Blurb :
ARJUNA, seorang advokat/pengacara/lawyer yang profesional di bidangnya. Namun, karena pesonanya itu, dia kerap didatangi para wanita-wanita cantik hingga gelar 'Play Boy' pun melekat pada dirinya. Ada alasan tersendiri kenapa rumor yang kurang enak disandang itu menyebar begitu saja.
Persidangan telah mempertemukan Arjuna dengan jaksa muda bernama SHADRINA ARIMBIE. Intrik mewarnai kisah cinta mereka hingga terungkap jati diri Arjuna yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biro jodoh
“Benarkah ...? Secepat itu Mas Adrian berubah pikiran?” Arimbie menunjukkan senyumnya pada Adrian yang tengah memohon-mohon di depan orang tuanya. “Gak bisa aku, Mas. Hidup dengan orang yang tidak jelas pendiriannya. Maaf!”
Adrian menarik tangan Arimbie dan membawanya keluar dengan paksa.
“Ikut aku, kita bicara di luar!”
“Lepasin, Mas. Kamu tidak berhak melakukan ini padaku.”
“Kenapa memangnya? Apa karena sudah ada pengacara yang sok manis itu?” hardik Adrian sambil melepas tangan Arimbie.
“Mas ...!” Arimbie tak habis pikir dengan mantan tunangannya itu. “Baik. Sekarang katakan apa maumu, Mas. Karena aku harus segera pulang.”
“Beri aku satu kesempatan lagi. Aku janji akan memperbaiki hubungan kita kedepannya. Setidaknya demi orang tua dan hubungan baik keluarga kita.”
“Hhh ... kamu itu lucu, Mas. Setelah seperti ini, kamu baru ingat dengan perasaan orang tua. Apa kamu pernah berpikir tentang perasaanku juga? Hmm ...?”
“Maaf, aku memang salah, Bie.”
Arimbie tetap memperlihatkan senyumnya pada Adrian. “Beberapa jam yang lalu, kamu kirim pesan WhatsApp dan menyuruhku untuk segera memperjelas hubungan ini pada orang tua kita, karena kamu muak jika mereka terus memaksa kita untuk segera menikah.”
Ia menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya. “Kamu pasti tidak tahu bagaimana aku mempersiapkan hatiku demi memenuhi keinginanmu itu, kan, Mas? Dan sekarang tiba-tiba kamu bilang tidak ingin membatalkan pernikahan. Aku semakin yakin bahwa aku tidak akan bisa hidup dengan pria yang labil sepertimu.”
“Maaf ....” Hanya kata maaf dan maaf yang Adrian ucapkan sambil meraih kedua tangan Arimbie.
“Lepas tangan aku, Mas. Mulai sekarang kita break. Kita gunakan waktu untuk saling introspeksi diri.”
Tiba-tiba Arjuna datang karena sudah terlalu lama menyimak pembicaraan. “Arimbie minta Anda untuk melepaskan tangannya, apa Anda tidak mengerti?” tanya Arjuna sambil menatap Adrian. “Masuklah, Bie! Di luar sangat dingin. Aku pulang dulu.” Arjuna memakaikan jasnya pada Arimbie karena udara malam sangat tidak bersahabat.
“Aku ikut! Tunggu sebentar aku pamit dulu.” Arimbie bergegas masuk untuk menemui keluarganya. Namun, ternyata mereka sudah berdiri di teras. Rasa penasaran telah membuat mereka mengikuti dan menyaksikan apa yang baru saja terjadi.
Arimbie meminta maaf dan menyesal karena harus mempertontonkan drama yang tidak menyenangkan ini. Mau tak mau semua harus mengerti kenapa Arimbie memutuskan pertunangan yang sudah cukup lama terjalin.
“Bie ...!” lirih sang ibu memanggilnya.
“Iya, Bunda. Maaf, Arimbie harus pulang untuk beristirahat. Besok kita bicara lagi,” ucapnya, lalu menyusul Arjuna yang sudah duduk di belakang kemudi.
Perjalanan yang sangat lama dan hening. Mereka hanya diam tanpa kata.
“Kamu ... baik-baik saja, Bie?” tanya Arjuna.
“Setidaknya, aku harus terlihat baik-baik saja di depan orang tuaku, bukan?”
“Lantas, bagaimana dengan perasaanmu saat ini?”
“Aku tidak tahu,” jawab Arimbie datar.
“Melihatmu secara resmi lepas dari Adrian, aku merasa lega.”
“Anda senang melihat saya patah hati?” tanya Arimbie sambil mendelik.
“Aku akan menjadi obat patah hatimu aku juga siap menjadi dokter cinta untukmu.”
Arimbie memukul lengan Arjuna dengan tasnya. “Dalam keadaan seperti ini saya benar-benar tidak ingin mendengar rayuanmu.”
“Aku tidak sedang merayu. Aku sedang memintamu untuk membuka hati untukku.”
“Aku tidak bisa merasakan apa-apa karena aku sedang mati rasa. Tidak ada cinta dan simpati untuk pria mana pun. Terlebih untuk laki-laki tidak yang tidak pernah setia pada satu wanita—seperti Anda.”
“Percaya gak percaya, aku adalah orang yang setia. Dan aku hanya setia pada cinta pertamaku.”
“Lalu, kenapa kau selalu mengejarku? Kejar saja cinta pertamamu!”
“Karena kamu adalah Arimbie, orang yang selalu aku cari.” Bibir Arjuna tersenyum saat mengatakan hal itu lalu ia menghentikan mobilnya. “Kamu mau bukti?” Arjuna mendekat dan menyibak rambut yang menutupi leher Arimbie.
