Bertahun-tahun telah berlalu, namun Esther masih saja tidak bisa melupakan sosok Lian, meskipun ia sudah berkali-kali mencoba dengan menjalin hubungan dengan pria lain.
Semua hubungan itu berjalan baik. Bahkan terlalu baik.
Pria-pria green flag yang diinginkan banyak wanita… semuanya pernah singgah dalam hidup Esther.
Tapi tetap saja, tidak ada yang cukup.
Hingga suatu malam di sebuah bar, sebuah kejadian membuatnya terjebak dalam perasaan dilema yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Moan my name."
"Kak... ahhh—"
Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaruArun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 MENGINAP
Langit Monako yang sejak siang diselimuti awan kelabu akhirnya benar-benar menumpahkan seluruh isinya.
Hujan turun deras membasahi jalanan kota. Butiran air menghantam kaca-kaca gedung, atap rumah, dan trotoar dengan suara berisik yang saling bersahutan. Sesekali kilatan petir membelah langit, disusul gemuruh samar yang terdengar dari kejauhan.
Meski cuaca buruk melanda hampir seluruh kota, aktivitas tetap berjalan seperti biasa.
Begitu pula di kediaman keluarga Alder.
Pria paruh baya yang bekerja sebagai security berlari kecil menerobos hujan dengan tubuh yang dibalut jas hujan tebal. Sepatunya memercikkan genangan air saat ia menghampiri gerbang utama setelah mendengar bunyi klakson dari luar.
Gerbang besi perlahan terbuka.
Sorot lampu mobil membelah tirai hujan, bergerak perlahan memasuki halaman luas rumah keluarga Alder sebelum akhirnya berhenti di area garasi.
Pintu mobil terbuka.
Lian keluar dengan langkah tenang.
Jas hitam yang membalut tubuhnya masih tampak rapi meski bagian bahunya sedikit basah terkena percikan hujan. Dasi yang melingkar di lehernya tetap terpasang sempurna, sementara rambut hitamnya terlihat sedikit lembap.
Ia berjalan menaiki anak tangga teras dan mendorong pintu rumah.
Belum sempat ia masuk sepenuhnya, suara riang seorang anak kecil langsung menyambutnya.
"Tangkap Al, paman, Tangkap."
Lian langsung berjongkok. Kedua tangannya terentang menyambut Arthur hingga tubuh kecil itu menabrak dadanya.
Arthur tertawa keras begitu ia masuk ke dalam pelukan Lian, tangan kecilnya segera melingkari leher Lian sambil bersandar manja di dada pria itu.
Lian tersenyum tipis lalu mengangkat tubuh bocah itu dengan mudahnya. Bibirnya mengecup singkat pipi Arthur.
Margaret yang duduk di ruang tamu terkekeh melihat tingkah cucunya.
"Paman Lian baru pulang, biarkan dia istirahat dulu, Arthur." ucap Margaret hendak menggendong Arthur dari pangkuan Lian. "Kau bermain bersama grandma dulu disini, ya."
Arthur menggeleng cepat hingga membentur dagu Lian tanpa sengaja. Tangannya semakin erat melingkari leher Pamannya. "Tidak Mau! Al mau bermain dengan paman Lian."
"Arthur..." Margaret masih berusaha membujuk cucunya itu.
"Tidak apa, Ma," ucap Lian pelan. "Lian juga tidak begitu lelah."
Arthur yang merasa di bela refleks menjulurkan lidahnya. Mengejek neneknya.
Margaret yang melihat tingkah Arthur hanya menggeleng gemas. Tangannya terangkat mencubit pelan pipinya yang bulat. "Dasar, kau ini."
Kini pandangannya teralih pada menantunya. "Kalau begitu Lian kau istirahat di kamar, Esther juga sejak tadi tidak keluar. Mungkin dia tertidur."
"Iya, Ma." ucap Lian seraya berjalan sambil menggendong Arthur. Rasanya begitu canggung memanggil bibi Margaret dengan sebutan Mama. Tapi mau bagaimana lagi, kini wanita itu bukan hanya ibu dari sahabatnya, tapi juga ibu dari istrinya. Alias mertuanya.
