NovelToon NovelToon
PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Persahabatan / Keluarga & Kasih Sayang / Masalah Pertumbuhan
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Renita Wei

Ini adalah sebuah cerita tentang persahabatan, cinta, keluarga dan bagaimana nasib membawa pada sebuah pilihan.

Tiga orang pria yang menjalani kehidupannya sendiri. Walaupun mereka dari keluarga yang sama, tapi itu tidak membuatnya harus serupa. Membiarkan hati mereka menuntun pada sebuah pilihan. Yang mereka yakini dan mereka perjuangkan.

Baskara Namu Perkasa, si sulung yang bijaksana dan gagah seperti namanya. Namun sesungguhnya ia selalu merasa tersisih oleh latar belakangnya. Semua itu membuat pria tampan ini menjadi pribadi yang perfeksionis.

Haidar Mandala Wirayudha, sang adik yang mempunyai kecerdasan dan ketampanan diataa rata-rata. Namun sayang, ia memilih jalan menjadi dokter bengal yang tak henti membuat kekacauan di rumah sakit. Tapi hatinya sangat lembut, dan tidak banyak orang yang mengerti.

Narendra Raka Dipa, seorang adik yang terbebani dengan nama-nama besar saudara dan saudarinya. Membuatnya memilih hidup dalam penyamaran demi menemukan yang tulus mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renita Wei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Silent White Knight

Ia terlahir sebagai seorang anak kedua dari sebuah keluarga yang sangat berkecukupan bahkan berlimpah materi. Sejak kecil, ibunya yang lembut hati dan periang itu mengajarkan begitu banyak kebaikan. Yang paling ditanamkan dan disemai dengan subur adalah sikap menyayangi orang lain dan rendah hati. Sementara sang ayah yang merupakan kaisar di kerajaan bisnis, selalu menempatkannya sebagai sang putra mahkota dengan beban tanggung jawab yang sering kali membuatnya marah dan menangis.

Beruntung ada seorang kakak laki-laki yang selalu bersedia menjadi tameng dan juga pemeran pengganti untuknya. Hingga suatu saat tanya itu tercetus dari pemikiran cerdasnya. Walaupun saat itu ia masih sebatas anak lelaki yang belum genap berusia sepuluh tahun.

" Kenapa papa selalu memaksa ku .... aku tidak suka kalau harus belajar bisnis. Aku mau baca bukunya Mama ?. Kan sudah ada kakak yang lebih senang belajar bisnis .... ".

Awalnya protes dan tanya itu tidak pernah asa yang menanggapi, hingga saat ia mulai remaja dan memberontak. Akhirnya terkuaklah sebuah rahasia yang kemudian membuat Haidar remaja terdiam dan mematung.

" Karena kaulah sang pewaris itu .... aku hanya anak angkat keluarga ini ... ".

Informasi itu didengar langsung dari sang kakak. Saat itu ia melayangkan protes besar pada kedua orangtuanya ketika tidak diperbolehkan untuk melanjutkan disekolah yang dia inginkan.

Kehangatan dan kebaikan sikap sang kakak selama ini serta kenyataan yang baru saja diketahui, tidak mempengaruhi perasaannya pada kakak laki-laki yang sangat disayanginya itu. Hingga kemudian malam itu, Haidar remaja untuk pertama kalinya berbicara sebagai seorang pria pada kakaknya.

" Kak Namu .... ", ia menyusup ke dalam selimut dan menjajari sang kakak.

" Umurmu sudah lima belas tahun... masa iya masih takut petir ".

" Karena petir malam ini lebih menyeramkan dari biasanya ".

Namu dengan wajah masih setengah mengantuk tersenyum dan miringkan badan ke arah Haidar. Dia remaja itu tidur saling berhadapan. Keduanya sama-sama tampan, dengan perbedaan yang begitu kentara. Namu yang berkulit putih halus dan lembut, sedangkan Haidar yang nampak lebih gelap. Satu kesamaan adalah sinar mata mereka yang lembut.

" Maafkan aku ya kak... aku... selalu iri padamu yang dibebaskan untuk memilih apapun seperti kata hatimu ".

" Hem ... ", Namu tersenyum saja.

" Aku sangat iriiiiiii .... padamu. Ternyata ... kau menanggung beban berat itu sendiri ... aku juga iri pada kulit mu yang putih ini ... ".

" Ha... ha... ha ... kalau itu sih, Kirana dan Cinta juga sangat iri ..", Namu tertawa kecil.

