•Typo bertebaran dimana-mana, beberapa part di private
•Cerita ini tidak direvisi, jadi tolong dimengerti jika ada yang aneh atau tidak nyambung
• My original work
******
Laura sebagai mahasiswi yang terkenal sangat nakal dikampusnya, dan Reyhan sebagai dosen yang kejam bagi Laura. Laura sengaja sering telat agar ia tidak perlu berlama-lama mendengar penjelasan materi yang dijelaskan Dosennya Reyhan. hingga kemudian temannya Laura bernama Indah tak tahan jika Reyhan terus mengajar dikelas Laura dan Indah dan akhirnya Indah menyukai dan jatuh cinta pada Reyhan, lalu Indah meminta Laura untuk membantunya agar Reyhan mau menerima pernyataan cinta Indah, namun usaha Laura dan Indah gagal...
bagaimana kelanjutannya?
yuk dibaca ya...
jangan lupa vote, rate 5, like, dan komen
bye~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otaku_Wibu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Koko
*Selesai makan malam
Aku duduk bersama kak Laras ditaman belakang
"Kak Laras.."
"Iya?"
"Gimana rasanya main di ranjang? ..sakit nggak kak?"
"Eh..?"
"Hm.. itu... Laura ngerasa.. pacar Laura tuh agresif dan manja banget kak. Dia pengen 1 bulan habis Laura pulang dari Jawa, langsung ngajak nikah... terus malamnya.. ya gitu. Kata orang-orang juga kalau itunya cowok dimasukin.. kita ngerasa kesakitan banget, emang iya gitu?"
"Aduh, ngomong apa sih Laura Alexander. Aaaaa tolong jauhkan pikiran negatif dari otak ini"
"A... gitu.. hm.. gimana ya. Kalau ditanya rasanya.. itu.. enggak bisa dijelaskan dengan kata-kata, dan kalau sakit atau enggak.. iya sakit tapi cuman sebentar, setelahnya enggak ngerasa sakit tapi nikmat.."
"Kak Ridwan sama kak Laras sering gituan? muka kakak merah tuh" godaku
Kak Laras tersipu malu, apa mungkin karena membahas ini? hahaha. Kak Laras mengangguk pelan
"Kak--"
"Ehem. Bahas apa kalian? kok kalau di denger-denger bahas gituan"
Kak Ridwan tiba-tiba muncul dibelakang kami. Aku dan kak Laras menghadap ke belakang
"Enggak, enggak kok kak.. iyakan kak Laras"
Aku bangkit dari tempat dudukku dan merangkul tangan kak Ridwan
"Anterin Laura pulang ke hotel" ujarku mengubah topik pembicaraan
"Enggak tinggal disini aja?"
"Emang boleh?"
"Buat adek kesayangan kakak, apa sih yang enggak boleh"
"Oke, besok Laura pindah kesini.. tapi kak Ridwan bantuin bawa koper Laura. Sekarang.. ayo, anterin Laura! Laura ngantuk"
"Kak Laras, pinjem suaminya bentar buat nganterin Laura pulang ya! dan jangan pikirin yang tadi kak! tapi makasih infonya! haha!"
Aku tertawa puas sambil berjalan bersama kak Ridwan, sedangkan kak Laras tersenyum dan tersipu malu
******
*Sesampainya di depan hotel
"Yakin nggak mau kakak anterin sampai depan kamarnya Laura?"
"Iyaaaa, kan Laura bukan anak kecil lagi"
"Ya udah, telepon kakak kalau ada masalah, jangan lupa lho ya, disave nomor kakak"
"Iyaa-iyaaaaa"
"Udah gih sana pulang, kak Laras nungguin tuh.. haha"
Kak Ridwan tiba-tiba mencubit hidungku
"Awww.. apa sih kak? Laura kan nggak salah"
"Iya emang enggak salah.Kakak cuman gemes aja liat kamu, sikapnya masih kayak anak kecil, padahal udah gede haha. Dah sana masuk"
Aku mengangguk lalu berlari, tapi kemudian aku berhenti lalu berteriak kearah kak Ridwan
"Jam 15.30 jemput Laura, bye..!"
