Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: DMAM
Malam makin larut ketika mobil yang membawa pengantin baru itu membelah kegelapan jalanan desa. Bunyi mesin sedan mewah milik keluarga Wiraguna terdengar begitu kontras dengan kesunyian kampung yang sudah terlelap.
Lampu sorot mobil menerangi gang sempit menuju rumah kayu Aisyah, menciptakan bayangan-bayangan panjang di atas tanah yang becek.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat canggung. Bu Rosma duduk di kursi depan samping sopir, sementara Aisyah, Dimas, dan Bu Rahmi duduk berhimpitan di kursi belakang.
Sepanjang jalan, Bu Rosma tak henti-hentinya mendesis kesal, sambil mengeluhkan bau tanah basah dan jalanan desa yang bergelombang.
Saat mobil akhirnya berhenti tepat di depan depan gang menuju rumah Aisyah, Bu Rosma langsung memutar badannya ke belakang dengan raut wajah yang penuh perintah.
"Kalian bertiga cepat turun," ujar Bu Rosma, sambil menunjuk Aisyah dengan jarinya yang sarat dengan cincin berlian. "Aisyah, kemasi semua barang-barang penting kamu sekarang juga! Mami tidak mau besok-besok harus balik lagi ke rumah reyot ini cuma buat ambil koper kamu. Malam ini juga kamu ikut Mami pulang ke rumah!"
Dimas yang duduk di samping Aisyah langsung menguap dengan lebar. Kelopak matanya sudah terasa sangat berat akibat kelelahan berdiri seharian di panggung pesta pernikahan yang megah itu.
Pria muda itu menyandarkan kepalanya ke bahu ibunya dari belakang, lalu bersikap manja seperti biasanya.
"Mami... Dimas capek banget, Mi..." rengek Dimas dengan suara yang serak kekanak-kanakan sambil menggoyang-goyangkan bahu Rosma. "Besok pagi aja kenapa sih ambil barangnya Aisyah? Mata Dimas udah sepet banget, ngantuk! Biar besok Pak Sopir aja yang suruh ke sini ambil kopernya..."
Rosma menepis pelan tangan putranya, namun matanya membelalak memberi peringatan keras.
"Tidak bisa, Dimas!" bentak Rosma, meski nada suaranya sedikit melunak khusus untuk putranya. "Mami tidak mau tunda-tunda lagi! Lebih cepat barang-barang perempuan ini dipindahkan, lebih cepat Mami bisa ngatur kehidupan kalian di rumah! Kamu tunggu saja di dalam rumah Aisyah sebentar sementara dia berbenah. Jangan membantah Mami!"
Dimas meruncingkan bibirnya dan merajuk kesal karena bujukannya gagal. Namun, karena sifat dasarnya yang tidak pernah berani melawan perintah tegas sang mami, ia akhirnya menuruti kata-kata Rosma dengan berat hati.
"Ayo cepat turun!" titah Rosma lagi pada Aisyah dan Bu Rahmi. "Mami tunggu di dalam mobil. Jangan lama-lama!"
Aisyah pun mengangguk kaku dan menjawab, "Baik, Tante..."
Setelah melewati gang, langkah kaki mereka bertiga mengetuk lantai kayu rumah yang sunyi. Bu Rahmi segera menyalakan lampu bohlam kuning di ruang tengah, hingga memancarkan cahaya temaram yang hangat.
Begitu melangkahkan kaki melewati ambang pintu, Dimas tidak mempedulikan debu atau kesederhanaan rumah tersebut. Tubuhnya yang terbalut setelan jas mahal langsung dijatuhkannya begitu saja ke atas sofa kain yang sudah agak kusam di ruang tengah.
Fuuuh... Dimas menghela napas panjang, seraya meluruskan kakinya yang pegal.
Ia kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel pintar keluaran terbaru. Layar ponselnya langsung menyala terang, dan menampilkan puluhan notifikasi pesan masuk dari teman-teman komplotan anak mudanya di kota.
Sambil menyandarkan kepalanya pada bantal sofa yang agak kempes, jemari Dimas sibuk menari di atas layar, yang lalu senyum-senyum kecil mengembang di wajahnya yang masih tersisa bekas memar yang sangat tipis.
"Wajah lo terpampang di akun gosip, Bro! Selamat ya udah resmi jadi suami!" baca Dimas pelan saat membalas salah satu pesan dari temannya, lalu terkekeh manja sendirian.
