Rania tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap. Ketika sahabatnya, Lia, ditemukan tewas mengenaskan, Rania terseret ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan—dunia vampir. Di balik bayang-bayang malam, ada sosok vampir dingin dan berbahaya bernama Louis, yang mengincar Rania untuk menjadi budaknya. Dengan ancaman maut yang menggantung di atas kepala, Rania dipaksa tunduk pada kekuatan Louis, tetapi semangat beraninya tak mudah patah.
Sembari mencari jawaban atas kematian Lia, Rania harus bertahan hidup di tengah ancaman gelap yang terus menghantuinya. Apakah dia mampu melawan pesona mematikan sang vampir, atau takdir sudah menuliskan akhir yang tak terelakkan? Intrik, pengkhianatan, dan pengorbanan membayangi setiap langkah Rania. Hanya satu yang pasti—kegelapan kini menjadi teman terdekatnya.
Jangan lupa vote, like, n komen sebelum baca yaa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soon Hwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia (part 3)
Louis dan Killearn tiba di sebuah lembah yang curam dan gelap. Udara dingin dan sunyi menyelimuti, hanya terdengar suara gemerisik daun yang ditiup angin. Mereka berjalan perlahan di tengah kegelapan, dengan kewaspadaan tinggi, siap menghadapi apa pun yang mungkin terjadi.
Killearn menatap Louis dengan rasa ingin tahu yang tak tertahankan. "Apa sebenarnya yang kau cari, Louis?" tanyanya dengan nada berbisik, mencoba tidak mengganggu keheningan yang mengintimidasi.
Louis menjawab dengan suara rendah namun tegas, "Aku sedang mencari sesuatu yang sangat penting."
Mereka terus melangkah, mata mereka awas memindai setiap sudut lembah yang suram. Setiap bayangan dan suara membuat mereka semakin waspada. Tangan Killearn sedikit gemetar saat ia mengingatkan Louis, "Kita harus tetap berjaga-jaga. Tempat ini penuh bahaya. Serangan bisa datang kapan saja."
Louis mengangguk, memahami betul situasi genting yang mereka hadapi. Mereka melanjutkan perjalanan dengan langkah hati-hati, memperhatikan setiap gerakan di sekitar mereka, sementara bayang-bayang malam semakin menelan mereka dalam kegelapan yang dalam.
Tiba-tiba, suara gemerisik tajam terdengar dari balik semak-semak. Mereka berhenti sejenak, menahan napas. "Louis, kau dengar itu?" bisik Killearn.
Louis mengangguk, matanya menyipit menembus kegelapan, "Berjaga-jagalah. Kita mungkin tidak sendirian di sini."
Dengan kesiagaan penuh, mereka melanjutkan langkah, semakin dalam menuju inti lembah yang penuh misteri dan bahaya.
Semakin dalam mereka melangkah, suasana semakin mencekam. Kabut tebal mulai menggantung diudara menghalangi pandangan mereka, menambah nuansa misterius dan mengaburkan jalan di depan. Setiap langkah mereka diiringi oleh suara ranting patah dan gemerisik dedaunan, seolah-olah lembah ini hidup dan mengamati setiap gerakan mereka.
Suasana semakin berat, udara dingin menusuk kulit mereka. Kabut yang tebal membuat mereka sulit melihat lebih dari beberapa meter ke depan. Mereka terus berjalan dengan langkah hati-hati, setiap indera mereka waspada terhadap kemungkinan bahaya yang mengintai.
"Louis, aku tidak suka tempat ini," Killearn berbisik, matanya terus bergerak mencari tanda-tanda bahaya. "Kabut ini membuat kita sulit melihat apa yang ada di depan."
Louis mengernyitkan mata, mencoba menembus kabut yang kian pekat. "Kita harus lebih hati-hati," ujarnya dengan suara pelan. "Tempat ini tidak seperti yang kita bayangkan."
Killearn mengangguk, memperketat genggaman pada senjatanya. "Aku bisa merasakan sesuatu yang aneh di sini," katanya sambil memindai sekitar. "Seperti ada mata yang mengawasi kita."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, memperhatikan setiap detail kecil di sekitar mereka. Kabut yang tebal membuat setiap bayangan tampak menakutkan, dan setiap suara, sekecil apapun, terasa mengancam. Louis berhenti sejenak, mendengarkan suara samar yang terdengar dari kejauhan.
"Kau dengar itu?" bisiknya dengan penuh perhatian.
Killearn mengangguk, "Ya, sepertinya ada sesuatu di depan."
Tiba-tiba, terdengar suara langkah berat di kejauhan, membuat mereka berdua berhenti. "Apa itu?" bisik Killearn, suaranya hampir tertelan oleh kabut.
Louis mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Killearn tetap diam. Mereka mendengarkan dengan seksama. Suara langkah semakin mendekat, berat dan berirama, seakan-akan makhluk besar sedang mendekati mereka.
"Kita harus berlindung," bisik Louis, mata terus memantau sekitar. Mereka dengan cepat bersembunyi di balik batu besar, menahan napas, berharap makhluk itu tidak menyadari keberadaan mereka.
Kabut tebal dan kegelapan membuat mereka sulit mengidentifikasi apa yang mendekat. Namun, bayangan besar dan mengerikan mulai terlihat samar-samar. Killearn memandang Louis dengan ekspresi cemas, menunggu instruksi lebih lanjut.
Louis menatap Killearn dan berbisik, "Kita harus tetap tenang. Jangan bergerak sampai makhluk itu pergi. Kita tidak tahu apa yang sedang kita hadapi."
