Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Tamu dari masalalu
Sesampainya di depan rumah Syafa, Alex langsung disuguhkan pemandangan gadis mungil itu yang sudah berdiri menanti di samping gerbang. Raut wajahnya tertekuk sebal, efek langsung dari insiden kesiangan pagi ini.
Alex mematikan mesin motor sejenak, melepas kaca helmnya, lalu melempar senyum paling manis yang ia miliki. "Assalamualaikum, Cantik."
"Wa'alaikumsalam," jawab Syafa ketus, memalingkan muka sambil bersedekap dada.
Alex terkekeh pelan. Ia turun sebentar dari motor, mengambil helm cadangan, lalu melangkah mendekat. "Ih, kenapa sih? Ya maaf atuh da... Namanya juga kesiangan, kan enggak bisa diatur atau diprediksi."
Tanpa menunggu balasan dari Syafa, jemari Alex bergerak telaten memasangkan helm ke kepala gadis itu, Alex sangat berhati-hati takut merusak hijabnya, lantas alex mengunci tali pengamannya sampai terdengar bunyi klik.
"Terserah!" celetuk Syafa merenggut.
Namun, tepat setelah ia naik ke jok belakang motor, sifat pura-pura cueknya langsung luntur. Syafa merogoh tasnya lalu menyodorkan sebuah benda persegi panjang kecil ke bahu Alex. Sebuah powerbank lengkap dengan kabelnya.
Alex melirik dari kaca spion, lalu tersenyum hangat. "Makasih ya, Cantik."
Goda ramah itu sukses membuat rona merah seketika menyembur di kedua pipi Syafa. Ia berusaha membuang muka ke samping, tetapi Alex sudah lebih dulu menangkap basah ekspresi itu lewat spion.
"Yaelah, baru digituin aja udah salting," ejek Alex sambil terkekeh.
"Apasih! Dah, ayo jalan! Orang udah telat juga!" omel Syafa menutup rasa malunya.
Sepanjang perjalanan menembus jalanan kota, tidak ada obrolan panjang di antara mereka. Namun, deru angin dan sapuan dingin pagi tertutupi oleh kehangatan kecil yang mereka bagi. Di bawah laju motor Alex yang sedikit lebih cepat dari biasanya, Syafa perlahan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Alex, menyenderkan dagu dan pipinya di bahu tegap laki-laki itu. Alex tersenyum di balik helmnya, menikmati setiap detik kebersamaan manis yang baru saja ia miliki.
Sesampainya di pelataran kampus, suasana koridor mulai ramai. Begitu Alex memarkirkan motor dan berjalan bersama Syafa menuju area jurusan, sosok Umam sudah berdiri menanti dengan cengiran khasnya.
"Asyik, asyik! Pacar baru nih yee!" goda Umam setengah berteriak sambil menyenggol bahu Alex.
"Suttt! Bising lu!" bisik Alex panik sambil membungkam mulut Umam menggunakan telapak tangannya, sementara Syafa hanya bisa menahan tawa malu di sampingnya sebelum akhirnya pamit berpisah menuju kelasnya sendiri.
Namun, keceriaan di koridor itu tidak bertahan lama. Dari sudut persimpangan gedung kuliah, sosok Marko berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Lex!" panggil Marko dengan nada berat.
Alex menghentikan langkahnya. Ia tidak memutar badan sepenuhnya, hanya menyahut dengan menganggukkan kepala dingin.
Marko menghela napas panjang, raut wajahnya diliputi penyesalan mendalam. "Lex... sumpah, gue enggak tahu apa-apa selama ini. Gue baru tahu semuanya kemarin pas Angel nemuin gue dan cerita hal yang sebenarnya."
"Terus?" balas Alex datar. Pandangannya tetap lurus ke depan, membelakangi Marko.
"Gue udah putusin Putri, Lex. Gue ngerasa bersalah banget sama lu. Gue mohon, maafin gue, Lex..." Marko berkata penuh harap, sangat menginginkan sahabatnya itu tidak menaruh dendam kepadanya.
Atmosfer di koridor mendadak terasa canggung. Umam yang berdiri di antara mereka hanya bisa diam menyaksikan. Perlahan, Alex memutar badannya. Ia menatap lekat manik mata Marko, membaca kejujuran dari raut sahabatnya itu. Menghela napas panjang, Alex akhirnya mengulurkan tangannya untuk berjabatan.
"Gue udah maafin lu," ucap Alex tegas.
Namun, saat genggaman tangan mereka belum terlepas, Alex menarik tubuh Marko sedikit mendekat. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Marko dan berbisik lirik namun penuh penekanan.
"Tapi kalau lu masih ada rasa dan sayang sama Putri... kejar dia lagi. Jangan biarkan dia sendirian."
