Zora Naladhipa seorang siswa kelas menengah atas yang sering mewakili sekolahnya untuk berbagai perlombaan sejarah.
Suatu hari ia diminta oleh gurunya lagi untuk mengikuti sebuah lomba tentang sejarah. Ayahnya memberikannya sebuah buku kuno yang beliau dapatkan dari pasar loak. Zora selalu membawanya kemanapun karena isi di dalamnya membuatnya tertarik untuk terus membacanya.
Suatu hari saat jam sekolah telah usai, Zora memilih pergi ke toilet tak lupa dengan buku yang berada di genggamannya. Ia mendengar suara dua orang sedang berbicara orang tadi tak lain adalah pacarnya dan seorang wanita. Matanya memanas, ia kemudian pergi dari toilet tadi dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Saat sampai di rumah ia lalu merebahkan dirinya di kasur sambil menggenggam buku kuno itu. Tak terasa air matanya menetes mengenai buku tadi lalu ada sebuah cahaya yang menariknya menuju tempat lain. Ia kemudian bangun dengan kepala yang berdenyut.
"Ahh, dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Cerita ini terinspirasi dari serial drama love destiny. Stay tune dan lanjutkan membaca ya:))
ig: @chiccacaaa
tidak update setiap minggu ;))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiccacaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Perdagangan- 20
Zora sebenarnya sudah malas berurusan dengan pangeran Auriga. Ia hanya mengatakan dari bibirnya jika ia sudah memaafkan mereka semua tetapi di dalam hatinya sebenarnya ia masih merasa dongkol dengan semua yang telah terjadi namun ia memilih mengalah dan diam daripada emosinya semakin meningkat dan menjadi.
•••
Sore berganti malam, malam berganti pagi. Zora mendengar dari dua pelayan yang pernah menghinanya dulu yang sekarang juga mengikuti Zora menjadi pelayan pribadinya yang mengatakan bahwa pagi ini akan ada pertemuan di ruang pertemuan. Katanya mereka akan membahas tentang perjanjian perdagangan dengan Dutch Ramon.
Zora yang mengetahui rencana licik dari Dutch Ramon dan beberapa orang suruhannya tersenyum licik. Ia lalu pergi ke ruang pertemuan tanpa diketahui oleh siapapun. Ia datang ke ruang pertemuan sebelum orang lain datang kesana. Seperti waktu itu, Zora memilih bersembunyi di tempat yang aman. Jika keputusan memang benar-benar sudah mendesak maka ia akan keluar dari persembunyiannya.
Ruang pertemuan mulai diisi oleh beberapa orang dan yang terakhir masuk adalah Prabu Adyatama. Setelah Prabu Adyatama masuk, rapat lalu dimulai.
"Ingsun mengumpulkan kalian semua disini karena Ingsun mendengar ada berita tentang perjanjian perdagangan yang ingin dilakukan oleh Dutch Ramon dengan kerajaan kita" ucap Prabu Adyatama.
Salah satu orang kemudian angkat bicara. Ia terlihat berdiri kemudian memberi hormat kepada Prabu Adyatama.
"Itu semua benar Kanjeng Prabu. Dutch Ramon ingin menjalin kerjasama dengan kerajaan Wirastama karena ia berkata bahwa hasil panen rempah-rempah di kerajaan ini memiliki kualitas yang sangat baik. Maka dari itu Dutch Ramon ingin menjalin kerjasama agar rempah-rempah itu bisa ia beli lalu ia kirim ke negaranya sendiri untuk kembali dijual" ucapnya.
"Itu adalah penawaran yang menarik dengan begitu nama kerajaan kita bisa terkenal sampai negara di benua lainnya" ucap Prabu Adyatama.
Orang yang lainnya kemudian ikut berdiri. Ia juga memberi hormat kepada Prabu Adyatama sebelum ia mulai berbicara.
"Tetapi apa isi dari perjanjian yang ditawarkan oleh Dutch Ramon? Jika perjanjian perdagangan itu memang ada maka itu harus menguntungkan kedua belah pihak dan tidak hanya satu pihak saja yang diuntungkan" ucapnya.
"Untuk masalah surat perjanjian dan lain-lain, itu semua sudah diurus oleh Dutch Ramon. Ini adalah salinan surat perjanjian yang ditulis oleh beliau sendiri" ucap orang pertama kemudian ia memberikan salinan surat itu kepada Prabu Adyatama.