" Apakah kak Cinta sudah tahu ? .... tentang identitas ini ".

Namu mengangguk menjawab pertanyaan adiknya. " Dua tahun lalu aku memberi tahunya.... karena risih juga dengan urusan kulit ini ".

Kali ini yang tertawa Haidar. " Iya ... ya... aku paham. Kak.... aku tidak peduli dengan kenyataan siapapun engkau. Kau kakakku ... tempat aku bersandar selain papah dan mamah. Dan aku yakin... kau lebih cocok sebagai pewaris daripada aku ".

" Kau ngomong apa sih !!!!!?... ayo tidur ... besok Senin yang menjengkelkan loh .... ".

Begitulah Haidar telah membuat pilihan untuk hidupnya semenjak remaja. Perdebatan panjang tak terelakkan setiap saat, dan dia selalu bisa memenangkannya. Dengan konsekuensi luar biasa yang harus ditanggung. Yaitu kuliah kedokteran dan belajar bisnis secara bersamaan.

Beruntung dia dikaruniakan kecerdasan luar biasa yang diturunkan dari sang mama. Tekad kuat untuk menjadi seorang dokter dengan persyaratan harus tetap belajar ekonomi dan bisnis. Sepulang sekolah, ia dan kakaknya datang ke kantor sang ayah dan menerima pelajaran langsung dari para dosen terkenal. Haidar dan Namu belajar bersama dengan giat.

Perbedaannya adalah, Namu belajar dengan sepenuh hati sedangkan Haidar demi memenuhi persyaratan agar ia bisa melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran.

Tapi kata hati memang tidak dapat diingkari. Setelah masa koas-nya dan wisuda profesi dokter, ia segera melanjutkan pendidikan spesialisasinya. Terjadilah perdebatan yang panjang dan tak berujung, yang membuat hubungannya dengan sang ayah menjadi sedikit renggang.

Kemudian Namu hadir sebagai seorang penyelamat dengan kepiawaiannya bernegosiasi. Menjadi penengah untuk sang kaisar dan putra mahkotanya. Membuat ayah dan anak itu kembali saling melembutkan hati.

Sebuah anak perusahaan yang baru saja berdiri diserahkan pada Haidar untuk dikelola. Menjabat sebagai direktur sambil kuliah spesialis bedah, ternyata Haidar mampu menjalaninya dengan cukup mulus. Satu hal yang tidak diketahui Mandala ayah mereka, bahwa Namu banyak memberikan bantuan berupa saran dan jejaring pada perusahaan adiknya itu. Dan Haidar tetap pada jiwa bebasnya yang lebih memilih untuk mengabdi pada kemanusiaan.

Satu-satunya dokter spesialis yang tidak mau diangkat sebagai pegawai tetap oleh institusi kesehatan di negari ini. Memilih mengabdi dengan menentukan sendiri ia akan berada dimana. Seperti saat ini, berada di sebuah pulau kecil yang baru saja dua tahun ini mendapatkan fasilitas kesehatan rawat jalan dan rawat inap yang terus ditingkatkan pelayanannya. Dengan senang hati mengisi kekosongan tenaga medis, dan hanya sebagai pegawai kontrak. Sambil tetap mengendalikan perusahaan yang dipimpinnya dan tetap menutupi identitas sebenarnya.

Saat itu hari sudah benar-benar menjadi gelap ketika Jeep yang dibawa Haidar tiba disebuah bangunan yang masih terbilang baru dan cukup besar. Dari cat yang dominan hijau dan putih, langsung terlihat jika itu adalah sebuah fasilitas kesehatan milik pemerintah. Tampak dua orang wanita dan seorang pria telah bersiap menanti kehadirannya. Lalu dengan sigap mengeluarkan dan membawa pasien ibu hamil ke ruang Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) dengan menggunakan brankar ambulance strecher.

" Dokter Yulia sudah siap ? ".

" Sudah dok ", sigap si pria itu menjawab pertanyaan Haidar.

Sementara itu di sebuah ruangan, telah menunggu seorang dokter wanita yang terlihat tenang sedikit gugup. Usianya mungkin sepantaran dengan dokter Haidar. Tanpa banyak bertanya, wanita itu segera menarik Haidar dan membawanya menepi.

" Kau melakukan SC disini .... lagi ????", akhir kata ditekankan dengan kuat selaras dengan sinar matanya yang bergerak resah.

" Mau sesuai prosedur ?... menyia-nyiakan kesempatan ... dan mungkin akan kehilangan dua-duanya ? ".

