NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Masih Bengkak, Dokter

Bibir Sebastian menekan bibir Amaya dengan keras.

Satu tangannya menahan tengkuk, sementara tangan lain mencengkeram pinggangnya agar tubuh perempuan itu tidak membentur panel kayu di belakang.

Amaya membeku sesaat.

Sebastian merasakan jeda itu. Ciumannya berhenti sebelum ia sempat memperdalamnya. Napas mereka bertabrakan dalam jarak yang nyaris tidak ada.

"Amaya?"

Ia memberi ruang untuk mundur.

Amaya justru mencengkeram kerah kemejanya dan menariknya kembali.

"Jangan setengah-setengah."

Kalimat itu menghancurkan sisa keraguan.

Sebastian mencium lagi, kali ini menunggu bibir Amaya terbuka untuknya. Ketika perempuan itu menjawab dengan melingkarkan kedua tangan di lehernya, ciuman tersebut berubah lebih dalam.

Ini bukan kecupan kacau di ruang tindakan, ketika hujan, luka, dan tirai membuat semuanya terasa seperti mimpi buruk yang salah arah. Amaya tahu persis siapa yang sedang diciumnya. Ia juga tahu hubungan apa yang sedang mereka khianati, meski hubungan tersebut hanya hidup di atas kesepakatan keluarga.

Seharusnya kesadaran itu membuatnya berhenti.

Sebaliknya, sensasi terlarang tersebut mengirim getaran panas sampai ke ujung jarinya. Pria yang selalu mengatur jarak kini bernapas tidak teratur karena dirinya. Sebastian yang tidak pernah kehilangan kata-kata bahkan tidak mampu mengatakan satu kalimat utuh.

Amaya menyukai bukti kekacauan tersebut.

Ada rasa manis minuman di lidahnya, bercampur dengan napas yang semakin panas. Sebastian menggigit ringan bibir bawah Amaya. Tidak cukup keras untuk melukai, hanya cukup untuk membuat jemari perempuan itu masuk ke rambutnya.

Kacamata Sebastian bergeser.

Amaya tertawa kecil di sela ciuman. Suaranya segera hilang ketika pria itu menahan dagunya dan memiringkan wajahnya.

"Tadi berani sekali," bisiknya.

"Sekarang juga masih berani."

"Benarkah?"

Sebastian kembali mencium sebelum ia sempat menjawab. Kali ini lebih lambat, tetapi justru membuat lutut Amaya melemah. Punggungnya menyentuh panel. Tubuh tinggi di hadapannya menahan dunia lain tetap jauh.

Amaya menarik napas melalui hidung. Sebuah suara lembut tetap lolos dari tenggorokannya.

Gerakan Sebastian berhenti sesaat.

Tatapan di balik kacamatanya menjadi semakin gelap.

Ia mengecup bibir Amaya sekali, lalu sekali lagi, seolah sedang mengubah sesuatu yang kasar menjadi rasa yang bisa diingat lebih lama. Bibirnya bergerak ke sudut mulut, rahang, lalu turun ke leher.

Amaya menekan bahunya. "Jangan tinggalkan bekas."

Sebastian langsung berhenti. "Sakit?"

"Nggak. Tapi gaunku terbuka. Mama akan lihat."

Pria itu mengangkat wajah. Napasnya berat, namun tangannya tidak bergerak lebih jauh.

"Baik."

Amaya menatapnya selama dua detik, lalu menarik dasinya lagi untuk mencuri satu kecupan pendek.

"Aku cuma bilang jangan tinggalkan bekas."

Rahang Sebastian mengencang.

Sebelum ia membalas, tepuk tangan mendadak meledak dari luar panel. Lagu lambat berakhir. Suara pembawa acara kembali memenuhi ballroom, disusul langkah kaki tamu yang keluar dari lantai dansa.

Kenyataan datang bersama suara tersebut.

Sebastian melepaskan pinggang Amaya seolah baru menyentuh api.

Ia mundur setengah langkah. Tatapannya turun ke bibir perempuan itu yang memerah, lalu segera beralih ke tempat lain.

Amaya masih bisa merasakan panas telapak tangannya.

"Maaf," ujar Sebastian serak. "Aku kehilangan kendali."

"Baru sadar?"

"Seharusnya aku tidak melakukan itu."

