Kelanjutan dari Gadis Mungil (I Love You)
Beralih dari kerumitan di masa lalu, setelah terpuruknya keluarga Agus, kini Mona harus menghadapi kehidupan baru. kehidupan setelah lulus SMA, bersiap untuk menikah dan apa yang akan di lakukan setelah menikah.
Mona dan Arga, masih saling mencintai dengan cara mereka masing-masing. pertengkaran, kenyolan seperti biasanya.
jika ada kesalahan nama tokoh maupun tempat, mohon di mengerti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Siap Dan Mau
Pagi ini, nampaknya hari paling bahagia untuk Santi. Setelah menyiapkan keperluan suami dan putra keduanya, Santi bergegas mencari Arga. Bukan mencari, tapi lebih tepatnya menunggu Arga turun ke lantai satu.
Selesai sarapan, Hutomo dan Radit langsung pamit untuk bergegas berangkat.
“Sepertinya kau sedang bahagia pagi ini?” sebelum pamit, Hutomo sempat mengamati wajah istrinya yang terlihat berseri-seri.
Santi hanya mengulum senyum, sebelum kemudian mencium punggung telapak tangan suaminya. “Nanti kau juga tahu.” Masih dengan senyum yang mencurigakan.
Hutomo menggerakkan kepala dengan alis terangkat. “Ya... terserah kau saja. Aku pamit.” Mencium kening istrinya.
“Aku juga berangkat, Bu.” Radit ikut berpamitan kemudian menyusul ayahnya yang sudah lebih dulu sampai di luar.
Setelah kedua orang tersayang itu pergi, Santi kembali duduk di ruang tamu sambil menikmati teh hangat yang tadi di buatkan oleh Minah. Sambil memangku majalah, dan melihat beberapa gambar dan tulisan di dalamnya, tak terasa kedua ujung bibir ranum itu tertarik mengembang membentuk senyuman.
Meskipun pandangan Santi tertuju pada lembaran majalah, sayangnya hati dan pikirannya sedang melayang-layang membayangkan hal yang paling di tunggu-tunggu selama ini.
“Baiklah, Bu. Aku mau.” Mona menjawab dengan anggukan mantap.
Mata Santi langsung membelalak. “Sungguh?!” kedua tangan Mona langsung di genggamnya dengan erat. Dan sekali lagi Mona mengangguk dengan di iringi senyuman manis, membuat Santi semakin girang.
Sungguh pembicaraan semalam, adalah momen di mana Santi bisa merasakan sekaligus membayangkan betapa indahnya sebuah pernikahan yang ternyata di peruntukkan untuk putranya sendiri. Dan tak lama kemudian yang di sebut putranya itu muncul, sudah dengan pakaian rapi, dan siap pergi ke kantor.
“Arga, duduk dulu kemari!” Dengan senyum sumringah dan mata berbinar, kelima jarinya melambai-lambai meminta Arga segera ikut duduk.
“Apa sih, Bu?” Arga mendengus. Terpaksa Arga ikut duduk.
Masih dengan tawa sumringah. “Kemari, kemari, ada hal penting yang ingin ibu bicarakan denganmu.”
“Apa?” jawab Arga malas.
“Sepertinya keinginanmu akan terwujud.” Santi unjuk gigi dengan senyum yang semakin melebar. Sambil menggenggam tangan Arga, Santi kembali berbicara. “Mona siap menikah.” Kedua alisnya naik turun dengan wajah yang begitu terlihat senang.
“Ibu serius?” Arga menatap wajah ibunya dalam-dalam. Arga hanya tak mau jika ini ternyata hanyalah gurauan.
Dengan mata membulat, Santi membalas tatapan Arga. “Tentu saja. Semalam ibu sudah berbicara dengan Mona.”
“Lalu, di mana Mona?” tanya Arga.
“Masih di kamar.”
Bred!!
Arga berdiri hingga tas kerja yang tergeletak di atas meja terjatuh karena terserempet lutut. Tak melanjutkan bicaranya lagi dengan Ibunya, Arga langsung berlari naik lagi ke lantai atas untuk menemui Mona.
Brak!!
Pintu di dorong begitu saja hingga membuat gadis yang sedang berganti pakaian langsung terjungkat kaget. Untung saja, hanya tinggal mengancing baku saja, jika masih telanjang, tamat sudah riwayat Mona.
“Kak Arga! Kenapa tidak mengetuk pintu dulu? Aku kan kaget,” dengus Mona sambil mengancing sisa kancing baju bagian bawah.
Tak mau membahas itu, Arga justru mendekat dan kemudian meraih kedua pundak Mona, membawanya duduk di tepi ranjang. Keduanya sudah berhadapan.
“Apa yang di katakan ibu benar?” tanya Arga. Mona mengerutkan dahi.
“Memangnya apa yang di katakan ibu?” Mona tak mengerti.
Arga berdecak, membuang muka sebentar lalu kembali menatap Mona. “Kalau kau siap menikah denganku?”
Refleks Mona langsung mengangguk. “Iya.”
