Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 Perjalanan Pulang yang Sunyi
Celah sempit di sisi barat yang ditemukan Tomas ternyata menuntun mereka memutar cukup jauh, menyusuri bagian hutan kristal yang belum pernah mereka lewati sebelumnya, sebelum akhirnya bertemu kembali dengan jalur utama yang menghubungkan area itu dengan ruang masuk tempat lingkaran ukiran raksasa berada. Perjalanan memutar itu memakan waktu lebih dari yang seharusnya, dan ketika mereka akhirnya melangkah keluar dari gerbang batu besar menuju cahaya senja Aldenmere, tubuh mereka semua terasa lebih berat dari beban ransel yang mereka bawa.
Petugas menara memeriksa mereka sekilas, mencatat waktu kepulangan yang jauh lebih larut dari perkiraan awal, tapi tidak banyak bertanya melihat kondisi rombongan yang jelas kelelahan, beberapa dengan luka yang sudah dibalut seadanya. Fragmen Inti Verlanth, masih terbungkus rapat dalam kain khusus Brann, diserahkan sebentar untuk pemeriksaan rutin sebelum dikembalikan tanpa catatan khusus, tidak ada yang menyadari apa yang baru saja terjadi jauh di dalam lantai menengah menara itu.
Langit di atas Aldenmere sudah berubah warna jingga tua, matahari nyaris tenggelam di balik atap-atap kota, ketika rombongan mulai berjalan menyusuri jalan utama menuju markas, langkah mereka jauh lebih lambat dari biasanya, percakapan yang biasanya mengisi perjalanan pulang kali ini nyaris tidak ada.
Ilena berjalan dekat dengan Arden, sesekali melirik ke arahnya, jelas ingin mengatakan sesuatu tapi menahan diri karena masih banyak orang di sekitar mereka. Baru ketika mereka sampai di persimpangan sepi menuju jalan belakang menuju markas, ia akhirnya mempercepat langkahnya, sejajar dengan Arden yang berjalan sedikit di depan yang lain.
"Kita perlu bicara," katanya, pelan, hanya untuk didengar Arden.
"Aku tahu," kata Arden, matanya tetap tertuju ke depan.
"Sekarang?"
Arden menghela napas, langkahnya sedikit melambat. "Ilena, aku menghargai kekhawatiranmu. Sungguh. Tapi aku benar-benar lelah, lebih lelah dari yang pernah kurasakan setelah misi lain. Aku butuh waktu untuk memikirkan ini sendiri dulu, sebelum aku bisa membicarakannya dengan siapa pun, termasuk kau."
"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
"Aku tahu," ulang Arden, kali ini lebih lembut, menoleh sedikit padanya. "Dan aku menghargainya. Tapi beri aku malam ini. Besok, aku janji kita akan bicara lebih jauh."
Ilena menatapnya lama, mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik permintaan itu, sebelum akhirnya mengangguk pelan, meski tidak sepenuhnya puas. "Baiklah. Tapi jangan lupa janjimu."
"Tidak akan."
Percakapan singkat itu tidak luput dari perhatian sisa rombongan, meski tidak ada yang secara langsung mendengar isinya. Corym, yang berjalan tak jauh di belakang, menatap punggung Arden dengan ekspresi yang sulit dibaca, campuran antara khawatir dan sesuatu yang lebih dalam, semacam pengakuan diam bahwa ada hal yang tidak bisa ia bantu selesaikan hanya dengan berjalan di sisinya seperti biasa.
Petra, dengan lengan masih dibalut, berjalan lebih dekat dengan Halden, sesekali melirik ke arah Arden dengan rasa penasaran yang bercampur kekhawatiran seorang murid pada gurunya. Tomas dan Doran berjalan diam, seperti biasa, meski keduanya sesekali bertukar pandang singkat yang mengisyaratkan mereka juga menyadari sesuatu tidak biasa dari suasana rombongan malam itu.
Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Bukan karena mereka tidak peduli, tapi karena mereka semua mengenal Arden cukup baik untuk tahu bahwa memaksanya bicara sebelum ia siap hanya akan membuatnya semakin menutup diri.
...----------------...
Markas Jangkar Kelabu, ketika mereka akhirnya sampai, menyambut mereka dengan cahaya lentera hangat yang bocor dari celah jendela lantai bawah, kontras dengan langit yang sudah gelap sepenuhnya di luar. Ness sudah menunggu di depan pintu, wajahnya berubah cemas begitu melihat kondisi rombongan yang jelas lebih lelah dari misi biasa, tapi ia menahan diri untuk tidak langsung membombardir mereka dengan pertanyaan, cukup membantu mengarahkan yang terluka menuju bangku dekat perapian.
