NovelToon NovelToon
His Purpose

His Purpose

Status: tamat
Genre:CEO / One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Mafia / Tamat
Popularitas:6.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Uffahazz_2

Pria misterius yang semula adalah calon kakak iparnya, dalam hitungan detik berubah menjadi suaminya.

Kisah tentang Maria yang harus menerima takdir pahit ditinggalkan sang kekasih di hari pernikahan. Demi menjaga harkat dan martabat keluarga, ia rela menikah dengan pria yang bahkan baru dilihatnya di Altar.

Beberapa saat setelah mengikat janji di hadapan Tuhan, Maria mendapati dirinya sudah terkurung di tempat asing.

Siapa sosok suami Maria sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uffahazz_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Tempat Asing

...🍁🍁🍁...

Maria memandang datar jalanan basah di sampingnya. Hujan sudah reda, menyisakan kelembaban serta genangan air yang tersebar di beberapa sisi. Dari balik jendela, ia menatap langit sore yang mendung tanpa lembayung.

Hari ini hujan tak berhenti mengguyur. Sekarang pun rintik gerimis masih kerap sesekali turun.

Maria bersandar, sejenak ia melirik Gibran yang duduk di sampingnya. Pria itu tampak sibuk dengan tabletnya. Enggan ketahuan, ia pun segera mengalihkan pandangan dan kembali menatap ke luar.

Suasana sangat sepi. Mereka bahkan tak menyalakan radio atau televisi. Setidaknya untuk mengisi suara dalam suasana yang dingin ini. Maria sampai menggigil dan membeku dalam kecanggungan. Mau batuk pun rasanya segan.

Maria menguap. Saking sunyinya ia jadi mengantuk. Lelah hati dan fisik turut mendukungnya untuk tidur. Perlahan matanya terpejam, tanpa sadar ia pun terlelap dan jatuh ke alam mimpi.

Sementara itu, Gibran tampak tenang dan tak terusik sekalipun.

"Tuan?" Suara setengah berbisik itu mengalihkan atensi Gibran dari tabletnya.

Pria itu mendongak, menatap sekretaris pribadinya yang duduk di kursi penumpang depan samping sopir.

"Hm?" sahutnya sembari menatap datar.

"Nyonya ..."

"Biarkan saja." Gibran kembali menunduk, menatap angka pada diagram yang sejak tadi menjadi fokusnya.

"Kita ... pulang ke mana?" tanya Nick ragu.

Gibran memutar mata. Ia menghela nafas berusaha sabar. "Kamu sudah lupa rute mansion?"

"Tentu saja tidak, Tuan. Baik. Berarti kita pulang ke mansion."

"Memang kamu pikir ke mana lagi?"

"Anu ... saya kira Tuan mau ke kediaman Tjandra terlebih dulu. Atau ke hotel seperti pengantin baru lainnya begitu?"

"Tidak perlu. Dan lagi, rumahku sendiri di atas standar hotel."

Nick meringis. "Iya. Tau deh yang kaya," gumamnya sambil menatap ke depan. Namun sesaat kemudian ia meringis saat tanpa sengaja melirik spion. Gibran menatapnya dengan mata elang pria itu.

Astaga, mengagetkan saja.

"Tuan, Derick bilang helikopternya sudah siap."

"Hm."

Dan tak lama kemudian mobil pun berhenti di depan sebuah gendung pencakar langit yang merupakan cabang dari Wiranata Group.

Gibran pun keluar saat sang sopir membukakannya pintu. Lantas berjalan ke sebelah kiri mobil. Tangannya menghentikan Nick yang hendak membungkuk di samping Maria.

"Biar aku saja," ucapnya. Lantas menggendong Maria yang tampak pulas dalam tidurnya.

"Sepertinya Nyonya kelelahan menangis."

Gibran tak menjawab. Mereka berjalan memasuki gedung. Karena ini hari Minggu, gedung itu kosong, tak ada karyawan yang bekerja selain pihak keamanan.

