NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Suasana pagi itu terasa sangat kontras. Di satu sisi, tawa renyah rekan-rekan sejawat dan kehangatan sikap Dokter Akhtar yang begitu protektif tangannya yang lembut membersihkan sudut bibirku dan jemarinya yang menenangkan di puncak kepalaku seharusnya mampu mengusir rasa takut. Namun, di balik keramaian itu, ada sebuah sensasi yang merayap di kulitku sebuah tatapan.

​Bukan tatapan kagum atau sekadar perhatian, melainkan tatapan yang dingin, tajam, dan sarat dengan kepemilikan yang posesif. Itu adalah jenis tatapan yang dulu selalu membuatku gemetar, tatapan yang hanya muncul saat Abhi merasa miliknya sedang disentuh atau diganggu oleh orang lain.

​Aku mencoba menepisnya dengan meminum kopi lebih cepat, berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanyalah paranoia. " Jangan konyol," bisikku dalam hati. " Abinav tidak mungkin ada di sini."

​Namun, saat waktu menunjukkan jam pertemuan dan kami mulai beranjak menuju aula utama, rasa janggal itu semakin nyata. Akhtar, dengan sifatnya yang selalu ingin melindungiku, menggandeng tanganku. Genggamannya hangat dan kokoh, namun saat telapak tangannya menyentuh kulitku, aku justru merasa seperti sedang melakukan kesalahan besar. Di koridor rumah sakit yang kini mendadak sunyi dan steril, langkah kaki kami seolah bergema lebih keras dari biasanya.

​Setiap sudut rumah sakit terasa berbeda. Aura kemewahan yang dibawa oleh para investor baru ini terasa menekan, seolah dinding-dinding rumah sakit ini pun ikut memata-mataiku.

​Saat kami semakin mendekati aula, Akhtar menunduk sedikit, berbisik dengan nada yang membuatku merasa sedikit lebih tenang, " Tenanglah, aku ada di sini."

​Aku mengangguk, mencoba memberikan senyum terbaikku, meski tanganku yang digandeng Akhtar terasa dingin dan lembap oleh keringat dingin. Kami berhenti di ambang pintu aula besar. Di dalam, sudah berdiri deretan petinggi dengan setelan jas hitam yang rapi dan kaku, berdiri seperti patung yang menunggu mangsanya.

​Tiba-tiba, jantungku seolah berhenti berdetak. Di barisan paling depan, di antara jajaran investor, berdiri seorang pria yang punggungnya tampak sangat familiar. Pria itu perlahan berbalik, dan matanya mata yang sama yang selalu menghantuiku dalam mimpi buruk, kini benar-benar tertuju tepat ke arah tanganku yang sedang digandeng oleh Dokter Akhtar.

​Dunia di sekitarku seolah runtuh. Waktu seakan berhenti berputar.

Dunia yang kubangun dengan susah payah selama tiga tahun ini serasa runtuh dalam sekejap. Saat mata itu bertemu dengan mataku, udara di ruangan itu mendadak menipis, membuatku sulit bernapas. Tubuhku yang tadinya hangat karena gandengan tangan Akhtar, kini seketika membeku, kaku seperti patung yang tak bernyawa. Tanpa sadar, jemariku menarik diri dari genggaman Akhtar seolah tersengat listrik.

​Aku tidak berani menoleh lagi. Aku menundukkan kepala, memandang lantai marmer aula yang mengkilap, berusaha menyembunyikan wajah yang kuyakin sudah sepucat kertas.

​" Kamu baik-baik saja ? " bisik Akhtar. Suaranya terdengar jauh, seolah datang dari balik kaca yang tebal. Tangannya yang sempat menggenggamku kini terulur lagi, mencoba menyentuh punggung tanganku untuk menenangkan, namun aku refleks menarik diri lebih jauh. " Wajahmu pucat sekali. Apakah kita harus keluar sekarang ? "

​Aku tidak bisa menjawab. Setiap inci sarafku berteriak untuk lari, untuk menghilang, untuk kembali ke rumah dan mengemasi barang-barangku sebelum hari ketiga berakhir. Namun, tatapan dingin itu masih terasa membakar kulitku. Aku bisa merasakannya dia sedang mengamatiku, menilaiku, dan yang paling membuatku merinding dia tahu siapa aku.

