Bukan maunya menikah dan menjadi istri kedua, kalau bukan permintaan dari istri pertama yang memaksanya untuk menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*20
Tapi sayangnya, bukan Lisa kalau ia akan menyerah dengan misi yang ia lakukan tidak berhasil. Sekali ia merasa gagal, ia seakan punya tantangan yang mendorong hatinya untuk melakukan hal itu lagi dan lagi. Sampai apa yang ia inginkan terwujud.
_____
Hubungan Nana dan Arya sudah sangat baik. Perhatian yang Arya berikan pada Nana, sangat melebihi batas. Arya seakan jarang memperhatikan Yulia sekarang. Jangankan memberi perhatian, bicara saja dengan Yulia sudah bisa dibilang sangat jarang.
Bukan hanya itu, Arya bahkan sudah menyiapkan rumah mewah dengan fasilitas yang lengkap untuk Nana. Ia berniat memindahkan Nana ke rumah baru.
Kabar itu terdengar oleh Yulia. Ia merasa terasing saat tahu Arya sudah membelikan rumah buat Nana. Ia merasa, tak dihargai lagi sekarang. Karena Arya tidak pernah menanyakan pendapatnya lagi sekarang.
"Mas, aku ingin bicara," kata Yulia saat mereka sama-sama baring setelah makan malam.
"Mau bicara apa? Bicarakan saja sebelum aku tidur," kata Arya terkesan sangat dingin pada Yulia.
"Apa benar kamu ingin membawa Nana pergi dari rumah ini?"
"Iya. Kenapa?"
"Kenapa kamu tidak bicara padaku dahulu sebelum berniat membawa Nana pergi mas. Aku ini adalah istri pertama kamu. Apa kamu lupa? Nana itu aku yang membawanya ke rumah ini. Jadi, bagaimanapun, kamu harusnya tanya pendapat aku dulu sebelum membuat keputusan."
"Kenapa aku harus tanya kamu dahulu Yulia? Bukankah Nana itu istri aku. Tidak perlu aku tanya kamu jika aku ingin membawanya pergi. Aku tahu kamu yang bawa Nana masuk ke rumah ini. Tapi aku tidak butuh pendapat kamu untuk bawa Nana kemana aku mau."
"Tapi mas .... "
"Sudahlah, jangan perpanjang masalah Yulia. Aku capek banget tahu gak. Apa kamu ingin bikin aku gak bisa tidur malam ini?"
Yulia terdiam. Ia tidak ingin melanjutkan pertengkaran lagi. Ujung-ujungnya, ia tidak akan pernah menang lagi dari Arya. Karena setiap perdebatan, Arya tidak pernah ingin mengalah lagi. Arya akan selalu membenarkan apa yang ia pikir benar. Dan pada akhirnya, Arya akan memilih kamar Nana sebagai tempat ternyaman yang ia punya.
_____
Hari ini, Nana pindah rumah. Walau ia merasa tidak enak dengan Yulia, tapi ia tetap mengikuti apa yang Arya inginkan. Lagipula, dengan pindahnya ia dari rumah itu, ia tidak akan mendengarkan pertengkaran Arya dan Yulia lagi.
"Hati-hati ya Na. Semoga kamu betah tinggal di rumah baru. Jangan lupa, kunjungi mbak selalu," kata Yulia sambil mengantarkan Nana ke mobil.
"Iya mbak. Mbak juga, sering-sering kunjungi aku ya mbak."
"Iya. Nanti jika ada waktu luang, aku akan datang."
"Iya deh. Da .... " Nana melambaikan tangannya ketika mobil berjalan pelan, meninggalkan halaman rumah Yulia.
Yulia membalas lambaian tangan Nana. Ia tersenyum manis pada Nana yang semakin lama semakin menjauh.
Setelah mobil yang membawa Nana tidak terlihat lagi, perlahan, air mata yang Yulia tahan sejak tadi pun jatuh perlahan melintasi pipinya.
Ia berusaha kuat di hadapan Nana. Padahal, hatinya sangat rapuh ketika melihat Nana begitu bahagia bersama Arya suaminya.
Ia ingin marah, tapi pada siapa? Pada Nana? Atau pada Arya? Tidak mungkin marah pada keduanya. Karena Yulia tahu, baik Arya maupun Nana, mereka tidak salah. Yang salah adalah dirinya sendiri. Dirinya yang telah merusak apa yang ia miliki.
Plokk ... plokk ... plokk ...
Bunyi tepuk tangan yang datang dari arah samping, membuat Yulia terkaget. Ia tidak menyangka kalau ada orang yang sedang memperhatikannya.
"Wow, drama yang sangat bagus," kata Lisa sambil terus bertepuk tangan dan berjalan mendekati Yulia.
"Sejak kapan kamu berada di sini?" tanya Yulia sambil menghapus air matanya.
"Pertanyaan yang bagus mbak Yuli .... aku datang sejak kapan ya?" tanya Lisa pada dirinya sendiri, seolah-olah dia lupa kapan ia datang.
Seakan tidak ingin menanggapi Lisa yang akan bikin hatinya semakin sakit, Yulia ingin segera masuk kedalam rumah untuk menghindari Lisa. Tapi sayangnya, dengan gerakan yang sangat cepat, Lisa menahan tangan Yulia agar tidak pergi meninggalkannya.
"Jangan buru-buru mbak. Aku ingin ngomong empat mata dengan mbak Yulia. Aku ingin ngomong baik-baik mbak."
"Mau ngomong apa? Aku tidak punya waktu untuk ngomong empat mata dengan kamu."
"Mbak Yulia tidak bisa memutuskan tali darah yang terjalin antara kita mbak. Bagaimanapun, aku adalah adik sepupu mbak Yuli. Aku tidak akan membiarkan mbak Yuli begitu menderita seperti ini mbak."
"Tahu apa kamu soal aku Lisa? Kamu tidak perlu sok-sok perhatian begitu padaku. Aku baik-baik saja sekarang. Tidak menderita sama sekali. Kamu aja yang terlalu berlebihan kalo ngomong."
"Mbak Yuli tidak bisa membohongi aku mbak. Bagaimanapun, aku dan mbak Yuli punya ikatan darah."
tau ibu tiri ga sebaik ibu kbdung.
sombongngg🤣🤣🤣
😂😂😂
😂😂