Sister Yuna, yang mendengar keributan dari kapel kecilnya, segera keluar dan langsung memeriksa Petra, membersihkan luka di lengannya dengan telaten sambil melafalkan doa singkat, cahaya lembut kebiruan muncul sesaat di telapak tangannya saat menyembuhkan sebagian luka itu, cukup untuk meredakan rasa sakit meski tidak sepenuhnya menghilangkannya.
"Kalian terlambat," kata Ness, akhirnya, suaranya lebih pada rasa lega daripada teguran. "Aku hampir mengirim seseorang untuk memeriksa."
"Ada... komplikasi," kata Corym, memilih kata-katanya hati-hati, matanya sekilas melirik ke arah Arden yang duduk diam di salah satu kursi, fragmen terbungkus masih di pangkuannya.
Ness tidak mendesak lebih jauh, meski matanya menyapu seluruh rombongan dengan kecermatan seorang quartermaster yang sudah terbiasa menghitung apa saja yang hilang atau berubah dari sebuah misi.
Wick, meski jelas masih lelah dan sedikit terguncang dari kejadian hari itu, bergerak lebih dulu menuju dapur, seolah menemukan kenyamanan dalam rutinitas yang sudah sangat ia kenal. Tak lama, aroma sup sederhana mulai menyebar dari perapian dapur, campuran sayuran dan sisa daging asap yang masih tersimpan sejak beberapa hari lalu, dimasak cepat tapi dengan perhatian yang tidak berkurang meski tangannya masih sedikit gemetar.
"Kau tidak perlu memasak malam ini," kata Ilena, mendekati adiknya, suaranya lembut. "Kau bisa istirahat dulu."
"Aku ingin melakukannya," kata Wick, tersenyum kecil meski matanya masih menyimpan bayangan ketakutan dari hari itu. "Rasanya... aku butuh melakukan sesuatu yang normal sekarang."
Ilena mengangguk, mengerti, dan membiarkannya melanjutkan, hanya berdiri di dekatnya sebentar sebagai dukungan diam.
Makan malam itu, ketika akhirnya tersaji di meja panjang, terasa berbeda dari makan malam biasa Jangkar Kelabu. Percakapan yang biasanya ramai dan penuh canda kini lebih pelan, lebih hati-hati, seolah semua orang menyadari ada sesuatu yang berat menggantung di udara meski tidak ada yang secara terbuka membicarakannya. Namun kehangatan itu tetap ada, dalam cara Wick menawarkan tambahan sup pada siapa pun yang mangkuknya sudah kosong, dalam cara Halden diam-diam menukar sepotong roti dengan Petra yang masih kesulitan menggunakan tangan kirinya, dalam cara Brann, meski lelah, masih menyempatkan bercerita singkat soal sampel debu kristal yang berhasil ia bawa pulang, mencoba mengembalikan sedikit keceriaan yang biasa mewarnai meja itu.
Arden duduk di kepala meja seperti biasa, tapi makan lebih sedikit dari biasanya, sesekali menjawab pertanyaan singkat dengan jawaban singkat pula, pikirannya jelas masih terperangkap pada sesuatu yang belum bisa ia bagikan pada siapa pun.
...----------------...
Setelah makan malam selesai dan sebagian besar anggota mulai membubarkan diri untuk beristirahat, Arden menyempatkan diri berjalan keluar sebentar ke halaman belakang markas, mencari udara yang lebih dingin untuk menjernihkan pikirannya yang masih penuh dengan pertanyaan tanpa jawaban.
Ia tidak sendirian lama.
"Kupikir kau akan langsung tidur," kata Ilsa, muncul dari arah pintu belakang, lengan bersilang, matanya menatapnya dengan ketajaman yang biasa, tapi kali ini tanpa nada bercanda yang biasa mewarnai suaranya.
"Aku butuh udara dulu," kata Arden.
"Atau kau butuh menghindar dari pertanyaan yang jelas-jelas ingin ditanyakan Ilena sejak kalian sampai di gerbang menara tadi." Ilsa melangkah mendekat, berdiri di sisinya, menatap ke arah langit malam yang mulai dipenuhi bintang. "Aku dengar sedikit dari Corym. Tidak banyak, dia menjaga mulutnya dengan baik. Tapi cukup untuk tahu ada sesuatu yang terjadi padamu di sana, dan kau memilih untuk tidak menceritakannya."
