Selamat membaca ...!
Navian Narendra Devandra seorang pengusaha sukses di bidang property, kehidupannya begitu sempurna, dia memiliki seorang istri yang cantik jelita seorang model papan atas, tetapi semua itu berakhir begitu saja, ketika istrinya Vianna Dewi memutuskan bercerai setelah melahirkan anaknya karena tidak ingin karirnya hancur karena tubuhnya menjadi jelek.
Dalam kekalutan, Navian dipaksa untuk menikah lagi dengan adik dari mantan istrinya yang bernama Tiara Dewi Violina, demi anaknya yang baru lahir tujuh bulan.
Apakah pernikahan mereka akan berujung cinta, atau malah kebencian yang akan terbangun?
Saksikan kisahnya hanya di sini, jika membaca tinggalkan jejak ya ges 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
This is just fiction.
••••••••••••••••••••••••••
Dari lantai dua Tiara menyaksikan perbincangan Navian dengan Ridzwan, keduanya seperti tengah tenggelam pada obrolan yang mengasyikkan membuat Tiara mengendur, kedua tangan yang menggenggam pembatas lantai dua itu mengerat, dengan raut wajah yang mencelus.
"Ih ... Kenapa Kak Navian masih ada di situ, bukannya pulang, kayak gak punya rumah aja, malah keasyikan di situ, dan lagian Papa kenapa ngajak Kak Navian buat ngobrol sih," keluh Tiara melelehkan lututnya ke bawah, lantas dia terduduk di sana dengan kedua tangan yang masih menetap di pembatas lantai rumahnya.
Wajahnya terbenam di antara pembatas lantai itu, dia menyoroti punggung Navian di bawah, gagah dan memukau, hanya itu yang dia pikirkan, ketampanan Navian sungguh menghipnotisnya walau hanya memandangi punggung lelaki itu.
Tangan yang menggantung di atas ikut meluruh ke bawah dan tergeletak begitu saja di atas pahanya yang mulus, kebetulan gadis itu tengah mengenakan celana pendek di atas lutut berwarna merah muda yang dia padukan dengan kaos polos berwarna putih berlengan panjang sampai melahap tangannya dengan utuh.
Sedangkan rambut panjang lurusnya dia gerai dalam keadaan setengah kering, karena memang dia baru saja mencuci rambutnya, Tiara selalu rutin mencuci rambutnya setiap hari, terkadang pula dua hari sekali, tergantung mood-nya yang baik.
Kak Navian ... Pulang cepat sana, syuh ....
Batin Tiara bergumam dengan penuh harapan seraya dia meniup ruang hampa di depannya.
Salah satu asisten rumah tangga rumah itu memandangi Tiara dengan heran, mengapa majikannya ada di bawah seperti itu, hal tersebut adalah larangan keras bagi keluarga Alexander Viozeta, gegas wanita paruh baya itu berlari mendekati Tiara sembari membawa keranjang pakaian yang telah selesai disetrika.
"Non kenapa duduk di bawah, ayo berdiri," tegur asisten rumah tangga tersebut meletakkan keranjang yang dia bawa ke bawah.
Lantas wanita paruh baya itu berlutut dan meraih tangan Tiara dan menariknya untuk berdiri bersamanya, gadis itu menoleh lemah ke hadapan seorang asisten rumah tangga yang selalu membantunya dalam keadaan apapun.
Saat Tiara dikurung di gudang gelap tanpa pencahayaan sedikit pun dalam keadaan pintu terkunci rapat oleh Viara karena nilainya lebih tinggi dari Vianna saat mereka menduduki bangku sekolah menengah pertama, asisten rumah tangga yang bernama Iis ini yang menyelamatkan Tiara dari dalam sana.
"Bi ... Kapan Kak Navian pulang? Aku lapar, mau makan," rengek Tiara memeluk Iis.
Iis sendiri sudah terbiasa dengan perlakuan Tiara padanya, gadis cantik itu selalu memeluk bahkan menciuminya kala meminta makan atau meminta bantuannya, Tiara tidak memiliki siapapun untuk bersandar dan Iis yang selalu menjadi sandarannya.
Wanita paruh baya itu telah bekerja lebih dari umur Tiara saat ini, sekitar 24 tahun, Iis juga merupakan satu-satunya asisten rumah tangga yang masih bekerja dari sejak orangtua Tiara ada sampai kedua orangtua Tiara tiada.
Itulah mengapa dia sangat menyayangi Tiara seperti dia menyayangi putra-putrinya di kampung, Iis mengelus wajah majikannya dengan lembut, dia tersenyum lebar penuh kasih sayang.
