belum di revisi
Tolong baca nya jangan di lompat!
SEKUEL SAYEMBARA JODOH
kisah anak-anak Dira dan Juna.
"Sampai sekarang aku masih mencintaimu, Bun."
"Kakak jangan gila! Aku ini calon adik iparmu!"
"Apa kamu mencintai Angkasa?" tanya Fajar.
Embun pun menjawab sambil membuang muka. "Ya. Aku mencintainya! Puas?"
Embun tidak pernah menyangka dipertemukan kembali dengan Fajar--seseorang yang datang dari masa lalu. Lelaki yang sangat mendambakan dirinya. Akan tetapi, Embun harus meninggalkan Fajar sebab begitu banyak tekanan yang dia hadapi. Tembok mereka cukup tinggi.
Saat ini Embun sudah bersama dengan pria lain. Pria yang memiliki kedekatan cukup erat dengan Fajar, yang menjadi pilihan ayahnya.
Lalu, bagaimana dengan Fajar? Cinta yang dia simpan rapat-rapat kini kembali bergejolak setelah pertemuannya. Akankah dia menyimpan cinta itu untuk selamanya? Atau justru berjuang untuk mendapatkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Bramantyo
Siang ini di Lembang
Suasana di kediaman Johan Bramantyo terasa lenggang. Rumah yang dulu kecil dan sederhana kini sudah seperti istana. Besar dan megah, itu hasil perjuangan putra dan putrinya mengembangkan usaha keluarga.
Salma memandang takjub rumah yang beberapa bulan lalu di renovasi menantunya. Walaupun Juna juga banyak andil. Akan tapi bagi Salma ide besar berasal dari Tio, menantunya dan juga Devano sang cucu.
Di usia nya sudah memasuki kepala tujuh, Salma sudah banyak mengurangi aktivitas duniawi. Menyadari jika ajal bisa kapan saja menjemput. Sementara dia pun masih belum memiliki bekal yang banyak untuk akhirat. Wajahnya sudah basah. Bukan basah karena tangisan melainkan sudah dia basuh untuk sholat.
Salma memasuki kamarnya. Kamar besar yang harusnya bisa di tempati lebih dari dua orang. Tapi sekarang dia lebih sering berdua sama seorang gadis muda. Langkahnya tertatih mendekati sang gadis yang tertidur pulas. Tadi gadis itu pulang dari acara, entah acara apa Salma enggan ikut campur. Selama itu masih bersifat positif.
Salma baru saja selesai sholat Zhuhur. Dia duduk di samping ranjangnya. Gadis muda seumuran cucunya masih berbaring sambil mengerutkan dahinya. Salma pun mengurutkan siku jemari gadis itu.
"Lika, kamu kenapa?" tanya Salma.
"Aku hanya kurang sehat Oma. Mungkin di bawa istirahat sebentar pasti sembuh." kata Lika.
Lika pun menarik nafas dalam-dalam. Lalu menceritakan sikap Angkasa kepada-nya.
"Tadi diantar Kasa naik motor. Dia ngebut banget, sampai aku mabuk efek motornya kencang. Oma tahu apa yang di lakukan si Kasa. Aku di tinggalkan di pinggir jalan. Untung aku punya ongkos." adu Alika.
"Maafkan cucu, Oma, ya. Dia memang begitu sama cewek. Maklum Kasa itu bungsu, biasa di manja." Oma Salma mencoba menenangkan cucu angkatnya.
"Tidak apa-apa, Oma. Dah kebal aku sama Kasa. Beda banget sama kak Fajar. Nah kalau sama Vano masih lebih baik sedikit dari Angkasa." cerocos Lika.
Dia Alika, cucu dari Mak Wiwit, perempuan yang mengasuh Arjuna dan Ayu sejak kecil. Mak Wiwit sempat pamit pulang ke Kalimantan untuk membawa anak dan menantunya. Mak Wiwit pun pulang ke Lembang membawa Alika yang masih usia bulanan, karena kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat.
Usia Alika Empat tahun di bawah Mentari. Tua sepuluh bulan dari Angkasa.
Tentu Mak Wiwit di kasih fasilitas yang memadai demi menunjang pertumbuhan Alika. Bahkan Ayu memberikan ASI untuk Alika. Jatuhnya Alika sudah jadi anak sepersusuan Ayu. Makanya Alika tinggal bersama Oma Salma setelah Mak Wiwit meninggal dunia.
