"Gue sudah menepati janji untuk nikahin lo, dan lo juga harus menepati janji untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang kita di sekolah. paham!" ucap pria bernama Arga
Argantara antariksa Grahana namanya. sosok paling tampan dan populer di SMA Cakrawala. karna insiden malam itu membuat Arga harus menikahi teman kelasnya yang bernama Freya Dinata Frankie, biasa di panggil dengan sebutan Reya. anak keempat dari tuan Pramandika Frankie.
Akankah Freya bisa meluluhkan hati pria itu? ikuti yok
Slow up
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petir
Suara petir kembali menyambar, kali ini begitu keras hingga getarannya terasa di lantai bawah kaki Arga. Di balik pintu kayu itu, tangis Freya pecah menjadi raungan kecil yang menyayat hati.
"Daddy... mommy... takut... Rea takut..." rintih Freya di sela isakannya. Suaranya terdengar seperti anak kecil yang kehilangan arah, sangat kontras dengan sosok tegar yang tadi siang mencoba bertahan di sekolah.
Arga yang masih bersandar di pintu merasakan dadanya berdenyut aneh. Ia tidak tau bahwa sejak kecil, Freya memang memiliki trauma pada suara petir yang besar, sebuah hal yang tak di ketahuinya karena tertutup oleh kabut kebencian.
Tanpa sadar, tangan Arga kembali memutar kenop pintu. Ia masuk dan melihat Freya masih terduduk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya erat dengan tubuh yang bergetar hebat setiap kali kilatan cahaya masuk melalui celah tirai.
"Hanya petir, Freya. Berhentilah menangis, cengeng," ucap Arga. Namun, tidak ada jawaban dari Freya, di sana, hanya suara Isak tangis yang hampa.
Freya justru semakin menenggelamkan wajahnya. “Daddy... maafkan Freya, tolong jemput Freya, Rea takut sendirian…”ucapnya dengan suara parau
Mendengar Freya memanggil orang tuanya, Arga teringat bahwa dialah alasan mengapa Freya tidak bisa "pulang" ke rumahnya sendiri. Dialah alasan mengapa Freya harus terjebak di rumah ini, menghadapi kebenciannya setiap hari.
Arga mendekat, lalu duduk di tepi kasur dengan jarak yang masih cukup jauh. Ia melihat bahu Freya yang naik turun dengan tidak beraturan.
“kamu disini karna melanggar aturan Freya, bagimana bisa berharap Daddy akan membawamu pulang sebelum 5 tahun berlalu,” ujar Arga dingin, namun ia tetap diam di sana. Dia tidak pergi.
Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya yang sangat terang menyambar, disusul dentuman petir yang seolah membelah langit. Freya berteriak kecil dan secara spontan melemparkan tubuhnya ke arah Arga, memeluk kaus pria itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada Arga.
Arga tersentak. Tubuhnya menegang, Bau sampo stroberi milik Freya yang biasanya ia ejek sebagai "bau yang memuakkan" kini menyeruak masuk ke indra penciumannya. Ia bisa merasakan degup jantung Freya yang berpacu sangat cepat dan perut gadis itu yang menyentuh lengannya.
"Lepaskan," desis Arga, meski dia tidak mendorongnya.
"Sebentar saja... tolong... aku takut," bisik Freya dengan suara serak yang nyaris habis.
Arga membuang muka ke arah jendela. Tangannya yang bebas mengepal di atas kasur, bertarung hebat dengan egonya. Logikanya menyuruhnya untuk mendorong Freya dan pergi, tapi hati nuraninya yang selama ini ia kubur dalam-dalam merasa iba melihat gadis yang sudah berstatus sebagai istrinya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara hujan dan napas Freya yang mulai stabil. Perlahan-lahan, genggaman tangan Freya di kaus Arga melonggar. Gadis itu tertidur karena kelelahan secara emosional, masih dalam posisi menyandar pada Arga.
Arga menunduk, menatap wajah Freya yang berantakan karena air mata. Untuk pertama kalinya, ia melihat Freya bukan sebagai pengganggu atau kesalahan, melainkan sebagai korban yang sama-sama disebutkan.
"Kenapa harus sesulit ini, Re?" bisik Arga sangat pelan, hampir tak terdengar oleh suara hujan.
Ia perlahan membaringkan tubuh Freya ke bantal dan menyelimutinya hingga sebatas dada. Saat tangannya tanpa sengaja menyentuh kulit gadis Freya, ia menyadari satu hal, tubuh itu sangat panas. Freya demam.
