NovelToon NovelToon
PEMILIK HATI

PEMILIK HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Petualangan
Popularitas:343.9k
Nilai: 4.3
Nama Author: Matahari tertutup mendung

Panggil saja aku, Mheta. Ya, orang-orang lebih mengenalku dengan sebutan demikian. Walau sebenarnya, itu bukanlah nama pemberian dari kedua orang tuaku. Namun, entah mengapa aku lebih suka dipanggil dengan kata Mheta. Mungkin karena arti dari kata Mheta adalah sebuah keadilan dan keseimbangan. Jadi, aku ingin dikenal sebagai orang yang bisa berbuat adil kepada siapapun yang mengenalku. Walau sebenarnya, aku tak pernah berlaku adil terhadap diriku sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matahari tertutup mendung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BOTOL KOSONG DIATAS MEJA

“Ini sampah kayanya dari kemarin, belum kamu buang-buang, Mhet?”

Aku tengah membaca ketika Rini masuk kedalam kamarku, mencari sesuatu dimejaku. “Ya ampun, kamu mau jadi pengepul sampah, Mhet?”

“Itu bukan sampah.”

“Botol kosong bekas minum kaya gitu, kamu bilang bukan sampah?”

“Itu barang bukti.”

“Barang bukti apa kenang-kenangan?”

Akupun terdiam. Menatap halaman buku yang bertengger didepanku, namun tidak membacanya. “Tidak semua pertanyaan harus dijawab ‘kan?”

Pada awalnya aku memang sengaja menyisakan sedikit mizone di dalam botol tersebut. Agar kalau ada apa-apa denganku, misalnya mendadak pinsan atau keracunan mulutku berbusa. Botol itu bisa menjadi sebuah bukti. Sekali lagi, bagaimana pun juga, bukah hal mudah menerima pemberian orang asing di tempat umum, bagiku.

Namun, hingga seminggu setelah minum mizone di hari hujan itu, aku tetap baik-baik saja. Justru aku berfikir kalau telah berprasangka buruk pada lelaki bermantel basah itu.

“Rini.”

“Hemm?” Rini telah menemukan barang yang sedari tadi dicarinya. Dia meminjam jarum dan benang, dan kini sedang duduk di depan kamarku, untuk menjahit kancing bajunya yang lepas.

“Apa aku terlihat seperti orang yang baru patah hati?”

“Hah? Patah hati dari Korea?” Rini tergelak. “Kamu bahkan terlihat seperti orang yang baru jatuh cinta?”

“Sembarangan!” kedua bola mataku melotot. Meraih boneka koala di sampingku lalu melemparkan kearahnya. “Aku tanya serius, Rin.”

“Seperti apa orangnya?”

“Siapa?”

“Yang ngasih kamu sebotol mizone itu lah? Sampai-sampai sampahnya nggak mau kamu buang. Malah kamu simpan?” Rini mengerling.

“Heh! Denger ya, aku nggak lagi jatuh hati padanya! Kenal aja nggak, kok mau jatuh hati. Aku tuh sengaja nyimpen botol itu, sebagai bukti kalau aku kenapa-napa!” Aku cemberut.

“Lah? Aku nggak tanya seperti itu. Aku kan hanya tanya, orangnya seperti apa? Kok kamu malah sewot. Atau jangan-jangan bener dugaanku, kamu emang lagi jatuh cinta sama dia.”

“Enggaklah, kamu sok tahu.”

“Terus seperti apa?”

Seperti apa?

Aku bahkan tidak terlalu detail mengingat wajah orang tersebut. Karena aku tak memandangnya ketika ia tengah bercerrita. Hanya sesekali menoleh, itupun dia sedang membelakangiku, dan aku juga tidak berani lama-lama

menatapnya. Bukankah memang begitu sebagai bentuk waspada? Lagi pula, ayah selalu berpesan agar aku tidak lama-lama memandang lelaki, terutama matanya. “Bahaya, tundukkan pandanganmu,” begitu pesan beliau.

Tapi aku masih ingat dengan jelas suaranya. Caranya bercerita. Nada bicaranya. Bahkan caranya menertawakan dirinya sendiri. Apalagi upaya memaksaku menerima sebotol mozine darinya.

Aku juga masih ingat jelas, bagaimana dia mencangklong ranselnya, menyampirkan mantel basahnya, dan langkahnya yang panjang-panjang. Lalu saat ia merebut buku catatan dan pulpenku, dan menulis nomor telponnya di sana. Tulisannya begitu rapi, bahkan lebih rapi daripada tulisanku. Meskipun dia menulis nomor sangat tergesa-gesa.

Sampai hari ini, entah sudah berapa kali aku mengamati angka yang tertera di bukuku. Bahkan rasa-rasanya aku telah hafal angka itu diluar kepalaku. Namun, tentu saja aku tidak mungkin menghubunginya lebih dulu ‘kan?