"Bagian yang mana? Menarikku, menciumku, atau hampir meninggalkan bekas?"

"Semuanya."

Amaya menyilangkan tangan. "Menarik."

Sebastian kembali menatapnya.

"Koh Sebas yang menarikku untuk dicium. Sebelum mulai juga nggak bertanya aku mau atau nggak." Ia menunjuk bibirnya sendiri. "Sekarang pelakunya berdiri di sana, sedangkan bibir korban masih bengkak."

"Kamu menarikku kembali."

"Itu fakta yang meringankan. Bukan menghapus pelanggaran pertama."

"Jadi sekarang aku terdakwa?"

"Pelaku utama. Aku paling jauh cuma kaki tangan yang ikut menikmati hasil kejahatan."

Sebastian kehabisan jawaban. Ia yang biasa menghadapi dewan etik, pengacara, dan keluarga pasien marah kini dikalahkan oleh seorang perempuan dengan bibir memerah dan dasinya masih berada dalam genggaman.

"Aku minta maaf," katanya lagi, kali ini tanpa bersembunyi. "Aku tidak akan menyentuhmu seperti itu lagi tanpa bertanya."

Amaya melepaskan dasinya. "Bagus."

"Aku juga akan mengingat posisiku."

"Posisi apa?"

"Kamu calon istri Nathan."

"Dan Koh Sebas kakaknya."

"Benar. Ini tidak boleh terulang."

"Koh Sebas yakin?"

"Ya."

"Jawabannya terlalu cepat."

"Itu keputusan yang benar."

"Keputusan benar biasanya nggak membuat orang mengepalkan tangan sampai buku jarinya putih."

Sebastian membuka jemarinya perlahan. Ia membenci bahwa perempuan ini bisa membaca setiap retakan kecil dalam kendalinya, lalu menyentuhnya tepat di tempat yang paling sakit.

"Jangan mengujiku lagi."

Amaya memiringkan kepala. "Kalau diuji sedikit saja sudah rusak, berarti kendalinya memang nggak terlalu kuat."

Sebastian mengucapkan kalimat tersebut seperti keputusan final. Namun tangannya mengepal di sisi tubuh, dan matanya tidak mampu berhenti melihat bibir Amaya.

Perempuan itu mengambil kacamatanya, membersihkan uap tipis di lensa, lalu memasangkannya kembali dengan hati-hati.

"Jangan terlalu percaya diri, Dokter Sebastian."

"Apa?"

Amaya membenarkan posisi bingkai di batang hidungnya. "Aku juga bukan setiap saat mau membiarkan Koh Sebas menciumku."

Ia tersenyum, lalu berjalan keluar dari balik panel.

Sebastian tetap diam di tempat selama beberapa detik.

Kalimat itu seharusnya membuatnya lega. Yang ia rasakan justru dorongan untuk bertanya kapan Amaya akan mengizinkannya lagi.

***

Di luar sudut gelap, udara ballroom terasa lebih dingin.

Amaya menerima segelas air dari pelayan dan menempelkannya ke bibir. Rasa ngilu kecil membuatnya menahan senyum.

Sebastian keluar beberapa langkah di belakangnya dengan wajah yang sudah kembali tenang. Hanya dasinya yang sedikit miring dan ujung rambutnya yang tidak serapi sebelumnya.

"Koh Sebastian."

Vanya menghadang mereka di dekat meja samping. Senyum kameranya kembali terpasang, seolah pertengkaran soal tas palsu tidak pernah terjadi.

"Aku mencari Koh dari tadi," katanya. "Ada hal penting soal kerja sama promosi kesehatan yang ingin kubicarakan."

"Kirim proposal ke bagian komunikasi," jawab Sebastian.

"Proposalnya sensitif. Lebih enak kalau dibicarakan di tempat yang tenang. Hanya kita berdua."

Amaya menyesap airnya. Kehalusan Vanya menghilang begitu ia melihat Sebastian keluar dari sisi yang sama dengan Amaya.

"Tidak perlu," kata Sebastian.

"Koh belum dengar idenya. Aku punya tiga puluh juta pengikut. Satu unggahan dariku bisa memberi eksposur besar untuk Amerta."

"Amerta tidak memilih mitra berdasarkan jumlah pengikut saja."

"Kalau begitu, beri aku sepuluh menit untuk meyakinkan Koh."

"Tidak nyaman."

