NovelToon NovelToon
ARSHEL (Arion & Sheril)

ARSHEL (Arion & Sheril)

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:455.4k
Nilai: 5
Nama Author: haniyahhputri

Entah keberuntungan atau kesialan bagi seorang Sheril dengan mudahnya jatuh ke dalam pesona seorang Arion yang ketus, galak dan cuek.

Arion si pemilik sejuta pesona, mampu memikat banyak hati orang, tapi nyatanya hati Arion lah yang paling sulit untuk dipikat.


Bagi Sheril, Arion adalah orbitnya. Dunia Sheril seakan hanya tertuju kepada Arion seorang.

Bagi Arion, Sheril adalah salah satu dari sekian banyak bintang yang mengelilinginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19 - Hadiah Ulang Tahun

Bahkan hingga ujian kenaikan kelas telah usai, hubungan Sheril dan Arion belum juga membaik. Jarak masih merenggangkan hubungan mereka, tidak ada yang memulai terlebih dahulu mengikis jarak yang memisahkan mereka.

Selama ujian kenaikan kelas, Sheril dan Arion tidak saling bersapa jua. Mereka hanya saling melemparkan lirikan ketika bertemu dan tidak ada interaksi lain diantara mereka.

Sheril dan Arion benar-benar sudah seperti orang asing yang tidak pernah saling mengenal satu sama lain, padahal hampir 1 tahun mereka berdua melewati hari bersama-sama. Dari belajar bersama sampai makan bersama pun telah mereka lakukan. Selain itu, mereka berdua juga sudah tidak saling bertukar kabar melalui sosial media.

Liburan 2 pekan Sheril hanya di habiskan untuk menonton drama Korea, streaming film action Hollywood terseru, streaming film romantis Netflix, menontom YouTube, mendengarkan musik, membaca komik dan novel, bermain sosial media, dan mengetik cerita tentang lika-liku kisah cinta dirinya dan Arion.

Selama 2 pekan itu pula Sheril tidak pernah keluar dari rumahnya, setelah membersihkan seluruh penjuru rumah ia akan kembali ke depan layar laptopnya. Liburan Sheril sangat terasa begitu monoton. Sejujurnya ia sedikit iri melihat postingan liburan teman-temannya. Keluarga Sheril adalah tipikal keluarga yang tidak akan pergi jika memang tidak ada keperluan.

Selama mengetik cerita tentang dirinya dan Arion, Sheril semakin dibuat rindu kepada lelaki jangkung beriris mata biru tersebut. Setiap detik moment yang di habiskan bersama Arion terasa sangat berharga bagi Sheril.

Terkadang, ralat, selama ini Sheril selalu memikirkan apa yang sedang Arion lakukan saat ini? Sudah satu bulan ia dan Arion putus komunikasi.

Sheril membuka telapak tangannya, menghitung hari sisa liburannya yang akan segera berakhir. Hanya tersisa dua hari lagi termasuk hari ini, besok lusa sudah masuk sekolah. Sheril akan kembali menjalankan rutinitas sehari-hari, namun bedanya ia akan menjadi anak kelas XI.

Menyebalkan rasanya ketika Sheril berpikir ia akan memiliki banyak adik kelas baru, dan Sheril hanya bisa berdoa semoga saja Arion tidak sering berkeliaran di sekolah ataupun melakukan kegiatan yang dapat menimbulkan perhatian. Kalau saja hal itu terjadi, sudah di pastikan para adik kelas akan mencari perhatian kepada Arion. Artinya, saingan Sheril akan semakin bertambah banyak.

Tapi sisi baiknya, Sheril akan semakin banyak mendapatkan cokelat-cokelat gratis yang diberikan siswi-siswi kepada Arion. Ah, Arion memang siswa idaman SMA Harapan Bangsa selama tiga periode.

Hari ini adalah ulang tahun Sheril yang ke 16. Sudah ada ribuan notifikasi masuk di ponselnya sejak jam 12 malam. Tentu saja Sheril membalas ucapan dan doa mereka satu persatu berhubung ia memang tidak ada kerjaan lain.