Dengan cepat Arimbie menangkis lalu menepiskan tangan Arjuna. “Jangan kurang ajar padaku!” ucapnya lalu keluar dari mobil dan berlari ke rumahnya.
“Kamu pikir, aku ingin memangsamu? Hhh ...,” gumam Arjuna sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku sudah menduga, otak mesumnya akan bangkit kapan saja. Ternyata semua laki-laki tidak bisa dipercaya,” batin Arimbie sambil mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.
Setelah selesai membersihkan diri, dia lihat ada beberapa panggilan tak terjawab di ponselnya.
“Bunda pasti sedang mengkhawatirkan ku,” gumam Arimbie sambil menekan nomor yang muncul di layar.
“Hallo Bunda. Maaf, Arimbie baru selesai dari kamar mandi.”
“Kamu belum tidur, sayang?” tanya sang ibu yang ingin memastikan keadaan anaknya setelah apa yang terjadi. “Kamu ... baik-baik saja, 'kan, Bie? Apa perlu Bunda menemanimu tidur malam ini?”
“Arimbie baik-baik saja, Bunda. Jangan khawatir.” Dia mengerti bahwa sang ibu tengah mengkhawatirkannya saat ini. “Arimbie sudah tahu sejak lama jika Mas Adrian tidak pernah tulus mencintai. Jadi, tidak terlalu berat untuk belajar melupakannya,” tutur Arimbie untuk menenangkan hati ibunya.
“Baiklah kalau begitu. Tetaplah berprasangka baik, karena kebahagiaan lain tengah menantimu, sayang.”
“Makasih Bundaku, sayang. Tolong sampaikan permintaan maaf untuk mama Lisa, karena Arimbie tidak bisa memenuhi harapannya.”
“Baik, bunda akan sampaikan. Tidurlah yang nyenyak malam ini. Satu lagi, bunda titip salam buat Arjuna, sampaikan terima kasih padanya.”
“Arjuna?”
“Iya, terima kasih karena dia sudah datang. Bunda lihat dia anak yang baik. Dan yang paling penting, dia juga baik sama kamu.”
“Ya, ampun, ternyata pesona Arjuna bisa menembus hati emak-emak juga?” batin Arimbie sambil menggelengkan kepala.
...***...
Udara dingin di pagi hari tidak menghalangi Arimbie untuk bangun lebih awal. Setelah mandi dan sedikit merias diri, ia membuka sebuah aplikasi di ponselnya. Setelah menunggu beberapa saat, ponsel pun berbunyi
“Hallo, Mbak. Saya sudah di bawah.” suara dari seorang supir ojeg online yang baru saja di pesannya. Kali ini dia tak mau lagi menerima tumpangan dari Arjuna.
“Maaf, Mas. Lama nunggu, ya,” ucap Arimbie pada supir ojeg sambil mengenakan helmnya.
Arjuna yang sudah menunggu sedari tadi, segera melongokkan kepalanya setelah menurunkan kaca jendela mobil.
“Bie! Aku menunggumu dari tadi. Kenapa harus naik ojeg, sih?” seru Arjuna.
“Ayo, Mas, berangkat.” Arimbie bahkan tidak menggubris panggilan Arjuna yang menunggunya.
“Ya, ampun. Berapa lama cowok keren seperti aku harus dikacangin terus. Sabar ... sabar,” celotehnya sambil turun lagi dari mobil. Tanpa ia sadari sudah ada dua orang yang menahan tawa karena menyaksikan kemalangannya.
“Heyy, sejak kapan kalian berdiri di situ? Bubar, bubar ....”
“Hahaha ... belum keren namanya kalau belum ngerasain di tolak cewek,” ucap Ghibran yang tengah berpura-pura sibuk olah raga.
“Dinda ...!” panggilnya pada Dinda yang juga berdiri di sana.
“Pulang dari Solo, kita ke Jogja ...
kalau Dinda jomlo, kabarin, ya.”
sindirnya sambil tertawa.
“Rumah joglo ada di Jogja ...
Dinda jomlo, Mas Ghibran mau apa?”
balas Dinda dengan suara lantang.
“Kemarin Selasa, sekarang Rabu ... besok lusa, kita ke penghulu.”
“Mau, Mas ... hahaha,” timpal Dinda sambil tertawa.
“Kalian berdua kenapa?” tanya Arjuna sambil berkacak pinggang. “Apa sudah terjadi sesuatu gara-gara semalam kalian pulang berdua?”
“Abang mau kita bantu, gak? Buat deketin Bu Arimbie? Aku sama Dinda punya seribu satu cara supaya kalian bisa pacaran, iya kan, Din?”
“Iya, dengan senang hati kita akan bantu sampai berhasil,” ucap Dinda sambil melangkah ke toko bunganya.
“Pacaran? Ish ... kaya ABG saja pacaran. Ogah,” ketus Arjuna seraya masuk ke dalam rumah.
“Yakin, Abang tidak perlu bantuan? Ini penawaran khusus, loh. Bang.” Ghibran mengikuti dari belakang, menawarkan bantuan. Namun, sedikit memaksa.
“Sejak kapan biro jodoh memaksa klien-nya supaya bersedia dijodohkan?”
“Hahaha ... ini kan salah satu strategi marketing, Bang. Promo namanya.”
...-o0o-...
...—BERSAMBUNG—...
Readers ... aku tunggu like, koment dan vote-nya. Terima kasih 😘🙏
hanya 🌹yg dapat mewakili perasaan ku saat membaca nya 🥰🥰🥰
🙏🙏🙏🙏🙏
ku simak terus ya Thor