Hai guys ini karya baruku, jika ingin tahu awal mula kisahnya silahkan baca dulu judul sebelumnya...
👉 Harga diri yang terjual
👉 Liontin (petaka cinta Cantika)
Nggak baca juga ngga apa-apa , senyamannya Readers ku saja.
Next...
Aku seorang dokter, wajahku tampan ala Oppa Oppa Korea. Aku memang seperti anak mami. Kulitku putih bersih rajin perawatan.
Tapi jangan sepelekan aku. Selain ahli mengobati aku juga pandai mematahkan tulang jika kalian mengusikku.
Mau coba...
Hargai karyaku dengan ⭐5, like, vote, and gift. Jangan lupa komen.
Salam damai dari Author 👊✌
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn malini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kunci
Beberapa hari berlalu begitu saja. Aryo dan Edward belum memberikan informasi apapun setelah pertemuan waktu itu. Julian harus kembali bekerja. Sementara Sahara sedang menikmati hari-harinya sebagai Nyonya Muda Prana.
Siang ini Julian pulang lebih cepat. Sejak pertemuannya dengan Aryo hatinya tidak pernah tenang. Julian ingin mencari tahu lebih banyak tentang keluarga istrinya. Segala hal tentang orang tua Sahara yang mungkin bisa memecahkan teka-teki ini.
Sementara itu Sahara tengah duduk santai di balkon kamarnya. Di tangannya ada sebuah buku tentang kehamilan.Tapi buku itu hanya dibiarkan terbuka tanpa dibaca. Sahara hanya menatap kosong ke depan.
Tanpa ia sadari sepasang mata mengawasinya dari belakang. Sepasang mata itu menatap lama punggung Sahara yang ditutupi oleh rambut hitam legam yang tergerai. Suara langkah terdengar mendekati Sahara. Namun wanita itu tetap tidak terusik sedikitpun.
Hingga suara berat menyapa pendengarannya." Kenapa melamun, hhmm...!?" Kecupan kecil mendarat di pipi mulus Sahara, membuat wanita itu terperanjat.
" Kamu...! Kaget aku!" Ucap Sahara sambil mendekap buku itu ke dadanya.
" Makanya jangan melamun, Yang. Lagi memikirkan apa?" Julian duduk di sisi Sahara, meraih buku yang masih Sahara dekap lalu meletakkannya di meja kecil di sisinya yang lain
" Kangen Ayah dan Bunda.Sudah lama tidak ke makam mereka. Mau ke sana juga takut, Shafir dan Vania pasti sudah mengawasi tempat itu." Terdengar suara desahan putus asa dari bibir mungil Sahara.
Julian merangkul Sahara, menariknya pelan dan memeluknya dengan penuh sayang." Bersabarlah, semua ini pasti berlalu. Aku akan berusaha agar semua selesai dengan cepat."
" Aku takut...?" Sahara mendongakkan kepalanya menatap kedua mata Julian ." Mereka bukan orang-orang yang mudah untuk dihadapi. Aku takut mereka mencelakai kamu." Tatapan mata sendu Sahara membuat Julian terpana.
" Jangan khawatir...aku tidak sendirian. Ada Edward dan Aryo yang tidak perlu diragukan lagi kemampuannya. Kamu hanya perlu menunggu dengan tenang, agar bayi kita tumbuh dengan baik." Julian merapikan helaian rambut Sahara yang menutupi dahinya.
" Aku terlalu menyusahkan mu.Tanpa sengaja aku telah menyeret mu ke ruang gelap hidupku, Yang." Sahara merasa sangat bersalah pada Julian yang membantunya berkali-kali dan kini pria tampan ini malah menikahi nya, memberikan perlindungan untuk Sahara.
" Jangan berkata begitu, Ara. Aku yang memilih menyertaimu. Menghadapi semua ini denganmu bukanlah suatu kebetulan, Ara. Aku yakin kamu adalah wanita yang telah ditakdirkan untukku. Jangan menyesali apapun, karena sekarang kalian adalah duniaku." Kecupan hangat berlabuh di kening dan juga perut Sahara.
