluri tubuhnya, dan mengandalkan "perasaan" dari YuanQi asing yang sudah ada di dalam dirinya, yang seolah-olah tahu jalannya sendiri.

Satu jam berlalu. Dua jam.

Tubuhnya beberapa kali hampir kejang, tapi dia berhasil menahannya. Lidahnya sering kali menggigit untuk mengalihkan perhatian dari rasa sakit di meridian. Keringatnya sudah membentuk genangan kecil di tikar di bawahnya.

Tapi, di tengah lautan penderitaan itu, ada pencapaian.

Dia bisa merasakannya. Aliran YuanQi di dalam tubuhnya, yang sebelumnya hanya seperti tetesan, kini telah menjadi aliran kecil yang stabil. Jauh lebih lancar. Lebih kuat.

Dengan usaha yang hampir superhuman, dia telah berhasil membuka tiga dari dua belas meridian utama.

Untuk seseorang yang baru memulai, tanpa latar belakang keluarga kultivator, tanpa sumber daya, dan bangkit dari kematian hanya beberapa jam sebelumnya, ini adalah pencapaian yang luar biasa, hampir monster. Biasanya, membuka satu meridian bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan bagi pemula dengan bimbingan standar. Dia membuka tiga dalam beberapa jam.

Tapi Chen Yu tidak merasa puas. Dia hanya merasa sedikit lebih aman, seperti seseorang yang baru saja menemukan sebilah pisau tumpul di tengah hutan penuh serigala.

"Jika aku bisa membuka lima meridian dalam tiga hari," pikirnya, matanya yang tertutup berkerut karena konsentrasi dan rasa sakit, "aku akan memasuki tahap menengah Ju Jing. Tubuhku akan dimurnikan lebih jauh, kekuatan fisik akan meningkat signifikan, dan aku akan bisa memproyeksikan YuanQi secara minimal ke luar tubuh. Saat itu... aku tidak akan lagi menjadi orang yang sepenuhnya tak berdaya. Setidaknya, aku punya peluang untuk melawan, atau melarikan diri."

Itulah tujuannya. Bukan menjadi yang terhebat, bukan membalaskan dendam dengan segera. Hanya bertahan hidup. Hanya mendapatkan cukup kekuatan untuk memiliki pilihan.

Menjelang fajar, ketika langit di timur masih berwarna hitam pekat namun sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kebiruan yang sangat samar, suara ayam jantan pertama berkokok di kejauhan. Suaranya melengking, memecah kesunyian malam.

Cahaya matahari belum menyentuh jendela kamarnya, tapi Chen Yu sudah bergerak.

Dengan gerakan yang kaku dan penuh rasa sakit, dia berdiri. Setiap sendi di tubuhnya berprotes, otot-ototnya terasa seperti diisi dengan bara api. Tapi dia berdiri tegak. Napasnya, yang tadi tersengal-sengal, kini sudah berangsur stabil. Dalam dan terkendali.

Dan yang paling penting, dia bisa melihatnya. Atau lebih tepatnya, merasakannya dengan indera keenam yang baru terbangun.

Di sekeliling tubuhnya, pada jarak sangat dekat dengan kulit, terdapat lapisan tipis kabut samar. Warnanya kehijauan pucat, hampir transparan, berputar pelan mengikuti ritme napasnya. Itu adalah aura YuanQi. Tanda bahwa tubuhnya telah mulai menyatu dengan energi alam, bahwa dia telah benar-benar menginjakkan kaki di jalan kultivasi, meski masih di anak tangga paling bawah.

Dia membuka tangan kanannya, melihat Batu Yuan yang masih tergenggam erat. Warnanya tampak sedikit lebih kusam, energinya telah diserap sebagian. Tapi masih hangat.

"Terima kasih, Kekek," gumamnya, suaranya serak karena kelelahan dan dehidrasi. Dia tidak berbicara dengan emosi berlebihan, tapi dengan sebuah pengakuan yang tulus. "Warisanmu... benar-benar menyelamatkan hidup cucumu. Aku akan mengingat ini."

Dia meletakkan batu itu dengan hati-hati di saku dalam jubahnya, lalu berjalan dengan langkah tertatih-tatih menuju meja kecil di sudut lain ruangan. Di atas meja itu, di samping nampan kosong, terdapat sebuah gulungan bambu yang sudah sangat tua, diikat dengan tali kulit yang rapuh.