Sementara itu di sudut ruangan, Aisyah menatap suaminya sejenak. Ada rasa getir yang menyusup di hatinya melihat betapa acuh tak acuhnya Dimas terhadap situasi yang sedang mereka hadapi.
Namun, Aisyah tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya melangkah pelan menuju kamar tidurnya untuk mulai mengemas barang-barangnya.
Di dalam kamar yang sedang itu, Bu Rahmi sudah menyiapkan sebuah koper kain tua berwarna coklat di atas kasur. Dengan telaten, wanita paruh baya itu membantu Aisyah melipat pakaian-pakaian milik putrinya, beberapa stel gamis sederhana, jilbab kain, buku-buku agama, dan alat solat.
Aisyah kemudian berlutut di samping koper, dan memasukkan pakaiannya satu per satu dengan tangan yang agak gemetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan pun akhirnya menetes lagi, hingga membasahi kain gamis yang sedang dilipatnya.
"Aisyah..." panggil Bu Rahmi hingga menghentikan gerakan tangan Aisyah.
Bu Rahmi duduk di tepi kasur, lalu mengusap usapan air mata di pipi anak semata wayangnya itu dengan ibu jarinya yang kasar.
"Ibu..." bisik Aisyah dengan terisak pelan. "Aisyah takut... Aisyah tidak tau bagaimana harus bersikap di rumah Bu Rosma nanti. Rumah itu terasa begitu asing dan menakutkan buat Aisyah..."
Bu Rahmi menarik napas dan menatap wajah Aisyah dengan tatapan penuh kasih sayang dan duka yang tersembunyi.
"Dengar Ibu ya, Nak..." tutur Bu Rahmi dengan nada suara yang dalam dan menenangkan. "Pernikahan ini memang tidak dimulai dengan cara yang kamu impikan. Kamu masuk ke rumah mereka di atas gelombang fitnah dan paksaan. Tapi bagaimanapun juga, Dimas sekarang adalah suamimu secara sah di mata Allah dan hukum."
Aisyah menundukkan kepalanya dan mendengarkan setiap kata petuah ibunya.
"Bu Rosma mungkin keras dan memandang rendah kita karena harta," lanjut Bu Rahmi. "Tapi kamu, Aisyah... kamu punya senjata yang tidak dimiliki oleh harta mereka, yaitu kesabaran dan akhlak. Jangan pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Tetaplah jadi Aisyah yang santun, jalankan kewajibanmu sebagai istri dengan ikhlas."
"Tapi Mas Dimas... dia sangat kekanak-kanakan, Bu. Dia tidak bisa mengambil keputusan sendiri tanpa ibunya," balas Aisyah jujur.
Bu Rahmi pun tersenyum tipis, lalu mengelus kepala Aisyah yang terbungkus jilbab. "Dimas itu cuma anak laki-laki yang terlalu dimanja. Hatinya tidak sepenuhnya jahat, Aisyah. Malam itu dia rela bertengkar dan terluka demi melindungi kamu dari bahaya, kan? Itu tanda kalau di dalam dirinya ada jiwa pelindung. Tugasmu sekarang adalah menjadi pendamping yang sabar, membimbingnya perlahan agar dia bisa tumbuh menjadi pria dewasa yang sejati."
Aisyah mengangguk pelan dan meresapi setiap baris nasihat ibunya yang bagaikan penawar di tengah badai kecemasannya.
"InsyaAllah Bu..."
**
Proses mengemas barang ternyata memakan waktu cukup lama. Selain pakaian, Aisyah juga harus merapikan dokumen-dokumen penting dan barang perlengkapan mengajar. Hampir satu jam berlalu hingga akhirnya koper tua itu berhasil dikunci rapat.
"Sudah selesai semuanya, Aisyah?" tanya Bu Rahmi sambil membantu menggeser koper ke tepi pintu.
"Sudah, Bu..." jawab Aisyah pelan.
Aisyah menyapu pandangannya ke sekeliling kamar yang telah membesarkannya itu, lalu melangkah keluar menuju ruang tengah untuk memberitau Dimas bahwa ia sudah siap berangkat menuju rumah mertuanya.
Namun, begitu Aisyah melangkah ke ruang tengah, suasananya sudah sangat hening.
Layar ponsel pintar di atas meja masih menyala redup memancarkan notifikasi yang tak terbaca, namun pemiliknya sudah tidak lagi memegang ponsel itu.