Arga tertegun saat telapak tangannya menyentuh kening Freya. Panasnya tidak main-main, seolah-olah membakar telapak tangan Arga. Wajah Freya yang semula pucat kini berubah kemerahan, dengan napas yang terdengar berat dan pendek-pendek.
"Benarkah? Freya!" Arga memukul bahu gadis itu pelan, namun Freya hanya mengerang lemah tanpa membuka mata. Bibirnya yang kering terus menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.
Kepanikan mulai menetap di dada Arga. Selama ini ia hanya tahu cara marah dan menghina, ia tidak tahu bagaimana cara merawat orang sakit, apalagi seorang wanita hamil yang sedang demam tinggi.
“Sial,” umpat Arga kecewa. Ia segera berlari ke dapur, mencari kotak obat. Tangannya mengaduk-aduk isi kotak itu dengan kasar, namun ia terhenti saat melihat botol parasetamol.
Tunggu, dia sedang hamil. Bolehkah dia minum obat ini? pikir Arga kalut. Ia teringat peringatan dari sang mama tempo hari tentang kondisi Freya yang rentan.
Tanpa pikir panjang, Arga berlari kembali ke atas membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil. Ia duduk di pinggir kasur, meremas handuk itu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu menempelkannya ke dahi Freya.
"Jangan mati di sini, Freya. Jangan buat aku semakin merasa bersalah," bisiknya dengan nada yang campur aduk.
Sepanjang malam, Arga tidak kembali ke kamarnya. Ia duduk di kursi sebelah ranjang, terus menerus mengganti kompresan Freya setiap kali handuk itu mulai mengering. Saat Freya mengigau kedinginan, Arga yang biasanya enggan menyentuh, kini justru menarik selimut lebih tinggi dan dengan ragu-ragu mengusap lengan Freya agar gadis itu merasa tenang.
Pukul tiga pagi, suhu tubuh Freya belum juga turun. Freya mulai meracau hebat, tangannya bergerak gelisah seolah mencari pegangan.
"Sakit... perutku sakit..." rintih Freya pelan.
Jantung Arga serasa berhenti berdetak. Ia langsung mencondongkan tubuhnya. "Mana yang sakit? Bagian mana, Re?" tanyanya panik.
Tanpa sadar, Arga mengarahkan tangannya ke perut Freya yang tertutup selimut. Ia mengusapnya dengan gerakan kaku, mencoba memberikan kehangatan yang selama ini tidak pernah ia berikan. "Sabar...jangan sakit sekarang. Maaf...maafkan aku," kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Arga, sebuah kata yang selama ini ia kunci rapat di balik egonya.
Arga mengambil ponselnya, hendak menelpon Danu karena hanya pria itu yang dia tahu peduli pada Freya saat ini, namun dia mengurungkannya. Harga dirinya masih terlalu tinggi untuk mengakui pada Danu bahwa ia tidak bisa menjaga istrinya sendiri.
Akhirnya, ia memilih menghubungi dokter keluarga mereka secara pribadi melalui pesan singkat, menanyakan apa yang harus dilakukan untuk ibu hamil yang demam.
Sambil menunggu balasan, Arga terus terjaga. Ia menyeka keringat dingin di leher Freya dengan lembut. Melihat Freya yang begitu rapuh di bawah sorot lampu tidur, Arga mulai menyadari bahwa kebenciannya selama ini tidak membuat perasaannya menjadi lebih baik. Justru, melihat Freya tersiksa seperti ini, ada bagian dari dirinya yang ikut tersayat.
Menjelang subuh, tubuh panas Freya mulai sedikit menurun. Freya bergerak pelan, matanya sedikit terbuka, memperlihatkan sosok Arga yang masih setia duduk di sampingnya dengan mata yang merah karena tidak tidur.
"Arga...?" suara Freya hampir hilang.
Arga yang sedang memeras handuk langsung menoleh. Ekspresinya yang sempat membeku seketika berubah kaku kembali, berusaha menutupi ketakutannya tadi.
"Jangan banyak bicara. Minum ini dulu," ucap Arga dengan nada datar yang dipaksakan, sambil menyodorkan gelas air putih dan membantu duduk dengan tangan yang, meskipun kasar, sebenarnya sangat berhati-hati menjaga punggung Freya.
freya punya keluarga baru setelah sah jadi istri arga