Canna adalah seorang gadis desa biasa yang di nikahi seorang pengusaha ternama secara diam-diam, setelah insiden memilukan. Bahkan tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari sesuatu saat hatinya sudah mulai terbuka.
Namun, kesungguhan yang diperlihatkan Delano padanya tidaklah nyata. Lelaki tampan itu hanya menginginkan seorang bayi darinya. Setelahnya ia akan menceraikannya.
Rasa cinta yang mulai tumbuh dalam diri Canna, berbaur menjadi rasa benci.
Bagaimanakah nasib rumah tangga mereka kedepannya? Bercerai ataukah bertahan? Mampukah Canna melindungi buah hatinya dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjadi Lagi Warning!!! Area 18++
Canna keluar ruang ganti dan sudah tidak mendapati keberadaan Delano disana. Ia bernapas lega setelahnya, lelaki yang selalu mengintimidasinya, akhirnya pergi juga.
Canna beranjak dari tempat duduknya setelah selesai menyisir rambut dan membubuhi bedak bayi pada wajahnya. Membuka kamar dan mengamati sekelilingnya, tidak terlihat siapapun di depan kamarnya. Ia segera menutup pintu kamarnya, berjalan menuruni anak tangga.
Langkahnya terhenti tepat di taman belakang mansion milik Delano, mengamati bagaimanaunga melati yang baru di tanamnya. Bunga melatinya sudah mulai bertunas.
"Bungaku tumbuh dengan baik," gumam Canna kegirangan. Ia kembali sibuk dengan kegiatannya membersihkan ranting-ranting bunga melati yang sudah tua. Ia terlihat sangat gembira sambil bersenandung kecil hingga tidak menyadari keberadaan Delano yang sejak tadi terus-menerus memperhatikan dirinya. Lelaki itu bersandar pada pilar tiang dengan senyum yang sangat tipis. Mengamati ekspresi Canna yang terlihat bahagia dan tampak ceria.
"Hmm!"
Deheman Delano membuat Canna membeku, berpaling kebelakang dengan perlahan. Mencari keberadaan suara deheman yang baru di dengarnya.
Dia pun kembali meneruskan pekerjaannya saat mendapati keberadaan Delano yang cukup jauh darinya. Tapi kesenangannya tidak kembali seperti sebelumnya, ia tidak bersenandung lagi.
"Sepertinya kamu sangat menyukai bunga melati!" Delano berjalan kearahnya, berdiri tepat dibelakangnya, masih memperhatikan tangan Canna yang cekatan memotong ranting bunga melati yang sudah tua.
"Seperti yang Anda lihat, Tuan Delano. Melati adalah bunga yang melambangkan kesucian dan baunya sangat harum. Siapa yang tidak tertarik padanya," sahut Canna masih sibuk memotong ranting tua.
Delano menatap sekeliling taman miliknya. Sejak keberadaan Canna di tempatnya, taman belakang mansionnya terlihat lebih hidup dibandingkan sebelumnya. Karena penghuninya selalu bersenandung saat melakukan pekerjaannya.
Delano sengaja melarang pelayan dan tukang kebun yang lainnya untuk ikut campur dalam penataan kebun miliknya yang ada di belakang mansion. Ia membiarkan begitu saja Canna dengan semua kesenangannya. Nyatanya, kebunnya terlihat lebih tertata dari sebelumnya.
"Apa yang sedang Anda lakukan disini, Tuan?" tanya Canna membuyarkan pikiran Delano yang kembali melirik padanya dan mensedekapkan tangannya di dada.
"Melihat Kelinci Kecil yang suka menghilang dari kamarnya dengan diam-diam," sahut Delano.
Canna tersenyum canggung mendengarnya. Tanpa menyahut, ia kembali melakukan pekerjaannya.
"Bagaimana kalau kamu buatkan aku teh melati segar yang baru dipetik?" tawar Delano. Canna berpaling kearahnya, baru kali ini sikap Delano terasa lunak padanya.
"Baiklah. Aku akan membuatkan teh untuk Tuan. Tunggu disini!" ucap Canna sambil memetik beberapa tangkai bunga melati dan membawanya kearah dapur. Delano mengikuti langkahnya dengan santai. Menatap punggung Canna yang terlihat mungil dan nyaman untuk dipeluk.
"Shiitt!!" umpat Delano saat bayangan adegan panas dirinya dan Canna untuk pertama kalinya kembali muncul dibenaknya. Percintaan itu adalah yang pertama untuk keduanya sehingga ia tidak pernah melupakan pengalaman pertamanya.
