Arifah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar seringkali mendapatkan kenakalan teman-temannya bahkan gurunya sendiri pernah sesekali mempermalukannya.
Puncaknya, Aska sebagai saudara kandung Arifah tidak memberitahunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat. Tidak sampai disitu, Aska sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya pun juga pergi meninggalkannya. Belum lagi menghadapi anak angkat Mami yang ternyata seseorang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan dari keluarganya.
Lalu mampukah Arifah berdamai dengan takdir yang telah digariskan? Dan apakah dengan hadirnya malaikat pelindung disisinya mampu membuatnya menjadi pribadi kuat dan tangguh?
Saksikan kisah selengkapnya ya, jangan lupa like dan vote juga. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 20 Takut Kehilangan Aska
"Bagaimana kalau besok, karena besok minggu Mas libur kerja. Mas ajak Mbak Viona boleh?" tawar Aska.
Arifah memegangi dagunya sembari memutar bola matanya mempertimbangan tawaran Aska. "Aku tidak mau, aku mau berdua saja dengan Mas" ucap Arifah berkacak pinggang. Sebenarnya ia tidak rela jika Aska mengajak Viona, ia takut Aska tidak memperdulikan kehadirannya.
Wajah Aska kusut mendengar jawaban adiknya, tapi ia tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauannya. "Baiklah, baiklah kita berdua saja" dengan senyum terpaksanya.
"Yei yeeii akhirnya"
Arifah pun berlalu meninggalkan Aska menuju kamarnya dengan riang gembira.
Drtt.. Drtt
Tiba-tiba hp Aska bergetar. Ia pun mengambil hp yang ada dikantung celana sebelah kanan, dengan tersenyum mengembang Aska menarik tombol berwarna hijau keatas.
"Halo.."
"Jadi kerumah besok?" tanya Viona dari seberang.
Aska bingung harus jawab apa, dilain sisi ia sudah berjanji akan kerumah Viona untuk bertemu kedua orang tua, tapi disisi yang lainnya ia tidak tega membatalkan janjinya dengan Arifah. Aska menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal, bagaimana ini aku? batinnya.
"Halo, Aska kamu mendengarku?"
"Iya aku dengar"
"Jadi bagaimana? Jadi tidak?" tanya Viona lagi.
Aku tidak punya pilihan lain, Aska membatin.
"Maafkan aku Viona, bagaimana kalau minggu depan aku kerumahmu. Aku sudah janji dengan Arifah untuk mengajaknya jalan-jalan besok."
"Ohh begitu, ya sudah tidak apa" ucap Viona kecewa.
"Maafkan aku ya, tapi aku janji minggu depan aku pastikan kerumahmu."
"Iya" ucap Viona singkat lalu mematikan hp nya.
"Aku harap dia tidak kecewa, arghh" gumam Aska sembari mengusap wajahnya kasar.
Didalam kamar Arifah memeluk guling kesayangannya hendak memejamkan matanya, namun terlintas dipikirannya tentang surat yang sempat membuatnya bermasalah disekolah. Ia mengingat kata-kata Bu Dewi tadi.
"Ah kan ada Putri, aku bertanya saja padanya" gumam Arifah dan mendudukkan badannya ditepi tempat tidurnya. Matanya mencari sosok Putri.
"Putri, kamu dimana?"
"Aku disini"
"Kamu ini mengagetkan aku saja"
Arifah kaget dengan kehadiran Putri secara tiba-tiba disampingnya.
Putri tersenyum, namun sayang Arifah tidak dapat melihat senyuman itu.
"Ada apa kamu memanggilku?"
"Aku ingin bertanya sesuatu"
"Katakan"
"Apa kamu bisa melihat orang yang sudah membuat aku bermasalah disekolah karena beberapa lembar surat yang mirip dengan tulisanku?" tanya Arifah menatap Putri dengan tatapan penuh harapan, harapan Putri akan mengetahuinya.
Hening..
"Putri.. Apa kamu tahu?" tanya Arifah lagi yang sudah tidak sabar lagi.
"Ya, tentu saja aku tahu. Aku akan memberitahumu nanti malam, sekarang istirahatlah"
"Tapi aku ingin tahu sekarang"
"Tidak, aku akan memberitahumu nanti malam" ucap Putri lalu menghilang.
Tring..
"Huhh menyebalkan, katanya malaikat pelindung, tapi kenapa dia membuatku penasaran seperti ini sih" gumam Arifah kesal. Ia pun kembali berbaring ditempat tidurnya. Sedikit demi sedikit matanya tertutup rapat, Arifah sudah tertidur.
Pukul 16.00 Arifah terbangun. Ia pergi kekamar mandi hendak mengambil air wudu untuk melaksanakan shalat Ashar. Arifah salat dengan kusyuk dan tawadu, ia pun berdoa untuk kedua orang tuanya yang telah tiada semoga diberikan kemuliaan disana, diampuni segala dosanya dan terima segala kebaikan kedua orang tuanya semasa hidup. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja, ia sangat merindukan kedua orang tuanya. "Maafkan aku Mi Pi, kalian pergi meninggalkan aku disaat aku belum bisa memberikan kebahagiaan, kalian pergi saat membenciku. Tapi sungguh Mi Pi, bukan aku yang melakukannya. Aku akan mencari tahu siapa penyebab semua ini" gumamnya lirih sembari menyeka air matanya.