Dimas terbaring memiring di atas sofa kain yang sempit. Tubuhnya meringkuk menahan dingin malam, kedua tangannya terlipat di depan dada, dan napasnya terdengar teratur dalam helaan napas yang halus.
Raut wajah Dimas saat tidur tampak begitu polos dan lelah, sangat berbeda dengan ekspresi kekanak-kanakan atau wajah tegangnya saat berhadapan dengan Bu Rosma.
Setelan jas mahalnya tampak kusut, dan bekas memar di pipinya terlihat makin jelas di bawah cahaya bohlam kuning.
Aisyah kemudian melangkah mendekati sofa, dan berdiri mematung di samping suaminya.
Rasa kasihan tiba-tiba menyergap hati Aisyah. Ia tau betapa melelahkannya hari ini bagi mereka berdua, terutama bagi Dimas yang tak terbiasa menghadapi tekanan fisik dan mental bertubi-tubi sejak malam kemarin.
"Mas Dimas..." bisik Aisyah pelan sekali, kemudian ragu-ragu hendak menyentuh bahu Dimas.
Namun, melihat nyenyaknya tidur Dimas dan betapa ringkih tubuh pria itu yang tertidur tanpa selimut di atas sofa sederhana, jemari Aisyah ditarik kembali. Ia tidak tega membangunkan suaminya yang tampak begitu haus akan istirahat.
Aisyah kemudian berbalik menatap Bu Rahmi yang berdiri di lorong kamar.
"Ibu..." tutur Aisyah lirih. "Mas Dimas kasihan sekali, dia sudah tidur pulas di sofa. Aisyah gak tega kalau harus bangunin dia sekarang cuma buat jalan ke rumah Bu Rosma..."
Bu Rahmi melangkah mendekat dan mengamati menantunya yang tertidur lelap. Wanita tua itu pun mengangguk paham.
"Aisyah, lebih baik kamu juga istirahat, Nak..." ucap Bu Rahmi dengan penuh pengertian. "Hari sudah hampir jam dua malam. Kasihan kalian berdua kalau harus paksakan pindah malam ini juga. Soal Bu Rosma di luar... biar nanti kita jelaskan baik-baik."
"Iya, Bu... Aisyah juga rasanya sudah lelah sekali."
Aisyah kemudian berjalan perlahan menuju pintu depan, dan membuka selak kayu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara bising.
Aisyah kemudian melangkah menuju mobil sedan mewah milik Bu Rosma yang masih terparkir dengan mesin menyala di tepi jalan gang.
Namun, di dalam mobil, Bu Rosma rupanya juga telah tertidur pulas di kursi depan, kelelahan setelah seharian mengurus pesta resepsi yang melelahkan dan meluapkan amarahnya.
Sopir pribadinya pun tampak menyandarkan kepala di lingkar kemudi dan ikut terlelap dalam penantian.
Melihat kondisi itu, Aisyah memutuskan untuk tidak mengganggu mertuanya. Ia pun kembali ke rumah, menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.
Aisyah kemudian mengambil sebuah kain sarung tebal dan selimut dari dalam kamarnya. Dengan langkah pelan tanpa suara, ia mendekati sofa tempat Dimas meringkuk.
Dengan penuh kelembutan dari dasar hatinya, Aisyah membentangkan selimut itu di atas tubuh Dimas dan menutupi bahunya hingga ke ujung kaki agar laki-laki yang sudah jadi suaminya itu tidak kedinginan.
Merasakan sentuhan Aisyah, Dimas pun bergumam kecil dalam tidurnya, kemudian merapatkan selimut itu ke dadanya tanpa membuka mata.
Aisyah tersenyum tipis melihat pemandangan itu, sebuah senyuman kecil yang sangat langka muncul di wajahnya sepanjang hari yang penuh kepedihan ini.
Ia lalu mematikan lampu ruang tengah, dan menyisakan lampu remang, lalu melangkah masuk ke kamarnya untuk merebahkan diri.
Di atas kasur busa yang dingin, Aisyah memejamkan matanya rapat-rapat. Meski esok pagi kemarahan Bu Rosma dipastikan akan meledak saat menyadari rencana kepindahannya tertunda, malam ini Aisyah memilih menikmati sisa-sisa kedamaian terakhir di rumah kayunya, di bawah naungan takdir baru yang harus ia jalani bersama pria yang kini tidur di rumahnya.
Bersambung...