​Pria itu tidak berpaling. Tatapannya tertancap tajam, seakan-akan seluruh jajaran petinggi rumah sakit di sekitarnya hanyalah pajangan, dan hanya aku satu-satunya hal yang menarik perhatiannya di ruangan luas itu.

​" Aku... aku hanya merasa kurang sehat," jawabku dengan suara yang hampir tidak terdengar. Tenggorokanku terasa tercekat, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekikku dari dalam. " Dokter Akhtar, aku harus pergi. Tolong, biarkan aku pergi."

​Akhtar tampak bingung, matanya berpindah dari wajahku ke arah jajaran direksi di depan, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia seorang pria yang peka dia pasti menyadari ada sesuatu yang salah, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perasaan " tidak enak badan " biasa.

​" Aku akan menemanimu keluar," ujar Akhtar tegas, hendak berdiri.

​" Tidak ! " cegahku, mungkin terlalu keras hingga beberapa orang di barisan depan termasuk pria itu sedikit menoleh ke arah kami. Aku menelan ludah dengan susah payah. " Aku... aku bisa sendiri. Kamu harus tetap di sini, kamu punya tanggung jawab untuk presentasi nanti."

​Aku tidak ingin menyeret Akhtar ke dalam jurang ini. Jika aku harus menghadapi "hantu" masa laluku, aku tidak ingin dia terluka. Namun, saat aku perlahan mulai beranjak dari kursi, aku melihat pria itu sedikit memiringkan kepalanya, sebuah gerakan kecil yang sarat dengan ancaman. Dia tidak akan membiarkanku pergi begitu saja.

Saat aku hendak pergi, salah satu perawat memberi tahu jika ada pasien kegawatdaruratan. Setelah selesai mengatasinya, aku kembali ke ruangan ku untuk beristirahat sejenak sebelum aku pergi. Saat aku ingin memejamkan mata, detik itu, waktu seolah berhenti berputar. Aroma parfum yang maskulin dan tajam itu aroma yang sempat menjadi mimpi buruk terburukku selama bertahun tahun kini memenuhi ruangan sempit ini, mencekik setiap oksigen yang tersisa.

​Langkah kakinya yang tenang dan berwibawa di atas lantai ruangan seolah menjadi hitung mundur bagi hidupku. Aku terpojok di kursi kerjaku, punggungku menempel erat ke sandaran, dan napasku tertahan di tenggorokan. Ketika dia berhenti tepat di hadapanku, aku bisa merasakan kehadiran panas dari tubuhnya yang memayungi ruang gerakku.

​Saat bisikannya yang dingin menyentuh telingaku.

Abhi " Are you satisfied with the game, sweetheart ? Or do you still want to continue? " (Sudah puas bermainnya, sayang? Atau masih ingin dilanjutkan?), seluruh potongan puzzle yang selama ini terasa janggal akhirnya tersusun sempurna.

​Kepergian kami yang terlalu mudah. Rumah di pinggiran pantai yang nyaman. Aurora yang selalu "sibuk". Semuanya bukan kebetulan. Aku bukan pelarian yang berhasil aku hanyalah seekor burung yang dilepas dari sangkar kecil untuk terbang di area yang sudah dipagari, dan kini... waktu "bermain" itu telah habis. Dia membiarkan aku membangun kehidupan baru hanya untuk membiarkanku merasakan harapan, agar saat dia merenggutnya kembali, kehancuranku terasa jauh lebih sempurna.

​Aku mendongak, menatap matanya yang tidak pernah berubah tetap dingin, tetap posesif, dan tetap memandangku seolah aku adalah properti pribadinya yang hanya sedang "dipinjamkan" ke dunia luar.