"Non mau makan apa? Nanti Bibi bawa makanannya ke dalam kamar," tanya Iis memastikan keinginan majikannya.
Tiara menegakkan tubuhnya sembari memeluk dirinya sendiri, bola matanya berputar mencari sesuatu yang dia inginkan, dia bergerak ke belakang sampai dia tida menyadari ada keranjang pakaiannya, sehingga dia terpental ke belakang dan terjatuh masuk ke dalam keranjang itu.
"Aaaw ...," pekik Tiara meringis di dalam keranjang tersebut.
Sontak saja Iis terkesiap dengan kejadian itu, dia berlari ke dekat Tiara dan membantu majikan mudanya untuk kembali terbangun. "Ah Non, maaf ... Bibi ceroboh menyimpan keranjang itu di sana," ucap Iis merasa bersalah.
"Gak apa-apa Bi, Tiara yang ceroboh," jawab Tiara menyeka bokongnya, menoleh ke arah keranjang itu tergeletak.
Akibat dirinya terjatuh ke dalam sana, semua pakaian yang sudah tertata rapi itu kembali sedikit kusut dan hal itu membuat Tiara semakin merasa bersalah karena kecerobohannya. Wajahnya mengendur pada rasa bersalah yang lebih dalam lagi.
"Maaf Bi ... Tiara minta maaf ya, pekerjaan Bibi jadi berantakan," ucap Tiara dengan wajah yang memelas, perlahan kedua tangannya terjulur ingin mengambil keranjang yang sudah ada dalam genggaman Iis. "Biar Tiara yang rapikan lagi Bi, Tiara bisa kok nyetrika, kan mama Viara pernah menyuruh Tiara mengerjakan ini," pinta Tiara.
Gegas Iis mengendur ke belakang. "Jangan non Tiara, jangan ... Bibi dibayar untuk mengerjakan pekerjaan ini semua, non Tiara tidak boleh melakukan apapun di rumah ini," tepis Iis. "Non itu seorang majikan di rumah ini, mana ada majikan mengerjakan pekerjaan asisten rumah tangga, dan lagian dulu itu nyonya Viara dan non Vianna itu jahat menyuruh non mengerjakan kerjaan rumah sampai tangan non luka-luka."
Jiwa Iis kembali mengeras kala dia mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, Tiara kecil diperintah untuk menyetrika dan mengerjakan kerjaan rumah, di rumahnya sendiri sementara Ridzwan telah membayar banyak asisten rumah tangga untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Tangan gadis cantik itu terluka karena terkena sengatan setrikaan panas, kedua tangannya memerah dan melepuh, ada sebuah kejadian yang membuat Iis tak ingin mengingatnya lagi, tepat diumur 16 tahun Tiara mendapatkan perlakuan buruk dari Viara, tangan mulus Tiara disetrika oleh Viara tanpa rasa bersalah.
Iis berlari dan mendorong Viara tanpa segan, hatinya teriris mendengar ringisan dari anak gadis yang baru saja mengenyam pendidikan SMA, dia melempar setrikaan itu sampai hancur berkeping-keping.
Tiba-tiba saja bola mata Iis mengembun, mengingat kejadian itu membuat hatinya tergores perih, dia pasati kedua tangan Tiara yang kini telah baik-baik saja, untung saja saat itu Iis tidak memedulikan cacian Viara padanya ataupun ancaman yang tak bertuan, dia membawa Tiara ke rumah sakit dan bisa menyelamatkan majikannya dari maut atau membuat tangan mungil nan cantik itu jadi rusak.
"Non ingat ya, non itu majikan di rumah ini, non tidak boleh mengerjakan kerjaan rumah, Papa non telah membayar lima asisten rumah tangga untuk mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini, sayangi diri non, jangan membuat tangan ataupun hati non lagi," pesan Iis, tetesan beningnya berderai,
Melihat Iis yang sudah dia anggap sebagai keluarganya menangis, Tiara tentu saja lebih deras membanjiri pipinya dengan tetesan bening yang hangat, dia mendekati Iis dan menyeka air mata yang terlanjur membasahi wajah wanita paruh baya itu.
"Bibi jangan nangis, Tiara baik-baik aja, selama Bibi dan Papa ada, Tiara baik-baik aja," urai Tiara tak bisa menghentikan tangisannya.
Tangisan Tiara lepas, dia merengek di hadapan Iis. Tentu saja hal itu terdengar jelas di telinga Ridzwan dan Navian yang masih berbincang di bawah. Mendengar tangisan Tiara yang pilu, hati Ridzwan bergetar, ingatan buruknya kembali menguasai diri lelaki berumur 45 tahun itu.
