NovelToon NovelToon
Semar Mesem

Semar Mesem

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Bab 3

"Irawan," Ratih mendesis. Tangannya turun. "Ngapain lo ke sini?"

"Ngapain gue ke sini?" Irawan berhenti tepat di samping Lusi. Tubuhnya lebih tinggi setengah kepala. "Ini koridor umum, Ra. Bukan punya bapak lo."

Ketiga pengikut Ratih mulai mundur selangkah. Satu di antaranya perempuan berambut pendek bahkan menarik-narik ujung jaket Ratih, memberi isyarat untuk pergi. Tapi Ratih tidak bergerak.

"Gue cuma bercanda, Wan. Santuy aja kali."

"Bercanda?" Irawan melirik Lusi sekilas. Mata mereka bertemu untuk pertama kalinya. Mata Irawan berwarna cokelat muda, hampir keemasan, dan tatapannya... hangat. Seperti sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela. "Kayaknya adik kita yang ini nggak ketawa deh."

Lusi langsung menunduk lagi. Jantungnya masih berdebar, tapi kali ini karena alasan yang berbeda.

Ratih mendengus keras. "Apa urusan lo sih? Pacar baru lo?"

"Bukan urusan lo juga kali, Ra." Irawan tersenyum lesung pipinya semakin jelas tapi matanya tetap dingin menatap Ratih. "Mending lo pergi sekarang. Sebelum gue laporin ke Warek 3. Kayaknya dosen-dosen udah pada capek denger nama lo lagi, deh."

Ancaman itu mempan. Wajah Ratih memucat sedikit. Ia menatap Irawan dengan kebencian yang nyaris telanjang, lalu meludah ke samping tepat mengenai ujung sepatu Lusi.

"Cih. Cupu lo semua."

Dan ia pergi. Tiga pengikutnya mengikuti di belakang seperti bebek yang kehilangan induknya padahal induknya sendiri baru saja kabur.

Koridor mendadak sepi. Mahasiswa yang tadi menonton sudah bubar begitu drama selesai. Sekarang tinggal Lusi dan Irawan, berdiri di anak tangga yang sama, dalam keheningan yang canggung.

Lusi ingin bilang terima kasih. Sungguh. Tapi mulutnya terkunci rapat. Lidahnya masih mati rasa. Bertahun-tahun jadi korban bullying membuatnya terbiasa diam. Diam adalah pertahanan. Diam adalah baju besi.

"Aduh, sepatu lo kena ludah tuh."

Suara Irawan memecah keheningan. Laki-laki itu berjongkok, mengeluarkan selembar tisu dari sakunya, dan…

"Eh, Kak, jangan!"

Tapi terlambat. Irawan sudah menyeka ludah Ratih dari ujung sepatu Lusi. Dengan tisu putih. Dengan tangannya sendiri. Dengan santainya, seperti sedang membersihkan debu dari mejanya sendiri.

Lusi terpaku. Mulutnya setengah terbuka. Matanya melebar. Sepanjang hidupnya, belum pernah ada yang melakukan hal seperti itu untuknya. Bahkan teman-teman SD-nya dulu cuma diam saat ia diolok-olok. Bahkan gurunya cuma bilang "sabar ya, Lusi".

Dan sekarang, seorang kakak tingkat, kakak tingkat populer pula berjongkok membersihkan sepatunya?

"Nah, beres." Irawan berdiri, melipat tisu kotornya, dan memasukkannya ke saku bukan dibuang sembarangan. "Lo jangan diam aja kalo digituin. Mereka tuh kayak anjing. Makin lo diem, makin digonggongin. Kadang perlu digonggongin balik."

"A... aku... makasih, Kak..."

Suara Lusi keluar akhirnya. Kecil. Parau. Seperti anak kucing yang baru belajar mengeong.

Irawan menatapnya. Ia benar-benar melihat Lusi. Bukan cuma melirik. Matanya memindai wajah Lusi dengan tatapan yang sulit diartikan. penasaran, mungkin. Atau iba. Atau sesuatu yang lain.

"Lo namanya siapa?"

"Lusi... Lusi Arimbi."

"Arimbi?" Alis Irawan terangkat. "Kayak nama wayang ya? Istri Bima kan?"

Lusi terkejut. Tidak banyak anak muda yang tahu nama Arimbi dari cerita Mahabharata. "Kakak... tahu wayang?"

"Kakek gue dalang." Irawan nyengir. Lesung pipinya muncul lagi. "Jadi gue dipaksa nonton wayang dari umur tiga tahun. Lumayan hafal beberapa tokoh. Arimbi itu cantik deh, kayak..."

Ia berhenti. Tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi pipinya sedikit memerah.

Lusi juga tidak melanjutkan. Pipinya juga memerah. Dan untuk beberapa detik, mereka cuma berdiri di anak tangga, saling menghindari tatapan, dengan wajah merah padam seperti dua anak SD yang baru pertama kali mengenal cinta monyet.

Plok!

Suara buku jatuh membuyarkan momen canggung itu.

Lusi menoleh. Tiga buku catatannya terlepas dari tas ransel yang tadi ia buka setengah. Lembar-lembar kertas berhamburan di lantai koridor.

