Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persahabatan yang Tak Berubah
“A Fei, kau masih saja sering minum teh kental seperti ini? Itu hanya akan mengganggu pencernaan dan membuat perutmu terasa tidak nyaman. Kau ini sungguh sulit sekali untuk diingatkan,”
“A Min, kau ini tetap saja sama seperti dulu—suka cerewet dan mengatur segala hal sampai ke hal-hal kecil sekalipun,” jawabnya dengan nada bercanda,
Gadis yang dipanggil A Min itu bernama Yan Xumin. Dahulu, ia hanyalah putri dari seorang pedagang kaya di ibu kota. Jika dilihat dari segi status sosial maupun kedudukan di lingkungan masyarakat, ia memang tidak bisa dibandingkan dengan keluarga bangsawan mana pun. Namun, sejak kecil Yanfei justru sangat menyukai kepribadian Xumin yang jujur, tulus, dan tidak pernah berpura-pura.
Ia ingin menjadikan gadis itu sahabat dekatnya, sampai akhirnya ayahnya, Menteri Duan, secara resmi mendatangi kediaman keluarga Yan dan meminta agar putri mereka diperbolehkan menjadi teman belajar bagi putri ketiganya, Yanfei.
Di ibu kota yang besar ini, ada ratusan keluarga pedagang yang memiliki harta melimpah. Namun, bisa sampai menarik perhatian dan mendapatkan permintaan langsung dari keluarga Menteri Duan adalah hal yang sangat membanggakan dan tak terduga.
Keluarga Yan tentu saja merasa sangat senang dan beruntung. Sebagai putri pedagang, Yan Xumin selama ini sering dipandang sebelah mata dan dianggap memiliki latar belakang yang rendah.
Namun, dengan adanya hubungan dekatnya dengan Nona Ketiga dari keluarga Duan, siapa pun di ibu kota ini tidak akan berani lagi mengejek atau merendahkannya secara terang-terangan.
“A Fei, kau tetap saja tidak berubah, suka mengelak saat dinasihati,” kata Xumin sambil menggelengkan kepala, namun di sudut bibirnya terukir senyum yang hangat.
“Sudah enam tahun lamanya kita tidak bertemu, A Min. Rasanya waktu berjalan begitu cepat, namun seolah baru kemarin kita masih bermain bersama di taman belakang kediaman,” jawab Yanfei dengan senyum yang semakin lebar. Meskipun terlihat sangat bersemangat, matanya menangkap tatapan yang berbeda dari sahabatnya itu—tatapan yang memandangnya dengan perasaan yang lebih dalam, seolah ingin melihat perubahan apa saja yang telah terjadi selama kepergiannya.
Memang sudah enam tahun mereka terpisah. Dalam waktu yang cukup lama itu, banyak hal yang terjadi pada keduanya. Yanfei sendiri telah melalui peristiwa berat yang mengubah banyak sisi dirinya, menjadikannya lebih tenang, bijaksana, namun juga menyimpan kesedihan yang mendalam.
“Li Xia, tambahkan satu set peralatan makan dan sajikan makanan terbaik yang kita miliki. Putri Qingyan datang berkunjung tentu harus kita jamu dengan sebaik-baiknya,” perintah Yanfei kepada pelayannya yang berdiri di sudut ruangan.
Mendengar panggilan itu, Yan Xumin tersenyum getir sekaligus haru. “Fei Fei, mendengar kau menyebut gelarku seperti itu rasanya sungguh terasa jauh dan asing”
Mendengar ucapan itu, keduanya saling memandang sejenak, lalu tertawa lepas bersamaan. Suasana yang tadinya terasa sedikit kaku karena perasaan rindu yang mendalam, seketika mencair menjadi hangat dan akrab.
“kau meminta ku memanggil mu begitu"
"Kap sepatuh itu?"
"Ya, sudah sangat lama sekali kita tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu,” kata Yanfei,
Suasana pagi hari itu terasa sangat menyenangkan. Cahaya matahari masuk melewati celah jendela, menerangi ruangan dengan sinar keemasan yang lembut, sementara angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga dari taman luar. Setelah menikmati hidangan yang disajikan dengan lahap dan santai, Yanfei mengajak Yan Xumin berjalan menuju paviliun kecil yang terletak di tengah taman, tempat yang paling ia sukai untuk mengobrol sambil menghirup udara segar dan menikmati pemandangan tanaman yang hijau serta bunga yang sedang mekar indah.
Mereka duduk bersebelahan di atas bangku kayu yang telah disediakan, dikelilingi oleh suara kicauan burung dan aliran air dari kolam kecil di dekatnya.
“A Min, aku baru saja kembali ke ibu kota dan belum banyak mendengar kabar terbaru. Namun saat mendengar semua yang telah kau capai, aku merasa sangat bangga melihatmu. Kau kini sudah menjadi seorang Putri yang dihormati, gelar yang diberikan langsung oleh Kaisar sendiri. Ini jelas bukan sekadar penghargaan biasa, melainkan bukti bahwa kau memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang lain,” ujar Yanfei dengan nada tulus, matanya memancarkan rasa senang yang nyata.
Bagi Yanfei, melihat sahabatnya yang dulu sering dianggap rendah kini memiliki kedudukan yang terhormat dan kehidupan yang lebih baik adalah hal yang sangat membahagiakan. Ia tahu betul perjuangan yang harus dilalui oleh keluarga pedagang untuk mendapatkan tempat di tengah lingkungan bangsawan yang penuh prasangka itu.