Alex punya alasan kuat membisikkan hal itu. Ia tahu betul watak Putri. Jika Putri dibiarkan lepas dan terombang-ambing tanpa kejelasan dari Marko, ada kemungkinan besar gadis itu akan kembali mengusik hidupnya. Alex tidak ingin hubungan barunya yang indah bersama Syafa rusak hanya karena gangguan bayang-bayang masa lalu.
Perbincangan usai. Alex, Umam, dan Marko melangkah masuk ke dalam ruang kuliah karena dosen pengampu sudah mulai bersiap di depan kelas.
Begitu duduk di bangkunya, Alex buru-buru merogoh tas dan mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi terhubung ke powerbank milik Syafa. Begitu tombol daya ditekan dan layar menyala, deretan notifikasi langsung beruntun masuk. Dan benar saja—firasat buruk yang sempat menyenggol pikirannya tadi pagi menjadi kenyataan.
Ada beberapa pesan dari Putri.
Putri: Lex, maafin aku, aku nyresel banget udah ninggalin kamu... Tapi aku jujur, aku masih sayang banget sama kamu, Lex. Mau enggak kita balik lagi kayak dulu?
Membaca pesan itu, rasa mual dan muak menjalar di dada Alex. Tindakan Putri yang tega memfitnahnya dulu hanya demi Marko, kini dengan mudahnya meminta balikan setelah dicampakkan?
Tanpa ragu sedikit pun, jemari Alex menari di atas layar keyboard.
Alex: Sorry, gue bukan cowok murahan.
Send. Begitu centang biru terlihat, tanpa memberi kesempatan bagi Putri untuk membalas, Alex langsung menekan tombol blokir pada kontak Putri.
"Nyesel gue pernah tulus sama cewek kayak lu," gumam Alex pelan dalam hati, meletakkan ponselnya telungkup di atas meja kuliah.
Dua jam berlalu, kelas pun selesai. Begitu keluar dari ruangan, Alex langsung mengirimkan pesan singkat kepada pacarnya.
Alex: Ay, kamu udah selesai kelasnya?
Tak butuh waktu lama, panggilan suara dari Syafa masuk.
"Udah nih, Ay... Tapi maaf ya, aku mau jalan-jalan dulu sama temen-temenku,
Boleh ngga?" sahut Syafa dari seberang telepon.
Sebenarnya ada sedikit rasa kecewa di dada Alex. Rencana awalnya, ia ingin mengajak Syafa berkeliling kota atau sekadar duduk santai minum es kopi berdua sore ini. Namun, Alex menahan diri. Ia tidak ingin terkesan terlalu mengekang atau memicu drama di hari pertama mereka berpacaran.
"Oh... ya udah enggak apa-apa," jawab Alex seraya menahan berat di suaranya. "Aku mau langsung ke toko fotokopi aja kalau gitu. Nanti kalau kamu udah selesai dan butuh jemputan, kabarin aku ya."
"Oke! Makasih ya, Alex sayang. Hati-hati di jalan!"
Panggilan terputus. Alex menghela napas panjang, berusaha mengusir rasa ganjal di hatinya sebelum akhirnya memacu motor menuju toko fotokopi milik pamannya.
Sore mulai menjelang. Suasana di sekitar toko fotokopi tidak terlalu ramai. Alex menyalakan mesin, merapikan tumpukan kertas, dan duduk di balik meja kasir sambil menikmati semilir angin sore.
Kring...
Suara langkah kaki mendekati pintu masuk toko. Alex yang tadinya menunduk memperhatikan berkas pelanggan mendongak santai.
"Mau fotokopi atau—"
Kata-kata Alex terhenti di udara. Suara langkah itu terasa sangat familiar, dan ketika netranya menangkap sosok yang kini berdiri tepat di hadapannya, jantung Alex seakan berhenti berdetak sejenak.
Berdiri seorang gadis dengan gaun santai, menatapnya dengan raut wajah sayu dan mata yang berkaca-kaca.
"Lex..." panggilnya pelan.
Suara itu. Suara yang dulu pernah amat sangat ia harapkan, kini justru membuat udara di sekitar Alex terasa menyempit.
"Lex... tolong maafin gue," ucap Putri lembut, mengambil satu langkah mendekat ke meja kasir.
Alex membeku di tempatnya. Pikiran dan logikanya mendadak berantakan. Mengapa Putri bisa tahu ia ada di toko ini? Bagaimana jika Syafa mendadak datang untuk minta dijemput dan melihat mereka berdua?
Mata Alex menatap lurus ke arah Putri—wanita yang pernah menghancurkan hatinya, kini berdiri memohon di depan matanya sendiri
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa
dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita