NovelToon NovelToon
Jerat Cinta Mr Billionare

Jerat Cinta Mr Billionare

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:56k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

"Jangan terlalu berlebihan Alya, ingat pernikahan kita ini hanya pura-pura. Kita menikah bukan karena keinginan kita, jalani saja sewajarnya. Jangan berharap aku akan menjamahmu!"

Alya Adelia Wijaya. Gadis muda yang statusnya masih pelajar, harus merelakan masa mudanya untuk menikah dengan seorang pria yang menjadi pilihan orang tuanya.

Tanpa sepengetahuannya, orang tuanya sudah menjodohkannya semenjak mereka masih kecil dan Alya sendiri tidak pernah tahu kalau dirinya ternyata sudah dijodohkan.

Setelah menikah, ia merasakan kehidupannya berubah drastis. Awalnya dimanja oleh orang tuanya, kini harus mengabdikan hidupnya pada suaminya yang selalu bersikap dingin dan jutek.

Mampukah Alya membuat pria jutek itu berubah sikap dan bisa menerimanya dengan baik?

Atau mungkin dia putuskan untuk meninggalkan pria yang tidak pernah menganggapnya sebagai pasangan?

Cover: free licence, freepik.com

Edit : sampul buku written by Ika Dw.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Pria Menyebalkan

"Bagaimana kalau malam ini kita jalan-jalan dan makan malam di luar? Kita udah lama nggak pernah santai bareng makan di luar."

Tawaran Tarisa langsung ditolak oleh Rivaldo. "Buat apa makan di luar sih Ma. Mendingan di rumah aja."

Tarisa menyipitkan tatapannya pada sang putra. Cukup lama mereka tidak ngumpul bersama, ingin sekali Tarisa bisa bersenang-senang menikmati indahnya malam di luar sembari mencari makan. Apalagi sekarang sudah ada Alya. Ia pikir dengan mengajak Alya bersenang-senang di luar, membuat hubungannya semakin dekat.

"Kenapa Do? Emangnya kami salah mengajak kalian menikmati suasana di luar. Kita ini sudah cukup lama nggak pernah berkumpul loh, masa iya kamu nggak ada niatan untuk mengajak orang tuamu jalan-jalan di luar dan menikmati makanan di pinggiran jalan?"

Tarisa menyedekapkan tangannya dengan memberikan tatapan kecewa pada sang anak. Dia curiga Rivaldo juga tidak pernah mengajak Alya menikmati udara segar di luar dan lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaannya. " Atau jangan-jangan selama kalian menikah, kamu belum pernah mengajak istrimu keluar juga?"

"Ya bukan begitu ma. Nggak masalah kalau kita jalan-jalan di luar, tapi alangkah baiknya kalau kita makan di rumah saja. Kalau di rumah kan lebih higienis, lebih terjaga kualitasnya. Kurasa makanan di luar tidak terlalu bagus buat kesehatan, cara mencucinya juga kurang bersih. Aku khawatir saja, setelah makan di luar Papa langsung sakit seperti dulu. Bukannya Papa ini rentan sakit oleh makanan yang tidak higienis?"

Tarisa terdiam. Ia teringat jika suaminya suka sakit setelah menikmati makanan di luar. Pria paruh baya itu lebih suka makanan  yang lebih higienis dimasak dengan hati-hati. Setiap kali menghabiskan waktu di luar, pulang-pulang selalu saja sakit perut.

Tapi alasannya ingin mengajak keluar bukan hanya untuk makan tapi ingin membuat Alya senang dan nyaman saat bersamanya, agar Alya sendiri tidak canggung saat diajak bicara, dan terlebih lagi dia tidak ingin dianggap mertua yang kurang baik dan tidak bisa memberikan perhatian buat menantunya.

"Ya, jadi kamu nggak mau ngajak kami keluar? Terus sampai kapan kamu bisa bahagiakan orang tuamu? Di saat pernikahan kalian, setelah selesai ijab qobul kami langsung pulang karena banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Dan sekarang, di saat kami ingin menghabiskan waktu bersama dengan kalian, kamu malah menolak untuk diajak ke luar. Apakah salah, jika kami ingin menghabiskan waktu bersama dengan kalian di luar rumah?"

Beni mendekati Tarisa dengan mengusap punggungnya. Ia tahu apa yang tengah dipikirkan oleh istrinya. Istrinya kekeh ingin mengajak keluar karena hanya ingin membuat menantunya nyaman saat berkumpul dengannya.

"Ma! Tenanglah. Kita akan tetap makan malam di luar bersama-sama kok. Memang Papa lebih menyukai masakan rumahan dari pada membeli di luar, tapi nggak ada salahnya kalau kita makan di luar bersama, untuk menyenangkan hati Mama dan juga Alya. Bukan begitu Alya?"

Alya menjawabnya dengan anggukan, kedua mertuanya sangat respek dan mengerti apa yang tengah diinginkan. Berada di rumah terus ia merasa jenuh. Selama menikah ia bahkan tidak pernah keluar pagar halaman hanya untuk melihat situasi di luar. Rivaldo juga tidak pernah mengajaknya makan di luar.

'Semoga saja dia luluh dan mau mengikuti apa yang diinginkan oleh orang tuanya. Masa iya dia selalu mengurungku di dalam rumah, sedangkan dia sendiri keluar masuk rumah dengan bebas. Di saat orang tuanya ingin mengajakku keluar dia malah terlihat tidak suka. Dasar pria menyebalkan.' Alya membatin dengan meliriknya.