*****
"Huwaaaa... enggak nyangka sih, ketemu kak Ridwan lagi"
Aku meraba kasurku, mencari keberadaan poselku
"Mari kita lihat.."
Aku membuka ponselku, raut wajahku berubah menjadi cemberut, aku mengangkat panggilan dari orang yang aku sayang, kenapa meneleponku? ada masalah?
-Terhubung-
...My husband ❤️✨...
^^^Halo? kenapa mas?^^^
Jalan sama siapa tadi?
^^^Maksud mas?^^^
Laura jalan sama siapa? mas lihat kalian akrab banget sampai gandengan gitu. Sudah dapet yang baru disana..? oke, silahkan
^^^Itu, bukan mas. Itu kakak Laura, kak Ridwan. Mas ih, jangan gitu... itu beneran kakak Laura, Laura enggak bohong^^^
Hm? Laura serius?
^^^Iya, Laura serius. Ngapain juga bohong sama mas soal gini^^^
...Demi apa?
^^^Demi mas, Laura juga bisa rela kasih apapun. Intinya Laura enggak bohong^^^
Okay... now, will you forgive me for this small matter?
^^^Sure, why not^^^
^^^Hum.. udah ya mas. Laura mau tidur, besok kan ke kampus^^^
^^^Good night baby!^^^
Good night too~
Tuttt tuttt
Aku menaruh ponselku diatas perutku, lalu menghela nafas kasar
"Sudah ku duga, pasti cemburu"
Aku tertawa sejenak, setelahnya perlahan mataku tertutup, dan akhirnya tertidur
.
.
.
.
.
*Keesokan paginya
06.00
Aku memakan sarapanku dengan cepat. Aku sengaja tak membuka ponselku pagi ini, entah apa yang mas Reyhan kirim
******
*Sesampainya dikampus
"Waw, gedee.."
Aku melihat-lihat di sekeliling ku. Aku lanjut melangkah menuju ruang kelas ku, tapi karena aku tak tau dimana, jadi aku bertanya pada yang lain
"Permisi" ujarku dengan sopan kepada salah seorang pria
"Ya?"
"Ruang kelas semester 1, jurusan kesehatan dimana ya?"
"Oh, disana" ujarnya sambil menunjuk sebuah ruang kelas di dekat ruang kelas jurusan gizi
"Terimakasih"
Aku tersenyum sekilas, dan meninggalkan pria itu
"Gue harus dapetin dia" gumamnya
.
.
.
.
.
*Skip
*Jam istirahat
Aku tak berbelanja ke kantin, aku hanya duduk sambil memainkan ponselku dengan bosan
"Mas Reyhan pasti masih ada di dalam aula.."
Aku menghela nafas panjang dan mematikan ponselku
"Halo"
Aku melirik ke sebelah kananku
"A... pria yang tadi, dia sepertinya sekelas denganku" batinku
"Hum" dehem ku sambil tersenyum
"Laura ya? yang tadi nanya ruangan ini"
"Iya"
"Kenalin nama ku Koko, kalau lupa sih"
"Iya, masih ingat"
"Buset, basa-basi banget ni orang. Mas... bawa Laura pulang..."
"Oh, nih" ujarnya sembari memberi sebungkus roti isi cokelat
"Makasih. Tapi nggak usah formal gitu"
Aku mengambil roti isi cokelat itu, daripada dibiarin kan jadi sayang. Aku membuka bungkus itu lalu memakannya. Koko duduk dikursinya, sialnya dia duduk di sebelah ku, dia memandangi ku
"Hm, lo udah punya pacar?"