Lian melangkahkan kakinya menaiki satu per satu anak tangga. Untuk pertama kalinya, matanya mengamati setiap sudut rumah keluarga Alder bukan sebagai sahabat Arash, melainkan sebagai menantu keluarga itu.
Pandangannya berkelana ke berbagai sudut yang terasa begitu akrab sekaligus asing. Dulu, setiap kali datang ke rumah ini, tujuannya hanya satu—kamar Arash. Mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam bermain komputer, mengerjakan tugas, atau sekadar mengobrol hingga larut malam.
Rasanya seperti baru kemarin semua itu terjadi.
Padahal, kenyataannya sudah bertahun-tahun berlalu.
Terakhir kali Lian menginjakkan kaki di rumah itu adalah saat dirinya dan Arash masih duduk di bangku SMA, tepat sebelum ia berangkat ke Singapura untuk melanjutkan pendidikan. Setelah itu, hidup membawa mereka ke jalan masing-masing hingga tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat.
Kini ia kembali berdiri di rumah yang sama, melewati lorong dan tangga yang dulu ia lalui. Hanya saja, statusnya sudah berbeda. Ia bukan lagi remaja yang datang menemui sahabatnya, melainkan seorang pria yang datang sebagai suami dari putri keluarga Alder.
"Bibi Ele tiba-tiba muntah tadi," ucap Arthur tiba-tiba. Mata menatap Lian dengan raut wajah serius seolah ia tengah melaporkan hal aneh yang terjadi papa bibinya.
"Muntah?"
Arthur mengangguk membenarkan "Katanya bibi sakit."
Lian tak bertanya lebih banyak. Ia sudah tahu alasan sebenarnya kenapa wanita itu muntah.
"Arthur..." panggilnya pelan.
"Hm?"
"Yang mana kamar bibi Ele?" tanyanya saat melihat dua pintu saling berhadapan.
Arthur memandangnya seolah baru saja mendengar pertanyaan paling aneh di dunia.
"Ish.. paman ini bagaimana," katanya dengan asli bertautan. "Kamar bibi Ele saja tidak tahu."
Bocah itu menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi dewasa yang mengundang tawa. Lalu ia menunjuk salah satu pintu. "Itu kamar bibi Ele, paman."
Lian tersenyum tipis. "Terima kasih."
Ia mendorong pintu yang di tunjuk Arthur perlahan. Ruangan bernuansa lembut langsung menyambutnya.
Untuk sesaat fokus Lian langsung terarah pada barang-barang Esther.
Dinding berwarna pastel, boneka berbagai ukuran yang memenuhi rak, foto-foto keluarga, serta tumpukan buku yang tersusun rapi membuat ruangan itu terasa sangat berbeda dari apartemennya yang dingin dan minim dekorasi.
Ruangan itu benar-benar menggambarkan Esther.
Hangat.
Lembut.
Dan sedikit berantakan.
Namun perhatian Lian segera teralihkan.
Dari arah kamar mandi terdengar suara muntah yang membuat dahinya berkerut.
Ia segera melangkah ke sana.
"Uwek..."
Suara itu terdengar lagi.
Begitu sampai di depan pintu kamar mandi, Lian melihat Esther tengah terduduk lemah di depan kloset.
Tubuhnya membungkuk.
Bahu kecilnya naik turun setiap kali gelombang mual menyerang.
Rambut cokelat panjangnya jatuh berantakan menutupi sebagian wajahnya.
"Esther."
Lian berjongkok di sampingnya.
Tangannya bergerak refleks meraih rambut Esther dan menyingkirkannya ke belakang agar tidak terkena muntahan.
"Uhuk... uhuk..."
Esther tersedak napasnya sendiri.
Wajahnya memerah.
Matanya berkaca-kaca.
Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus dibanding beberapa minggu lalu.
"Kak Lian..." suara Esther terdengar serak dan lemah.