Putri yang melihat linangan air mata Arifah merasa bersalah, harusnya ia membantu Arifah mencari solusi bukan malah meninggalkannya.
Usai melaksanakan shalat, Arifah pergi ketaman menyiram bunga-bunga yang bermekaran dengan pesonanya masing-masing.
"Hai apa kabar kalian, aku bawa makanan nih" ucap Arifah pada bunga-bunganya sembari menyiram semua bunga-bunga itu dengan perlahan.
Dikejauhan Aska memperhatikan Arifah yang sedang Asyik dengan bunga-bunganya. "Kasihan sekali dia, coba kalau ada Viona disini pasti Arifah tidak akan kesepian" gumam Aska. Aska pun berniat menghampiri Arifah.
"Sudah selesai?" tanya Aska yang sudah disamping Arifah.
Arifah yang sudah tahu kehadiran Aska tidak kaget.
"He em" Arifah mengangguk.
"Bagaimana kalau Mas menikah?" ucap Aska menatap Arifah dengan senyum mengembang.
Arifah mengernyitkan keningnya heran. "Mas sudah punya calon istri?" tanyanya penasaran.
Aska hanya mengangguk mendengar pertanyaan Arifah.
"Siapa?"
"Viona" ucap Aska.
Arifah memalingkan wajahnya dengan melipat kedua tangannya didada. "Mas belum boleh menikah, aku masih kecil dan aku masih membutuhkan Mas disisiku" ucap Arifah memajukan bibirnya.
"Siapa bilang kamu masih kecil, kamu itu sudah besar. Kamu sudah bisa menjaga dirimu sendiri" ucap Aska sekenanya tanpa tahu apa yang ada dipikiran Arifah.
"Mas mau pergi juga meninggalkan aku setelah kepergian Mami Papi. Kalian semua tidak ada yang sayang denganku!" ucap Arifah berlalu pergi meninggalkan Aska ditaman.
Aska kaget dengan ucapan Arifah. Ia sama sekali tidak bermaksud meninggalkan Arifah, justru agar adiknya tidak sendirian lagi dirumah.
"Arifah!" Aska mengejar Arifah. Ia pun berhasil meraih pergelangan tangannya.
"Apa yang kamu katakan" ucap Aska menatap adiknya dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.
"Mas tidak bermaksud meninggalkanmu. Mas sangat menyayangimu, demikian juga Mami dan Papi. Mami dan Papi pergi karena memang sudah takdir, sekarang kamu adalah tanggung jawab Mas. Jadi buang jauh-jauh pikiran burukmu itu tentang Mas" ucap Aska berkaca-kaca, sebenarnya ia juga belum siap dengan kepergian kedua orang tuanya.
Arifah mendengarkan penjelasan Aska menangis sesenggukan.
"Setelah menikah Mas akan meninggalkan aku bukan? Mas pergi dengan istri Mas"
Aska mengusap air mata Arifah perlahan. "Mas kan sudah bilang, Mas tidak akan pernah meninggalkan kamu, apapun kondisimu, Mas akan selalu ada buat kamu. Cuma kamu yang Mas punya"
"Tapi dengan menikah Mas akan selalu bersama istri Mas dan anak-anak Mas kan?"
"Iya, tapi Mas tidak akan meninggalkan kamu. Kelak kamu pasti akan menikah juga kan?" ucap Aska.
Arifah melotot menatap Aska, "Aku belum ingin menikah" Arifah memukul lengan Aska.
Aska tersenyum dengan tingkah adiknya, "Mas juga tidak mau jika kamu menikah diusia yang masih sangat kecil seperti ini" ucap Aska memeluk adiknya.
"Mas janji kan tidak akan pernah meninggalkan aku sendiri?"
"Mas janji"
Ting.. Tong..
Suara bel berbunyi..
"Siapa Mas?" tanya Arifah yang masih berada dipelukan Aska.
Aska menggeleng, "Biar Mas lihat" ucap Aska dan dijawab anggukan Arifah.
Aska pun membuka pintu pagar, "Melati? Morgan?" ucap Aska kaget.
"Silahkan masuk kedalam" ucap Aska lagi.
Mereka masuk kedalam dan Aska mempersilahkan Melati dan Morgan duduk disofa.
"Ada keperluan apa tiba-tiba datang kemari?" ucap Aska tanpa basa basi.
"Kita ini saudara Aska, meskipun bukan sekandung." ucap Melati.
Aska mengangguk, Aska seolah lupa dengan Melati yang sudah dianggap anak angkat oleh Mami.
"Kedatangan ku kemari hanya silaturrahmi untuk mempererat persaudaraan kita. Apalagi aku akan mengolah warisan Mami sementara waktu sambil menunggu Arifah beranjak dewasa."
"Tapi sepertinya aku tidak akan sanggup jika mengolahnya sendiri, aku butuh Morgan" ucap Melati menjelaskan.
"Tidak masalah" ucap Aska santai.
.
.
.
Jangan lupa like dan vote 😊
jangan lupa jaga kesehatan jugaa
like nya sudah mendarat
lanjut dan semangat selalu💪😍💜
Semangat tuk karyanya ya kak 🤗❤️