NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Bangkitnya Kekuatan Jiwa Evelyn

"Kau menantangku?! Kau pikir aku takut padamu?! Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu dan mempercepat kematianmu sekarang juga!" amuk Kaelen menggelegar, suaranya yang membara membuat air di sekeliling mereka bergetar hebat.

Pangeran merman itu bersiap menancapkan tombaknya dengan kekuatan penuh untuk menghabisi Evelyn. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda dari sang gadis manusia. Evelyn memejamkan matanya erat-erat, memasrahkan diri pada takdir.

Alih-alih menjerit ketakutan, sebaris nada mistis meluncur begitu saja dari bibirnya yang pucat. Nada itu mengalun rendah, bergaung dengan frekuensi magis yang terasa sangat asing di telinga Kaelen. Itu bukan bahasa kuno ras Mermaid, bukan pula nyanyian hipnotis pemikat milik kaum Siren. Itu adalah kidung purba yang telah lama hilang dari sejarah dunia, namun terpatri jauh di dalam memori jiwanya:

“Hear the call of the forgotten shore…

Awake, O ancient shield of the deep,

Rise through the tides, eternity is no more…”

(Dengarlah panggilan dari pantai yang terlupakan…

Terbangunlah, wahai perisai kuno dari lautan terdalam,

Bangkitlah menembus ombak, keabadian kini telah usai…)

Seketika itu juga, air di sekeliling altar bergolak dahsyat. Tekanan ghaib yang luar biasa masif mendadak menekan dada Kaelen hingga ia terengah-engah kehabisan pasokan udara.

DUARRR!

Dinding kokoh altar eksekusi itu hancur berkeping-keping dalam satu hantaman gelombang raksasa. Dari balik reruntuhan dan kegelapan laut dalam, sesosok makhluk purba legendaris—Aspidochelone—muncul menampakkan diri.

Makhluk kolosal berwujud kura-kura raksasa yang ukurannya menyerupai sebuah pulau itu bergerak maju. Tempurung batunya yang ditumbuhi terumbu karang kuno seketika menghantam struktur bangunan, meruntuhkan langit-langit altar, dan menutup seluruh cakrawala pandangan mereka.

Gelombang kejut yang dihasilkan oleh pergerakan makhluk purba itu menciptakan arus air yang luar biasa kuat. Bahkan Kaelen, sang pangeran merman yang tangguh, tidak mampu bertahan. Tubuhnya terpental cukup jauh, menghantam pilar batu hingga tombaknya nyaris terlepas dari genggaman.

Di tengah kekacauan itu, keajaiban terjadi. Ikatan pasung di tangan dan kaki Evelyn mendadak retak dan hancur total, sementara makhluk purba itu justru menundukkan kepalanya yang sebesar bukit di hadapan sang gadis manusia.

Evelyn berdiri tegak di antara puing-puing altar batu. Bersamaan dengan itu, gurat-gurat cahaya mistis mulai bermunculan dan merayap di atas permukaan kulitnya. Pola abstrak yang luar biasa indah menghias wajahnya yang semula pucat. Rambut hitam sebahunya mendadak memanjang dengan cepat hingga ke pinggang, berubah warna menjadi pirang keemasan murni yang memancarkan pendar cahaya hangat khas ras tertinggi Elf Cahaya.

Luka menganga di kedua pundaknya akibat siksaan Kaelen mendadak menutup dan pulih dengan sendirinya tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Kaelen, Evelyn melompat anggun ke atas punggung makhluk purba kolosal tersebut.

"Bawa aku pergi dari sini. Kembali ke daratan," perintah Evelyn. Suaranya kini terdengar berlapis dan berwibawa.

Makhluk pulau itu menundukkan kepalanya yang masif dengan patuh. "Baik, Putri."

Wushhh!

Pusaran arus laut yang luar biasa hebat berputar dahsyat mengiringi pergerakan sang Aspidochelone yang menjauh, membelah kegelapan palung laut dalam hitungan detik.

Kaelen terengah-engah di atas reruntuhan altar. Ia melongo, menatap kosong ke arah kepergian makhluk purba itu dan juga sosok baru Evelyn yang tampak begitu asing di matanya.

"Mengapa... dia bisa menjadi seperti itu?" bisik Kaelen heran. Otaknya masih buntu, sama sekali belum mampu mencerna mukjizat yang baru saja terjadi di depan matanya.

