Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.
Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Suasana di aula komando malam itu begitu semarak. Tumpeng nasi kuning berukuran besar tersaji di tengah ruangan, dikelilingi oleh para perwira, prajurit, dan anggota Persit yang hadir untuk memberikan selamat atas kenaikan pangkat Ren.
Namun, bagi Cia, kemeriahan itu terasa seperti siaran televisi yang di-mute.
Gadis itu duduk di barisan depan kursi Persit, mengenakan setelan jas hijau pupusnya yang rapi. Bibirnya menyunggingkan senyum sopan setiap kali ada yang menyapanya, namun matanya kosong. Di depan sana, Mayor Ren Adhyaksa sedang menerima potongan tumpeng pertama dari Jenderal Arman.
Postur Ren begitu tegap, seragam PDH-nya membingkai tubuhnya dengan sempurna, dan dua melati emas di pundaknya bersinar di bawah terpaan lampu aula. Pria itu sesekali tersenyum tipis merespons candaan rekan-rekannya, namun tidak sekalipun mata elang itu melirik ke arah Cia sejak mereka berangkat dari rumah.
Udara dingin yang membeku di antara mereka terasa sangat kontras dengan hangatnya ruangan itu.
"Mbak Cia, sakit?" suara Lettu Maya tiba-tiba terdengar di sebelahnya. Wanita berseragam PDH itu menyodorkan segelas air mineral. "Wajah Mbak pucat sekali dari tadi."
Cia tersentak kecil, buru-buru mengambil gelas itu. "E-eh, makasih, Mbak. Nggak apa-apa kok, cuma agak kurang tidur aja minggu ini."
Maya menatap Cia lekat-lekat, insting prajuritnya menangkap ada sesuatu yang tidak beres. Pandangan Maya beralih ke arah Mayor Ren yang sedang berbincang dengan Letnan Bima di sudut ruangan. Meski Ren terlihat mendengarkan Bima, rahang komandan itu mengeras kaku, dan tangannya yang memegang piring kecil terlihat mencengkeram pinggirannya terlalu kuat.
"Kalau boleh jujur, aura kalian berdua malam ini sama-sama menakutkan, Mbak," gumam Maya pelan, memastikan tidak ada ibu-ibu Persit lain yang mendengar. "Komandan Ren memang selalu datar, tapi malam ini... dia terlihat seperti sedang bersiap memimpin operasi bunuh diri. Ada masalah?"
Cia menunduk, meremas gelas plastik di tangannya. Ia tidak mungkin menceritakan masalah internsip-nya di sini. "Hanya... sedikit beda pendapat, Mbak Maya. Bukan masalah besar."
Maya tidak mendesak. Wanita itu menepuk pelan punggung tangan Cia. "Mayor Ren mungkin pria yang kaku dan sulit ditebak, Mbak. Tapi satu hal yang saya pelajari selama menjadi bawahannya: saat dia marah atau diam, itu bukan karena dia membenci keadaan. Itu karena dia sedang mencari cara untuk melindunginya. Beri dia waktu."
Kata-kata Maya membuat dada Cia sedikit melonggar, namun kecemasannya tidak kunjung surut hingga acara syukuran itu selesai dua jam kemudian.
Perjalanan pulang ke rumah dinas dilakukan dengan berjalan kaki, mengingat jaraknya hanya dua ratus meter. Malam itu gerimis turun membasahi aspal. Ren berjalan di depan, memegang payung hitam berukuran besar. Cia berjalan di sisinya, berlindung di bawah payung yang sama, namun mereka sengaja menyisakan jarak sekitar lima sentimeter agar bahu mereka tidak bersentuhan.
Keheningan itu terasa lebih mencekik daripada asap ruang IGD.
Begitu sampai di rumah, Ren meletakkan payung di teras, membuka pintu, dan langsung melangkah menuju kamar. Cia mengekor di belakangnya, melepas sepatu pantofel hitamnya dengan langkah gontai.