Caca ​" Why..." (Kenapa) suaraku bergetar, nyaris tidak terdengar. " Why are you only showing up now after three years ? " (Kenapa setelah tiga tahun kamu baru muncul sekarang ?).

​Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya, lalu tangannya yang kuat mencengkeram daguku dengan lembut namun menyakitkan, memaksaku untuk menatapnya sepenuhnya.

Abhi ​" Because you're just starting to look happy. " (Karena kau baru saja mulai terlihat bahagia) bisiknya lagi, suaranya sarat akan kekejaman yang dibalut kasih sayang palsu.

Abhi " And I don't like seeing mine happy without my permission." (Dan aku tidak suka melihat milikku merasa bahagia tanpa izin dariku.)

​Di luar pintu, aku bisa mendengar samar-samar suara langkah kaki mungkin Akhtar atau perawat lain yang mencariku. Aku tahu, jika aku berteriak, aku hanya akan menyeret orang-orang yang tidak bersalah ke dalam bahaya yang lebih besar.

Cengkeramannya pada rahangku begitu kuat, seolah dia ingin menghancurkan tulang-tulang di wajahku. Ciuman itu bukan kasih sayang itu adalah penanda wilayah, sebuah serangan yang kasar, penuh dengan amarah yang tertahan dan nafsu berburu yang membuat lambungku terasa perih. Bibirku perih, bahkan mungkin berdarah, saat dia melepaskan ciumannya dengan hentakan yang kasar.

​Napasnya yang memburu beradu dengan isak tangisku yang tak lagi bisa kutahan. Air mataku jatuh tanpa henti, membasahi pipi yang masih terasa panas akibat bekas cengkeramannya.

Abhi ​" I will not repeat it a second time. "

(Aku tidak akan mengulang kedua kalinya,) suaranya rendah, bergetar karena emosi yang menekan, sedingin es yang mematikan.

Abhi " Come by yourself without me dragging you... or would you prefer me to drag you in front of your friends ? " (Datang sendiri tanpa perlu aku menyeretmu... atau kamu lebih suka aku menyeretmu di depan teman-temanmu itu ?)

​Dia menunjuk ke arah pintu dengan tatapan penuh ancaman sebelum akhirnya berbalik dan melenggang pergi. Detik berikutnya, pintu ruanganku terbuka lebar.

​Akhtar dan dua perawat masuk dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran. " Hei, apa yang terjadi? Kamu tiba-tiba pergi dari aula dan..."

​Suara Akhtar terhenti seketika. Dia melihatku yang terduduk gemetar, dengan napas tersengal, wajah yang memerah, dan sisa air mata yang masih mengalir deras. Pandangannya beralih ke pintu yang tertutup, lalu kembali padaku, penuh kebingungan dan kecemasan.

​Aku terdiam, membeku dengan rasa remuk yang berkali-kali lipat lebih buruk dari tiga tahun lalu. Aku tahu, satu kata saja yang keluar dari mulutku tentang siapa pria itu, akan menjadi awal dari kehancuran Akhtar. Pria itu Abhi baru saja memberikan ultimatum. Dia memegang kendali penuh, dan aku tahu dia sedang mengawasi dari kejauhan, menunggu apakah aku akan menuruti perintahnya atau memilih untuk melibatkan orang-orang yang tidak bersalah.

​" Aku..." suaraku tercekat, berusaha menutupi fakta bahwa pria yang baru saja keluar dari ruangan ini adalah pemilik rumah sakit yang baru saja mereka puja-puja. " Aku hanya... hanya merasa sangat pusing. Tekanan darahku pasti turun drastis."

​Aku menunduk, menyembunyikan bibirku yang mungkin terlihat bengkak atau terluka. Aku harus memilih menghancurkan hidup semua orang di sini dengan berteriak minta tolong, atau menyerahkan diri demi melindungi mereka yang tersisa.

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!