" Kau !!!!.... ah, kau tidak.... ah kau tidak memikirkan bagaimana nasibku nantinya jika sampai terjadi hal paling buruk ... aku yang bertanggung jawab disini ".

" Dokter Yulia...... jika kita harus sesuai SOP, merujuk pasien ini ke PONEK rumah sakit besar yang butuh waktu dua jam dengan ambulance kapal.... sedangkan dalam cuaca buruk dan badai besar .... ".

" Aku tahu itu !!! ", dokter Yulia memotong cepat. Dengan satu tatapan dalam dan satu tarikan nafas panjang .... akhirnya wanita ini menyerah. " Baiklah ... mari kita hadapi bersama ... ".

" Thats a good doctor..... aku bersiap. Tolong kau bicara dengan suaminya... sampaikan semuanya dengan santun dan ramah ".

" Ah ... kau ini.... urusan humas selalu kau lempar padaku ".

" Karena kau ahlinya .... manis ", seringai Haidar dengan nada menggodanya.

Dokter Yulia hanya menghela nafas sambil menggedigkan bahunya, lalu melangkah keluar menemui suami dari pasien seperti yang diminta Haidar. Ia adalah teman seangkatan Haidar saat menempuh pendidikan dokter umum dulu. Keduanya tidak terlalu berteman dekat tapi cukup sering berada dalam satu tim, sehingga Yulia mengenal bagaimana kesigapan dan kecerdasan Haidar. Mereka bertemu lagi dalam obrolan disebuah sosial media. Lalu Yulia bercerita bahwa dirinya ditempatkan disebuah pulau dan bertanggung jawab untuk sebuah pusat kesehatan masyarakat tingkat pertama.

Satu tahun ini Haidar yang berstatus sebagai dokter tidak tetap dan dalam masa pengabdian, telah menemani Yulia. Semua cerita tentang bagaimana tenaga medis yang sepertinya tidak bersemangat untuk menjalani tugas di tempat ini berbuah janji dari Haidar untuk segera bergabung di sana. Dan pria itupun benar-benar menepati janjinya.

" Gown ... ", pinta Haidar pada dua orang perawat yang membantunya. Sementara kedua tangannya tetap terangkat ke atas.

Setelah seorang perawat memakaikan sebentuk gaun berwarna biru muda dan juga penutup kepalanya, Haidar langsung memakai sarung tangan lateks panjang dengan bantuan satu orang perawat lagi. Saat itulah dokter Yulia datang dan langsung memakaikan hal yang sama pada dirinya.

" Sapto ... ", panggil Haidar.

" Siap dok.... ", seorang pria dari arah belakang Haidar menjawab cepat. Dia adalah seorang perawat anastesi. " Sudah siap dok .. ".

Sapto terlihat merapikan peralatan injeksi anastesi spinal yang baru saja digunakannya. Meskipun dia seorang perawat, tapi skill atau kemampuannya telah menyamai dokter spesialis anastesi. Medan yang berat serta tuntutan kebutuhan reaksi penyelamatan yang membuat pribadinya tertempa seperti itu. Apalagi Sapto adalah putra asli kelahiran pulau ini, keterikatan batin dan tanggung jawab hati yang tulus membuatnya menjadi pribadi yang kuat dan matang.

" Ibu Wening.... jangan putus berdoa ya. Kita mulai operasinya sekarang ", Haidar menyempatkan berinteraksi dengan pasiennya. Wanita itu mengangguk penuh kepasrahan.

" Sreeek ", suara tirai itu ditutup. Menghalangi pandangan si ibu. Ia hanya merasakan bagian bawah tubuhnya seperti digoyang-goyangkan.

Ruangan itu kembali menjadi tempat operasi darurat, dengan penerangan yang kurang memenuhi standar. Yulia, dokter yang juga adalah kepala di instalasi kesehatan tersebut rela kembali menjadi asisten rekannya yang sebenarnya hanyalah pegawai magang disitu. Kedua orang dokter yang ditemani satu perawat anestesi dan dua orang bidan itu kembali menerjang keterbatasan dan kakunya sebuah sistem.

Ini adalah operasi sectio Caesarea darurat yang kedua kalinya dilakukan. Hampir setahun yang lalu mereka telah melakukannya, bahkan saat itu lebih parah lagi dengan perdarahan yang terjadi. Seorang ibu hamil tiga puluh lima minggu yang jatuh terpeleset dan tertimpa mesin cuci yang dijadikan pegangan olehnya. Saat itu kondisi cuaca tidak jauh beda dengan saat ini. Gelombang pasang yang tinggi dan cuaca yang sangat buruk. Membuat satu-satunya transportasi dengan kapal laut tidak bisa dilakukan. Pilihannya ada dua, menunggu kematian itu, atau menyiasati kematian.

