Riana Nina Zara adalah seorang wanita yang baik dan punya pembawaan yang ceria. Ia memiliki seorang sahabat baik bernama Alina Raya Wijaya. Mereka sangat dekat karena berteman baik sejak duduk di bangku SMP. Bahkan Riana sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri. Orangtuanya juga selalu baik kepadanya.
Alina sendiri adalah seorang gadis piatu yang hanya tumbuh besar di bawah pengasuhan ayahnya. Ibunya meninggal dunia setelah setahun melahirkan dirinya. Sejak itu ayahnya tidak pernah menikah kembali karena fokus untuk merawat dan membesarkan dirinya.
Namun suatu hari ayahnya secara tiba-tiba memperkenalkan seorang wanita cantik kepadanya. Dan kedepannya wanita itu akan menjadi ibu sambungnya. Sayangnya ia tak menyukai wanita itu.
Apakah pernikahan itu akan terjadi atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak sanggup kehilangan.
Riana sepertinya tidak menyadari tatapan kesedihan di sekelilingnya yang ditujukan kepadanya. Ia seakan sedang berada di dunianya sendiri. Bahkan ia tak sadar dengan apa yang sedang ia katakan kepada jenazah ibunya.
"Ibu sudah pulang?" tanyanya dengan suara serak yang nyaris tak terdengar jelas.
Walaupun tak mendapatkan jawaban apa-apa, ia tak berhenti bicara kepada ibunya.
"Ibu capek banget ya? Kenapa tidur di sini? Ayo pindah ke kamar."
Ia lalu menatap ayahnya. "Ayah juga kok tidur di sini? Di sini kan gak enak. Nanti badan ayah jadi sakit lho."
"Ibu bilang kan mau pulang nanti siang, ternyata jam segini kalian sudah sampai. Riana kan belum sempat masak apa-apa. Apa kita pesan makanan saja ya. Atau kita pergi makan di luar saja. Ayo bangun yah, Bu! Kita kan sudah lama nggak ketemu. Kalian nggak kangen sama Riana? Yah! Bu! Ayo cepat bangun." Riana tampak mengguncang tubuh kaku ayah dan ibunya itu tanpa sadar.
Alina dan yang lainnya tak kuasa menahan air mata mereka. Riana sepertinya tak bisa menerima kenyataan bahwa orang tuanya telah tiada.
Bahkan Ervin yang sedari tadi menatapnya nanar, perlahan ikut meneteskan air matanya. Ia tak tega melihat wanita itu merasa kesakitan yang teramat perih seperti ini. Hal itu mengingatkannya kembali pada saat ketika mendiang istrinya meninggalkan dirinya dan putrinya yang masih bayi.
Mungkin hati Riana lebih hancur saat ini ketimbang dirinya.
Salma dan Alina perlahan mendekatinya untuk menyadarkannya.
"Riana! Sudah nak! Kamu harus menerima kenyataan ini. Ayah dah ibumu sudah nggak ada." ucap Salma pada keponakannya itu.
"Iya, Ri! Jangan siksa dirimu kayak gini. Kamu harus sabar. Kamu harus ikhlas menerima kepergian mereka." timpal Alina.
"Alina, kamu kok ada di sini. Kamu bolos kuliah, ya? Ayah dan ibuku nggak mau bangun. Kayaknya mereka nggak kangen sama aku. Kamu bantu bangunin mereka juga ya?" ucapnya memohon.
"Riana! Sadar Ri! Kamu lihat mereka! Lihat wajah mereka baik-baik. Mereka udah nggak ada Ri! Tolong sadarlah!" Alina yang cemas tampak memaksa Riana untuk melihat jelas wajah ayah dan ibunya yang pucat.
Riana seketika terdiam sambil memperhatikan wajah ayah dan ibunya. Wajah mereka sangat pucat. Tubuh mereka telah kaku. Bahkan Riana tak lagi bisa merasakan hembusan nafas dan mendengar detak jantungnya. Orang tuanya telah tiada. Mereka telah pergi untuk selamanya. Meninggalkan dirinya sendirian menghadapi kerasnya dunia.
"Tidak! Mereka tidak mungkin meninggalkanku sendirian. Mereka sudah janji ingin melihat ku lulus kuliah dan menemaniku selamanya. Mereka tidak mungkin pergi. Kau pasti bohong, 'kan? Mereka nggak mungkin pergi."
Ia tampak histeris seketika dan kembali mengguncang tubuh ayah dan ibunya. Berharap jika ini semua hanyalah mimpi dan ia akan terbangun nantinya.
Yang lain berusaha untuk menghentikan dirinya yang histeris. Berusaha untuk menenangkannya walaupun mereka tahu jika usaha itu hanya sia-sia.
Hingga akhirnya Riana kembali tak sadarkan diri untuk kedua kalinya. Ia sepertinya tak mampu menerima kenyataan yang ada.