Namun, belum sempat ia bangkit berdiri, air di sekeliling reruntuhan altar mendadak bergejolak hebat. Beberapa sosok agung muncul dari balik kegelapan dengan aura kepemimpinan yang mencekik. Mereka adalah barisan petinggi Kerajaan Samudera: kakek, nenek, serta kedua orang tua Kaelen.

"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?!" tuntut Roland Nixie, sang Raja Mermaid terdahulu, menatap puing-puing altar dengan murka.

"Kaelen! Di mana kau sembunyikan gadis manusia itu?!" sambung Nerissa Marine, sang Ratu Mermaid terdahulu, dengan raut wajah cemas yang tertahan.

"Benar, Kaelen! Cepat katakan!" Helios Marine, ayah Kaelen, ikut mendesak dengan nada suara yang meninggi. "Kenapa kau ceroboh sekali dan membuat masalah sebesar ini? Apa kau tidak tahu kalau gadis manusia itu adalah pasangan takdir dari Raja Demon, Damian?!"

"Kau tahu, Kaelen? Damian sendiri yang mendatangi kakekmu tadi!" timpal Seraphina Oceanus, ibu Kaelen, dengan napas memburu. "Dia murka karena tahu kau telah menculik dan menyiksa pasangannya!"

Kaelen, yang masih terduduk lemas di antara puing-puing bangunan, menatap satu per satu anggota keluarganya. Lidahnya mendadak terasa sangat kelu. Kabar tentang identitas ganda Evelyn sebagai mate sang penguasa kegelapan laksana hantaman badai yang langsung meruntuhkan seluruh sisa keangkuhannya.

"Aku hanya tidak suka karena dia telah menelan The Heart Pearl milikku secara tidak sengaja," ucap Kaelen membela diri dengan nada dingin yang bergetar samar.

"Kau benar-benar ceroboh! Tindakanmu itu bisa memicu perang antar ras, Kaelen! Meski kita adalah kerabat dekat Damian, tapi Ayah tidak yakin jika dia bisa memaafkanmu kalau gadis itu sampai mati di tanganmu!" teriak Helios murka.

Seketika itu juga, Helios mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Sebuah cambuk air yang terbentuk dari arus laut terdalam mendadak bermanifestasi secara magis. Tekstur cambuk itu sangat runcing dan memiliki duri-duri tajam seperti kristal es yang mematikan. Tanpa aba-aba, Helios melayangkan cambukannya ke arah Kaelen.

"Ini balasan untuk kebodohanmu! Ayah tidak mau mendengar kau menyakiti gadis itu lagi!" bentak Helios kejam.

Crat! Crat!

Kaelen hanya bisa mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Kedua tangannya mencengkeram puing batu, sementara giginya bergemeletuk menahan perih luar biasa akibat cambukan air berduri yang merobek kulit dada dan punggungnya hingga darah segar merembes keluar.

"Wah, wah, wah... Tampaknya sedang ada sedikit masalah keluarga di sini."

Sebuah suara yang begitu menggelegar mendadak bergaung dari arah atas, menggetarkan seluruh air di Palung Abyssal.

Sesosok pria bertubuh besar dengan janggut keperakan yang panjang mengalir turun menghampiri mereka. Di atas kepalanya, sebuah mahkota emas kuno berpendar megah, serasi dengan trisula raksasa yang digenggamnya erat.

Pria tua itu berkendara dengan sangat anggun, menunggangi kereta Hippocampus—makhluk mitologi berwujud kuda laut jantan perkasa dengan bagian belakang berupa ekor ikan yang meliuk-liuk membelah arus samudera. Pria agung itu tidak lain adalah Dewa Neptunus, sang penguasa tertinggi Samudera Pulau Silence.

"Tuan Neptunus," Roland Nixie langsung membungkuk takzim, diikuti oleh seluruh anggota kerajaan yang mendadak menegang ketakutan. "Ada angin apa Anda sudi datang ke wilayah kami?"

"Lihatlah kekacauan ini... Tampaknya salah satu peliharaan kesayanganku telah membuat kerusakan yang cukup merepotkan di teritorimu, Raja Roland," ucap Neptunus tenang, namun auranya sangat mengintimidasi. "Aku datang ke sini justru untuk mencari binatang fana milikku yang tiba-tiba melarikan diri dari kandangnya."

"Maksud Anda... Aspidochelone? Makhluk mistis penjaga Pulau Silence itu?" tanya Roland memastikan, matanya membelalak kaget.