Dengan cekatan Nick menekan tombol lift yang akan membawa mereka ke atap. Angin kencang langsung menyapa begitu pintu lift terbuka di lantai teratas gedung. Sebuah helikopter mewah jenis AugustaWestland AW101 VVIP bertengger di sana. Salah satu jenis helikopter dengan luas kabin terbesar di kelasnya, juga spesifikasi yang sudah dirancang khusus bagi pengguna kelas atas standar dunia, dengan desain interior menyerupai jet pribadi di dalamnya.

Helikopter itu sudah tiba sejak beberapa saat lalu. Dioperasikan oleh pilot dan co-pilot berpengalaman serta jam terbang tinggi. Hebatnya, sapuan baling-baling serta suaranya yang bising tak mampu membangunkan Maria yang kini meringkuk di pelukan Gibran.

"Tuan, mau saya bantu?" Seorang co-pilot menghampirinya menawarkan bantuan untuk menggendong Maria.

"Tidak perlu," sahut Gibran sambil lalu.

Nick berdecak dan berbisik di telinga co-pilot itu. "Lancang sekali. Apa kau tidak tahu siapa wanita itu?"

"Siapa?"

"Dia istri Bos!"

"Apa?"

"Ya. Bos baru saja menikah."

"Bukankah yang menikah adiknya?"

Nick hanya mengangkat bahu. Dia gegas mengikuti Gibran yang sudah lebih dulu naik membawa Maria. Tanpa menjawab keheranan co-pilot tadi, yang kini tengah menggaruk tengkuknya bingung.

"Benar, 'kan? Yang menikah itu adiknya. Kenapa jadi Bos yang gandeng istri?"

***

"Tuan mau makan sesuatu?" Seorang pramugari mendekat. Membuat Gibran mengalihkan sejenak pandangannya dari majalah.

"Tidak," jawabnya singkat.

Pramugari itu mengangguk mengerti. "Baik. Kalau begitu saya permisi. Jika ada yang Anda butuhkan, mohon beritahu kami."

Gibran hanya mengangguk singkat. Pramugari itu pun pergi. Mata Gibran beralih ke depan. Tepatnya pada Maria yang berbaring di sofa panjang dengan nyenyaknya.

Wanita itu belum juga bangun meski sudah setengah perjalanan.

Gibran menunduk membolak-balik majalahnya. Namun, pergerakan Maria membuatnya tak fokus dan menatap lagi ke arah wanita itu.

Maria terus bergerak seolah mencari kenyamanan dalam sempitnya sofa. Hingga lama kelamaan tubuhnya bergeser semakin ke sisi.

Tanpa sadar Gibran menyaksikan itu dengan awas. Lantas menghela nafas saat wanita itu berhenti berasak. Dia bisa saja jatuh kalau bergeser sedikit lagi.

Baru ia hendak merasa lega, tiba-tiba saja tubuh itu kembali berangsur dan hampir terguling dari sofa. Refleks Gibran bangkit menahan bahu dan kepalanya yang hendak jatuh.

Ia berdecak. "Menyusahkan saja," gumamnya dalam hati.

Gibran menunduk menatap wajah itu. Sesaat ia terdiam meneliti kekasih sang adik yang kini malah resmi diperistri olehnya.

Cukup lama, hingga sebuah deheman berhasil menarik atensi Gibran dari raut jelita itu.

"Ehem."

Gibran menoleh. Nick yang duduk di kursi agak depan mencondongkan tubuh untuk melihat ke belakang.

"Tuan, saya sudah meminta pada Marta untuk menyiapkan kamar."

"Hm." Gibran hanya menggumam. Ia membenarkan posisi Maria, lantas kembali ke tempat duduknya.

Sekitar 1 jam lebih 50 menit, helikopter itu mendarat di sebuah lahan hijau yang luas. Mansion megah berdiri di tengahnya.

Gibran menatap datar Maria yang tak kunjung bangun. Bahkan sedetik pun tak ada tanda-tanda wanita itu terusik.

Ia mengernyit. Bukankah ini sudah sangat lama? Maria tertidur layaknya dalam pengaruh obat bius.

"Tuan, mau saya saja yang gendong?" tanya Nick ketika melihat Bosnya hanya diam saja. Duduk bersidekap dengan mata memandang lurus ke depan.

"Tidak perlu."