Tidak ada yang spesial sebenarnya di hari ulang tahun Sheril dari tahun ke tahun. Tidak ada kue dan tidak ada hadiah yang di berikan oleh kedua orangtuanya. Tapi Sheril sudah merasa bahagia di hari spesialnya, Rayhan memberikannya beberapa novel yang telah ia inginkan sejak lama.

Sheril merenggangkan kedua tangannya yang sudah terasa kebas akibat terlalu lama mengetik, meskipun sering begitu tapi Sheril tetap menikmati pekerjaannya.

Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumahnya membuat Sheril mengernyit, ia tidak tahu jika akan ada tamu yang akan datang jam segini.

"Mamski, itu mobil siapa di depan? Emang ada yang mau dateng ya?" Tanya Sheril penasaran.

Dewi menutup majalah yang sedang ia baca, baru saja Dewi bangun dari tempat duduknya, masuklah Rio bersama seorang wanita dan seorang anak kecil ke dalam rumah.

"Assalamualaikum!" Sapa wanita itu.

Sheril menutup laptopnya dengan sekali hentakan, setelah menyimpan barang berharganya di dalam kamar Sheril segera kembali berhadapan dengan Rio beserta kedua orang yang di bawanya.

"Anita, kenalin, dia ponakan saya," Rio menunjuk Sheril memperkenalkan kepada wanita bernama Anita itu.

Sheril membelak tak percaya, begitu juga dengan Dewi. Adakah yang lebih buruk dari seorang ayah yang memperkenalkan anak kandungnya kepada orang lain dengan sebutan 'keponakan'?

Kini Rio menunjuk Dewi, "kenalin, dia-"

"MAKSUDNYA APAAN ***?" teriak Sheril murka. Ia tidak akan menahan diri lagi saat ini, cukup sudah, ia tidak ingin dirinya dan ibunya di sakiti secara fisik terutama mental oleh seorang pria berengsek bernama Rio.

"Halo, saya Anita, istri Rio. Kayla, ajak kakak cantik itu kenalan sana," Anita menunjuk Sheril kepada Kayla, menyuruh buah hatinya berkenalan dengan gadis remaja Sheril.

Sheril mendekati Dewi, memeluknya sebentar seraya berbisik. "Gak usah di dengerin setan-setan itu ngomong apa, nanti aku usir semuanya, gak usah di masukin ke hati omongan dari mulut sampah mereka." Bisik Sheril penuh kebencian.

Setelah berbisik kepada ibunya, Sheril berkacak pinggang menghadapi Kayla yang sudah berdiri di hadapannya. Sebelum membereskan induknya, Sheril akan memulainya dari yang terkecil dahulu.

"Siapa lo?" Tanya Sheril garang, seumur hidup baru kali ini Sheril yang di kenal ramah dan periang menjadi segarang ini.

Gadis kecil itu tersenyum lugu. "Nama aku Kayla. Kakak cantik namanya siapa?"

"Siapa bapak lo?" Sheril mengabaikan pertanyaan Kayla. Meskipun masih kecil, tapi Sheril tidak peduli.

"Papa aku namanya Rio," jawaban Kayla seakan menjadi garam yang di taburkan di atas luka Sheril dan Dewi.

"Sini lo!" Bentak Sheril, tanpa merasa kasihan Sheril menjambak rambut gadis kecil itu, tak peduli jika gadis itu mulai menangis kencang.

"ELO SIAPA HAH BISA-BISANYA REBUT ANGGOTA KELUARGA GUE? ELO BUKTI PENYEBAB HANCURNYA KELUARGA GUE!" teriak Sheril, mati-matian ia menahan air matanya agar tidak terjatuh.

"SHERIL!" bentak Rio tak terima karena Sheril telah menyakiti gadis kecil tersebut.

"APA HAH? MAU NGAMUK? MAU GUE YASININ? GAK TAU DIRI BANGET SIH LO!"