Mereka menunggu dengan napas tertahan, menyadari bahwa lembah ini menyimpan lebih banyak misteri dan bahaya daripada yang pernah mereka bayangkan. Setiap detik berlalu dengan lambat, seolah waktu pun bergerak lebih hati-hati di tempat yang penuh dengan ancaman tak terlihat ini.
Setelah merasa makhluk itu telah pergi, Louis dan Killearn perlahan keluar dari persembunyian mereka. Namun, sepertinya itu hanya jebakan belaka. Sebuah belati tiba-tiba melesat cepat, hampir mengenai Killearn dan meninggalkan goresan di wajahnya. Darah segar mengalir sejenak sebelum Killearn mengusapnya, dan luka itu langsung hilang berkat kemampuan penyembuhan vampirnya.
Louis menggeram pelan, matanya menyala dengan kemarahan. "Kita harus lebih waspada. Ini bukan tempat biasa."
Killearn mengangguk sambil meraba wajahnya yang sudah kembali mulus. "Sepertinya kita tidak sendirian. Siapapun atau apapun itu, mereka tahu kita ada di sini."
Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari kedalaman lembah, diikuti oleh getaran tanah yang semakin kuat. Louis dan Killearn berhenti sejenak, merasakan kehadiran sesuatu yang besar dan berbahaya.
"Kau merasakan itu?" tanya Killearn dengan nada waspada.
"Ya," jawab Louis, matanya tajam memindai sekeliling. "Ada sesuatu
Dari balik kabut tebal, muncul seekor monster besar dan menyeramkan, dengan tubuh berbulu gelap dan mata merah menyala. Tanpa ragu, monster itu menyerang mereka dengan cakar yang tajam. Dengan gerakan cepat, Louis dan Killearn menghindar dan segera membalas serangan.
Sinar bulan yang menerobos kabut membantu penglihatan mereka, dan mereka segera menyadari bahwa monster itu tidak sendirian. Ratusan makhluk serupa muncul dari balik kabut, berbaris rapi dan siap menyerang.
"Kita harus hati-hati," kata Louis sambil menghunus pedangnya.
"Kau yakin bisa mengatasi ini?" tanya Killearn, sedikit tersenyum meskipun situasinya gawat.
"Kita tidak punya pilihan lain," jawab Louis tegas. "Bersiaplah!"
Monster-monster itu maju dengan cepat, mengelilingi Louis dan Killearn. Mereka berdua menggabungkan kekuatan, saling melindungi punggung masing-masing sambil bertarung dengan para makhluk kegelapan. Pedang Louis berkilat di bawah sinar bulan, sementara Killearn menggunakan kekuatan ilusinya untuk mengendalikan pikiran dan penglihatan para monster, sehingga mereka saling membunuh.
Pertarungan berlangsung sengit, dengan monster-monster terus berdatangan dari segala arah. Louis dan Killearn bergerak dengan kecepatan dan koordinasi yang luar biasa, menghindari serangan sambil memberikan pukulan telak kepada musuh. Meskipun jumlah mereka kalah banyak, keterampilan dan kekuatan mereka berhasil menahan gelombang serangan.
Namun, monster-monster itu tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. Mereka terus menyerang dengan kekuatan dan keganasan yang menakutkan. Louis dan Killearn tahu bahwa mereka harus menemukan cara untuk menghentikan serangan ini sebelum mereka kehabisan tenaga.
"Kita perlu mencari titik lemah mereka!" teriak Louis di tengah hiruk-pikuk pertarungan.
Killearn mengangguk sambil melepaskan serangan sihir yang menghantam beberapa monster sekaligus. "Aku akan mencoba mencari tahu!"
Hampir semua monster telah berhasil mereka kalahkan, hanya tersisa beberapa makhluk yang masih berdiri. Namun, tenaga Louis dan Killearn sudah mulai terkuras akibat serangan-serangan brutal dari para monster. Belati-belati yang digunakan oleh monster-monster itu terbuat dari perak, membuat luka pada tubuh mereka sulit untuk sembuh dan semakin menguras tenaga mereka.
Saat mereka lengah sejenak, tiba-tiba sebuah belati melesat cepat ke arah Killearn. Louis yang melihatnya mencoba melindungi Killearn, namun tidak menyadari bahwa ada satu belati lagi yang mengarah kepadanya. Belati itu mengenai bahu kanan Louis dengan tepat, menembus daging dan mengeluarkan darah.
"Louis!" teriak Killearn, segera menghampiri dan menarik belati dari bahu Louis.
Dengan sisa tenaga yang ada, Killearn memutuskan untuk membawa Louis pergi dari tempat itu. Dia mengangkat Louis yang lemas dan berlari menjauh dari pertempuran.
"Kita harus pergi sekarang, sebelum mereka menyerang lagi!" ucap Killearn dengan napas terengah-engah.
Louis hanya mengangguk, menahan rasa sakit yang luar biasa di bahunya. Mereka berdua berlari secepat mungkin, mencoba mencari tempat aman untuk berlindung dari serangan lebih lanjut. Kabut tebal masih menyelimuti lembah, membuat pandangan mereka terbatas dan perjalanan semakin sulit.
Setelah beberapa saat berlari, mereka menemukan sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik bebatuan besar. Killearn dengan hati-hati membawa Louis masuk ke dalam gua itu dan menaruhnya dengan lembut di lantai.
aku mampir yak
Salam kenal dari My Vampire CEO