"Ada apa? Kenapa Anda mengumpat?" Canna berbalik penuh tanya.
"Tidak ada sesuatu pun. Sebaiknya cepat buatkan aku teh melati. Aku menunggu disini!" Delano duduk di meja ruang makan menunggu teh pesanannya.
"Aneh...," gumam Canna. "Tadi kelihatan senang tapi beberapa detik setelahnya kembali kelihatan kesal." Canna menggelengkan kepalanya sambil mengaduk teh yang sudah dibubuhi dengan 3 tangkai bunga melati. Menyuguhkan tepat di hadapan Delano. Lelaki itu masih duduk tegap menatap dirinya dengan intens.
"Ini tehnya, kalau ada sesuatu yang Anda inginkan, beritahu saya," ucap Canna sopan layaknya seorang pelayan.
"Jangan bersikap formal padaku! Aku tidak suka!" ucap Delano sambil menghirup aroma tehnya yang sangat harum.
"Rasanya tidak buruk," ucapnya setelahnya.
"Benarkah? Terima kasih Tuan karena memuji hasil buatan ku!" sahut Canna menunduk sekilas. "Ah... Pengucapan kata-katanya sangat buruk, tidak bisa memuji sedikit hasil kerjaku!" gerutu Canna membatin.
"Sepertinya ucapanmu padaku tidak sesuai dengan isi hatimu! Bukankah tadi aku sudah melarangmu untuk memanggilku Tuan?"
Canna terkejut mendengarnya, mengulas senyum palsu.
"Tapi, aku hanya seorang pelayan. Sangat tidak sopan kalau pelayan berani memanggil Tuannya dengan sebutan nama."
"Aku sudah katakan sebelumnya untuk tidak membantah diriku. Apakah kamu mau dihukum?" tegas Delano.
Canna menundukkan kepalanya, mempermainkan jari-jemarinya serta menggigit bibirnya.
"Hentikan itu! Dan duduklah!" perintah Delano mendesah menunjuk kursi di depannya. Rasanya ia tidak mampu menahan hasratnya untuk tidak mencium wanita itu karena saking menggemaskannya.
"Tapi...," sahut Canna ragu. Ia sebenarnya ingin melarikan diri saja dari hadapan Delano. Rasanya begitu canggung kalau hanya berduaan seperti ini saja.
"Kenapa? Kamu tidak suka dengan duduk di hadapanku?" suara Delano terdengar serak.
"Tidak!" sahut Canna cepat. Ia segera duduk dihadapan Delano setelah melihat tatapan peringatan dari lelaki itu.
"Bagus!" Delano mengangguk samar. "Minumlah teh ini, setelahnya pijat bahuku." Delano beranjak dari duduknya, meninggalkan Canna yang terpaku. Berhenti sesaat tanpa membalik badannya.
"Jangan sampai kamu ketahuan tidak menghabiskannya, kamu akan tahu sendiri hukumannya!" Delano kembali meneruskan langkahnya.
Sedangkan Canna masih ragu untuk meminum teh yang sudah di minum oleh Delano. Bukankah itu sama saja dengan minuman sisa. Dan kalau Canna meminumnya maka secara tidak langsung, dirinya sudah melakukan ciuman dengan Delano. Tangan Canna bergerak refleks menutupi bibirnya.
"Bagaimana ini?" tanya Canna bingung.
"Apanya yang bagaimana, kakak ipar?" sahut Key yang masih berdiri di belakang Canna. Meraih kursi yang di duduki oleh Delano tadi dan duduk tepat dihadapan Canna.
"Apakah ini teh milikmu?" tanya Key senang. Meraih cangkir tersebut dan menghirup baunya. "Dari aromanya saja sudah terlihat sangat nikmat!" Key langsung meminumnya tanpa pikir panjang hingga tandas.
"Sebaiknya kakak ipar harus membuat secangkir lagi untukku. Aku ketagihan, rasanya harum dan nikmat!" Key memperlihatkan gelas yang sudah kosong di tangannya. Membuat Canna meringis sambil menggosok tengkuknya.
"Kenapa kakak ipar diam saja. Ayo buatkan satu cangkir lagi untukku!"
"Baiklah. Baiklah adik kecil. Aku akan membuatkan untukmu seteko kecil!" Canna beranjak dari duduknya dan kembali keruang dapur. Membuatkan secangkir teh, tapi kali ini bukan untuk Delano.
Key tersenyum senang melihat Canna datang dengan nampan di tangannya. Dengan cepat ia meraih teh tersebut dan meminumnya perlahan.
"Ah... rasa berada di taman bunga melati!"