Isi surat perjanjian antara Dutch Ramon dengan Kerajaan Wirastama:
Pihak 1 sebagai Dutch Ramon dan pihak 2 sebagai kerajaan Wirastama.
Pihak 1 berhak mengambil separuh hasil panen dari pihak 2.
Pihak 1 membayar hasil panen sesuai dengan perjanjian yang akan ditepati.
Pihak 1 maupun pihak 2 tidak berhak membatalkan perjanjian ini dengan sepihak.
Jika ada perubahan perjanjian maka akan dirundingkan oleh pihak 1 dan pihak 2.
Seperti itulah perjanjian yang dibacakan oleh salah satu dari orang kepercayaan Prabu Adyatama. Mereka semua terlihat memikirkan perjanjian ini. Sedangkan Zora, ia sudah menduga jika perjanjian ini adalah akal licik dari Dutch Ramon agar perlahan ia bisa menguasai perdagangan kerajaan Wirastama.
"Perjanjian itu akan sangat menguntungkan bagi kerajaan kita. Kita bisa memberi harga tinggi untuk penjualan ini dan juga kita tidak perlu repot-repot untuk menjual hasil rempah-rempah ini kepada orang asing yang lainnya" ucap seseorang yang juga adalah salah satu dari suruhan Dutch Ramon.
"Benar, kita akan mematok harga yang tinggi lalu kita bisa mendapat keuntungan berlipat ganda dari sebelumnya" ucap seorang yang lainnya.
"Tapi bukankah peran pedagang asing yang lainnya juga diperlukan di kerajaan kita? Menurut hamba semua orang asing berhak mendapat kesempatan yang sama untuk membeli rempah-rempah dari kerajaan kita" ucap salah satu menteri.
Prabu Adyatama tampak berpikir sejenak. Ia kemudian menatap semua orang yang berada disana.
"Atur pertemuan dengan Dutch Ramon" ucapnya.
Zora sudah menduga hal itu akan terjadi karena menurut sejarah yang pernah dibacakan oleh ayahnya, Prabu Adyatama akan menyetujui perjanjian ini karena ia sudah termakan bujukan orang-orang yang kemarin merencanakan agar Prabu Adyatama mau menerima perjanjian ini.
Zora kemudian keluar dari tempat persembunyiannya. Ia lalu berkata.
"Tunggu" ucapnya yang membuat semua orang menatap bingung kepada Zora.
"Putri Zora? Kenapa kau bisa sampai ke ruang pertemuan?" tanya salah satu menteri.
"Memang tidak boleh?" tanya Zora tersenyum menantang.
"Aku datang kesini sebagai anak dari Jenderal Mahesa Daneswara, Nona Zora Naladipha dan bukan putri Zora dari kerajaan Wirastama" ucap Zora dengan tegas yang membuat semua orang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Aku rasa usiaku sudah cukup matang untuk menggantikan peran ayahku yang sudah tiada" imbuhnya.
"Tapi Nona Zora adalah seorang wanita" ucap salah seorang disana.
"Ya, aku tau meskipun aku seorang wanita tetapi di dalam diriku mengalir darah seorang Mahesa Daneswara. Aku yakin kalian semua pasti tau jika peraturan di istana hanya menyebutkan jika ada seorang tokoh penting yang meninggal maka anaknya bisa menggantikannya jika usianya sudah matang dan bakatnya juga mumpuni" ucap Zora menekan kata anaknya.
"Anak itu bisa laki-laki ataupun perempuan dan disana tidak ditegaskan jika anak dari orang itu haruslah seorang pria maka dari itu kalian semua tidak berhak untuk melarangku untuk berada disini" ucap Zora tersenyum penuh kemenangan.
Semua orang terdiam mendengar pernyataan Zora. Tidak ada seorangpun yang bisa membantah perkataannya. Zora lalu mengedarkan pandangannya, mencari kursi yang masih kosong.
"Bolehkah hamba duduk sekarang?" tanyanya memecah keheningan yang ada di tempat itu.
"Silakan" ucap seorang menteri kepada Zora.
Setelah Zora mendudukkan dirinya, ia lalu menatap semua orang yang berada disana. Ia lalu bersuara.
"Aku sebagai Nona Zora Naladipha ingin memberikan perjanjian lain agar kita bisa sama-sama untung" ucapnya.