Di dalam kamar, Ren berdiri membelakangi Cia. Tangan kirinya bergerak melepas pin-pin penghargaan di dadanya satu per satu, meletakkannya di atas meja rias dengan gerakan mekanis.
"Mas..." Cia memberanikan diri memecah keheningan. Ia melangkah mendekat, berhenti tepat dua langkah di belakang suaminya. "Mas Ren, tolong jangan diemin aku begini."
Gerakan tangan Ren terhenti. Pria itu menundukkan kepalanya, namun tidak berbalik.
"Aku minta maaf," suara Cia mulai bergetar, pertahanannya kembali runtuh. "Aku tahu kamu kecewa. Aku tahu kamu merasa pengorbananmu buat turun dari pasukan khusus jadi sia-sia karena aku harus pergi ke Papua. Tapi tolong marah sama aku, Mas. Jangan diam aja."
Ren menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sangat berat dan melelahkan. Perlahan, pria itu berbalik. Sepasang mata elangnya menatap Cia dengan intensitas yang membuat gadis itu menahan napas.
Tidak ada kemarahan di mata itu. Yang ada hanyalah sebuah rasa frustrasi yang sangat pekat, dan sebersit... ketakutan?
"Saya tidak marah padamu, Almeera," ucap Ren, suaranya sangat rendah, serak, bergetar menahan luapan emosi.
"Terus kenapa kamu bersikap seolah aku ini orang asing dari tadi sore?" isak Cia pelan, air matanya tak bisa dibendung lagi.
Ren melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Pria itu mengangkat tangannya, merengkuh wajah Cia dengan kedua telapak tangannya yang besar dan kasar. Ibu jarinya mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi istrinya.
"Karena saya marah pada diri saya sendiri," bisik Ren, menempelkan keningnya di kening Cia. "Saya marah karena saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk menahanmu di sini."
Napas Cia tersengal. Ia menatap mata suaminya dalam jarak yang sangat dekat.
"Sembilan bulan di hutan itu, di dalam sel gelap yang bau anyir darah... satu-satunya hal yang membuat saya menolak mati adalah janji saya untuk kembali padamu," Ren melanjutkan, suaranya terdengar hancur, menelanjangi segala kerentanan yang selama ini disembunyikan sang Mayor.
"Saya mengorbankan karier lapangan saya tanpa penyesalan sedikit pun, Cia. Karena bagi saya, bangun pagi dengan aroma sabunmu di sebelah saya jauh lebih berharga daripada medali apa pun. Tapi hari ini..."
Ren memejamkan mata, rahangnya kembali mengeras.
"Hari ini kementerian dengan mudahnya menugaskanmu sejauh ribuan kilometer dari saya. Ke daerah perbatasan timur. Ke tempat di mana saya tidak bisa menjangkaumu dalam hitungan jam jika terjadi sesuatu. Dan saya... sebagai suamimu, sebagai Mayor militer... tidak punya kuasa apa-apa untuk membatalkan sistem sipil itu."
Cia membelalakkan mata. Baru kali ini ia menyadari betapa dalam trauma yang ditinggalkan oleh penyanderaan itu pada diri Ren. Pria ini tidak marah karena harus LDR (Long Distance Relationship). Pria ini terobsesi dengan keselamatan Cia. Ia takut kehilangan gadis itu setelah maut hampir memisahkan mereka.
Dada Cia serasa diiris-iris. Ia merengkuh pinggang Ren erat-erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Mas... maafin aku," tangis Cia pecah di dada Ren. "Kalau kamu mau, aku bisa coba ajukan pengunduran diri dari program ini. Aku bisa coba tunda sampai tahun depan. Atau... atau aku berhenti aja jadi dokter. Aku bisa buka klinik kecil-kecilan nanti. Asal aku nggak harus pergi ninggalin kamu—"
"Jangan berani-berani kamu melanjutkan kalimat itu, Almeera."
Ucapan Cia terpotong oleh nada tegas tak terbantahkan dari Ren. Pria itu sedikit memundurkan wajahnya, menatap Cia dengan sorot mata yang kembali tajam, menembus manik mata istrinya.