"Benar. Entah mengapa peliharaku yang satu itu tiba-tiba melesat pergi begitu saja," ucap Neptunus, rahangnya mengetat samar. "Dia menolak mendengarkan perintahku. Aku sempat melacak pergerakannya dan melihat jika dia berenang menuju ke sini... masuk ke wilayah kekuasaanmu."

"Kami sendiri tidak sempat melihat makhluk itu, Tuan Neptunus. Yang pasti, tempat eksekusi ini sudah hancur berantakan saat kami tiba di sini. Mungkin... hanya Kaelen yang tahu kejadian sebenarnya," ucap Roland seraya melirik cucunya yang masih bersimbah darah akibat hukuman cambuk tadi.

"Oh, begitu rupanya." Neptunus memutar posisi kereta Hippocampus-nya, menoleh tajam ke arah Kaelen. "Hei, bocah merman. Beritahu aku di mana peliharaku berada sekarang. Kau tahu ke mana perginya?"

"Makhluk itu pergi ke arah sana... melesat naik ke permukaan daratan bersama seseorang yang tampaknya bisa mengendalikannya," jawab Kaelen parau, menunjuk celah palung yang runtuh dengan ujung tombaknya.

"Mengendalikan?!" Kalimat Kaelen sukses membuat Neptunus tersentak. Rasa bingung dan riak panik mendadak menghiasi wajah tuanya yang perkasa. "Siapa? Apa ada Poseidon lain yang berani menginjakkan kaki di lautan ini tanpa izinku?!"

Neptunus mencengkeram erat trisula emasnya hingga air di sekeliling mereka berdesir tajam. Seingatnya, di sepanjang lautan Benua Tyrelean ini, hanya ada satu penguasa samudra, yaitu dirinya sendiri. Dan yang memiliki kapabilitas untuk mengendalikan serta merawat Aspidochelone hanyalah keturunan dewa laut.

Makhluk purba itu sudah punah dari sejarah dunia fana; hanya tersisa tiga ekor di dunia ini, dan ketiganya adalah peliharaan pribadi miliknya yang dirawat secara sakral.

"Bukan Poseidon. Dia hanya seorang gadis manusia yang mendadak berubah wujud," ucap Kaelen parau.

Sontak, semua orang yang berada di reruntuhan altar itu tertegun dalam keheningan yang mencekam.

"Gadis manusia bagaimana?! Kau sedang mengarang cerita atau sengaja ingin membohongiku, bocah?!" tuntut Neptunus, kilatan amarah mulai menari-nari di ujung trisula emasnya.

"Kaelen... jangan bilang gadis manusia yang kau maksud adalah gadis yang baru saja kita bahas?" tanya Helios dengan raut wajah yang mendadak pias.

"Iya, benar sekali. Dia orangnya, Ayah," jawab Kaelen seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat.

****

Sementara itu, jauh di atas permukaan samudera, ombak malam mengempas lembut ke pesisir pantai. Evelyn tampak tergeletak tak berdaya di atas hamparan pasir yang basah.

Malam kian larut, dan seiring berjalannya waktu, pendar cahaya keemasan di kulitnya menguap sepenuhnya. Tubuhnya telah kembali menjadi sosok manusia biasa, lengkap dengan rambut hitam sebahunya. Tidak ada lagi kekuatan magis masif yang melingkupinya seperti beberapa saat lalu.

Saat kelopak matanya mengerjap perlahan, Evelyn tersentak hebat. Ia langsung terduduk dan mengedarkan pandangan ke sekeliling area pantai yang sepi, gelap, dan berkabut.

"Hah? Kenapa... kenapa aku bisa ada di sini?" bisik Evelyn kebingungan.

Napasnya memburu. Kepalanya mendadak berdenyut nyeri yang teramat sangat—efek penyakit glioblastoma-nya yang kembali bergejolak merusak tubuh manusianya.

Anehnya, Evelyn sama sekali tidak mengingat kejadian luar biasa yang baru saja menimpanya bersama monster Aspidochelone. Ingatan terakhir yang tersisa di otaknya hanyalah momen mengerikan saat ia disiksa dan dipasung di atas altar oleh Kaelen.

Dengan tangan gemetar, Evelyn meraba-raba kedua pundaknya yang tadi terkena tusukan brutal mata tombak. Ia menyingkap paksa sweter pink-nya demi memeriksa luka mengerikan tersebut.

"Hilang..."

_____________________________

Kalau kalian suka sama ceritanya jangan lupa like, komen, support dan kirim hadiah buat author ya!

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!