"Aku menyarankan jika pihak dari Dutch Ramon hanya boleh mengambil seperlima dari seluruh hasil panen rempah-rempah di kerajaan ini"
"Dan juga aku menyarankan jika kita akan menjalin kontrak dalam satu tahun ke depan sebagai percobaan. Jika masa satu tahun sudah habis maka salah satu pihak tidak boleh memaksa pihak lainnya untuk melanjutkan kontrak kecuali jika kedua belah pihak sama-sama ingin menjalin kontrak lebih lama lagi" ucap Zora dengan tegas.
"Tidak bisa seperti itu!" ucap salah seorang dari pihak Dutch Ramon.
"Kenapa?" tanya Zora dengan dagu yang terangkat.
"Perjanjian ini sudah sama-sama menguntungkan jadi kita tidak perlu mengubah apapun dari perjanjian ini" ucap pria itu.
"Sama-sama menguntungkan?" tanya Zora tersenyum sinis.
"Maksudnya kau dan Dutch Ramon yang sama-sama mendapat untung?" tanya Zora dengan alis yang terangkat.
Glekk
Orang itu menelan ludahnya dengan kasar. Ia takut jika Zora sudah mengetahui rencananya. Jika sudah seperti ini tidak ada jalan lain selain mengalah.
"Kita akan menanyakan saranmu itu kepada Prabu Adyatama dan juga yang lainnya. Keputusan berada di tangan mereka" ucapnya.
"Baik" ucap Zora. Ia lalu memandang semua orang yang berada disana.
"Hamba merasa setuju dengan usul putri Zora. Kita masih belum mengetahui seperti apa orang yang akan kita ajak berbisnis. Hamba hanya khawatir jika ke depannya perjanjian ini malah diubah sesuka hati oleh salah satu pihak yang bisa merugikan kerajaan kita" ucap seorang menteri yang menyetujui saran Zora.
"Hamba merasa itu semua terlalu berlebihan. Hamba rasa perjanjian yang sudah diberikan oleh Dutch Ramon hanya perlu diubah sedikit saja dan semuanya akan beres" ucap seorang yang lainnya.
"Aku juga hanya mengubah sedikit perjanjian jika kau lupa" ucap Zora memandang remeh orang yang baru saja berbicara itu.
Perdebatan demi perdebatan kemudian terjadi sampai akhirnya di dapat hasil akhir jika saran dari Zora akan digunakan untuk pertemuan ke depan dengan mengundang Dutch Ramon secara langsung.
Setelah perdebatan panas tadi selesai, satu per satu orang mulai meninggalkan ruang pertemuan itu. Zora memilih keluar paling akhir sambil menunggu Prabu Adyatama dan pangeran Auriga yang masih berada di dalam. Setelah semua orang pergi, tinggalah Prabu Adyatama, pangeran Auriga dan Zora yang berada disana.
Zora tersenyum, ia mendekati Prabu Adyatama kemudian berbisik.
"Ikuti rencanku jika kau tidak ingin reputasimu sebagai seorang Raja dari kerajaan Wirastama hancur. Aku adalah Zora, aku bisa mengetahui apapun yang belum kalian ketahui dan aku juga tahu bagaimana dirimu di masa yang akan datang" bisiknya mengancam kepada Prabu Adyatama.
Zora lalu melenggang pergi meninggalkan pangeran Auriga dan Prabu Adyatama yang masih termenung karena perkataan Zora.
"Ia memang anak dari Mahesa" gumam Prabu Adyatama menatap punggung Zora yang sudah menghilang itu.
"Apa yang putri Zora katakan ayah?" tanya pangeran Auriga menatap penasaran kepada Prabu Adyatama.
"Tidak ada, ayo kita kembali" ucap Prabu Adyatama kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang pertemuan.
Sementara itu di tempat lain,
"Zora Naladipha ya?" tanya orang itu sambil menyesap wine yang ada di tangan kanannya.
"Ia memang benar-benar berani dengan selalu menentangku tapi kau belum mengenal seberapa penuh akalnya aku, Nona Zora" ucapnya sambil tersenyum sinis.
•••
jangan lupa vote komen rate dan like
Mampir yuk di novel pertama ku yang berjudul "KEKUATAN HATI WANITA"
Berkisah wanita yg bangkit dari penghianatan.
Mohon dukungannya, terimakasih🙏🏻🤗🌹
tp ngomong-ngomong,,, ceritanya bagus lho,,, cerita jaman dahulu kala
I love Indonesia😍😍😍😍
I love you thooor 😘😘😘😘