Ini adalah Catatan Rahasia Kultivasi Dasar, satu-satunya "warisan" tertulis yang dimiliki Chen Yu yang lama, selain Batu Yuan. Dia menemukannya tersembunyi di bawah papan lantai yang longgar di rumah kakek-neneknya, mungkin disembunyikan oleh Kakek Chen yang merasa benda ini terlalu berharga untuk dilihat sembarang orang. Isinya adalah tulisan tangan yang kasar dan tergesa-gesa, mungkin disalin dari sumber lain, dilengkapi dengan diagram tubuh manusia yang sederhana dengan titik-titik dan garis yang menunjukkan jalur sirkulasi YuanQi.

Bagi dunia kultivasi yang sesungguhnya, catatan ini mungkin adalah sampah, pengetahuan paling dasar yang bahkan dijual di pinggir jalan. Tapi bagi Chen Yu saat ini, ini adalah peta harta karun. Ini adalah penuntunnya di tengah kegelapan.

Dia membukanya, matanya yang lelah menatap setiap karakter, setiap garis. Dia tidak hanya membacanya. Dia menghafalnya. Setiap lokasi titik akupunktur, setiap urutan pembukaan meridian, setiap peringatan tentang kesalahan yang umum terjadi. Dia memahaminya, menganalisisnya, menyimpannya dalam pikiran seperti seorang tahanan yang mempelajari peta penjara untuk melarikan diri.

Karena dia tahu sebuah kebenaran yang pahit, kebenaran yang mungkin sudah dipahami oleh Nenek Su dan sekarang meresap ke dalam tulang sumsumnya, Kekuatan sejati tidak datang dari sekte besar atau nama keluarga yang bergema. Kekuatan sejati datang dari pengorbanan yang tak terhitung, dari rasa sakit yang ditelan dalam diam, dari tekad baja untuk tidak pernah menyerah bahkan ketika seluruh dunia menginjak-injakmu.

Dia akan membayar harga itu. Dengan keringat, dengan darah, dengan setiap detik dari waktunya.

Di luar kamar, tanda-tanda kehidupan mulai bergema. Suara langkah pelayan, gemerincing perlengkapan, bisikan-bisikan samar. Dunia Klan Mu mulai bangun. Tapi tidak seorang pun, tidak satu pun dari orang-orang yang berjalan di koridor megah itu, yang tahu bahwa di balik pintu kamar yang tampak tenang dan biasa saja, seorang monster sedang diam-diam membuka mata pertamanya. Chen Yu yang baru, yang lahir dari kematian dan misteri, sedang tumbuh. Tidak dengan teriakan, tetapi dengan kesunyian yang lebih menakutkan daripada teriakan mana pun.

 

Dia baru saja selesai menelan rasa pahit dari sebuah pil pemulihan dasar yang ditemukan di laci meja, mungkin pemberian Mu Tuzhi yang sekadar formalitas, mencoba meredakan pegal di sekujur tubuhnya. Pikirannya masih tajam, meski fisiknya lelah. Dan saat itulah, suara yang dia duga akan datang, akhirnya datang.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan di pintu, perlahan, terukur, tapi tidak ramah.

"Tuan muda Chen Yu," suara pelayan laki-laki yang dingin dan tanpa emosi terdengar dari balik pintu, "Nona Muwan datang. Beliau ingin bertemu."

Chen Yu segera berdiri, merapikan jubahnya yang kusut dan masih lembap oleh keringat. Dia menarik napas dalam, menyembunyikan semua kelelahan dan ketajaman di balik lapisan keragu-raguan dan kelembutan yang dia praktikkan. "Silakan masuk," katanya, suaranya sengaja dibuat datar namun tidak terlalu percaya diri.

Pintu terbuka.

Muwan melangkah masuk. Dia tidak mengenakan gaun sutra merah yang sensual seperti kemarin. Hari ini, dia mengenakan setelan praktis berwarna biru gelap, dengan lengan yang agak panjang dan potongan yang memudahkan gerakan. Rambut hitam pekatnya diikat ke belakang dalam sanggul yang ketat, tanpa perhiasan. Wajahnya yang cantik itu masih memesona, tapi kekinian terlihat lebih tajam, lebih waspada, dan... ada bayangan kelelahan di bawah matanya yang biasanya dingin.

"Besok pagi, saat fajar menyingsing, aku akan berangkat kembali ke sekte. Urusan di klan sudah selesai untuk sementara," ucapnya tanpa pendahuluan, suaranya datar seperti membaca pengumuman. Dia menatap Chen Yu, dan bibirnya yang merona itu sedikit mendengus. "Jangan berpikir aku datang karena peduli. Ini hanya formalitas, sebuah kewajiban agar tidak dianggap tidak sopan."

