NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Kabar tentang Nina tersebar cepat di desa, diiringi berbagai kisah yang makin meliar di antara para warga. Meski asap di hutan mulai berkurang, kepulan cerita dan tuduhan terhadapnya justru makin pekat.

Beberapa warga berbisik bahwa Nina dihantui oleh dosa, bahwa nasib malang yang menimpanya adalah karma atas zina yang ia perbuat. Padahal, tak satu pun dari mereka yang tahu pasti semua penderitaan yang telah ia alami. Tak ada yang memikirkan penderitaan yang sebenarnya dialami Nina dan Gendis

Tidak ada simpati, hanya desas-desus dan kata-kata pedas yang beredar di antara mereka. Desa itu penuh dengan orang-orang yang lebih memilih menilai apa yang mereka lihat daripada memahami, lebih senang menyebarkan rumor daripada mencari kebenaran. Mereka menganggap tragedi itu sebagai hal yang wajar, seolah mereka sendiri tak punya hati untuk berempati. Di balik semua itu, rasa ketidakadilan yang dialami Nina semakin tenggelam dalam sikap acuh warga yang tidak peduli pada kebenaran.

Di tengah sunyi hutan yang hanya ditemani angin berbisik dan aroma asap yang masih samar tercium, Hana menyingkirkan puing-puing bekas kebakaran dengan sebatang kayu. Debu dan abu yang beterbangan seiring dengan gerakan tangannya. Sebenarnya ia masih sedikit takut ke sana. Namun demi memastikan jika Nina dan anaknya telah ikut terbakar. Ia menghilangkan ketakutannya.

Matanya menelusuri setiap sudut reruntuhan, berharap ada petunjuk kecil, apa pun yang bisa menjawab pertanyaannya. Namun, yang ada hanya bekas kayu hangus dan tanah yang menghitam. Saat kayunya menyangkut di antara abu, Hana membungkuk untuk memeriksanya lebih dekat.

Ia menemukan sepotong kain yang robek dan terbakar sebagian, warna yang samar-samar mengingatkannya pada baju yang pernah dikenakan Nina. Dan saat pandangannya jatuh pada sebuah sudut, ia melihat ada tulang yang terselip di antara sisa-sisa kayu yang hangus, senyum tipis terbentuk di bibir Hana.

Perasaan lega perlahan mengalir dalam dirinya. Tak perlu lagi memikirkan cara baginya untuk menyingkirkan Nina. Kebakaran ini telah "menyelesaikan" apa yang sempat terlintas di benaknya.

Ia berdiri diam sejenak, memandangi puing-puing yang kini tak lebih dari abu dan debu, tempat di mana Nina dan anaknya mungkin telah lenyap tanpa jejak yang pasti. Dalam hatinya, Hana merasa aman karena tak ada lagi ancaman yang bisa mengusik kebahagiaannya.

Hana memandangi reruntuhan hitam di hadapannya, pikirannya melayang pada kemungkinan penyebab kebakaran ini. Apakah ini benar-benar kecelakaan, atau ada seseorang yang turut campur dalam peristiwa ini? Namun, ia segera menepis segala pertanyaan itu. Apa pun yang terjadi, satu hal yang pasti, Nina kini telah lenyap.

Hana menarik napas panjang, membiarkan rasa lega membalut hatinya. Tak perlu lagi ia merencanakan cara untuk menyingkirkan bayang-bayang yang selama ini membebani hidupnya. Nasib telah berbicara, dan kali ini berpihak kepadanya.

“Terima kasih, takdir, yang telah berpihak padaku,” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar di antara puing-puing yang sunyi.

*

Senja di desa selalu menghadirkan suasana yang syahdu, dengan langit yang perlahan berubah warna oranye keunguan. Warga mulai pulang ke rumah setelah seharian berladang. Jalan setapak yang menghubungkan ladang di dekat hutan dengan perkampungan sering menjadi saksi bisu warga yang bergegas pulang membawa hasil panen mereka.

Bu Lilik hari itu pulang lebih lambat dari biasanya. Dengan keranjang penuh hasil ladangnya, ia berjalan sendirian di sepanjang jalan setapak yang sepi. Hutan di sekitarnya terasa sunyi, hanya terdengar gemerisik daun tertiup angin. Sesekali Bu Lilik menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada suara aneh atau bayangan di antara pepohonan yang mulai gelap.

Wuusshhh… Angin tiba-tiba berhembus kencang menyapu punggung Bu Lilik, membuat dedaunan di sekitar berguguran dan tubuhnya sedikit bergoyang.