Dokter Haidar pada akhirnya berhasil meyakinkan dokter Yulia, dan beruntung operasi itu sukses besar. Ibu dan bayinya berhasil diselamatkan. Tapi kedua dokter itu yang tidak selamat dari sidang tim audit komite medik. Tindakan mereka dinilai telah melanggar Standar Operasional Prosedur atau SOP yang ada, dan dianggap bertindak tidak sesuai wewenangnya. Hanya saja kenyataan bahwa ibu dan bayinya berhasil selamat, membuat keduanya hanya diberi sangsi berupa surat peringatan.

Haidar memberikan isyarat untuk mendekatkan dua lampu tindakan kebidanan sekaligus, karena ruangan itu memang bukan ruang operasi dengan lampu operasi yang terstandar. Tapi dua lampu halogen itu sudah sangat membantu. Dan Haidar bersama dokter Yulia telah berkonsentrasi tinggi untuk melakukan pekerjaan malam itu secermat, secepat dan sehati-hati mungkin.

Lihatlah bagaimana manusia-manusia mulai itu dengan keyakinan dan ketulusannya berusaha untuk tetap menyintas batas. Demi menyelamatkan nyawa sesamanya, demi memberikan harapan hidup bagi sebuah kehidupan baru. Walaupun yang mereka pertaruhkan, tidak hanya nama baik, namun juga kebebasan mereka seandainya semua tidak berjalan seperti yang diharapkan. Tapi jiwa penolong mereka tidak bisa terpenjara oleh sebuah aturan, mereka tidak bisa hanya menunggu sambil terpaku melihat kematian yang menari menghampiri tanpa menyiasati dan bernegosiasi dengan tindakan. Setidaknya jangan sekarang kau datang wahai kematian.

Dan ke lima orang seperti mereka itu bertebaran dipenujuru bumi ini. Orang-orang bersayap malaikat dengan segaris senyuman yang tak pernah pudar. Hanya saja, keberadaan mereka yang berhati mulia itu sering tercederai oleh gemerlapnya dunia. Sehingga mereka seolah menghilang, tenggelam oleh berita buruk para oknum yang lupa dengan kodratnya sebagai manusia yang harus menyebar kebajikan.

Saat ini Haidar sudah melakukan tahap kedua dalam operasi Caesarea, yaitu histeretomi yang merupakan sebuah prosedur membuka uterus atau rahim dengan insisi atau penyayatan. Setelah sebelumnya melakukan laparatomi dengan insisi kulit, insisi subkutaneus, insisi lapisan fascia dan insisi lapisan otot rectus. Inilah keempat lapisan pelindung yang diciptakan oleh Sang Maha Kuasa dalam tubuh malaikat pelindung setiap bayi, malaikat itu bernama 'ibu'.

Kedua tangan Haidar yang mengenakan sarung tangan lateks itu telah bersimbah darah. Pada akhirnya cairan ketuban pun dipecahkan keluar dari lapisan yang menahannya. Dan kepala mungil yang berselaput lemak serta darah itu terlihat mulai dilahirkan dibantu dengan kedua tangan Haidar.

" Resusitasi Neonatus ? ", tanya Haidar sambil mulai melakukan rotasi kepala bayi ke arah oksiput transversal. Lalu melakukan traksi atau penarikan bayi sesuai dengan arah sumbu jalan lahir ke bawah secara perlahan hingga bahu anterior masuk ke insisi histerotomi.

" Siap ... ".

Bayi itu sangat mungil, dia tidak menangis dan kulitnya tampak pucat dan sedikit membiru. Dokter Yulia segera menerima mahluk mungil yang tidak berdaya itu . Dibantu seorang bidan segera menyedot cairan mekonium dari hidung dan mulut si kecil, tapi dia masih diam tidak memberikan respon. Haidar yang menyadari tidak terdengar tangisan, ia melirik dengan hati berdebar cemas.

" Ayolah jagoan .... " dokter Yulia menggosok-gosok punggung bayi itu, belum ada respon.