Beni langsung memberikan teguran pada Rivaldo agar dia tidak keras kepala dan mau menuruti apa yang diinginkan oleh ibunya.

"Aldo! Kamu turuti ya, keinginan Mama? Kami bahkan sangat jangan jarang sekali berkumpul bersama denganmu. Tidak ada salahnya kamu memberikan kebahagiaan kecil pada Mama kamu selama dia menginap di sini. Papa rasa ini juga momen terindah bersama dengan Alya. Kebiasakanlah dirimu untuk selalu memberikan rasa nyaman pada istrimu dengan mengajaknya keluar. Kalau dia kamu kurung di dalam rumah terus, yang ada dia akan bosan dan stres."

"Iya Pa. Bukannya aku tidak mau mengajaknya keluar, tapi kan aku sendiri juga sangat sibuk dengan pekerjaanku. Aku bahkan jarang sekali istirahat. Walaupun aku tidak pergi ke kantor, aku selalu sibuk, karena bukan hanya satu perusahaan saja yang aku tangani. Aku tidak selalu bergantung pada asistenku saja," bantah Rivaldo.

"Iya, Papa mengerti dan Papa juga paham kamu itu sangat sibuk, tapi nggak ada salahnya kalau kamu juga meluangkan waktu buat nyenengin istri kamu, apalagi Mama kamu juga ada di sini dan dia ingin mengajak kalian bersenang-senang di luar."

Tidak mau berdebat dengan orang tuanya, ia pun memutuskan untuk mengalah dan terpaksa setuju dengan permintaan orang tuanya.

"Oke, baiklah. Aku akan turuti kalian untuk jalan-jalan dan makan malam di luar, tapi jangan terlalu sering-sering ya? Bukannya aku pelit tidak ingin membuat orang tuaku senang saat bersamaku, tapi aku hanya memikirkan kesehatan kalian, maksud aku Papa kan agak rentan dengan makanan-makanan yang dijual di luar. Aku hanya tidak ingin Papa sakit lagi setelah makan di luar.

"Iya. Papa janji akan lebih berhati-hati untuk tidak salah pilih makanan. Mumpung kita berkumpul di sini, nggak ada salahnya kalau kita bersantai di luar."

Akhirnya Beni berhasil membujuk putranya untuk diajaknya keluar. Ia tahu Rivaldo dan Alya belum bisa menerima satu sama lain, dan ia ingin sekali mempererat hubungan mereka. Rivaldo mungkin bisa bersikap baik terhadap Alya, tapi ia curiga di antara mereka masih belum memiliki perasaan.

"Ya udah yang, lebih baik kamu bersiap-siap untuk keluar. Aku juga akan selesaikan pekerjaanku dulu, setelah itu kita bisa keluar."

Rivaldo langsung melenggang pergi meninggalkan mereka bertiga di kamar tamu di mana kedua paruh baya itu tinggal. Tarisa bertepuk senang saat berhasil membuat anaknya luluh dan mau mengikuti apa yang menjadi kemauannya.

"Yah, akhirnya aku berhasil mengerjai anak itu. Dia nggak boleh terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan mengabaikan kamu, Alya. Kamu juga nggak boleh terlalu diam saat dia mengabaikanmu. Emangnya kamu nggak merasa jenuh berada di dalam rumah terus setiap hari. Mama sama Papa ini sudah sangat hafal dengan sikap dia, dari dulu memang gitu selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan dan hampir tidak ada waktu untuk berkumpul dengan keluarga."

Alya hanya menanggapinya dengan senyuman. Dia tidak berani mengadu pada mertuanya tentang apa yang selalu terjadi padanya jika hanya berdua saja dengan suaminya.

"Kalau sama-sama dingin seperti ini, apa jadinya dengan rumah tangga kalian kelak? Mama sangat yakin di antara kalian sama-sama belum bisa memahami perasaan kalian satu sama lain. Melihat kecanggunganmu, Mama yakin kamu belum sepenuhnya bisa menerima Rivaldo dengan baik, begitupun juga dengan Rivaldo sendiri, agaknya dia masih terlalu dingin sikapnya terhadapmu. Benarkah seperti itu Alya?"

1
Nur Hayati
Buruk
Nur Hayati
isinya bagus,tp keduanya jutek
Ika Dw
oke👍
Gabutz
lanjuut
muna aprilia
lnjutt
muna aprilia
lnjut
weny aptini
semangat Alya.. /Kiss/
Ika Dw: haha ... makasih kak, 🤭😊 🥰
total 1 replies
Ika Dw
thank you ☺️☺️
Ika Dw
thanks kak🙏🤗
Ika Dw
haha .. bener 😁
zahraky
Pedofil lebih tepat nya 😂😂
zahraky
Anjaaayyy… applause 👏 buat loee
zahraky
Deggg…bar bar jg loe alya🤭😆..gue suka gaya loe 💃🏻💃🏻
Ika Dw
tunggu sebentar kak, masih diketik 🙏🤗
Mustafik
lanjutannya mana tor
Isma Hany
episode nya gantung,gak ada sambungan nya
Yuno
Cerita ini keren banget, susah move on!
Ika Dw: terimakasih sudah mampir kak, selamat membaca🙏🤗
total 1 replies
Stefhany Anhai Rivera Maco
Karakter keren! 😍
Ika Dw: terimakasih sudah mampir kak, selamat membaca🙏🤗
total 1 replies
Ika Dw
Bab Awal sudah panas dingin, bagaimana kedepannya ya?? jadi penasaran, jangan takut sama suami galakmu Alya!! /Bye-Bye/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!