Tatapan keduanya saling bertaut. Berlahan kecupan itu berpindah ke hidung , dan pipi Sahara. Tidak ada penolakan, Sahara seperti tersihir oleh ucapan dan tatapan Julian.
Julian tidak menyia-nyiakan kesempatan, bibir Sahara telah menggodanya sedari tadi. Julian meraihnya hanya dengan sekali gerakan. Bukan sekedar kecupan, Julian menjajah dan memuaskan keinginannya.
Tanpa penolakan ataupun balasan. Sahara membiarkan Julian mengambil haknya. Sahara hanya memejamkan mata menikmati rasanya. Julian seperti mendapatkan angin segar. Sentuhan awal yang tidak buru-buru namun Julian mampu menguasai wajah hingga leher Sahara.
Tiba-tiba Julian berhenti dengan napas yang memburu, menahan gejolak dalam dirinya sendiri. "Ara...bolehkah ? Aku menginginkan mu!" Julian menatap sayu .Ada rasa yang membuncah yang sulit ia kendalikan.
Sahara terdiam mencerna ucapan Julian , hingga beberapa saat kemudian sebuah anggukan samar tapi jelas terlihat oleh Julian. Meskipun Julian suami dadakannya, kewajiban tetap harus ditunaikan. Apalagi ketulusan Julian telah lama mengikat hati Sahara.
Tanpa menunggu lama Julian membopong Sahara ke peraduan mereka. Julian menunaikan tugasnya dengan baik ,ia melakukannya dengan lembut dan hati-hati. Tidak hanya memuaskan dirinya saja ,Julian juga memberikan Sahara kesempatan menikmatinya.
Julian seorang Dokter, ia tahu cara agar Sahara dan bayinya tidak tersakiti. Apalagi kandungan Sahara sudah memasuki semester ke dua. Sahara juga merasa membutuhkan Julian. Entah itu pengaruh kehamilan atau mungkin karena Sahara telah mencintai suaminya itu.
Setelah sekian banyaknya peristiwa, akhirnya mereka menyatu secara sah sebagai pasangan suami istri.
***
" Ara...apa ada yang sakit? " Keduanya masih berada di ranjang dengan posisi Julian memeluk Sahara dari belakang.
" Tidak ada." Jawab Sahara singkat. Rasa lelah bercampur malu Sahara rasakan saat ini.
" Kenapa kamu diam saja sejak tadi." Julian mengecup pucuk kepala Sahara sambil menghirup aroma khas dari Sahara.
" Tidak kenapa-kenapa, hanya capek." Jawab Sahara lagi.
" Maaf , aku tidak bisa menahan diri." Julian mengeratkan pelukannya.
" Tidak apa-apa, aku istrimu kan? Jangan lagi menahan diri." Sahara tidak tahu jika di belakangnya Julian tersenyum bahagia.
" Baiklah Istriku, kamu tidak aman sekarang !" Tangan Julian yang mulai bergerilya di tubuhnya segera Sahara hentikan.
" Hari ini cukup, aku capek." Rengekan Sahara membuat tawa Julian pecah karena telah berhasil menjahili istrinya.
" Aku tidak serakus itu ,Ara ku sayang. Aku masih tahu batasan." Julian merasa tiada puasnya memeluk Sahara. Baginya bisa sedekat ini dengan Sahara adalah kebahagiaan terbesarnya. Keinginan seperti ini sering hadir dalam mimpinya sejak pertama kali menyentuh Sahara di hutan itu.
Sahara tak kalah bahagianya.Bisa menikah dengan Julian saja masih terasa mimpi baginya. Sesuatu yang tidak berani ia harapkan dulu bahkan dalam hayalan.
Pria tampan , mapan , konglomerat, baik hati , dan perhatian. Dulu saat pertama kali bertemu waktu masih bekerja dengan Cantika, Sahara bahkan tak sanggup menatap Julian. Ia selalu menunduk atau mengalihkan pandangannya. Pria yang jauh dari jangkauannya kini malah berada satu ranjang dengannya secara halal.