"Kamu menghabiskan waktu empat tahun kuliah kedokteran, dua tahun menjadi koas hingga tidak tidur berhari-hari, mengorbankan masa mudamu untuk menolong orang lain," ucap Ren mutlak. "Jas putih itu adalah kehormatanmu. Sama seperti seragam loreng ini adalah kehormatan saya."
Ren menangkup wajah Cia lagi, kali ini dengan kelembutan yang menyayat hati.
"Saya tidak akan pernah membiarkan kamu mematahkan sayapmu sendiri hanya demi menenangkan ego saya, Cia. Jika saya mengizinkanmu berhenti menjadi dokter, saya gagal menjadi suamimu."
"Tapi, Mas..." Cia menggeleng pelan. "Jaraknya jauh banget. Gimana dengan fisioterapimu? Gimana kalau jahitannya nyeri lagi? Siapa yang ngingetin kamu makan?"
Bibir Ren melengkung membentuk sebuah senyum tipis yang sarat akan rasa cinta yang begitu dalam. Pria itu menunduk, mengecup kelopak mata Cia yang basah bergantian.
"Saya sudah menahan sakitnya peluru dan infeksi di pedalaman, Cia. Mengurus diri sendiri di asrama ini tidak akan membunuh saya," bisik Ren.
Pria itu merogoh saku kemeja hijaunya, menarik keluar dog tag berukir namanya, dan melepaskannya dari lehernya sendiri. Dengan gerakan perlahan, Ren kembali mengalungkan rantai besi dingin itu ke leher Cia, persis seperti malam sebelum ia berangkat ke daerah konflik.
Cia menggenggam kepingan besi itu. Sentuhannya terasa familier, membawa sebuah janji yang selalu ditepati pria ini.
"Satu tahun yang lalu, saya yang pergi bertugas, dan kamu yang menunggu," ucap Ren, menatap tepat ke dasar jiwa istrinya. "Sekarang, giliranmu yang berangkat ke medan juangmu, dan saya yang akan menjaga benteng rumah ini."
Cia tidak bisa berkata-kata lagi. Gadis itu berjinjit, melingkarkan lengannya di leher Ren, dan mencium bibir suaminya dengan penuh penyerahan diri. Sebuah rasa syukur yang luar biasa besar meledak di dadanya. Pria ini bukan sekadar pelindungnya, melainkan pendukung terbesar bagi mimpinya.
Ren membalas ciuman itu dengan intens, melingkarkan satu lengannya di pinggang Cia dan mengangkat tubuh gadis itu sedikit hingga kakinya tak menyentuh lantai, membawa Cia bersandar pada tepian meja rias. Ciuman mereka adalah perpaduan antara rasa putus asa, kerinduan yang diantisipasi, dan cinta yang tak terbantahkan.
"Satu tahun," bisik Ren di sela-sela ciumannya yang memabukkan, napasnya terasa hangat menyapu bibir Cia. "Saya akan menghitung setiap detiknya, Almeera. Berjanjilah kamu akan pulang dengan selamat, membawa SIP resmimu."
"Aku janji, Mayor Ren," balas Cia terengah-engah, menempelkan dahinya di kening sang suami dengan senyum merekah. "Aku bakal pulang. Dan pas aku pulang nanti, kamu harus janji tangan kananmu udah bisa angkat aku muter-muter tanpa takut jahitannya jebol."
Ren tertawa pelan, suara baritonnya bergetar di dada Cia.
"Itu perintah yang mudah, Panglima."
Malam itu, gerimis di luar asrama terasa berbeda. Bukan lagi melambangkan kesedihan, melainkan menjadi saksi bisu bagi dua hati yang akhirnya mencapai titik kompromi tertinggi. Jarak dan waktu mungkin akan kembali menjadi ujian bagi mereka, namun kali ini, baik Ren maupun Cia tahu... mereka tidak akan pernah kehilangan arah pulang.