"Tiara ...." Ridzwan panik, dia bergerak dan mengayuh langkahnya dengan kecepatan yang tak dia rencanakan.
Navian yang bergeming di sana pun ikut berlari dan terantuk pada kepanikan yang Ridzwan gambarkan di bola matanya, keduanya tiba di lantai dua dan mendapati Tiara yang tengah menyeka wajahnya dari tetesan bening yang keluar dari bola matanya.
Sementara Iis baru saja keluar dari kamar Tiara, sepertinya wanita itu telah menyimpan keranjang tadi, dia bergerak ke dekat Tiara, dan segera melihat Navian dan Ridzwan di depan, gegas dia menundukkan kepalanya sebagai bentuk sapaan sopan pada kedua lelaki di depan.
"Sayang kamu kenapa nangis," tanya Ridzwan panik menyusut langkahnya ke dekat Tiara, dia peluk wajah sang putri dengan lembut seraya dia menyeka sisa air mata yang berjatuhan di pipi tirus Tiara.
Tiara menggeleng dengan bingkai senyuman indahnya. "Enggak apa-apa Pa, tadi Tiara yang salah jatuh ke keranjang yang Bibi bawa, terus pekerjaan Bi Iis jadi berantakan lagi," jelas Tiara melebarkan senyumannya.
"Oh syukurlah, Papa kira kamu kenapa." Ridzwan lega, memeluk Tiara dengan lembut.
Dia elus rambut sang putri dan menjatuhkan kecupan kecil di atas pangkal kepala Tiara, sesekali dia mengelus punggung kecil Tiara. Ridzwan sangat ketakutan jika terjadi suatu hal buruk pada putri bungsunya ini.
"Tidak apa-apa sayang, itu bukan kesalahan fatal, kamu udah minta maaf kan Nak," bujuk Ridzwan menenangkan Tiara.
Jika tidak demikian Tiara akan menangis sampai hatinya lega dari rasa bersalah, jiwa Tiara tersakiti sehingga gadis itu selalu tenggelam pada perasaan yang mencengkeram jiwanya dalam hal apapun, itu semua terjadi karena perlakuan buruk Viara dan Vianna yang berkesinambungan.
"Euum ...," gumam Tiara menganggukkan kepalanya, dia tertadah memasati sang papa dengan untaian senyuman manis. "Tiara lapar Pa, mau makan dulu," ucap Tiara seraya dia menoleh ke arah Iis.
"Ya udah sana ke dapur, Iis cepat buatkan anak saya makanan," titahnya menatapi Iis di belakang Tiara.
"Baik Tuan, saya akan segera mengerjakannya," sahut Iis di belakang.
Langkahnya bergerak ke dekat Tiara dan merangkul majikan kecilnya itu, menyeretnya dengan lembut berjalan bersamanya, melewati Navian yang bergeming merasa heran dengan tingkah Ridzwan,
Kenapa Papa Ridzwan begitu panik mendengar tangisan Tiara?
Ini seperti Vianna yang anak angkat, bukan Tiara, perlakuannya sungguh di luar nalar.
Dari rumah, perusahaan bahkan perlakuannya sungguh aneh, jika Tiara anak angkat, kenapa Papa Ridzwan begitu menyayanginya, bahkan kasih sayangnya lebih besar pada Tiara dibanding pada Vianna.
Batin Navian meraba-raba pemikirannya.
"Syukurlah, aku kira Tiara kenapa, bikin kaget aja," cetus Ridzwan mengarah pada Navian.
"Ada apa pa? Kenapa Papa begitu panik mendengar Tiara menangis?" tanya Navian menunggu jawaban pasti dari Ridzwan.
Ridzwan menatapi Navian dengan penuh harapan, Navian di mata Ridzwan adalah pria baik yang tentunya akan memperlakukan Tiara dengan baik, walau hati Navian saat ini untuk Vianna, Ridzwan percaya Navian adalah pria yang baik dan tidak akan menyakiti Tiara.
"Tiara memiliki banyak masa lalu buruk yang penyebabnya adalah Papa, jadi Papa hanya takut Tiara kenapa-kenapa, Nav ... Kamu harus tahu jika Tiara memiliki banyak hal yang dia takuti dan itu akan mengganggu mentalnya," jawab Ridzwan menatapi Navian dengan penuh keseriusan.
...See you next part....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mampir juga di karyaku yaa
yuk mampir juga di karyaku
"Mencintaimu dalam DIAM"
Jangan lupa like, komen dan subscribe