Chen Yu mempertahankan senyuman kaku di wajahnya, mencoba terlihat seperti suami yang patuh dan sedikit canggung. "Kau akan berangkat ke sekte? Kalau begitu..." Dia berpura-pura ragu sejenak. "Bolehkah aku tahu, sekte seperti apa tempatmu berlatih? Agar... agar aku punya gambaran."

Pertanyaan itu membuat Muwan terdiam sejenak. Matanya yang tajam itu menyapu Chen Yu dari kepala hingga kaki, seolah mengukur nilai dan ancamannya. Lalu, sebuah senyuman sinis, dingin, dan penuh cela muncul di bibirnya.

"Sekte Langit Merah," jawabnya, setiap kata diucapkan dengan jelas, seolah menekankan jurang yang tak terbendung di antara mereka. "Salah satu dari Empat Sekte Puncak di wilayah Dinasti Wei. Tempat di mana hanya bakat sejati dan keturunan terpilih yang bisa masuk. Tempat di mana mimpi kultivator biasa berubah menjadi debu." Dia berhenti, lalu melanjutkan dengan nada menantang. "Tapi kenapa kau bertanya? Apa gunanya informasi itu bagimu?"

Chen Yu menahan diri untuk tidak bereaksi terhadap penghinaan itu. Dia menatap mata Muwan yang dingin itu dengan tenang, dengan sebuah ketenangan yang mungkin sedikit mengejutkan wanita itu. "Karena," katanya dengan suara pelan tapi jelas, "suatu hari nanti, aku akan berkunjung ke sana. Untuk melihat istriku berlatih."

Keheningan.

Lalu, Muwan tertawa. Bukan tawa yang merdu, bukan tawa yang hangat. Itu adalah tawa yang penuh cemooh, sinis, dan merendahkan, menggema di kamar yang megah namun terasa kosong. Tawanya seperti belati es yang menancap di hati harga diri.

"Kau? Berkunjung? Ke Sekte Langit Merah?" Dia berjalan mendekat, langkahnya anggun namun penuh tekanan. Dia berhenti hanya satu langkah dari Chen Yu, menatapnya dari dekat, seolah memeriksa barang cacat. Bau harum campur aura dinginnya memenuhi ruang pernapasan Chen Yu.

"Tahukah kau," bisiknya, namun nadanya tajam, "berapa banyak anak muda, keturunan keluarga bangsawan dan klan terhormat, yang bersujud di gerbang sekte itu setiap tahun, berharap bisa menjadi pelayan di halamannya saja? Tahukah kau betapa ketatnya seleksi, betapa tingginya standar? Dan kau... kau yang bahkan belum menembus tahap LiJing, yang tubuhnya masih penuh kotoran duniawi, yang keberadaannya di sini pun hanya karena belas kasihan dan transaksi politik... kau bicara tentang 'berkunjung'?"

Setiap kata seperti cambuk, dimaksudkan untuk melukai, untuk menghancurkan, untuk menempatkan Chen Yu pada posisinya yang

"seharusnya".

Chen Yu tidak menjawab. Dia hanya menatap lurus ke mata Muwan. Tidak ada kemarahan yang meledak, tidak ada air mata yang membanjir. Hanya sebuah ketenangan yang dalam, dan di balik ketenangan itu, sebuah tekad mulai membara, mengkristal menjadi sesuatu yang keras dan tak tergoyahkan.

"Kau benar," katanya akhirnya, suaranya tetap datar. "Aku bukan siapa-siapa saat ini. Aku lemah. Aku tidak punya latar belakang. Tapi..." Dia berhenti, dan untuk sepersekian detik, cahaya yang berbeda, bukan cahaya Chen Yu yang lama berkilat di matanya. "Aku tidak akan selamanya tetap seperti ini. Waktu akan berubah. Dan aku akan berubah bersamanya."

Muwan terdiam lagi. Kali ini, tatapannya sedikit berubah. Bukan menjadi lebih lembut, tetapi seolah melihat sesuatu yang tidak terduga, sesuatu yang mengganggu dalam bayangan pria di hadapannya. Dia memandang Chen Yu beberapa saat lama, lalu, dengan gerakan cepat, berbalik.

Dia berjalan menuju pintu. Tapi, persis seperti kemarin, dia berhenti di ambang pintu. Tidak menoleh, punggungnya yang tegak menghadap Chen Yu.