Ya Tuhan. Benar tidak mungkin. Untuk alasan apa? Mengucapkan terimakasih untuk sebotol mizone? Bukankah aku sudah mengucapkan terimakasih atas pemberiannya? Atau minta maaf karena telah berprasangka buruk dan tidak menanggapi segala ceritanya?

Oh, mungkin sekedar bertanya apakah patah hatinya sudah sembuh? Yang ini begitu tidak sopan. Aku jarang menyapa orang asing terlebih dulu –maksudku lawan jenis –jika tidak ada kepentingan. Di media sosial sekalipun, apalagi ini nomor ponsel. Terlalu privasi. Tapi, bisa jadi, baginya memberi nomor ponsel ke orang asing sesuatu yang biasa ‘kan?

Lalu yang dia katakan tentangku itu…

“Eh, Rini, masa katanya aku terlihat berantakan, seperti orang yang baru patah hati.”

“Mungkin itu hanya alasan dia untuk ngasih kamu mizone?”

“Sungguh? Kenapa aku tidak terpikir demikian ya, Rin?”

“Hati-hatilah.”

Aku mengembungkan pipi. Tapi saat itu moodku benar-benar sedang dalam keadaan buruk. Setelah pembicaraan dengan… ya, orang yang tak ingin ku sebut namanya itu. Dan itu adalah pertengkaran pertama antara aku dan

dia, jika tidak, bisa juga disebut perdebatan terburuk yang pernah terjadi sepanjang kebersamaan kami.

Dia memang teman debat pertamaku, tidak mau kalah, tetapi kepadaku dia lebih sering mengalah. Meskipun dia yang benar. Meskipun aku yang salah bicara, mislanya. Tetapi, bahkan pesannya pun tidak muncul di layar ponselku. Aku tidak pernah merasa sekesal itu terhadapanya.

Hingga datang lelaki bermantel basah itu. Yang dengan santai bercerita kalau dia melarikan diri. Lari dari kenyataan. Lalu saat itu kusadari, bahwa aku pun memang sedang melarikan diri, lari dari seseorang.

Dan meski kemudian seenaknya saja lelaki bermantel basah itu mengatakan jika aku terlihat berantakan, tetapi entah kenapa setelahnya aku sedikit merasa tidak terlalu buruk. Apakah karena aku menyadari, bukan

satu-satunya orang yang sedang sakit hati? Atau karena efek sebotol mizone? Oh, sungguh memusingkan.

“Rini, malaikat bisa menjelma sebagai manusiakah?”

“Jadi, kamu pikir yang ngasih kamu sebotol mizone itu malaikat, Mhet? Rini menggeleng-geleng. “Dasar tukang ngayal.”

Siapa tahu, Tuhan mendatangkan dia agar aku tidak terlalu sedih. Bukankah tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini? tapi apa iya, malaikat meninggalkan nomor ponselnya? Entahlah.

“Mheta, apa kamu bertengkar dengan Daffa?” pesan dari ayah. Bagaimana

beliau tahu jika kami sedang bertengkar?

1
Adinda
Huaaaa 😭😭 Thor, aku baper, keadaan ini bak perjalanan hidup yang aku jalani, perih Thor
Adinda
Kita memang tak pernah bisa menerka, akan bertemu siapa dalam hidup ini. Seperti kau dan aku..........
...................................., hingga petikan-perikan lagu.

itu ☝️☝️ petikan-perikan
artinya apa ya Thor 🙏🙏
ig@taurusdi_author
folow back dong kak
Daffodil Koltim
kasihan daffa,😢😢😢😢
Daffodil Koltim
pilihan yg berat🙁🙁🙁😥😥😥
Daffodil Koltim
bias keindahan membuat dilema yg mndalam,,,,
Daffodil Koltim
knpa daffa baru ingin berjuang stelah ibux memutuskn u mnerima pinangan yg lain?
Daffodil Koltim
manut yg membuat mba mheta sesak,,,,
Daffodil Koltim
aduh dilema mba mheta😢😢😢
Daffodil Koltim
dalam banget perasaanx,seperti mencintai dlm diam ato aplah nmax,,,,
Daffodil Koltim
aduh ketemu,,,,
Daffodil Koltim
msih bingung dng daffa!,,,,apa punya rasa sma mhetha ato tdak?
Daffodil Koltim
semoga tetap tabah dlm mnjalani suratan takdir,,,,
Daffodil Koltim
innalillahi,,,,yg sabar mba mheta,,,,
Daffodil Koltim
msih stuck,tp harapanx akn bertemu n menyapa,,,,🤗🤗🤗
Daffodil Koltim
jeng2 akn dimnakh nantix hati mba mheta berlabuh?
Daffodil Koltim
teman halu berbagi cerita,aknkah ktemu di dunia nyata,,,,
Daffodil Koltim
sangat dsayangkn sdah lma bersama dlm suka n duka,tp stlah renggang n tdk brarti apa2,,,,💪💪💪🙏🙏🙏
Daffodil Koltim
aku ngakak,penasaran mba metha balasx apa sma pengelana?,,,,💪💪💪💞💞💞
Daffodil Koltim
masih nyimak💞💞💞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!