...****************...
Riana membuka mata setelah tak sadarkan diri selama setengah jam. Ia tampak kebingungan.
"Kamu sudah sadar, Ri?" tanya Dita yang saat itu sedang berada di dalam kamar Riana.
Ia tak sendiri, Alina dan Fina juga ikut menemaninya. Riana yang tampak linglung mencoba untuk bangun perlahan. Alina yang berada di sampingnya tampak membantunya untuk bangun.
Keadaan Riana sangat lemah. Ia bahkan tak mau menyentuh makanan sedikitpun. Apalagi ini kali kedua ia tak sadarkan diri. Mereka sangat mencemaskan keadaan sahabatnya itu.
"Dimana ayah dan ibuku?" tanyanya dengan suara serak.
"Mereka sedang di mandikan. Mereka harus segera di kebumikan karena sebentar lagi masuk waktu ashar." jelas Alina ragu.
"Aku ingin melihatnya." ucapnya.
Ketiganya tampak saling pandang. Jujur mereka tak yakin untuk membawa Alina ke sana. Mereka cemas jika Riana tak kuat dan ia tak sadarkan diri kembali.
Namun Riana memaksa dirinya untuk kuat agar bisa mengantarkan jenazah orang tuanya ke tempat peristirahatan terakhir mereka. Ia hanya ingin melihat wajah mereka untuk yang terakhir kalinya.
"Tolong bawa aku ke sana. Aku ingin melihat mereka untuk yang terakhir kalinya." pintanya memohon.
"Baiklah! Kami akan membawamu ke sana. Tapi kau harus kuat." ucap Alina.
Riana mengangguk pelan.
Alina dan Fina menggandeng tangan Riana untuk membantunya berdiri dengan tegak. Gadis itu sebenarnya sudah tidak kuat untuk menopang dirinya sendiri. Namun demi bisa mengantarkan jenazah kedua orang tuanya ke tempat peristirahatan terakhir mereka, ia menguatkan dirinya sendiri.
"Kedua jenazah itu sudah selesai di mandikan ternyata. Kini keduanya sudah terlihat rapi dengan balutan kain kafan. Sebentar lagi jenazah mereka juga akan di shalat kan dan di makamkan sehabis Azhar.
Alina membantu Riana untuk duduk di antara kedua jenazah orang tuanya. Ia akan mencium mereka untuk terakhir kalinya. Walaupun hal itu sangat berat, namun ia mencoba untuk mengikhlaskan kepergian mereka.
Ia menahan air matanya yang lagi-lagi tak kuasa ia bendung. Orang pertama yang ia lihat adalah ayahnya.
"Ayah! Selamat jalan, yah! Riana ikhlas melepaskan kepergian ayah. Semoga ayah tenang di atas sana. Riana sayang ayah!" ia lalu mencium keningnya cukup lama.
Lalu ia melihat ke arah ibunya. Ia cukup lama memandangi wajahnya. Tidak ada sepatah katapun yang ia ucapkan untuk ibunya. Ia hanya mengelus kepalanya lalu mencium keningnya.
Namun setelah mencium keduanya, ia kembali menangis tersedu-sedu.
Alina dan Fina membawa Riana menjauh dari sana karena jenazah mereka akan segera di tutup dengan keranda.
...****************...
Pemakaman di adakan selepas shalat Ashar. Walaupun keadaan tidak memungkinkan untuk ikut, namun Riana tetap memaksa untuk ikut ke pemakaman. Alina dan yang lainnya tak bisa berkata-kata lagi dan menahannya.
Di pemakaman, Riana tampak diam dan hanya melihat bagaimana proses kedua orang tuanya di kebumikan. Ia tak lagi menangis. Entah ia sudah benar-benar ikhlas atau ia masih juga belum percaya jika kedua orang tuanya benar-benar telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Kini entah bagaimana ia bisa menjalankan kehidupannya. Ia tak punya siapapun lagi untuk mencurahkan segala isi hatinya. Kehidupannya telah hampa.
Apakah mungkin ia bisa sanggup menjalaninya seorang diri?
Riana menaburkan bunga dan menyiramkan air di atas kuburan ayah dan ibunya. Tak lupa ia membacakan doa untuk mereka.
"Kita pulang dulu, ya!" ajak Alina.
Riana mengangguk lemah.
Mereka semua lalu pergi untuk meninggalkan pemakaman. Hanya saja ketika Riana mulai melangkahkan kakinya, ia kembali tak sadarkan diri untuk kesekian kalinya. Semua tampak panik.
Ervin mengangkat tubuh gadis itu, dan segera membawanya ke rumah sakit.
...****************...
*Jangan lupa dukung ya! Semoga kalian suka jalan ceritanya..
Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya..
~Become a mother of my Bff~ 🌹