Penolakan itu begitu datar hingga senyum Vanya hampir retak.

Ia melirik beberapa nyonya di dekat mereka, lalu maju satu langkah. Ujung sepatunya sengaja menginjak lipatan karpet.

"Aduh!"

Tubuhnya jatuh ke arah dada Sebastian.

Pria itu sudah bergeser sebelum tangan Vanya menyentuh jasnya.

Vanya kehilangan penopang. Lututnya menghantam karpet, pergelangan kakinya tertekuk, dan tas tangannya terlempar terbuka.

Lipstik, kartu nama, serta sehelai pakaian dalam renda hitam meluncur keluar.

Seorang nyonya yang berdiri paling depan langsung mengenali motifnya dari kampanye iklan Vanya bulan lalu. Ia menatap renda tersebut, lalu mengingat ajakan Vanya untuk berbicara berdua di tempat sepi. Ekspresinya berubah dari terkejut menjadi paham.

Temannya menutup mulut, tetapi tidak berhasil menyembunyikan kesenangan mendapat bahan gosip paling menarik malam itu.

Kain tipis itu berhenti tepat di depan ujung sepatu Sebastian.

Suara percakapan di sekitar mereka padam.

Vanya menahan sakit, tetapi wajahnya lebih merah karena barang di lantai. Ia mengulurkan tangan seakan ingin mengambilnya, lalu berhenti ketika dua ponsel tamu sudah terangkat.

"Bukan punyaku," katanya cepat. "Ini pasti tertukar saat pemotretan."

Jessica tidak berada di sana, tetapi Amaya merasa sahabatnya pasti akan menyesal melewatkan pemandangan tersebut.

Sebastian mundur satu langkah. Ia tidak menatap Vanya ataupun renda di dekat sepatunya.

"Tolong bantu Mbak itu berdiri dan simpan barangnya," ujarnya kepada pelayan.

Seorang pelayan laki-laki membeku, lalu memanggil rekan perempuan untuk membantu. Bisik-bisik mulai menyebar.

Tamu lain mulai bertanya mengapa barang pemotretan dibawa ke pesta keluarga, lalu jatuh tepat saat Vanya berusaha menabrak pria lajang paling berpengaruh di ruangan.

Vanya berusaha mengambil semua benda sekaligus. Pergelangan kakinya tidak kuat menahan tubuh.

Ia nyaris jatuh untuk kedua kalinya sebelum pelayan perempuan menopang lengannya. Kali ini tawa kecil terdengar jelas dari belakang kerumunan.

"Katanya mau bicara berdua."

"Kok bisa pakaian seperti itu keluar tepat saat dia jatuh ke Dokter Sebastian?"

"Tadi sahabatnya baru ketahuan soal tas palsu. Sekarang begini."

Vanya mencoba berdiri, tetapi nyeri di pergelangan kakinya membuatnya kembali terduduk.

"Koh, aku benar-benar terpeleset."

Sebastian membetulkan manset. "Kalau cedera, petugas medis hotel bisa memeriksa. Saya bukan dokter jaga malam ini."

Ia berbalik tanpa menyentuhnya sedikit pun.

Amaya mengikuti, tetapi berhenti di sisi Vanya. Ponselnya sudah berada di tangan sejak tubuh perempuan itu mulai condong tadi. Kamera masih merekam.

Ia membungkuk seolah hendak menanyakan keadaan.

"Lain kali kalau mau menyelipkan pakaian dalam," bisiknya, "pastikan dulu orangnya ingin menerima. Koh Sebas punya masalah besar dengan barang yang nggak bersih."

Vanya mendongak dengan mata menyala. "Hapus videonya."

"Video apa? Aku cuma merekam dekorasi."

"Amaya."

"Tenang. Kalau nggak ada yang aneh, kenapa takut?"

Jemari Vanya mencengkeram karpet. "Kamu pikir setelah malam ini kamu bisa terus mempermalukanku? Aku akan membuatmu menyesal."

Amaya berdiri tegak.

"Antre, ya. Banyak yang sudah bilang begitu."

Ia menekan tombol simpan. Video berdurasi satu menit dua belas detik masuk ke folder khusus di ponselnya, lengkap dengan detik ketika Vanya mengatur langkah sebelum jatuh.

Ancaman baru saja dilemparkan.

Amaya juga baru mendapatkan senjata baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!