NovelToon NovelToon
Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Suami Tak Berguna / Trauma masa lalu
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sikumbang

Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka di Hari Pertama Sekolah

Hari itu adalah hari pertama Syafa berseragam merah putih. Seragam itu dibeli Aini dari hasil tabungan yang dikumpulkannya berbulan-bulan, dicuci bersih dan disetrika licin agar anak perempuannya tampak rapi dan bersih.

Syafa terlihat sangat gembira.

"Ibu, nanti disekolah Syafa ada temannya nggak?" tanyanya antusias.

"Pasti adalah Kak. Asal Kakak tidak sombong dan nakal mereka pasti mau berteman sama Kakak "

Syafa melompat kegirangan. Terbayang di sekolah nanti dia akan bermain bersama banyak teman.

Tapi kenyataan tak seindah yang dibayangkan. Jam istirahat pertama Dina mendekat bersama dua orang temannya. Direbutnya pensil Syafa dan membawanya lari. Syafa kaget dan mengejar merebut kembali pensil miliknya. Dina marah dan mendorong Syafa.

"Heh...!! Kamu anak penjual Nasi Uduk itu kan?. Orang miskin dan tak punya Ayah."

Deg.....!!!

Jantung Syafa mau melompat keluar. Dia menangis dan anak lainpun ikut mengolok. Ada juga yang mengadu pada guru.

Dikantor Syafa masih menangis.

"Kenapa kamu menangis Syafa?" tanya wali kelas.

"Dina mengambil pensil saya Bu..!!!

"Bohong...!!! Kamu kan yang mengambil pensil saya. Bahkan kamu juga mendorong sampai jatuh." Dina menjawab dengan lantang tanpa rasa takut.

" Nggak kok Bu Guru. Dia yang mulai duluan. Dia bilang Syafa tak punya Ayah. Syafa punya kok Bu Guru." dan dia kembali menangis.

"Ya, sudah. Besok tak boleh berantam lagi. Sekarang semua masuk kelas."

 Aini sudah menunggu di depan gerbang dengan senyum lebar, menyambut putrinya dengan pelukan hangat. Namun, ia terkejut melihat Syafa keluar dengan wajah tertunduk, bahunya berguncang pelan, dan air mata yang menetes deras membasahi pipinya yang kemerahan. Gadis kecil itu berjalan cepat menghampiri ibunya, lalu memeluk pinggang Aini erat-erat, menangis tersedu-sedu.

"Ibuuu... Ibuuu..." isak Syafa, suaranya parau.

Aini langsung berjongkok, memeluk tubuh mungil itu erat, mengusap punggung dan rambutnya dengan rasa cemas.

"Ya ampun, Nak? Kenapa, Sayang? Ada apa? Kenapa menangis? Ada yang sakit?"

Syafa menggeleng kuat di pelukan ibunya, lalu mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, matanya merah dan bengkak. Ia menatap Aini dengan pandangan sedih dan bingung, pandangan yang menusuk langsung ke hati Aini.

"Teman-teman... teman-teman sekelas mengejekku, Ibu..." keluh Syafa di sela-sela tangisnya.

"Mereka bilang... mereka bilang aku tidak punya Ayah Mereka tertawa, Ibu... Mereka bilang aku anak yatim, anak yang tidak lengkap. Mereka tanya di mana Ayahku... dan aku... aku tidak tahu harus jawab apa..."

Hati Aini seolah diremas kuat-kuat. Rasa sakit yang sudah lama ia kubur, rasa sakit akibat perbuatan Dimas, rasa sakit karena harus membesarkan anak sendirian, kini terpantul kembali lewat air mata putrinya. Ia tahu suatu saat hal ini akan terjadi. Ia tahu anak-anaknya akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi saat hal itu benar-benar terjadi, rasanya tetap begitu perih dan menyakitkan.

Aini menahan air matanya sendiri agar tidak ikut jatuh. Ia harus kuat. Ia harus menjadi tempat berlindung yang kokoh bagi anaknya. Ia mengusap air mata di pipi Syafa dengan lembut, menatap mata bening itu lekat-lekat.

"Sayangku... Anak Ibu yang pintar..." ucap Aini pelan dan lembut, suaranya bergetar namun penuh ketenangan.

"Dengar Ibu ya... Apa yang dikatakan teman-temanmu itu... itu tidak benar. Kamu bukan anak yang tidak lengkap. Kamu bukan anak yang tidak punya siapa-siapa."

Aini mencium kening putrinya dalam-dalam.