Dewi hanya bisa terdiam melihat Sheril semurka ini. Seumur hidupnya, Dewi belum pernah melihat Sheril semeledak ini.

Sheril melangkah maju, kini saatnya ia berhadapan dengan Anita. Wanita perebut ayahnya. Meskipun Rio orang yang kasar, bagaimanapun juga Rio tetaplah ayah Sheril. Darah lebih kuat dari pada air.

"*****! JALANG! BERENGSEK! Harga diri lo udah hancur tau gak ngebuat keluarga gue hancur," Sheril menatap Anita penuh kebencian.

"Lo cewek, lo harusnya ngerti gimana perasaan nyokap gue yang suaminya ninggalin tanggung jawab keluarga demi elo yang sialan! Lo cewek, harusnya lo juga ngerti gimana perasaan gue ngeliat ayahnya ternyata punya anak dari cewek murahan lain!"

Tanpa bisa di tahan lagi, air mata Sheril lolos begitu saja dari kelopak matanya. Dada Sheril terasa begitu sesak saat ini, dan luka di hati Dewi pasti jauh lebih dalam dari pada Sheril. Ini adalah akhir dari 25 tahun jalannya pernikahan Dewi dan Rio.

Sheril menampar pipi Anita dengan kencang sampai tangannya sendiri terasa perih. Tapi ini semua tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat ini.

"Tamparan gue gak sebanding dengan luka yang gue dan nyokap gue dapat karena kalian bertiga. Gue berdoa, semoga kalian bertiga dapat balasan yang setimpal atas apa yang telah kalian lakukan." Sheril membiarkan air mata membasahi pipinya.

Sheril melangkah maju, berhadapan Rio yang kini sedang menatap wajah Sheril dengan ekspresi wajah yang tak bisa di artikan. Sampai kapanpun, Sheril tidak akan pernah mengerti apa isi kepala seorang Rio.

"Ini hadiah ulang tahun Sheril yang paling menyayat hati. Beribuan ucapan dan doa yang Sheril terima di hari ulang tahun saya hari ini, itu semua gak berarti kalau papah Sheril sendiri aja gak inget sama ulang tahun anaknya," isakan Sheril semakin kencang, ia tak bisa membendung kesedihannya lagi saat berhadapan dengan Rio.

Semarah apapun Sheril kepada Rio, Sheril tidak akan bisa meluapkan segala luka yang telah Rio berikan kepadanya. Sheril hanya merindukan sosok ayah yang seharusnya melindungi dan membahagiakan keluarganya.

Namun isakan Sheril tak berlangsung lama, seakan jiwa amarahnya telah kembali merasuki raganya, Sheril menarik Kayla dan Anita tanpa ampun. Seakan telinga Sheril sudah tuli dengan ringisan Kayla dan Anita yang kesakitan akibat ulah Sheril.

"PERGI SEKARANG JUGA DARI RUMAH INI! GUE GAK SUDI RUMAH INI DI MASUKIN SAMA ORANG JAHAT KAYAK KALIAN!" teriak Sheril. Tak peduli jika tetangga bisa mendengar teriakannya yang sangat kencang.

Melihat Sheril semakin murka, cepat-cepat Anita mengajak Kayla pergi dari hadapan Sheril. Melihat hal itu, Rio menarik tangan Sheril lalu menampar pipinya. Dewi terkejut melihat suaminya yang menampar anak semata wayang mereka sendiri.

"Saya gak pernah ajarin kamu kurang ajar seperti itu!" Amarah Rio terpancing melihat Sheril bertingkah mengerikan seperti itu.

Sheril berdecih sinis. "Cish. Anda benar-benar sama sekali tak pantas disebut sebagai sosok ayah dan sosok suami." Desis Sheril.

"KALIAN SEMUA PERGI DARI RUMAH GUE SEKARANG JUGA!" Rio segera masuk ke dalam mobil menyusul Anita dan Kayla yang sudah masuk terlebih dahulu.