Setelah mengatakan itu, Gibran menghela nafas. Lantas bangkit dan mengangkat Maria dari sofa. Ia berjalan melewati Nick yang seketika menyingkir dari ambang pintu.

Pria itu menggeleng melihat Gibran menuruni tangga saat keluar.

"Kenapa tidak dibangunkan saja?" gumamnya heran.

Di koridor, beberapa pelayan sudah menyambut kedatangannya. Mereka tampak heran melihat Gibran yang pulang membawa seorang wanita. Kecuali Marta, sang kepala pelayan yang tadi sempat diminta menyiapkan kamar oleh Nick.

Ia pun terkejut saat pria itu bilang majikannya telah menikah. Karena setahunya Gibran terbang ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan sang adik. Entah apa yang terjadi di sana hingga pria itu pulang-pulang membawa istri.

Marta tersenyum saat Gibran sampai di hadapannya. Ia menunduk hormat sebelum bergeser memberikan jalan.

"Mari, Tuan. Kamarnya sudah kami siapkan."

***

Siulan burung terdengar merdu menyapa telinga. Menghadirkan sensasi damai di tengah sejuknya udara.

Kelopak mata itu berkedut, sebelum kemudian membuka perlahan.

Maria menyipit menghalau sinar yang serta merta menerpa wajahnya. Ia mengernyit berusaha membiasakan pandangan setelah sekian lama terpejam.

Desir angin menyapa kulitnya hingga merinding. Rasa dingin jelas terasa ketika ia mengambil nafas. Maria menoleh ke samping. Pantas, jendelanya sudah terbuka.

Namun sesaat kemudian ia berkedip. Sebentar. Ada yang aneh. Ini bukan rumahnya. Maria tahu betul kediamannya yang terletak di tengah hiruk pikuk kota Jakarta tak akan memiliki udara sedingin ini.

"Nyonya sudah bangun?"

Sebuah suara mengejutkannya. Maria terlonjak setengah duduk dan berbalik ke belakang. Seorang wanita paruh baya dengan seragam layaknya pelayan tengah tersenyum dan menatapnya teduh.

"Si-Siapa?" Ia tergagap.

"Perkenalkan. Saya Marta, kepala pelayan di rumah ini."

Kepala pelayan? Rumah?

Maria masih linglung. Ia menatap sekeliling. Ini bukan kamarnya. Astaga, apa yang sebenarnya terjadi?

"I-ini .... Di mana ini?"

--------------------

Helikopter Gibran Wiranata

1
Imas Masripah
aku udh lama cari ini karena hp sempet di install ulang jadi hilang.sy cuka ceritanya cinta ugal-ugalan seorang pria kereeeen
aku?istriyoongi
/Smile/
Silver Queen
si jule selingkuh thor🤭
mrs. rover: kenapa jule nyampe sini😭
total 1 replies
Yeti Kosasih
kesepian itu sangat tidak mengenakkan itu yg kerap kurasakan...
Fatimah Azzaa88
pantas saja kakeknya gibran bilang cucu menantunya bodoh,emang bodoh si,bodoh pke banget ,udh bnyak kjadian sbelumnya tp,gk prnah blajar dr pngalaman,lagi² prgi ktmpat asing
Fatimah Azzaa88
kesempatan koko gibran itu mah🤣🤣🤣
green attaki
the best novel
Rahma Lilis
Luar biasa
Nurlaila Mahlil
perfect novel
Icca Emoottss Gemesiens
yah bener 😂
Erlin Hidayati
Luar biasa
Mystera11
🤣🤣🤣astaga laura,,,cari mati kamuuu
Mystera11
🤣🤣🤣🤣🤣 bisa2nya disamain monyet🤣🤣🤣 laura...laura🤦‍♀️
Mystera11
Luar biasa
Shindy Auliya
sungguh luar biasa
Hujan Merah Jambu
Luar biasa
Erfiana ana
hmm, kira2 Maria bakalan maafin Gibran ga ya?
Erfiana ana
bakalan babak belur lagi ga yang satu ini??
Erfiana ana
dasar para pelayan tukang gosip, majikan sendiri pun dijadikan bahan ghibah...😁
Erfiana ana
jangan2, selama ini diam2 Gibran yg udh menghalau semua pria2 yg dekat dgn Maria??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!