"Uhuk"
Aku tersedak mendengar perkataannya, apa? pacar? apa dia menyukaiku? disaat pertama kali bertemu? tidak, aku tidak mau dengannya
"Ehem. Gue? udah"
Ku lihat ekspresinya, dia terlihat seperti hatinya teriris
"Oh.. gitu"
"Emang kenapa? lo suka sama gue? jangan bercanda, candaan lo nggak lucu"
"Enggak. Gue emang suka sama lo, gue kira lo belum punya pacar, ah udahlah.. tapi mungkin masih ada peluang bukan?"
"Idih"
"Cuek cuek gini mukanya berdamage, cantik.. imut.." batinnya
"Gue bakal dapetin lo, lo liat aja"
"Kalau lo ngejar gue, lo bakal tanggung sendiri resikonya, gue sih nggak tau apa yang bakal pacar gue lakuin ke lo"
"Kalau gue menang, bisa dapetin lo gimana?"
"Gue rasa lo enggak akan bisa"
Tiba-tiba bel masuk berbunyi, aku membuang sampah plastik roti tadi. Aku duduk di kursiku, setelahnya dia berbisik padaku
"Temui gue di parkiran sepulang kampus"
Aku mendengarnya, tapi aku menulikan telingaku dan tak menjawab bisikannya
.
.
.
.
.
*Pulang kampus
Aku ingin ke parkiran untuk mengambil motorku, tapi aku ingat perkataannya, dia sedang menungguku disana. Aku coba kesana, ku intip parkiran itu, ternyata dia memang menungguku dimotor miliknya
"Sial. Harus gimana ni?"
Drrrttt drrrttt
Ponselku berbunyi, aku segera lari sekuat tenaga dari situ, karena dia mendengar suara telepon
Setelah cukup jauh dari parkiran itu, aku menelepon ulang nomor yang tadi meneleponku, siapa lagi jika bukan mas Reyhan
-Terhubung-
"Halo mas? kenapa?"
"...."
"Mas..?"
"...Hatchuu!"
"Mas sakit? istirahat gih, minum obat, eh enggak. Makan dulu, baru minum obat, jangan jalan kesana-kemari"
"Mas enggak sakit.."
"Mas bohong. Dari suara mas aja sudah ketahuan"
"Kalaupun mas sakit, Laura enggak bakal kesini juga kan, karena Laura harus belajar disana, mana boleh pulang dulu"
"Laura bisa kesana"
"Pakai?"
"Pakai pesawat pribadi, habis ini Laura beli terus berangkat kesana, mas tunggu Laura dirumah mas, jangan kemana-mana"
Tuttt tuttt
Aku mematikan panggilannya, lalu menelepon Cinta untuk membeli satu pesawat pribadi, Cinta adalah asisten yang sekarang dapat ku andalkan sepenuhnya. Kemudian aku kembali ketempat parkiran untuk mengambil motorku. sesampainya disana, Koko memanggilku
"Laura" panggil Koko
Aku tak mendengarkannya, aku menancapkan kunciku dan menghidupkannya
"Ra"
"Apa sih?"
"Ikut gue yok"
"Enggak, gue ada urusan yang penting"
Dia terus menghentikan maju motorku
"Minggir!"
"Sepenting apa sih urusan lo? sampai teman lo mau ngajakin lo ke suatu tempat malah lo tolak"
"Ini urusan pribadi gue, lo cuman temen gue, lo enggak tau apa-apa"
"Hah..? apa..? teman..?"
Kemudian dia membiarkanku lewat, aku segera pergi dari situ, meninggalkannya sendiri dengan motornya dan motor teman-temanku
ceritanya cepet beberapa tahun kemudian
tapi kok Lauranya kuliahnya gk kelar"
ceritanya tidak nyambung
karya nya tidak bisa di terima kami pembaca mengkritik nya...
TIDAK BAGUS CERITANYA...
*Yang Membolak-balikan Hati