NovelToon NovelToon
Efisiensi Kaum Rebahan

Efisiensi Kaum Rebahan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.

​Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.

​Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.

​Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.

​Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 20

Mobil berhenti tepat di selasar drop-off National Gallery Singapore.

Kedatangan Arga malam ini murni urusan perluasan jaringan. Karena Mr. Chen salah satu calon investor institusional yang sedang menjajaki pendanaan ekspansi untuk platform teknologi miliknya. Arga merupakan salah satu tamu kehormatan di acara VIP Preview ini. Ketika Mr. Chen mengirimkan akses eksklusif itu kemarin malam, Arga tahu ada obrolan non-formal bernilai strategis yang perlu ia amankan.

Arga melangkah turun terlebih dahulu, merapikan kancing jas hitamnya, lalu menoleh ke arah Kinan yang melangkah keluar di sampingnya. Gaun midi dark olive yang dikenakannya membalut tubuhnya dengan pas, sederhana, dan membaur tanpa terkesan berlebihan.

"Ingat," ujar Arga pelan sebelum mereka melangkah melewati barisan resepsionis VIP. "Jangan terlalu jauh."

Kinan mengangguk patuh. "Aman, Arga. Saya cuma mau lihat karya seni dan bangunannya, bukan mau kabur."

Melewati pintu masuk utama, mereka memasuki area atrium megah yang menghubungkan eks-gedung City Hall dan Supreme Court. Perpaduan dinding batu klasik dengan kanopi kaca modern menyambut pandangannya. Suara denting gelas, alunan instrumen harpa lembut di sudut rotunda, serta percakapan tertahan para tamu undangan berbusana resmi mengisi aula pameran.

Belum lima belas meter mereka melangkah, seorang pria paruh baya langsung melambaikan tangan dengan senyum lebar.

"Arga, good evening! Senang sekali kamu menyempatkan hadir," sambut Mr. Chen hangat sambil menjabat tangan Arga.

"Selamat malam, Mr. Chen. Terima kasih banyak atas undangannya," sahut Arga tenang. Nada suaranya menjadi lugas dan teratur.

Mr. Chen beralih menatap wanita di samping Arga. "And who is this charming lady?"

Arga meletakkan sebelah tangannya secara wajar di punggung Kinan. "Perkenalkan, ini Kinan. Istri saya."

Mr. Chen tersenyum makin lebar seraya mengulurkan tangan. "Ah, wonderful! It’s a pleasure to meet you, Mrs. Draken."

Mendengar marga Draken disematkan padanya, Kinan sempat melirik Arga sepersekian detik untuk membaca situasi, sebelum membalas jabat tangan Mr. Chen dengan senyum ramah dan bahasa Inggris yang lancar. "Nice to meet you too, Mr. Chen. Thank you for having us."

Sebagai ilustrator lepas yang terbiasa berkomunikasi daring dengan klien luar negeri, bahasa Inggris standar bukanlah kendala bagi Kinan. Namun, berada di lingkaran korporat seperti ini adalah pengalaman baru. Setelah berbasa-basi sejenak, Mr. Chen mulai mengajak Arga berdiskusi dengan dua rekan bisnis dari Hong Kong untuk menjajaki proyeksi pasar regional.

Melihat Arga mulai larut dalam diskusi bisnis, Kinan berbisik pelan ke arah pria itu, "Saya ke lorong sebelah sana sebentar ya."

Arga melirik pilar besar yang berjarak sekitar sepuluh meter dari posisinya dan masih dalam radius pantauannya.

"Sepuluh meter dari tiang itu. Jangan lebih," instruksi Arga singkat.

"Siap," bisik Kinan seraya melangkah menjauh.

Kinan melepaskan napas panjang yang melegakan begitu menjauh dari kerumunan para pria berjas formal itu. Matanya langsung berbinar bebas. "Wah... Benar-benar gudangnya ide visual, emang enggak salah aku ke sini lagi."

Ia berhenti di depan sebuah kanvas berukuran besar. Kinan tidak sibuk mengaitkannya dengan teori seni rupa yang rumit, ia murni menikmati perpaduan warna yang tak lazim, sudut jatuh bayangan lampu galeri, dan perspektif kubah kaca di atas kepalanya. Kinan merogoh tas tangannya, mengeluarkan buku sketsa saku serta pensil. Bersandar di dekat pilar, tangannya mulai membuat coretan cepat, merekam garis arsitektur, sudut bayangan, dan proporsi beberapa figur manusia yang sedang berdiri di sekitar aula.

