(Terinspirasi kisah nyata, dikemas dengan imajinasi penulis)
Anak yang tak pernah diharapkan kehadirannya. Kelahirannya dianggap kesalahan, membuatnya dibenci dan menderita sejak lahir. Hingga akhirnya ia bangkit melukai rasa sakit itu, dan bersinar menjadi bintang yang tak akan terlupakan. 🕊️✨
⚠️ Siapkan tisu, cerita ini penuh air mata! Jangan penasaran setengah jalan, yuk baca sampai tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hopipahnp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku juga ingin membenci
Raka tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu, dan Raka melangkah maju dengan wajah yang merah padam dan mata yang membara penuh amarah. Dan di situ juga Hopipah sedang duduk di atas brankar, ia sudah menebak dari raut wajah Raka bahwa dia akan dipukul. Tiba-tiba Raka menampar keras wajah Hopipah.
“Plak!”
Hopipah merasa sangat nyeri di pipinya, lalu tiba-tiba Raka menjambak rambut panjang Hopipah dan satu tangan lainnya ia cekram kuat di rahang Hopipah hingga sakit sekali.
“Lepas, sakit,” ucapnya dengan nafas yang sesak menahan sakit.
“Lo memang tidak berguna, selalu membuat masalah di mana-mana!” gertakan suara gigi Raka dengan nada marah dan keras.
Hopipah memejamkan matanya rapat, menahan rasa sakit yang luar biasa.
“Lo emang pembawa sial! Karena udah bikin kakak gue malu! Baju Daka kotor karena elo!” Raka semakin marah matanya melotot, Hopipah berusaha sekuat tenaga melepaskan diri.
Dengan adanya sedikit keberanian yang tersisa, Hopipah menonjok wajah Raka.
“Buk,” dan tonjokan itu kena tepat di wajahnya.
Raka pun melepaskan cengkraman itu karena terdorong kuat akibat tonjokan itu.
Hidung Raka berdarah, ia menyentuhnya dan melihat darah di tangannya. “Sstt... Sialan Lo,” Raka pun maju kembali dan membabi buta memukul serta menyiksa Hopipah yang masih duduk di atas brankar tanpa belas kasihan.
Hopipah pun tidak bisa diam lagi karena kesakitan yang amat sangat.
Tiba-tiba datanglah Keleo, Kenji, Jefarel, Hendryk dan Ryker. Mereka semua syok melihat adiknya Daka sedang menghajar Hopipah sewenang-wenang.
Keleo yang notabennya bersikap dingin dan cuek, tapi melihat adegan ini, darahnya mendidih. Ia tidak suka wanita diperlakukan seperti itu dengan kasar.
“Raka! Bangsat! Cowo brengsek!” emosi Keleo tersulut keras.
Ryker dan Jefarel mencoba memisahkan dan melepaskan siksaan Raka ke Hopipah, sedangkan Hendryk mencoba melindungi tubuh Hopipah agar tidak kena pukulan lagi.
Keleo menahan Raka dari belakang dan Kenji mencekal erat kerah baju Raka dengan kasar.
“Elo apa-apaan anjir! Orang lagi sakit malah nyiksa orang!” teriak Kenji melotot dan memperkuat tekanan meremas kerah baju seragam Raka.
“Dia emang pantas diperlakukan seperti itu!!” teriak Raka tak kalah sama nelawannya, Hopipah yang mendengarnya semakin gemetar ketakutan dan di situ juga air matanya mengalir deras.
Ryker yang melihat itu pun mendekat dan menenangkan.
“Lo gak usah takut, ada gue di sini,” ucap Ryker lembut menenangkan Hopipah.
Hopipah menatap wajah dan mata Ryker dengan mata yang penuh tumpukan air mata, lalu ia pun memejamkan kuat matanya hingga tetesan bening itu mengalir kembali membasahi pipinya.
Ryker melihat mata itu yang terlihat penuh luka batin, sedangkan Hendryk yang tadi merangkul Hopipah, ia coba lepaskan dan ia pun menundukkan kepala menahan rasa emosi dan sakit di dadanya.
“Sebusuk itu otak Lo, terlihat seperti bocah buta tapi otak kejahatan dan bumbu pembully-an!” tekan Keleo dari belakang tubuh Raka yang ditahan olehnya.
“Masalah Lo apa sama Opi? Lo kenal sama dia?” tanya Kenji ketus dan penuh curiga.
“Nggak ada apa-apa, tapi gue benci!” jawab Raka yang melirik ke arah Hopipah penuh kebencian, Hopipah yang mendengarnya pun marah dalam hati, ia meremas kain sprei dengan tangannya yang mengepal.
“Sebenci apapun Lo sama Opi, apa lagi sampai berbuat seperti tadi, Lo berurusan dengan gue karena dia udah gue anggap bagian dari tim dan teman bagi gue!” bisik Keleo tepat di telinga Raka dengan nada mengancam.
“Gue gak perduli!” teriak Raka yang berusaha melepaskan diri, dan sungguh rasanya Kenji ingin sekali menonjoknya, saat tangan dia sudah terangkat ke udara dengan kepalanya.
Datanglah Daka dengan langkah marah besar.
“Woy! Brengsek! Lo semua apa-apaan serang adik gue?!” Teriak Daka dan menyingkirkan Kenji dari Raka dengan kasar.
“Lepasin! Adik gue! Brengsek!” tatapan amarah Daka meluap-luap.
Keleo dengan kasar melepaskan Raka hingga Raka terdorong jatuh ke tubuh Daka.