" Ara... ceritakan tentang dirimu. Tentang Ayah ,Bunda dan keluarga yang lain." Tanya Julian hati-hati." Wajahmu unik terlihat kalau kamu bukan asli Indonesia. Apa kamu memiliki darah Arab atau Timur Tengah?" Selidik Julian.
" Ayah asli India, sementara Bunda campuran Arab Sunda." Tebakan Julian benar. " Tapi Bunda tidak punya keluarga, beliau hidup sebatang kara yang besar di panti asuhan sebelum bertemu Ayah. Ada kabar angin mengatakan kalau Bunda anak luar nikah yang tidak diakui makanya dibuang. Tapi Bunda tidak tahu kabar itu benar atau tidak."
" Bunda tidak mencari tahu?" Tanya Julian penasaran.
" Menurut Bunda jika ia diinginkan pasti ada keluarga yang mencarinya. Nyatanya seumur hidup Bunda hingga kini tidak ada yang mencari Bunda." Lanjut Sahara.
" Bagaimana dengan Ayah?" Tanya Julian lagi yang kini mulai merasa kalau pangkal masalahnya berkemungkinan dari ayahnya Sahara
" Ayah itu Pedagang kain dari India yang jatuh cinta pada Bunda pada pandang pertama. Saat itu Bunda belanja di toko milik Ayah. Sayangnya toko itu sudah tidak ada, Shafir telah menjualnya. Satu-satunya usaha yang Ayah tinggalkan untuk kami berdua. Termasuk rumah kenangan yang Ayah Bunda wariskan untukku." Suara Sahara melemah bertanda ia sedang sedih.
Julian membalikkan tubuh Sahara agar menghadap padanya." Jangan sedih, sekarang kamu adalah pemilik rumah ini." Ucap Julian menghibur Sahara.
" Banyak kenangan di rumah itu ,Yang. " Helaan napas Sahara terasa berat.
" Iya ...itu pasti. Kalian besar di sana bukan? " Sahara mengangguk kan kepalanya." Sabar ya !?" Dalam hati Julian merencanakan sesuatu.
" Sahara...maaf, bagaimana mereka meninggal? " Tanya Julian hati-hati.
"Tidak tahu pasti, yang aku tahu mobil yang mereka kendarai terbakar. Ada yang bilang kecelakaan tunggal, tapi ada yang bilang mobil itu meledak sebelum terbakar." Julian memeluk Sahara erat sambil mengusap-usap punggung Sahara yang tanpa penutup.
" Maaf kalau aku membuatmu sedih."
"Aku tidak apa-apa, sudah lama berlalu. Aku sudah lama merelakan mereka." Jawab Sahara sambil tersenyum datar.
" Bagaimana dengan keluarga Ayah?" Julian terus menyelidiki Sahara tanpa menimbulkan kecurigaan.
" Saat Ayah Bunda dimakamkan ada beberapa orang yang datang mengaku keluarga Ayah. Tapi mereka sangat aneh." Sahara mencoba mengingat wajah-wajah yang pernah datang ke rumahnya dulu .
" Aneh...?? Kenapa memangnya?" Tanya Julian mulai waspada.
"Mereka selalu menanyakan sesuatu yang kami tidak mengerti. Kata mereka Ayah membawa sebuah kunci yang sangat penting bagi keluarga mereka. Tapi kami tidak pernah melihat kunci yang mereka maksudkan." Sahara berhenti sejenak.
"Mereka juga memaksa masuk ke kamar Ayah Bunda dan menggeledahnya. Tapi mereka tidak menemukan apa-apa. Sejak itu mereka tidak pernah datang lagi."
" Kunci ...? Memangnya kunci apa hingga mereka begitu menginginkannya?" Julian telah mendapatkan clue, Edward dan Aryo harus segera diberitahu.
" Entahlah, aku juga tidak tahu." Jawab Sahara mendesah lelah.
" Ngomong- ngomong ini tato apa, Ara??"
...****************...