Di sudut lain, di sela pembicaraan mengenai valuasi pasar, mata Arga sesekali bergerak memeriksa keberadaan Kinan. Begitu melihat wanita itu masih berdiri tenang di titik yang sama dengan buku sketsanya Arga kembali menanggapi argumen Mr. Chen.

Sementara itu, keramaian kecil terjadi di karpet merah lantai dasar aula ketika lampu sorot tambahan menyala, diiringi kilatan blitz beberapa fotografer media dan bisik-bisik para kurator.

Natasha Vanya melangkah masuk ke aula galeri.

Sebagai Brand Ambassador acara tersebut, pembawaannya luar biasa tenang dan terkontrol. Gaun malam berpotongan asimetris berwarna marun membalut siluet tubuhnya dengan pas. Wajahnya terbingkai riasan klasik, mempertegas garis rahang dan proporsi tubuhnya yang elegan saat menyapa para kurator serta petinggi pameran dengan senyum profesional.

Kinan yang sedang mengarsir sketsa ikut menoleh karena keramaian tersebut. Begitu melihat sosok wanita yang baru datang, mata Kinan membesar kagum.

Wah... aslinya ternyata lebih cantik, batin Kinan takjub.

Garis bahunya tegas banget... cara berdirinya pas, lanjut Kinan murni dari kacamata visual seorang seniman. Lekuk tubuh dan cara kain gaun itu jatuh memberikan referensi anatomi karakter yang sempurna. Tanpa memedulikan siapa sosok tersebut, jemari Kinan langsung beralih membuat sketsa garis lekuk bahu dan lipatan gaun marun itu di halaman baru bukunya.

Di sudut seberang, Arga sedang memegang gelas minumannya saat pandangannya menangkap sosok Natasha yang baru saja melangkah memasuki aula.

Gerakan tangan Arga tertahan sesaat di udara. Sorot matanya menatap wanita bergaun marun itu tanpa riak emosi yang kentara di wajahnya, sebelum ia menurunkan gelas perlahan dan kembali memusatkan perhatian pada pembicaraan di hadapannya.

Natasha, yang sedang menyusuri karpet merah sambil berbincang dengan seorang kurator asal Prancis, mengedarkan pandangan secara teratur menyapa para tamu di aula.

Hingga di satu titik, tatapannya tertuju pada punggung seorang pria berjas hitam yang sangat ia kenal berdiri bersama Mr. Chen.

Langkah Natasha tertahan sesaat, begitu samar hingga tidak ada jurnalis atau kurator di sampingnya yang menyadari jeda tersebut. Matanya mengunci sosok Arga.

Sebelum akhirnya senyum profesional Natasha segera kembali terpasang di bibirnya. Ia mengangguk merespons ucapan kurator di sebelahnya, lalu melanjutkan langkahnya dengan anggun menyusuri lorong pameran.

.

.

.

Sepuluh menit kemudian, percakapan Arga dengan Mr. Chen dan dua koleganya mulai mencapai analisis kesimpulan.

"Terima kasih atas diskusinya malam ini, Arga. Proposal timmu akan kami kaji lebih dalam minggu depan di Jakarta," ujar Mr. Chen sambil menepuk bahu Arga.

"Terima kasih kembali, Mr. Chen. Kami siap menindaklanjutinya," jawab Arga lugas seraya berpamitan sopan.

Begitu melepaskan diri dari lingkaran korporat, Arga melangkah langsung menghampiri pilar tempat Kinan berdiri. Langkahnya teratur, melewati kerumunan tamu yang semakin padat menjelang jamuan makan malam resmi.

"Kinan," panggil Arga dengan suara rendah begitu tiba di samping wanita itu.

Kinan yang masih asyik mengarsir bayangan di bukunya sedikit terperanjat, lalu mendongak menatap Arga. "Eh... sudah selesai urusan bisnisnya, Arga?"

"Sudah," sahut Arga singkat, melirik buku sketsa di tangan Kinan. "Waktunya kita pulang."

Kinan mengerjap, lalu menunjuk ke arah panggung di ujung aula yang mulai mempersiapkan gala dinner. "Lho, enggak ikut makan malamnya? Acaranya kan belum selesai."