"Kamu punya Ibu. Ibu ada di sini, selalu ada buat kamu dan Dedek. Ibu yang mengandung kamu, Ibu yang melahirkan kamu dengan susah payah, Ibu yang membesarkan kamu, dan Ibu yang akan selalu menjaga kamu sampai kapan pun. Kasih sayang Ibu sama kamu itu besar sekali, lebih besar dari apa pun. Dan kamu juga punya Dedek Satria, punya Bu Lilis yang jauh di sana, punya tetangga-tetangga yang baik, dan punya banyak orang yang sayang sama kamu. Kamu anak yang paling lengkap, Nak. Kamu penuh dengan kasih sayang."

Syafa menghentikan isak tangisnya sedikit, mendengarkan dengan saksama.

"Tapi... tapi mereka bilang anak harus punya Ayah. Katanya Ayah itu penting. Katanya... katanya kalau tidak ada Ayah berarti tidak ada yang melindungi."

Aini menghela napas panjang, menelan rasa pahit di tenggorokannya. Ia tersenyum tipis, senyum yang penuh kekuatan.

"Syafa, Nak... Ayah itu memang penting. Tapi Ayah yang sejati itu bukan cuma sekadar ada namanya di kertas kelahiran. Ayah yang sejati itu adalah orang yang menyayangi, yang bertanggung jawab, yang melindungi, dan yang tidak pernah meninggalkan anaknya. Kalau ada orang yang tidak melakukan itu, kalau ada orang yang malah ingin menyakiti atau menjual anaknya sendiri... maka kehadirannya justru membawa bahaya, bukan perlindungan."

Aini memegang kedua bahu putrinya.

"Kamu tidak perlu sedih, Nak. Kamu tidak perlu malu. Kamu justru harus bangga. Kamu bangga karena Ibu berjuang sendirian sekuat tenaga demi kalian. Kamu bangga karena meski kami cuma bertiga, kami bahagia, kami sehat, kami jujur, dan kami baik-baik saja. Nanti kalau ada yang bertanya lagi atau mengejek, kamu bilang saja: 'Aku punya Ibu hebat yang bisa jadi Ayah sekaligus Ibu buat aku. Aku tidak kurang apa pun.' Mengerti ya, Sayang?"

Syafa mengangguk pelan, meski kesedihan di matanya belum hilang sepenuhnya, tapi rasa bingungnya mulai berkurang. Ia memeluk ibunya lagi, merasa aman kembali.

"Iya, Ibu... Syafa mengerti. Syafa sayang Ibu."

"Ibu juga sayang kamu, Nak. Sudah ya, jangan menangis lagi. Nanti matanya bengkak, nanti cantiknya hilang. Yuk kita pulang, Ibu masak makanan enak buat kamu dan Dedek."

Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah, tangan Aini erat menggenggam tangan putrinya, berusaha menanamkan keberanian dan rasa percaya diri yang kuat agar anaknya tidak merasa rendah diri.

Namun, apa yang tidak mereka sadari... di balik dinding pintu pagar kayu rumah mereka, di balik semak-semak bunga yang rimbun, ada sosok yang berdiri diam sejak tadi. Sosok yang mendengar setiap kata, setiap isak tangis, dan setiap penjelasan yang terucap antara ibu dan anak itu.

Jaja.

Laki-laki itu baru saja pulang dari luar, berniat menyapa atau sekadar lewat, namun langkah kakinya terhenti saat mendengar suara tangisan Syafa. Ia berdiri diam di sana, bersembunyi di balik bayangan, mendengar semuanya.

Hati Jaja terasa diremas.....sakit. Mendengar kata-kata ejekan anak-anak itu, mendengar kesedihan Syafa, dan terutama mendengar ketegaran serta kelembutan Aini dalam menenangkan anaknya... membuat sesuatu di dalam dada Jaja bergetar hebat.

Matanya yang biasanya tajam dan dingin kini tampak berkaca-kaca, tersimpan amarah jauh dilubuk hatinya yang terdalam.. Ia melihat betapa beratnya beban yang dipikul Aini. Betapa polos dan rapuhnya hati gadis kecil itu karena ucapan orang lain.

Jaja mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rahang tegasnya mengeras. Di balik jenggot lebatnya, tersembunyi tekad yang baru saja terbakar menjadi api yang besar.

*******

1
Ariany Sudjana
makanya kamu jangan egois Arini, kamu menyesal kan ?
Ariany Sudjana
menyesal kan kamu Aini? kamu egois dan bodohnya kebangetan
Putri Sikumbang: 😭 iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!