Azara Amora adalah gadis cantik berambut panjang dan bertubuh pendek
Bryan Jason Willy, cowok tampan, bertubuh tinggi,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurdahlia Awani hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 19
Ara terbaring dengan selang infus ditangannya, juga selang oksigen di hidungnya. Kepala dan tangannya masih diperban, sudah dua hari ini Ara tak kunjung sadar. Aku tak bisa melihatnya dengan keadaan seperti itu, apalagi semua ini karenaku. Tuhan, apa aku terlalu jahat telah memperlakukannya seperti itu? Sekarang aku menyesali semuanya.
"Kak," aku menoleh, mendapati Anissa yang berlari dan memelukku erat. Terdengar isakan tangis darinya, ada apa ini? Kenapa dia menangis?
"Kak, Mami ...," Anissa memotong ucapannya. Suaranya bergetar, seperti tidak mampu untuk bicara. Aku mengelus kepalanya, mencoba untuk menenangkannya.
"Mami, Kak ... Mami sama Papi udah ninggalin kita!" Bak tersambar petir di siang bolong, tubuhku langsung melemas, dan terjatuh begitu saja. Air mata tak terbendung lagi, dan kini membasahi pipiku. Apa ini mungkin? Kenapa? Kenapa!?
"Gak, ini gak mungkin!" Anissa semakin kencang dalam tangisnya. Aku segera berdiri, meraih tangan Anissa agar ikut berdiri. Dan dengan cepat, berlari keruangan tempat Mami dan Papi.
___
Aku tak henti menitikkan air mata, aku terduduk lesu, mengusap lembut batu nisan yang bertulis nama kedua orang tuaku. Hidupku hancur, tak lagi berarti.
"L-lo yang sabar yah," ketiga temanku menepuk pundakku.
Aku kembali bangkit, menuntun Anissa untuk kembali lagi kerumah sakit. Bagaimana pun Ara masih membutuhkan seseorang di sampingnya.
Aku masuk kedalam ruangan Ara, menggenggam tangannya erat.
"Maafin gue, Ra. Gue mohon, lo bangun sekarang, gue mohon," lirihku. Aku sangat berharap ia bangun sekarang, aku ingin meminta maaf sebesar-besarnya untuk kesalahan yang aku perbuat padanya.
Ketiga temanku beserta Anissa turut berada diruangan itu.
"Iya, Ra. Lo bangun, jangan tinggalin gue,apa lo gak mau nemenin sahabat lo ini?" ucap Anissa yang berada di sampingku.
Sedikit demi sedikit, tangan mungilnya bergerak, aku mengusap sisa-sisa air mataku. Perlahan, mata Ara terbuka, aku bersyukur, terima kasih Tuhan.
Mata indah Ara menatap sekeliling, sesekali meringis kesakitan, karena lukanya. Ia menatap kami, mulutnya perlahan bergerak.
"Kalian siapa?"
DEG
Aku berjalan perlahan, menaiki tangga satu persatu menuju atap rumah sakit tersebut. Pandanganku lurus kedepan, tanpa peduli apa yang akan aku lakukan. Jujur, aku sangat lelah dengan semua ini, satu pikiranku sekarang, ialah bunuh diri dan menyusul mereka. Beginikah rasanya kehilangan? Aku sungguh menyesali semua perbuatanku.
Ku alihkan pandangan kebawah, dimana para motor dan mobil berlalu lalang tanpa henti. Aku tersenyum getir, apa ini jalan yang terbaik?
"Kakak!"
"Bryan!" Aku menatap kearah sumber suara, disana sudah ada beberapa pihak rumah sakit, Anissa dan para teman-temanku.
"Kak, jangan tinggalin Anissa, Anissa mohon ...." lirih Anissa dengan sesegukan.
"Yan, lo harus tenangin dulu diri lo!" hari ini aku tak peduli. Jangan menghalangiku sekarang.