Sheril mengambil vas bunga yang di letakkan di atas meja di teras rumah. Masih belum puas, Sheril melempar vas bunga tersebut ke kaca jendela mobil.

"PERGI KALIAN! JANGAN GANGGU GUE DAN MAMA GUE LAGI!"

Tidak sampai disitu, Sheril melemparkan batu bata hingga kaca jendela mobil tersebut retak.

"PERGI!" teriak Sheril untuk terakhir kalinya.

Setelah memastikan mobil hitam tersebut pergi dari pekarangan rumah, Sheril ikut pergi keluar rumah.

"Mama di rumah aja, aku mau cari udara segar. Gak usah khawatir, nanti aku pulang sendiri. Sesek abis ngeliat drama murahan," ujar Sheril tanpa menatap Dewi, lalu langsung pergi keluar rumah.

Taman kompleks lah yang menjadi pilihan Sheril untuk menenangkan diri, suasana sepi dan tenang lah yang Sheril cari.

Sheril duduk di atas bangku taman, menundukkan kepala kemudian mulai mengeluarkan segala bentuk rasa sakit hatinya selama ini. Isakan Sheril semakin kencang, terasa pilu untuk di dengar.

"Gue benci... Gue benci sama mereka..."

"Gue gak mau mama sakit hati lagi... Gue cuma pingin mama bahagia..."

"Gue-" isakan Sheril semakin kencang, tak sanggup mengungkapkan rasa sakit hatinya melalui kata-kata.

Tiba-tiba tubuh Sheril di rengkuh oleh seseorang, meskipun sudah satu bulan tidak bertegur sapa tapi Sheril tidak akan pernah melupakan aroma tubuh kesukaannya ini.

Sheril hendak mendongkak, ingin memastikan bahwa orang yang memeluknya ini adalah orang yang Sheril harapkan. Siapa tahu Sheril hanya berhalusinasi karena merindukan lelaki beriris mata biru yang membuatnya jatuh cinta setiap hari.

Namun Arion menahan Sheril agar tidak perlu mendongkak, membiarkan Sheril menggelamkan kepalanya di dada bidang Arion.

"It's me, Arion. Keluarin semua rasa sakit hati lo sampai merasa elo baikan," bisikan lembut Arion membuat Sheril menangis kembali.

"Iyon," Isak Sheril.

"Gue benci bokap gue, gue juga benci wanita yang udah ngerebut bokap dari gue dan nyokap gue, gue juga benci sama anak kecil yang menjadi bukti kalau selama ini bokap gue punya anak selain gue."

Sambil mendengarkan segala ungkapan rasa sakit hati Sheril, tangan Arion tak berhenti mengusap kepala Sheril.

"Gue itu anak semata wayang. Gue benci pas tau bokap gue punya anak selain gue. Gue juga gak tega liat nyokap gue yang semakin tersiksa mentalnya gara-gara bokap gue. Arion, gue benci mereka semua!" Sheril mengguncangkan tubuhnya sendiri, seakan ingin terlepas dari tali drama menyakitkan yang mengikat dirinya selama ini.

"Silahkan benci mereka, elo punya hak untuk itu," jawab Arion.

"Arion, tadi gue jambak anak mereka, gue juga nampar wanita itu. Meski gue udah sakitin dua cewek itu kenapa gue cuma bisa nangis di pas berhadapan bokap gue? Yang ada gue di tampar sama bokap gue sendiri di depan mereka, pipi gue sakit Arion, tapi hati gue lebih sakit!" Sheril bercerita di sela isakannya.

Telapak tangan Arion menyentuh pipi Sheril secara perlahan. "Sebelah mana yang sakit? Yang ini?"

Dalam pelukan Arion, Sheril menganggukkan kepalanya. Memberi tahu bahwa bagian itulah yang terasa sakit.

Arion menunduk, meniup perlahan pipi Sheril seraya mengusapnya penuh kehati-hatian.

"Trust me, everything will be fine." Bisik Arion berusaha menenangkan Sheril.