“Adik Lo dan elo sama saja, kelakuan kaya setan yang gak ada hati kemanusiaan sedikit pun Lo!” gertak emosi dan tekan Keleo dengan tajam.
“Bukan urusan Lo, benci gue gak bakal berubah, gue tetap benci cewe kaya dia!” teriak Daka yang tatapan melototnya ke mereka, telunjuknya menunjuk ke arah siapa saja.
Hopipah yang menundukkan kepalanya, air matanya masih mengalir deras.
“Berisik Lo anjir, pergi sana. Ada Lo di sini bacot Lo sekedar tai,” ucap Hendryk sambil meledek sinis, di saat itu juga Daka sudah ingin melayangkan tonjokannya di sana juga, namun Hendryk pun bersiap sama, tapi Daka keburu ditahan dan dihentikan oleh adiknya.
“Udah Kak, kita pergi saja.” Tarik Raka mengajak Daka pergi dari sana.
Mereka berdua pun pergi dan menyisakan enam orang di sana.
Keleo menyentuh anak rambut Hopipah yang berantakan dan menyisirkan perlahan secara lembut. Di sana ia melihat luka lebam dan jejak merah bekas tamparan di wajahnya, Keleo tetap diam namun ia merasa, perlakuan seperti ini sama saja dengan kejahatan. Yang lain mengerutkan keningnya melihat kondisi memar di wajah Hopipah.
“Lo gak papakan? Lo baik-baik aja kan dari tadi Lo diam terus ditanya?” tanya Hendryk yang dari tadi merangkul tubuh Hopipah agar tetap tegak.
“Atau mau minum?” tanya Jefarel menawarkan ramah.
“Nggak usah banyak tanya, sana ambilin!” sahut Ryker ketus dan tidak sabar.
“Iye gue ambilin, kenapa Lo yang sewot,” jawab Jefarel yang tiba-tiba Ryker sewot, ia menyipitkan tatapannya malah dibalas tatapan tajam sama Ryker. Jefarel pun akhirnya pergi mengambil air minum.
Jefarel membawa air minum lalu memberikannya pada Hopipah, dan setelah itu Hopipah pun meneguknya hingga separuh habis.
“Makasih Kak,” ucapnya lemah dengan suara parau.
“Kenapa Kakak gendong aku sih? Kakak buat aku dalam masalah! Semua penggemar Kakak akan menghajar ku, apa lagi tadi juga banyak cewe yang nggak terima lihat kejadian itu, aduh,” ucap Hopipah menyentuh kakinya yang sakit dengan kesal, yang berakhir menahan sakit lagi.
“Hem, makanya jangan banyak tingkah. Belum sembuh dari luka yang itu. Dari mulai tadi pagi sampai sekarang elo banyak banget yang berurusan sama elo, lo kenal sama dia dan punya masalah?” tanya Hendryk yang berada di samping dekat dirinya.
Hopipah hanya diam dan mengalihkan wajahnya pura-pura tidak dengar.
“Kalau ditanya tuh jawab,” perkataan Keleo dingin dan menekan, yang membuat Hopipah menatapnya takut.
“Ya elah, Lo jangan dulu ge-eran, kita nolongin Lo dan bantuin Lo itu sekedar bantuan bukan berarti peduli sama lo. Karena gue gak mau juga Lo jadi babu gue mati gitu aja, walau lo miskin gue akui deh Lo cukup berguna, masak elo juga cukup enak waktu kemarin,” ucap Kenji banyak nyerocos seketika dengan nada ketus dan angkuh.
Yang lain hanya menggelengkan kepala mendengar ucapannya, tapi tidak dengan Ryker, ia menatap Kenji dengan tatapan seolah punya teman tidak tahu malu.
“Apa Lo lihat-lihat kaya gitu,” sahut Kenji ketus merasa risih diperhatikan.
Ryker melihat wajah Hopipah yang cukup mirip dengan Daka, ia larut dengan tatapannya sendiri.
“Gue lihat-lihat ni cewe ada kemiripan juga sama Daka, atau jangan-jangan mereka bersaudara. Tapi nggak mungkin kalau mereka bersaudara, Daka gak bakal memperlakukan adik perempuannya dia lakukan seperti itu,” batin Ryker menduga-duga, ia menggelengkan kepalanya. “Ah bisa aja hanya sekedar mirip, di dunia inikan selalu ada orang yang mirip walau tak sedarah,” pikirnya lagi.
Hopipah yang tadi diam pun angkat bicara dengan nada pasrah.
“Bukan urusan Kakak dan yang lain, dan aku juga mohon jangan cari masalah atau bertengkar dengan mereka. Aku gak mau tambah masalah menimpa aku dan jangan dikasihani aku. Mungkin mereka memang seperti itu, jadi biarkan saja,” ucap Hopipah seberusaha menjelaskan dan pengertiannya dengan secara tenang walau terlihat ada rasa khawatir dan takut.
“Lo jangan bikin gue mengulang kata lagi, lo tadi dengarkan nggak? Tuli dan pura-pura tuli,” balas Keleo dengan santai dan nada dingin yang menekan.
Hopipah pun mengingat dan mendengarnya, apa yang dikatakan Keleo pada Raka tadi. “Apa mungkin aku sudah dianggap bagian dari tim teman mereka? Rasanya masih tak mungkin?” batinnya bertanya-tanya dan merasa ragu.
*
*
Jangan lupa kasih like di setiap bab, komen dan Vote serta hadiah juga ya.
Terima kasih Sayangku 😘.
tapi, gimana dengan keluarganya nanti kalo tahu Opi sudah sukses. apa mereka bakal tetap gangguin?