Namun, Yan Xumin hanya tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. “Jangan katakan hal itu, Fei Fei. Semua itu hanyalah gelar kosong yang terlihat indah dari luar saja. Di baliknya, ada banyak aturan, pengawasan, dan kewajiban yang membuatku tidak sebebas dulu. Ah, hampir saja aku melupakan hal yang paling penting untuk kubawa hari ini.”
Ia segera mengeluarkan sebuah kantong kain kecil yang terbuat dari sutra halus berwarna krem, dihiasi dengan sulaman bunga yang rapi, dari balik lengan bajunya. Dengan kedua tangan, ia menyodorkan benda itu kepada Yanfei sambil tersenyum lebar.
“Kau selalu menyukai aroma bunga Ruhuang yang lembut dan menenangkan, bukan? Sayangnya bunga ini sangat sulit ditemukan dan hanya tumbuh di daerah pegunungan yang jauh. Beberapa waktu lalu, saat aku mendapat tugas ke Kota Yanmeng, aku tidak sengaja menemukan kebun tempat bunga ini tumbuh. Aku segera meminta ahli wewangian terbaik untuk membuatnya menjadi bubuk pengharum khusus. Begitu mendengar kabar bahwa kau sudah kembali ke ibu kota, aku tidak sabar lagi ingin memberikannya padamu.”
Wajah Yan Xumin terlihat sangat gembira saat menceritakannya. Sejak mendapatkan gelar Putri Qingyan, ruang geraknya memang menjadi lebih luas dan ia memiliki akses ke tempat-tempat yang sebelumnya tidak bisa ia jangkau.
Ia masih ingat betul bagaimana kehidupannya dulu sebagai putri pedagang tanpa status bangsawan. Meskipun keluarganya memiliki kekayaan yang melimpah, namun tanpa kedudukan yang jelas, mereka hanya akan menjadi bahan pembicaraan dan ejekan. Di mata para bangsawan yang sombong itu, pedagang hanyalah orang yang bekerja dengan tangan kotor dan berbau keringat, tidak pantas untuk duduk sejajar dengan mereka. Selama itu, hanya Yanfei yang benar-benar memperlakukannya sebagai teman setara, tanpa memandang asal-usul atau kekayaan.
“Kau sungguh sangat perhatian, A Min. Setelah sekian lama terpisah, aku sempat berpikir mungkin kau sudah melupakan seleraku dan juga keberadaanku begitu saja,” kata Yanfei sambil menerima kantong itu dengan hati-hati, lalu membukanya sedikit dan mencium aroma yang keluar. Aroma itu memang sama persis seperti yang ia sukai—menenangkan dan membawa rasa damai.
“Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu?” jawab Yan Xumin dengan nada lembut namun tegas.
“Hari itu saat ayahku mengirim orang untuk menjemput ku kembali ke rumah dan memintaku tidak lagi sering datang ke kediaman ini, aku sebenarnya sangat enggan pergi. Namun, aku tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan orang tua. Fei Fei… aku juga mendengar kabar tentang apa yang terjadi padamu. Aku ikut merasakan kesedihan mendalam atas kepergian putramu. Maafkan aku yang tidak bisa di sisi mu saat itu.”
Suara Xumin terdengar semakin pelan, penuh rasa iba dan rasa bersalah. Ia masih ingat betul saat itu, mendengar kabar bahwa Yanfei harus melalui proses melahirkan yang sangat sulit dan berisiko tinggi, namun akhirnya harus menerima kenyataan pahit bahwa bayi yang dikandungnya tidak bisa bertahan hidup. Kejadian itu jelas membuat hati siapa pun terasa teriris, apalagi bagi seorang ibu yang baru saja melahirkan buah hatinya.
Yanfei terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang sebelum mengembuskan perlahan. Ia mengangkat wajahnya, berusaha menampakkan senyum yang tegar. “Semua itu sudah berlalu, A Min. Waktu memang tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang, namun ia bisa mengajarkan kita untuk menerima kenyataan. Sekarang aku sudah kembali ke ibu kota, kembali ke rumah, dan kita bisa bertemu lagi seperti dulu. Itu saja sudah cukup membuatku merasa lebih baik.”
Memang, meski putranya telah tiada selama bertahun-tahun, ia masih sering merindukannya dalam hati. Namun, ia sadar bahwa mereka yang masih hidup harus tetap melangkah maju. Ia tidak boleh membiarkan kesedihan itu terus membelenggunya dan menghancurkan dirinya sendiri. Di ibu kota ini masih ada ayah, ibu, nenek, serta kerabat dan sahabat yang selalu mencemaskan keadaannya dan menginginkannya bahagia. Dunia ini begitu luas, dan masih ada banyak hal baik yang menantinya di masa depan.
“Kau benar sekali, Fei Fei. Kita harus melihat ke depan dan menikmati setiap kesempatan yang diberikan,” jawab Xumin sambil menepuk-nepuk punggung tangan sahabatnya itu dengan lembut, memberi dukungan yang tulus.
Keduanya pun kembali terhanyut dalam obrolan yang panjang dan hangat. Mereka membicarakan banyak hal—mulai dari kenangan masa kanak-kanak, perubahan yang terjadi di ibu kota, hingga rencana-rencana yang ingin dilakukan ke depannya. Di bawah naungan pohon rindang itu, rasa rindu yang terpendam selama enam tahun perlahan terobati, membuktikan bahwa persahabatan yang tulus tidak akan pernah luntur meski terpisah oleh jarak dan waktu.