Seperti sebuah mantra, tangisan Sheril langsung reda hingga Arion merasakan napas Sheril sudah teratur. Rupanya Sheril sudah tertidur dalam pelukan Arion.

Jari jempol Arion mengusap dahi Sheril yang mengerut, menandakan bahwa di alam mimpi saja Sheril masih menyimpan rasa sakitnya.

Dua puluh menit telah berlalu dalam kesunyian, selama itu pula Arion menatap Sheril secara lekat-lekat, menatapi setiap inci dari wajah yang sudah tidak di temuinya selama satu bulan terakhir.

Arion merindukan sosok Sheril yang ceria, hatinya ikut teriris melihat Sheril sehancur ini.

Setelah memastikan Sheril telah tertidur lelap, Arion menggendong Sheril ala bridal style. Tubuh Sheril terasa begitu ringan, dan Arion berani bertaruh bahwa berat badan Sheril tidak sampai 45 kg.

Arion membawa Sheril pulang ke rumah, pintu rumah Sheril juga dibiarkan terbuka menandakan Dewi menunggu kepulangan putri tercintanya.

Tapi Arion tidak menemukan keberadaan Dewi di ruang tengah. Sudah beberapa kali ke rumah Sheril, Arion langsung tahu yang mana pintu kamar Sheril.

Setelah membaringkan Sheril di atas tempat tidur, Arion melepaskan sandal Sheril lalu menyelimuti Sheril agar tidurnya semakin terasa nyaman.

Arion berlutut di samping tempat tidur Sheril, mengusap puncak kepala Sheril penuh kehati-hatian karena tidak ingin Sheril merasa terganggu.

Setelah terdiam cukup lama, Arion menunduk lalu mendaratkan bibirnya di kening Sheril.

"Happy Birthday Sheril, I just hope your happiness. I miss you."

1
Iceu Ktp
novel mu bagus aku suka cerita nya semangat untuk berkarya
Niyan Wahyuni
😭😭😭
Pipit Sopiah
dari season pertama sekarang season kedua serasa sheril ngejar-ngejar Arion 🤦‍♀️
Pipit Sopiah
di season 2 lanjut lagi,,, tp tolak dong sheril jangan berharap terus. ubah sikap dan tingkah lakumu.
Pipit Sopiah
maaf Thor setiap bab aku ga kasih komen habisnya aku nangis terus bacanya
Pipit Sopiah
lanjut
Pipit Sopiah
hadir di ceritamu thor
haniyahhputri
Arion is such a lovely because he exists in Author's real life. Rayhan also exists in Author's real life.
Meidy Mangalengkang
visualnya dong
abel
kak season 3 kapan up?
udh nunggu lama bgt 😭
mrs.wang
ceritanya bagus, detil bgt, tiap bab nya gak ada yg aq skip, pernah nyoba skip biar langsung ke bab yg sheril sm arion lg mani2nya, eh malah gak nyambung, akhirnya baca lagi yg diskip td, overall ceritanya bgs bgt, cm part uwu sheril arionnya dikit bgt, dan endingnya kayak kurang greget gtu, krn yakin deh banyak yg pengen arion sm sheril resmi pacaran trs nikah. kli seandainya di season 3 sheril gak sm arion, atau arion dibuat meninggal fix aq gak lanjut baca cerita ini, krn aq pengen arion sheril segera happy ending, dan buat rayhan kasi cewek baru
mrs.wang
arion tinggal lamar sheril lalu nikah, gampang toh?
mrs.wang
sheril hrs sm arion, kasi cewek baru buat raihan
mrs.wang
gak rela klo sherli gak sama arion, sherli hrs sm ariob
mrs.wang
🥰🥰🥰🥰🥰
mrs.wang
love bgt sm cerita ini
mrs.wang
bagus bagus bagus ceritanya🥰
mrs.wang
bagussssss bgtttt ceritanya😭😭😭
mrs.wang
huhuhu manis bgt ceritanya🥰
Ayuu Puspiitaa
kapan nih season 3 dah lama banget nunggunya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!