"Paman... " Arthur berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan wajah khawatir. "Bibi kenapa?"
"Bibi tidak apa-apa, Arthur." jawab Esther pelan sambil memaksakan senyuman.
Namun bahkan Arthur yang masih kecil pun bisa melihat bahwa wanita itu jelas tidak baik-baik saja.
Esther mencoba bangkit meskipun ia tahu tenaganya habis untuk mengeluarkan semua isi perutnya.
"Kemarilah, biar aku bantu." Lian meraih kedua tangan Esther untuk berdiri. "Pelan-pelan."
Jemari Esther otomatis mencengkram saat tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Untuk sesaat waktu berjalan begitu lambat.
Esther mendongak.
Mata sayunya menatap Lian cukup lama, cengkraman tangannya mengerat pasa lengan pria itu hingga jasnya mengerut. Jarak mereka begitu dekat setelah satu tangan Lian berpindah ke punggungnya, menopang tubuhnya agar tidak jatuh.
Seketika Esther bisa mencium aroma parfum Lian yang anehnya justru membuat rasa mualnya yang sejak tadi tertahan di tenggorokan sedikit membaik.
Deg.
Detak jantung Esther berpacu lebih cepat. Sementara Lian tidak menyadari bahwa istrinya tengah menatapnya cukup lama.
"Ayo, keluar."
Esther mengangguk.
Mereka keluar dari kamar mandi perlahan.
Lian memapah Esther hingga wanita itu duduk di tepi kasur. Ia mengambil botol yang ada di atas nakas. Namun botol itu terlalu ringan untuk ukuran. Lian membuka tutupnya dan ternyata isinya kosong.
Tanpa mengatakan apapun Lian membalik tubuhnya keluar dari kamar untuk mengisi kembali botol itu.
Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka. Lian muncul dengan botol yang berbeda lalu memberikannya pada Esther.
"Minum dulu."
Esther mengambil air itu, menyedotnya sambil melirik Lian yang membungkuk membantunya memegangi botol itu.
Lian baru saja hendak melangkah, menyimpan botol itu kembali ke atas nakas, namun tangan Esther menahannya.
"Ayo, pulang kak." lirih Esther pelan.
"Sekarang?"
Esther mengangguk. Ia tidak mau tinggal lebih lama di rumahnya dengan kondisi seperti itu. Bisa-bisa orang tuanya memanggil dokter untuk memeriksanya dan... Rahasia yang ia sembunyikan rapat-rapat akan terbongkar.
"Baiklah," Lian menoleh pada Arthur yang berdiri di sudut kasur. "Arthur mau ikut paman dan bibi pulang atau disini bersama grandma?"
Arthur berjalan mendekati kaki Lian lalu dengan raut wajah mengemaskan suara itu keluar.
"Ikut."
Esther menghela napasnya. Ia mengambil lipstik dari tasnya, mengolesnya pelan di bibirnya untuk menutupi pucat di wajahnya. Sekali lagi Esther menghembuskan napasnya berat, mencoba bersikap biasa saja supaya kedua orang tuanya tidak curiga dan bertanya.
Mereka akhirnya turun ke lantai bawah.
Namun langkah Esther terlihat jauh lebih lambat. Langkah kakinya gemetar saat menuruni satu persatu anak tangga hingga ia harus berpegangan pada pegangan tangga. Untungnya Esther hanya lemas karena tenaganya habis setelah mual-mual. Tidak ada pusing ataupun rasa sakit lain di tubuhnya.
Esther berjalan di depan diikuti Lian sambil menggendong Arthur di belakangnya.
"Kalian mau kemana?" tanya Margaret yang tengah duduk di ruang tamu bersama Agam suaminya. Ia lantas bangkit dan menghampiri ketiganya.
"Kami mau pulang, Ma," jawab Lian sambil tersenyum.
"Pulang?" Margaret langsung menggeleng. "Di luar hujan masih lebat, sebentar lagi juga malam. Apa tidak sebaiknya kalian menginap saja disini?"
"Mama kalian benar, tidak salah kalian menginap disini malam ini." sahut Agam.
