Tidak ada yang menginginkan menjadi orangtua tunggal. Entah itu perpisahan karena perceraian ataupun kematian. Terkadang beberapa orang memutuskan untuk menjalin hubungan lagi dengan dalih awal untuk mengisi posisi yang kosong. Itu yang terjadi pada Davin dan Arini. Memutuskan menikah demi figur orangtua lengkap untuk anak-anak mereka.
Keluarga harmonis menjadi impian mereka. Namun ditengah perjalanan rumah tangga mereka ada ujian yang datang. Suami melakukan kesalahan fatal dan istri yang depresi.
Bagaimana cara Davin dan Arini mempertahankan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
POV ARINI
Aku tidak menyangka kalau pengganti Sahrul adalah Zidan, temanku semasa kuliah dulu. Zidan dan aku cukup akrab dulu walaupun kami beda jurusan. Kami dekat sejak masa ospek kampus.
Ia juga dekat dengan suamiku dulu, Bang Surya. Namun sayang, komunikasi kami sempat terputus karena ia pindah ke kota sebelah untuk bekerja.
Zidan ternyata sudah menikah dua tahun lalu, namun istrinya meninggal dunia sekitar tiga bulan lalu. Sedihnya lagi ternyata mereka belum dikaruniai anak.
Sejak ia masuk kantor ini, Zidan selalu mengajakku untuk makan siang bersama. Tentu saja aku mengajak Indah turut serta karena aku tidak ingin ada gosip yang entah apa itu di kantor ini tentang aku. Aku ingin bekerja dengan tenang di kantor ini, agar bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk ketiga anakku.
Hari ini Davin mengajakku makan malam diluar. Katanya ia sedikit bosan dirumah. Aku menelepon Amak untuk mengabari kalau malam ini aku sedikit terlambat pulang. Amak tidak mempermasalahkannya.
Kami mengendarai kendaraan masing-masing menuju restoran yang menjadi pilihannya. Tempatnya baru beberapa bulan ini bukanya, makanya pengunjung masih cukup ramai.
Kami masuk ke dalam restoran dan aku memilih tempat duduk yang tidak jauh dari pintu masuk, sehingga akan sangat kelihatan orang-orang yang keluar masuk. Aku memesan nasi sup iga untuk makan malamku.
"Anak-anak aman ini, kan mamanya aku culik dulu," ujar Zidan.
"Aman, tenang. Asal ngga tiap hari aja," jawabku yang mengundang gelak tawa aku dan juga Zidan.
"Lo keterlaluan ya, Dan. Nikah ngga ngabarin."
"Gimana mau ngabarin, catatan nomor kalian pada hilang," ucap Zidan.
"Ya kirim surat 'kan bisa," kataku.
"Gue mana tau rumah lo yang sekarang dimana. Yang gue tau rumah lama lo doang," jelas Zidan.
"Oh iya ya," ucao aku lagi sambil tertawa.
Memang benar aku menempati rumahku kini beberapa bulan sebelum bang Surya meninggal. Sebelumnya sejak awal menikah aku dan bang Surya tinhgak dirumah kontrakan. Akhirnya berkat kerja keras Bang Surya kini kami memiliki rumah pribadi.
"Sorry kalau waktu Bang Surya meninggal, gue ngga tau sama sekali,"ucap Zidan penuh penyesalan.
"Ngga apa-apa kok. Impas gue juga ngga tau tentang istri lo," kataku.
Tak lama pesanan kami datang. Kami makan sambil bercerita.
"Ingat, gue ngga bisa lama-lama," ucapku mengingatkan.
"SMP kita pokoknya. Siap Makan Pulang," ucap Zidan.
Lagi-lagi gelak tawa mengiringi makan malam kami.
Di sela-sela makan, pintu restoran itu terbuka menandakan ada pelanggan yang masuk. Reflek aku melihat ke arah pintu. Aku sedikit terkejut melihat siapa yang baru saja masuk.
Pak Davin, manager tempatku bekerja. Bukan hanya seorang diri melainkan bersama seorang wanita yang menurutku sangat...
"Cantik," ucapku yang tanpa sadar bersuara.
"Siapa yang cantik?" tanya Zidan.
"Gue dong," jawabku cepat dengan penuh percaya diri. Aku langsung mengalihkan perhatianku lagi pada Zidan yang ada didepanku.
Aku mengenyahkan rasa gelisah pada hatiku. Tunggu, kenapa aku harus gelisah?
Aku melihat ke arah Pak Davin dan wanita itu duduk. Mereka tampak bahagia dan cocok. Bahkan senyuman Pak Davin rasanya berbeda dengan yang selama ini aku lihat. Ya, mungkin karena saat ini ia sedang bersama wanitanya.
Aku dan Pak Davin tidak memiliki hubungan lebih. Kami hanua atasan dan bawahan. Tambahannya, anak kami berteman. Sudah itu saja. Please, be professional, Rin.
Ketika aku kembali melihat ke arah Pak Davin, ternyata pria itu juga melihatku. Pandangan kami beradu. Aku tersenyum tanda menyapanya, lalu kemudia. Aku alihkan lagi pada Zidan yang sedang bertanya sesuatu hal padaku.
Kebanyolan temanku ini memang tidak pernah berubah sehingga mampu membuatku kembali tertawa. Aku sudah tak ingin melihat ke arah Pak Davin, walau dari ujung mataku, aku bisa merasakan bahwa ia sedang melihat ke arahku.
Makananku dan Zidan sudah habis. Seperti kata Zidan tadi, SMP. Siap Makan Pulang. Kami akhirnya pulang. Aku tetap tidak mau melihat ke arah Pak Davin, dan beruntung Zidan terus mengajakku berbicara.
Aku sendiri bingung dengan perasaanku. Tidak mungkin, kan aku memiliki perasaan untuk Pak Davin. Tidak, aku yakin ini bukan perasaan yang seperti itu, tapi ini perasaan kepedulian antar teman. Ya, aku yakin itu.
POV ARINI END
❤️❤️❤️🌹🌹🌹🌹