Alika sekarang sudah bekerja di pabrik makanan kemasan masih di kota Bandung. Terkadang dia seminggu sekali pulang ke Lembang. Tadi dia ada undangan pertemuan dengan temannya. Diantar sama Angkasa. Kalau dulu dia pulang sekolah satu jemputan dengan Angkasa.
Pendengaran Salma berpusat pada suara motor yang sangat keras. Dia menebak cucu bungsunya sudah pulang.
"Kamu istirahat saja, Lika. Oma mau ke depan dulu." pamit Salma.
Salma mendapatkan Kasa masuk ke rumah tanpa melepaskan sepatunya. Wanita paruh baya itu makin menggelengkan kepalanya saat Kasa membuka kulkas memeriksa menu yang ada.
"Itu ada bubur sumsum di dalam kulkas." seru Oma Salma.
"Iya, Oma." sahut Kasa dari kejauhan. Kasa pun langsung membuka kulkas mencari makanan yang di sebut Oma nya.
"Mama dan papa mu plus dua kakakmu mau pulang. Kamu sudah meminta orang membersihkan rumah, Kasa?" Salma sudah berdiri tidak jauh dari cucunya.
Kasa mendesah panjang. Dia tahu pasti papanya selalu menomorsatukan soal Aak nya, yaitu Fajar. Bukan iri, tapi dia juga butuh sosok yang memotivasi dirinya. Dan itu dia dapatkan dari Tio dan Tante Ayu, bukan dari papanya. Okelah Fajar, Tari dan mamanya tidak pernah melupakan dirinya. Tapi papanya selalu membanggakan Aak nya.
"Kak Vano yang urusin soal itu." sahutnya lagi. "By the way si Lika sudah pulang, Oma." tanya Kasa.
"Kak Lika, Kasa. Nggak sopan manggil nama saja. Dia itu lebih tua dari kamu." tegur Oma Salma.
"Iya, maaf, Oma. Tapi kan dia cuma tua satu tahun dari aku, eh bukannya dia tua cuma kelangan bulan" jawab Kasa sambut tatapan dari Oma nya.
"Kak Lika sudah pulang Oma?" Kasa meralat ucapannya.
"Sudah, itu lagi di kamar. Dia mabuk darat karena motor kamu. Kamu itu ya, kalau bawa perempuan jangan suka kebut-kebutan. Kan kasihan sampai mabuk darat."
Manja, baru juga naik motor, udah pakai alasan mabuk.
"Maaf, Oma. Habis dia juga yang terus paksa aku supaya cepat. Giliran aku bawa cepat dia malah alasan mabuk. Jangan-jangan dia mabuk lain, Oma." adu Kasa.
Bukan aduan cerita bualan untuk membela diri. Faktanya memang tadi Alika sangat cerewet. Kasa yang kesal akhirnya menurunkan gadis itu di sekitar Maribaya.
" Hush, jadi kamu mau ambil kuliah di Jakarta, Kasa." tanya Oma Salma. Wanita paruh baya mengucapkan terimakasih saat Kasa menyerahkan secangkir air jeruk peras.
"Iya, Oma." jawab Kasa sambil meneguk jus orange instan.
"Tari bakal kerja di perusahaan Oma kamu di Jakarta. Sekarang kamu juga bakal menetap di sana. Rumah bakal sepi." Salma duduk di kursi ruang tamu sembari memandang luar.
"Kan ada kak Vano, ada kak Salsabila, ada si Alika, eh kak Alika. Aak juga bakal balik ke sini bantu papa." kata Kasa.
Salma hanya tersenyum kecil. Cucu bungsunya sebentar akan melepaskan masa SMA nya. Dulu Dira pernah ingin mensterilkan kandungan. Di rasa cukup Fajar dan Mentari saja. Tapi Juna melarang karena ingin punya anak banyak. Dan empat tahun kemudian lahirlah Angkasa Bramantyo. Semua cucu lelakinya memakai nama Bramantyo. Karena itu nama belakang Opa mereka.
Dari Salsa, Fajar, Vano, Tari dan Angkasa. Mereka punya karakter yang berbeda-beda. Salsa yang keibuan karena sudah berumah tangga dan punya anak. Fajar yang kalem dan tegas sama seperti Arjuna. Bahkan wajar Fajar menyerupai sang ayah di kala muda. Tari yang cuek serta rada tomboy, Vano dan Angkasa mereka setipe, makanya sejak kecil mereka sangat dekat.
Terimakasih author buat cerita kerennya 😍😍 Walau masi penasaran sama ending kisah Darren dan Reva, juga jodohnya Lintang 😁