Arden tidak menjawab segera, matanya tertuju pada kegelapan di ujung barat kota, ke arah Menara Verlanth yang kini hanya terlihat sebagai bayangan pekat di bawah cahaya bintang.
"Aku tahu kau selalu punya alasan untuk menyimpan sesuatu, Arden," lanjut Ilsa, suaranya lebih lembut sekarang, meski masih tegas. "Aku juga tahu kau selalu berpikir kau melindungi kami dengan melakukan itu. Tapi menyembunyikan sesuatu dari tim ini, dari orang-orang yang mempercayakan hidup mereka padamu setiap kali kita melangkah keluar dari pintu ini, itu bukan gayamu. Itu bukan Arden yang aku kenal selama tujuh tahun ini."
"Ilsa—"
"Aku tidak memaksamu bercerita malam ini," potongnya, cepat tapi tidak kasar. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku melihatnya. Kami semua melihatnya, meski tidak semua orang berani mengatakannya sekeras aku. Sesuatu terjadi padamu di lantai itu, dan itu bukan sekadar kelelahan biasa."
Arden menghela napas panjang, tangannya secara refleks bergerak ke dada, ke tempat liontin tersembunyi di balik bajunya, meski ia tidak mengeluarkannya kali ini.
"Aku tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, Ilsa," katanya akhirnya, suaranya lebih rapuh dari yang biasa ia perlihatkan. "Itu sebabnya aku belum bisa menceritakannya. Aku butuh waktu untuk memahaminya sendiri dulu, sebelum aku bisa membebani kalian dengan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak mengerti."
Ilsa menatapnya lama, ekspresinya melunak sedikit, mengenali kejujuran di balik kata-kata itu. "Baiklah," katanya akhirnya. "Aku akan menunggu. Tapi jangan terlalu lama, Arden. Kami bukan hanya tim yang bekerja bersamamu. Kami keluarga yang kau bangun sendiri, bertahun-tahun lalu. Biarkan kami membantu memikul beban itu bersamamu, kalau saatnya tiba."
Arden mengangguk, sesuatu di dadanya terasa sedikit lebih ringan meski pertanyaan-pertanyaan besar masih belum terjawab. "Terima kasih, Ilsa."
Ilsa tersenyum tipis, menepuk bahunya sekali sebelum berbalik menuju pintu. "Sekarang tidurlah. Kau terlihat seperti mayat hidup."
"Terima kasih untuk itu juga."
"Selalu."
...----------------...
Arden masih berdiri sendirian beberapa saat lebih lama di halaman belakang, menatap langit malam, pikirannya perlahan mulai tenang meski belum sepenuhnya damai. Ia baru saja melangkah kembali menuju pintu ketika suara ketukan terburu-buru terdengar dari arah depan markas, disusul suara Ness yang memanggil namanya dengan nada yang tidak biasa.
"Arden! Kau perlu melihat ini."
Arden bergegas menuju ruang depan, di mana ia menemukan Ness berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang, dan di baliknya, berdiri seorang pria berjubah biru tua dengan lambang Guild Petualang Aldenmere tersulam di dada, jelas seorang utusan resmi yang baru saja tiba di gerbang markas mereka, meski malam sudah cukup larut untuk kunjungan semacam ini.
"Arden Voss?" tanya utusan itu, suaranya formal, matanya menyapu sosok Arden yang masih terlihat lelah dari perjalanan hari itu.
"Ya," jawab Arden, waspada tanpa menunjukkannya secara terbuka.
Utusan itu mengeluarkan sepucuk surat dari dalam jubahnya, disegel dengan lilin merah berlambang Guild, dan menyerahkannya dengan kedua tangan, gestur yang biasanya hanya digunakan untuk urusan resmi yang cukup penting.
"Panggilan resmi dari Guildmaster Orin Vahl," katanya. "Anda diminta untuk menghadap secepatnya, membawa laporan lengkap mengenai insiden yang tercatat di sistem pemantauan energi Guild dari Menara Verlanth sore ini."
Arden menerima surat itu dengan tangan yang terasa sedikit lebih dingin dari sebelumnya, menatap segel merah yang belum terbuka, sementara di belakangnya, Corym dan Ilena, yang baru saja turun mendengar keributan, berdiri diam di ambang tangga, menatap surat itu dengan kekhawatiran yang sama, menyadari bahwa apa pun yang baru saja terjadi di dalam Menara Verlanth, dunia luar sudah lebih dulu mengetahuinya sebelum mereka sempat memutuskan bagaimana caranya bercerita sendiri.