“Sungguh?” Arga memastikan.
“Iya, kak Arga. Aku memang siap dan mau,” jawab Mona sambil nyengir.
“Eh!” pekik Mona ketika tubuh mungilnya di tarik dan di peluk erat oleh Arga.
“Kak Arga... jangan terlalu erat, aku tak bisa bernapas,” ujar Mona dengan suara tertahan.
“Maaf, maaf.” Arga melonggarkan pelukaannya. Dan kini pelukan yang sudah terlepas itu berubah menjadi sebuah kecupan bertubi-tubi di wajah Mona.
Dengan kedua tangan yang menangkup pipi Mona, Arga tak kunjung menghentikan aksinya itu hingga Mona terlihat gelagapan.
“Kak... Emmhh—, cukup. Aku—.” Mona tak bisa berkata lagi. Kecupan itu sudah membasahi seluruh wajahnya hingga berubah rona merah.
“Ayo ikut Aku!” aksinya itu sudah berhenti, dan kini Arga sudah berdiri sambil menarik lengan Mona.
“Kemana?” tanya Mona. Satu tangannya meraih selimut, lalu dengan cepat mengusap-usap ke wajahnya.
“Kau hari ini ikut aku ke kantor,” pinta Arga.
“Untuk Apa?” Mona bertanya lagi. Wajah imutnya kini sudah terlihat tak memerah lagi.
“Jangan banyak tanya, ayo ikut saja.” Arga mengangkat tubuh Mona yang masih duduk, hingga berubah posisi menjadi berdiri.
“Tunggu sebentar....” Mona berjalan ke arah meja rias. Satu tangannya meraih sisir, kemudian setelah rambutnya rapi, Mona membuat kuncir kuda dengan rambutnya.
“Sudah,” celetuk Mona sambil tersenyum menatap wajahnya dari pantulan cermin.
“Ayo!” Arga sudah terlihat tidak sabar.
Dengan hati yang sedang berbunga-bunga keduanya menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan. Tak lupa, senyumnya mengembang indah di wajah keduanya.
Di bawah, tepat di ruang tamu, keduanya bertemu dengan Santi yang ternyata sudah siap untuk pergi ke butik. “Lho Arga, kau mau mengajak Mona ke mana?” tanya Santi.
Sambil tersenyum yang tak kunjung luntur, Arga menjawab. “Aku mau membawa Mona ke kantorku.”
“Iya Bu, aku mau ikut Kak Arga ke kantor.” Mona ikut menjawab.
“Ngapain?” Santi bertanya lagi.
“Nanti ibu juga tahu,” jawab Arga singkat, kemudian menarik lengan Mona, membawanya pergi.
“Aku duluan, Bu,” pamit Mona sambil melambaikan tangan.
Setelah mereka tak terlihat, Santi langsung menghela napas kelegaan. Melihat sepasang kekasih itu bersama, entah kenapa rasanya membuat hati terasa nyaman. Semoga saja, semua di lancarkan sampai di hari yang sudah di tentukan.
“Kenapa Kak Arga mengajakku ke kantor?” tanya Mona.
“Jangan banyak tanya, nanti juga kau tahu.”
“Tapi... aku hanya takut mengganggu jika ikut Kak Arga ke kantor.” Mona memainkan jemarinya di atas pangkuan.
“Kalau begitu, nanti setelah sampai di sana, kau duduk yang diam di ruanganku. Tunggu sampai aku menyelesaikan pekerjaanku.”
Mona langsung mendengus, dengan kedua tangan terlipat di depan dada. “Jadi, aku di sana cuma di suruh diam menunggu Kak Arga yang sedang bekerja?”
“Sudah ku bilang, kau diam saja. Nanti juga tahu kenapa aku membawamu ke kantorku. Aku cuma tidak ingin bolak-balik karena harus menjemputmu.”
“Memang mau kemana? Kenapa aku harus dijem—.”
“Sssttthhh!!”Arga mendesis keras dengan menangkup wajah Mona dengan telapak tangan, lalu mendorongnya ke belakang. “Sudah ku bilang, tidak usah banyak tanya,” dengus Arga lagi.
Mona ikut mendengus lalu memutar bola mata, mengalihkan pandangan ke arah luar jendela kaca, menatap ke jalanan yang mulai padat dengan kendaraan lain.
***
**Halo pembaca tersayang, terimakasih karena sudah setia dengan ceritaku. sebelummya aku mau minta maaf. aku hanya penulis amatiran yang masih mencoba terus belajar. jadi, aku tidak bisa merubah cerita sesuai keinginan pembaca ya 🙏🙏🙏 ini alur ceritaku, dan begini adanya.
terimakasih buat yang sudah memberi LIKE, VOTE, KRITIKAN, DAN KOMENTARNYA.
salam hangat dariku**.
egk thu sapa yg kirim fito mona ama varel ke hp arga.
Mestinya ya paling engga dia bisalah menelaah situasi, mengerti masalah dalam keluarga... Duh author... please deh...