"Berlatihlah," katanya, suaranya masih dingin, tapi mungkin, hanya mungkin, ada sepersekian nada yang berbeda. "Berlatihlah sekuat yang kau mau. Sia-sia atau tidak, itu urusanmu. Tapi ingat baik-baik kata-kataku. Dunia kultivasi ini bukan tempat untuk mimpi indah anak kecil. Ini adalah hutan belantara di mana yang kuat memakan yang lemah, dan yang lemah bahkan tidak berhak untuk dikenang. Jika kau terus membawa mimpi kosong dan harga diri rapuh seperti itu... kau tidak akan mencapai apa pun. Kau hanya akan menjadi mayat lain yang terlupakan di pinggir jalan, lebih cepat daripada yang kau kira."

Klik.

Pintu tertutup. Suara langkahnya yang mantap perlahan-lahan menjauh, hingga akhirnya hilang sama sekali.

Chen Yu tetap berdiri di tempatnya, memandangi daun pintu yang kokoh. Lama sekali.

Lalu, dengan gerakan lambat, dia mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya menusuk telapak tangan, meninggalkan lekukan merah yang dalam. Tapi dia tidak merasa sakit. Yang dia rasakan adalah sebuah tekanan, sebuah dorongan, sebuah api yang semakin membara di dalam dadanya.

"Ini salahku," gumamnya, suaranya terdengar aneh, seolah berbicara pada diri sendiri yang lain. "Karena terlalu banyak bicara, terlalu menunjukkan 'harapan', Nona Muwan jadi tidak bisa menahan kata-katanya yang sebenarnya. Dia memberitahuku kebenaran yang mungkin tidak ingin dia akui sendiri."

Tapi kemudian, perubahan terjadi pada wajahnya. Semua keraguan, semua kepura-puraan, semua "topeng" Chen Yu yang lama itu luruh seketika. Yang tersisa adalah ketegangan otot, sorot mata yang tajam bagai pedang yang baru diasah, dan sebuah tekad yang membatu.

"Tidak apa-apa," bisiknya, kali ini suaranya rendah, dalam, dan penuh keyakinan yang mengerikan. "Dengarkan baik-baik, istriku. Simpan kata-katamu hari ini. Rawatlah baik-baik."

Dia berjalan mendekati jendela, memandang langit pagi yang mulai berwarna biru muda di ufuk timur.

"Suatu hari nanti," lanjutnya, dan kali ini, nada sarkasme yang dingin dan percaya diri menyelinap ke dalam suaranya, "bukan hanya Sekte Langit Merah yang akan mengenal namaku. Tapi seluruh Kekaisaran Bizou, seluruh ChangYuan, bahkan mungkin langit dan bumi itu sendiri... mereka akan tahu. Mereka akan mengenang. Siapa Chen Yu sebenarnya."

Tekad itu bukan lagi sekadar keinginan. Itu adalah sebuah sumpah. Sebuah janji pada diri sendiri yang dicetak di dalam jiwa, disegel dengan rasa sakit dan penghinaan.

Dia berdiri di sana untuk waktu yang lama, sampai matahari pertama akhirnya menyentuh wajahnya, memberinya siluet keemasan.

Kemudian, tiba-tiba, sebuah pikiran melintas di benaknya. Sebuah ketidaksesuaian dalam alur waktu.

"Kenapa Muwan berangkat lebih cepat? Kemarin dia bilang masih tujuh hari. Sekarang besok pagi sudah pergi?"

Dia mengerutkan kening. Apakah ada perubahan rencana? Apakah ada sesuatu yang terjadi di sekte? Atau... ada sesuatu yang terjadi di Klan Mu yang membuat dia harus segera pergi?

Pikirannya berputar, menganalisis kemungkinan. Tapi lalu, dia menghela napas, menggelengkan kepala pelan.

"Lupakan saja," gumamnya pada dirinya sendiri, suaranya kembali datar dan penuh perhitungan. "Jika aku bertanya, itu hanya akan membuatnya semakin kesal dan curiga. Informasi akan datang sendiri saat waktunya tepat. Untuk sekarang... fokus pada apa yang bisa kau kendalikan. Fokus pada dirimu sendiri."

Dia berbalik dari jendela, menghadap ke dalam kamar yang kosong. Lentera minyaknya sudah padam. Tapi di matanya, api lain menyala. Api yang akan menerangi jalan panjang dan berdarah di depan, satu langkah demi satu langkah.

Hari baru telah dimulai. Dan bagi Chen Yu, hari baru itu berarti satu hal: terus berlatih, terus membuka meridian, terus menjadi lebih kuat. Sampai suatu hari nanti, dia tidak perlu lagi mendengarkan kata-kata menghina dari siapapun.

Sampai suatu hari nanti, dunia akan mendengarkan kata-katanya.

1
Xuan Yan
truslah berkarya 💪
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
Xuan Yan
🤩😎
Xuan Yan
😎🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!