"Oh, sial…" Ia langsung berjongkok, membereskan. Tapi tangannya gemetar selalu gemetar setelah berhadapan dengan konfrontasi dan bukunya malah jatuh lagi.

"Santai, gue bantu."

Irawan ikut berjongkok. Tangannya yang putih dan jenjang mulai mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan. Sesekali ia membaca tulisan di kertas itu, lalu senyum-senyum sendiri. "Wah, catatannya rapi banget. Berwarna-warna lagi. Pasti nilai lo bagus-bagus ya?"

"B... biasa aja..."

"Siapa sih, bilang biasa aja, tapi pake stabilo tiga warna gini?" Irawan tertawa pelan. "Lo tuh tipe yang perfeksionis ya?"

Itu bukan pujian yang spesial. Bukan kata-kata gombal yang puitis. Tapi entah kenapa, mendengar Irawan mengatakan itu dengan suara baritonnya yang tenang dan lesung pipinya yang muncul saat tersenyum, Lusi merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Dilihat.

Irawan melihatnya. Bukan sebagai anak baru cupu yang jalannya aneh. Bukan sebagai korban bullying yang mudah digertak. Tapi sebagai... seseorang.

"Udah, nih." Irawan menyerahkan tumpukan kertas yang sudah rapi. Jemarinya menyentuh jemari Lusi sekilas. Sentuhan itu cuma sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat Lusi merinding. "Hati-hati ya, Lus. Kalo si Ratih ganggu lagi, kabarin gue aja. Gue di Manajemen, lantai tiga."

"Makasih... Kak..."

"Panggil Irawan aja. Atau Wan. Jangan Kakak-kakak, keliatan tua gue."

Irawan berdiri, memasukkan tangannya lagi ke saku, dan berjalan pergi. Sepuluh langkah. Lima belas langkah. Dua puluh langkah. Lusi masih berdiri di anak tangga yang sama, memeluk buku-bukunya di dada, menatap punggung laki-laki itu sampai menghilang di tikungan koridor.

Jantungnya masih berdetak kencang.

Malamnya, Lusi tidak bisa tidur.

Bukan karena dihantui wajah Ratih yang menyeramkan. Bukan karena masih mual mengingat ludah yang mendarat di sepatunya. Tapi karena satu hal yang jauh lebih mengganggu: lesung pipi.

Setiap kali ia memejamkan mata, lesung pipi itu muncul. Setiap kali ia mencoba menghitung domba, yang muncul malah suara bariton yang berkata, "Lo tuh tipe yang perfeksionis ya?"

Lusi mengerang frustasi di atas kasur kost-nya yang cuma selebar satu setengah meter. Tangannya meraih ponsel. Membuka Instagram. Mengetik nama di kolom pencarian: Irawan Adiloka.

Muncul.

Akun dengan centang biru. Followers-nya dua belas ribu. Bio-nya cuma satu baris: "Manajemen '20 | Kafein & wayang enthusiast."

Lusi menggulir feed-nya. Foto-foto Irawan dengan teman-temannya. Foto di kafe. Foto di kampus. Foto sedang memegang wayang kulit di sebuah acara budaya. Dan di setiap foto, senyum yang sama. Lesung pipi yang sama.

Ia berhenti di satu foto. Foto Irawan sedang duduk di tangga kampus tangga yang sama di mana mereka bertemu tadi siang. Caption-nya: "Kadang, jadi tempat sandaran orang lain itu lebih berarti daripada jadi pusat perhatian."

Lusi menekan tombol follow.

Dan detik itu juga, tanpa sadar, ia sudah menanam benih.

Malam ini, ia cuma seorang gadis lugu yang tersenyum-senyum sendiri di atas kasur, menatap layar ponsel, dan berbisik pelan pada dirinya sendiri:

"Irawan..."

\---

\[BERSAMBUNG…\]

1
Wawan
Kembang buat Lusi 😄
Wawan
Manfaatkan Lus .... 🤣🤣🤣
Wawan
iklan buat mu Thor ✍️
Wawan
2 mawar buatmu Thor ✍️
Wawan
Zombie 🤣
Wawan
Iklan dan mawar buat Semar mendem 🤣🤣🤣
Wawan
Cepat pulih Thor 👍✍️
Dhatu Lukita: terimakasih ❤️
total 1 replies
Dhatu Lukita
Halo, semuanya! 🥰

Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏

Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.

Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
Wawan
Wah ngeri 🤭
Dhatu Lukita
semangat aku dewe🤭🫰
Wawan
Lah kok pakai jilbab 😄🤭
Wawan
iklan dan mawar buat Lusi 😍😄
Wawan
Ngeri juga nih si Lusi 😄💪
Alis Yudha
Thor,Semar mesem sama jaran goyang apa sama ya🤔?🤭
Dhatu Lukita: halo kak, sama2 'ilmu pengasihan' tapi berbeda cara pengamalannya kak kurang lebih 🙏
total 1 replies
Wawan
/Rose/
Firmahadi
izin mampir kak
Wawan
Setangkai mawar buatmu Thor 💪
Dhatu Lukita: terimakasih banyak 😍❤️💪💪
total 1 replies
Wawan
Iklan. buat Lusi 🤭
Wawan
Jam dinding 👍
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
💃🏻 Apa salah lan dosaku, sayang? 🥺
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻‍♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!