Dengan rasa penasaran yang bercampur sedikit rasa takut, Bu Lilik menoleh cepat ke belakang. Matanya menyapu jalan setapak yang kosong dan hutan yang mulai gelap, tapi tidak ada seorang pun di sana. Hanya pepohonan tinggi yang diam, dan ranting-ranting yang bergetar diterpa angin.

Bu Lilik menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Mungkin hanya angin," gumamnya, meski perasaan tak nyaman mulai menggelitik benaknya. Namun, tetap saja rasa penasaran membuatnya berdiri lebih lama, memperhatikan sekitar dengan cermat. Tidak ada suara langkah kaki atau tanda-tanda keberadaan seseorang, hanya kesunyian yang semakin pekat.

Saat Bu Lilik hendak melanjutkan langkahnya, samar-samar terdengar suara yang membuatnya terhenti. Suara tangisan. Suara itu terdengar begitu samar, hampir tersapu oleh angin senja, namun cukup jelas untuk membuat bulu kuduknya berdiri. Itu suara seorang perempuan, menangis pelan, seolah datang dari kedalaman hutan.

Bu Lilik memicingkan mata, mencoba menangkap arah suara tersebut. Jantungnya berdegup kencang. Apakah ada seseorang di sana? Pikiran-pikiran mulai berkecamuk dalam benaknya. Siapa yang mungkin tersesat atau terluka di dekat hutan saat senja? Suara itu terus terdengar, kini lebih jelas.

Dengan langkah ragu, Bu Lilik mendekatkan diri ke arah suara, meski hatinya dipenuhi kebimbangan. Tangisan itu seolah memanggilnya, namun setiap langkah terasa berat dan dipenuhi perasaan yang tak nyaman.

Tanpa sadar, langkah Bu Lilik semakin membawanya jauh ke dalam hutan. Suara tangisan itu seperti menariknya masuk lebih dalam, seolah ada sesuatu yang memanggilnya. Pepohonan semakin rapat, dan sinar matahari senja yang tersisa hampir tak lagi menembus dedaunan lebat di atas kepalanya.

Di bawah sebuah pohon besar yang rimbun, pandangan Bu Lilik tertumbuk pada sosok seorang wanita yang duduk di tanah. Wanita itu tampak memeluk erat seorang anak kecil di pangkuannya. Namun ada yang ganjil, wajah wanita itu tertutup oleh rambut panjang yang menjuntai ke depan, membuatnya tak terlihat jelas.

Bu Lilik berhenti sejenak, merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Ada sesuatu yang aneh dan mengganggu dari pemandangan itu, namun sekaligus menimbulkan rasa kasihan.

"Nak, kamu baik-baik saja?" panggil Bu Lilik dengan suara gemetar.

Seketika, tangisan itu terhenti. Suasana hutan yang sunyi semakin mencekam, seolah dunia tiba-tiba membeku. Wanita di bawah pohon perlahan menoleh ke arah Bu Lilik.

Deggg...

Jantung Bu Lilik terasa terhenti di tempatnya, darahnya serasa membeku.

Wajah wanita itu kini terlihat jelas. Itu Nina, namun bukan dalam wujud yang ia kenal. Wajahnya pucat, matanya hitam pekat, dan tubuhnya kurus kering seperti habis terkuras kehidupan. Rambut panjangnya yang kusut menjuntai tak beraturan, menambah kesan menyeramkan.

Tapi yang paling mengerikan adalah anak kecil yang ada di pangkuannya. Kepalanya bolong, menganga seperti habis terkena tembakan, dengan darah yang menetes di sepanjang tubuhnya.

Tatapan Nina yang hampa menembus Bu Lilik, seolah-olah menarik jiwanya. Kulit Nina tampak mengelupas seperti terkena luka bakar parah, menggantung di tubuhnya yang rapuh. Setiap helaian kulit yang terkelupas menambah kesan ngeri pada sosoknya, sementara hawa panas yang tidak biasa tiba-tiba menyelimuti sekitar mereka.

Bu Lilik merasa tubuhnya kaku, seolah kakinya terpaku ke tanah. Lidahnya kelu, tak mampu mengucapkan apa-apa.

Dalam keheningan yang menyesakkan, suara angin, dedaunan, dan kehidupan hutan seolah lenyap. Hanya ada mereka bertiga. Nina tidak berbicara, hanya duduk diam sambil menatap Bu Lilik dengan sorot mata yang dingin dan kosong. Anak kecil dengan kepala bolong itu masih terkulai di pangkuannya, menambah horor yang seolah mencekik leher Bu Lilik. Detik-detik berlalu, tapi bagi Bu Lilik, waktu seakan melambat, memaksanya menghadapi kengerian yang tak pernah ia bayangkan akan ia temui di tempat yang setiap hari ia lewati.

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!