Margaret menatap Esther sekilas lalu kembali menatap Lian.
"Tapi Lian tidak membawa pakaian ganti, Ma," jawab Lian mencoba mencari alasan lain untuk menolak keinginan mertuanya itu supaya mereka menginap disana. Lagipula Esther sudah memberi kode dengan tangannya yang menarik ujung jasnya.
"Itu bukan masalah, kau bisa gunakan baju Arash." katanya, "Nanti mama ambilkan dari kamarnya."
Margaret langsung berjalan menuju lantai atas tanpa memberi kesempatan menolak.
Lian hanya bisa menghela napas. Sementara Esther diam di sampingnya.
"Buru-buru sekali kalian, memangnya kenapa jika menginap disini? Takut di ganggu?" seru Agam sambil terkekeh. Ia meletakan cangkir kopinya kembali ke atas meja lalu menoleh pada mereka. "Arthur... kemarilah, bermain dengan grandpa. Biarkan bibi dan paman istirahat duluan."
Arthur menggeliat di pangkuan Lian. Ia menurunkan Arthur dengan hati-hati dan dengan cepat anak kecil itu berlari menghampiri mertuanya. Duduk di sampingnya setelah meraih cangkir berisi kopi milik Agam.
"Papa, kalau begitu kami pamit ke kamar dulu."
"Iya sana, beristirahat lah yang tenang, tidak ada yang akan menggangu kalian." katanya sambil tersenyum penuh maksud.
Lian dan Esther membalik tubuhnya kembali menuju tangga.
"Kak.."
"Hm?"
"Kakiku lemas sekali." keluh Esther. Namun ia tetap memaksakan kakinya menaiki anak tangga hingga Agam tidak bisa melihat mereka.
"Kau masih kuat naik?"
"Masih."
"Pelan-pelan."
Mereka kembali menaiki tangga.
Esther berjalan lebih dulu. Lalu tiba-tiba langkahnya goyah.
Refleks ia berbalik dan meraih bagian depan jas Lian agar tidak jatuh. Tubuh mereka otomatis menjadi sangat dekat.
Terlalu dekat.
Kepala Esther hampir menempel di dada Lian. Sementara tangan Lian refleks menahan pinggangnya.
"Lian," suara Margaret yang turun dari lantai atas.
Esther terlonjak.
Karena panik, ia justru makin mendekat ke arah Lian. Wajahnya langsung tersembunyi di balik dada pria itu. Persis seperti seseorang yang baru saja ketahuan melakukan sesuatu.
Lian membeku.
Margaret juga ikut terdiam sesaat melihat pemandangan di hadapannya yang memang sangat mencurigakan.
Dua pengantin baru. Berdiri sangat dekat di tangga.
Esther menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Takut Mamanya melihat wajahnya yang pucat.
Sementara Lian memegang pinggang wanita itu.
"Iya, Ma?" tanya Lian berusaha terlihat normal. Namun tatapan mertuanya justru membuatnya gugup hingga ia tanpa sadar menjilat bibirnya sendiri
Margaret langsung menahan senyumnya. "Oh... "
Nada suaranya terdengar penuh arti.
"Mama tidak tahu ini muat atau tidak karena ia baju lama Arash," jelasnya seraya menyerahkan satu set pakaian santai warna abu-abu.
"Terima kasih, Ma." Lian menerimanya tanpa berpindah tempat.
Margaret mengangguk pelan. Lalu matanya bergantian menatap Lian dan Esther. Senyum jahil perlahan muncul di wajahnya.
"Dasar pengantin baru." kata Margaret seraya melewati mereka begitu saja.
"Mama bilang apa, kak?"
Lian memejamkan mata sesaat.
Ia tahu persis apa yang dipikirkan mertuanya.
Dan menjelaskannya hanya akan membuat keadaan semakin memalukan.
"Lupakan saja."
Ia berdeham pelan lalu mulai melangkah lagi.
"Kita masuk ke kamar sebelum ada orang lain yang salah paham juga."