"Jangan dekat-dekat! Gue titip Anissa, gue bakalan pergi sekarang, gue mohon, jangan hentikan gue." Aku tersenyum kearah mereka, kemudian menjatuhkan tubuh ini.
"Kakak!"
BRUK!
Aku langsung terbangun, ketika kepala ini berhasil menyentuh lantai. Nafasku tak teratur, keringat dingin bercucuran, dan jantung yang masih tak karuan berdetak.
Aku memegangi wajahku, mencubitnya dan membuatku kesakitan. Kenapa aku ada dirumah? Apa tadi hanya mimpi? Bukannya aku sudah mati?
"Kalau beneran mimpi berarti ... Mami! Ara!" Aku langsung berlari keluar mencari keberadaan dua wanita yang aku sayangi. Eh, jujur saja aku benar-benar menyayangi Ara sekarang.
"Mami!" Aku berlalu kepelukan Mami, kemudian menangkup kedua pipi Mamiku yang tercuinta ini.
"Alhamdulillah, Mami masih hidup,"
PLAK!
Aku memegangi kepalaku yang terasa sakit akibat jitakan Mami.
"Kamu kenapa sih? Kesambet apaan kamu?" Mami menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi tak apa, asalkan Mami masih hidup uyy!
"ARA!" Aku berlari kearah Ara yang berjalan menghampiri kami dengan beberapa cemilan ditangannya.
Aku memeluknya, mengusap pipinya, dan memutar-mutar tubuhnya. Apa dia baik-baik saja?
"Ra, gue siapa?" Ara menyerinyitkan keningnya.
"Abang Bryan," bahagianya aku, terima kasih Tuhan. Aku benar-benar bahagia.
"Kakak kenapa dah?" tanya Anissa sambil sibuk menuruni tangga. Aku nyengir onta, karena tak tempe harus menjawab apa.
Terdengar klakson mobil berbunyi, itu pasti Papi, pikirku. Secepat kilat, aku pun langsung berlari keluar. Papi dengan gagah keluar dari mobil, ditambah kaca mata hitam yang ia pakai. Wah tampannya Papiku, pantas saja aku juga sangat tampan, ya kan para readers?
Aku langsung berlalu kepelukan Papi, Papi pun mengusap lembut punggungku. "Papi baik-baik aja kan?" tanyaku. Papi hanya mengangguk dan tersenyum.
"Tumben kamu kek gini, kenapa sih?" tanya Papi. Mungkin Papi heran dengan tingkahku.
"Lihat tu anakmu, Pi. Aneh banget sikapnya, tadi aja tiba-tiba meluk Mami," aku nyengir onta mendengar penuturan Mami.
Papi dan aku berjalan menghampiri Mami, Anissa dan Ara yang berdiri di depan pintu.
"Niatnya sih, kalau Papi pulang, Mami yang bakalan meluk. Eh, malah kamu yang meluk duluan," aku terkekeh mendengar ucapan Mami. Aku pun merangkul keduanya, sungguh aku tak ingin kehilangan mereka.
"Maafin anakmu yang tampan ini, ya. Emangnya Bryan gak boleh meluk kalian?" Mami dan Papi tersenyum, lalu memelukku. Ah sungguh indah dan nyamannya pelukan seorang Ayah dan Ibu.
"Anissa cuman jadi nyamuk nih?" Mami dan Papi terkekeh, lalu merentangkan tangan dan Anissa pun langsung berhambur kepelukan. Mami pun ikut merentangkan tangannya kearah Ara, Ara tersenyum lalu berhambur kepelukan kami semua.
#Bersambung
Note: Bryan hanya mimpi guys, bukan beneran. Jadi, yang merasa salah faham, bisa baca part sebelumnya.
anak" bryan kak gimana ketemu sama anak sabahat papanya😁😁
jangan lupa mapir di KARYA ku yaaa🙏❤️🖤
awas az klo Bryan sampe luluh
lucu
semangat thor lanjutin up nya. di tunggu epsd selanjutnya, aku suka dengan ceritanya, menarik😍