Canna mengernyit saat Key menutup matanya. Lelaki ini terlihat lebih santai dibandingkan Delano.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
Canna terlonjak saat suara bass Delano mengisi gendang telinganya.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk memijat diriku di kamar atas. Lalu apa ini? Kamu tidak meminum teh yang sudah aku minum tadi?"
Key langsung menyemburkan teh yang baru di hirupnya hingga terbatuk-batuk. Dengan cepat Canna menggosok punggungnya.
"Jadi, teh yang aku minum tadi adalah teh sisa darimu!" Key mendelik kesal kearah Delano yang tampak emosi.
"Kenapa kamu justru menyentuh dirinya seperti itu!? Apakah itu kebiasaanmu?" Delano menarik tangan Canna dan membawanya ke kamar atas tanpa menggubris pertanyaan Key.
"Sial. Aku pikir teh tadi milik kakak ipar!" gerutu Key sambil mengelap mulutnya.
Canna tidak memberontak saat Delano menarik kasar dirinya, karena itu hanya akan membuatnya merasa kesakitan. Lebih baik menurut saja daripada dia harus menerima akibatnya.
"Sudah aku bilang, jangan bersentuhan dengan lelaki manapun selain diriku! Kamu akan tahu hukuman apa yang aku berikan kalau kamu membantahku!"
Delano melempar Canna ke atas ranjangnya. Ia tidak suka sikap Canna yang terlalu baik terhadap siapapun terlebih lagi pada laki-laki lain, walaupun itu adalah adiknya sendiri.
"Dia adikmu dan aku tidak salah memperlakukannya seperti itu. Aku hanya membantu dirinya yang tersedak." Canna berusaha untuk mendudukkan dirinya tetapi Delano sudah lebih dulu menindih tubuhnya.
"Tapi kamu memperlakukan diriku tidak sebaik perlakuanmu pada mereka." Menatap wajah Canna yang ketakutan dengan intens hingga tidak sadar ia sudah mencium wanita itu.
Canna berusaha menolak ciuman dari Delano dan memberontak tetapi sia-sia saja karena Delano terus memaksa dirinya. Hingga Canna yang merasa lelah membiarkan saja Delano melakukan semuanya dengan semaunya.
Ciuman Delano semakin dalam dan membuai Canna hingga tidak sadar kalau mereka sudah tidak mengenakan apapun juga. Delano sudah memposisikan dirinya tepat pada tempatnya dan Canna masih tidak menyadarinya.
Jlep. Seringai senang terbit di ujung bibir Delano saat ia sudah memasuki inti Canna. Menatap mata Canna yang terbelalak kaget,tetapi wanita itu juga tidak mampu untuk melakukan sesuatu.
"Jangan lakukan pad__" suara Canna tertahan saat Delano kembali membungkam mulutnya. Ia tidak mau Canna menolak dirinya dan membuatnya tidak bergairah lagi.
"Diamoah dan nikmatilah!" bisik Delano sensual di telinga Canna. Tetapi wanita itu justru menangis dalam diam.
"Tapi ini dosa!" sahut Canna terisak. Delano kembali menciumi bibir Canna dan membuainya, tetapi wanita itu selalu menolaknya. Ia menggeram saat merasakan miliknya yang semakin membesar dan menegang.
Semburan benih dari Delano kembali mengisi rahim milik Canna dan membasahinya. Ia segera berguling kesisi Canna dan menutupi diri mereka dengan selimut.
"Kita tidak berdosa saat melakukannya karena kita adalah suami istri," Delano membatin.
"Tidurlah! Aku ingin memelukmu!" Delano meraih tubuh telanjang Canna yang meringkuk. Membawanya kedalam dekapannya, menciumi beberapa kali kepala Canna. Tetapi wanita itu masih bergetar ketakutan, entah apa yang dia pikirkan.
Pelukan Delano benar-benar terasa hangat baginya hingga tanpa sadar ia memejamkan matanya yang penuh dengan airmata.
***
kau anggap apa jika ada wanita lain kayak gini, saat kalian (author dan reader) berbuat salah pada suami kalian dan rumah tangga kalian ada masalah dan datang wanita lain yang mendekati dan selalu baik pada suami kalian, wanita itu selalu merayu dan selalu mencari cara mendekati bahkan wabita itu menyarankan suami kalian untuk bercerai dan suami kalian juga bersikap baik pada suami kalian,
jadi kalian anggap apa wanita kayak gini, setelah kalian menilai maka kalian bandingkan sikap kalian pada louis, disitu lah kalian bisa lihat sifat aslinya kalian?