Dan dokter cantik itu mulai berkeringat cemas, sementara jantungnya berpacu dengan cepat. Ia terus mengumandangkan doa dalam hatinya tak henti, serta melakukan Kompresi atau menekan dada bayi secara konsisten untuk merangsang kerja jantung dan melancarkan sirkulasi darah bayi. Setelah hampir tiga menit yang serasa tiga abad penuh ketegangan itu, akhirnya suara jerit lengking tangisan itu memecah malam. Si bayi mungil itu berangsur-angsur menjadi memerah menandakan peredaran darahnya yang mulai normal.

Haidar yang baru saja memberikan oksitosin dan masih melakukan tahap reparasi uterus atau rahim saat si jagoan kecil itu menangis mengumumkan keberadaannya. Pria itu tersenyum, terlihat dari sepasang matanya yang menyipit. Beberapa puluh menit kemudian operasi darurat itu telah benar-benar selesai.

" Dokter .... terimakasih ", ucap sang ibu dengan sedikit lelehan air matanya.

" Sama-sama Bu.... kita juga sangat berterimakasih pada ibu, mampu bertahan sejauh ini. Tetap berdoa untuk kesehatan semuanya ya Bu ".

" Ya dokter... tapi anak saya baik-baik saja ?... boleh saya melihatnya lagi ? ".

" Sebentar ya Bu ... masih diperiksa dulu sama dokter Yulia. Oh ya... nanti ibu akan menggigil beberapa saat, itu karena suntikan yang diberikan. Tidak apa-apa... nanti bisa minum teh manis panas untuk meredakannya. Sekarang ibu istirahat dulu ya ".

Ibu itu mengangguk, ia menarik nafas panjang. Kali ini sedikit kelegaan mulai nampak dipeluk matanya. Wanita ini belum usai dalam perang pertaruhan hidup dan matinya. Ia hanya sejenak beristirahat, tapi bahaya masih mengintai. Namun setidaknya musuh terbesar telah tumbang.

1
Nai's Mom 💞2
Udah mau 2 tahun ya gak kerasa belum ada update dari Mba Renita... Sehatkah mba??
Euis Mardiani
othor kapan nih update lagi kangeeennn kitaaa🤣
Trituwani
mb ren aq kira ad up lg g kenotif lohh ternyata yg aq buka bab sebelumnya 😭😭
Trituwani
calon mantu papa mandala ini
Trituwani
g da notif dihpq mb ren.. saking lamanya 😭😭😭
Trituwani
si anggrek bulan kan mas haid mb hanin...
Trituwani
abang haid n abang namu terdebest 😘
Trituwani
turunan si papa mandala ini
Asnah
sangat bagus, aku sllu menunggu up nya mba renita
titik pandit
Dan ini sudah baca yg ke 5x ... rasanya tetep penasaran....mbak Ren ditunggu up nya....😍😍😍Mas Alend and Qirun juga....
Asnah
sllu ditunggu up nya dek,,,🙏🙏
Agna
mba Author blm lupa kan klonada novelx blm tuntas? kisah sebagus dan sekeren ini sangat sayang dilewati
Agna
itulah yg namanya Kk, setiap Kk² punya cara sendiri mengekspresikan sayang mereka
Agna
mbak Author Renita kok blm dilanjut ya.. selalu teringat Ibu Orlin bila baca kisah perselingkuhan suaminya tp sang isteri dg tenangx bersikap
Esti Purwanti Sajidin
msh blm up ka
Hadrah Rara
ini masih lanjug atau pindah lapaj ya??
Trituwani
sesakit itu na..untung masih ada bang haid yg bisa buat sandaran untk sebentar karna bang namu dahada yg punya ya na/Cry/
Trituwani
ya allah dah hampir setahun q blm baca saking mb ren jarang up, kangeeeeen bgt mb ren.... sehat selalu mb ren dn ttp semangat
Erna P
aq baca pake akun baru hu hu...saking nungguin up nya.emailnya lupa sandi pun aq jabanin😭mbak Ren jangan lama2 up nya😭nungguin bgt lho sampe ahir kisah mereka.Kirana sabar y sayang.sakit bgt pasti emang.ayah yg kita kira tanpa cela malah justru udah punya cucu😭yg bahkan dari istri sah aja blm ada😭tapi dibanding Kirana harusnya sih Orlin yg merasakan sakit yg jauh lebih sakit.tapiiii Orlin kan emang berhati malaikat😭legowo bgt hatinya.murni sekali Orlin.smoga happy end buat hidupmu Lin.kalo aq di posisi Orlin meskipun dah tua g tau d3h sanggup enggak nerimanya
Asnah Saidan
kelamaan up nya dek. ,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!