"Tujuan saya ke sini hanya untuk bertemu Mr. Chen," balas Arga datar seraya memasukkan sebelah tangannya ke saku celana. "Urusan bisnisnya sudah selesai. Tidak ada alasan untuk berlama-lama di tengah keramaian."

Kinan tersenyum kecil, lalu menutup buku sketsanya pelan. "Bagus deh kalau gitu. Sebenarnya kaki saya juga sudah mulai pegal berdiri pakai heels ini kelamaan."

Saat Kinan memasukkan pensilnya ke dalam tas, Arga tanpa sengaja menangkap sekilas halaman terakhir buku sketsa yang baru saja terbuka. Di atas kertas bertekstur itu, tergores sketsa siluet seorang wanita dengan gaun asimetris bergaris tegas, potongan figur yang sangat dikenali Arga.

Arga menahan pandangannya pada gambar itu sesaat, sebelum mengalihkan tatapannya kembali ke wajah Kinan. "Kamu menggambar apa saja dari tadi?"

"Banyak!" jawab Kinan antusias, sama sekali tidak menyadari arti tatapan pria itu. "Struktur kubah di atas itu bagus banget perspektifnya. Terus tadi, aktris yang saya bilang kemarin dia pakai gaun marun malam ini... Proporsi badannya bagus banget dijadiin referensi ilustrasi. Gila... keren banget sih, auranya."

Arga tidak menanggapi pujian Kinan. Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun ekspresi yang terbaca.

"Simpan buku kamu," ujar Arga singkat seraya berbalik. "Ayo."

**

Di dalam kamar hotel.

Suasana hening yang sejuk langsung menyambut. Kinan yang sudah melepaskan sepatu hak tingginya langsung berjalan menuju area tempat tidur sambil meregangkan kedua lengannya.

Arga berdiri di depan meja ruang tamu. Ia melepas kancing jas hitamnya, menggantungnya pada sandaran kursi, lalu mulai melepaskan jam tangan dan meletakkannya di atas meja.

Tepat saat itu, layar ponselnya menyala di atas meja.

Sebuah nomor tanpa nama muncul di panel notifikasi. Arga sudah hapal betul siapa pemilik nomor itu.

Natasha Vanya.

Jemari Arga terhenti di pergelangan tangannya. Sebuah pesan masuk.

Arga... wanita yang bersamamu tadi, dia siapa?

Arga membaca baris kalimat itu tanpa ada riak ekspresi yang berubah di wajahnya.

Belum sempat layar itu padam, dering notifikasi pendek terdengar lagi. Pesan kedua menyusul di bawahnya.

Aku dengar kamu sudah menikah.

Layar ponsel perlahan meredup. Arga tetap berdiri diam di tempatnya, menatap ponsel itu tanpa ada niat untuk meraihnya.

Dari arah kamar, laci nakas terdengar bergeser terbuka, disusul suara Kinan yang berseru, "Arga! Kamu lihat charger ponsel saya enggak?"

1
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
nyesel pasti. enak banget malam malam makan martabak hangat
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
aku ngiler Thor
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
dah nan makan sendiri aja
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah enggak jadi seneng deh
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
Surga dunia ya nan
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah mirip rumah aku dong.
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
hua aku rindu suasana bandara Soekarno Hatta. udah bertahun-tahun enggak ke sana
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
enggak penasaran kah kamu Ga?
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasih gps ga
Alyaaa_Lryyy.
serah kamu kinan yang penting kmu bahagia🤭🤭
Alyaaa_Lryyy.
arga seperti nya ada dendam pribadi deh, kinan di skat mulu😭🤭
RahmaYesi
gak cemburu kan kamu Kinan? gak lah ya. toh kamu juga kan yg dinikahi Arga. mantan mah apa, masa lalu yg gak penting juga 🤣
RahmaYesi
gak apa-apa Bik, buka aja semuanya 😅
RahmaYesi
oh ada barang peninggalan mantan juga toh....
RahmaYesi
kurir ternyata yg datang syukur deh 😅
Hs Mochi
wkwkwk.. sini bi, aku bantuin. aku tarik yaa bibirnya
Hs Mochi
iiish si bibi. nyeplos aja dah ah🤣
Hs Mochi
sebelumnya aku kira yg datang mantannya arga. duh leganya🤣🤣
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kepo aja mah
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
dia itu saingan kamu nan. jangan dekat-dekat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!