NovelToon NovelToon
Lepaskan, Jika Tak Lagi Sayang

Lepaskan, Jika Tak Lagi Sayang

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Keluarga & Kasih Sayang / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:301.2k
Nilai: 5
Nama Author: De Shandivara

Hanya sebatas cerita perjalanan hidup yang mungkin pernah dialami oleh sebagian orang.

Aku yang merasa hidupku dipermainkan oleh takdir dan hanya menjadi boneka kehidupan dari skenario Tuhan, terasa setelah pernikahan.

Belum sempurna rasa cinta ini tumbuh untuknya, kini kuketahui jika ada wanita lain di kehidupannya. Jika kami—aku dan wanita itu—disandingkan, kuakui jika aku kalah segala-galanya. Seharusnya mudah baginya untuk memilih siapa wanita yang pantas di sisinya.

Perceraian yang sejak awal aku minta, tidak pernah dikabulkan olehnya entah karena alasan apa. Yang ada hanya kesakitan lahir dan batin yang kurasakan.

Lalu, apakah alasan dibalik penolakannya itu? Sedangkan yang kutahu dia tidak pernah mencintaiku karena dia tidak pernah mengatakan cinta padaku.

Ikuti kisahnya sampai akhir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Shandivara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Plan A

Bercerai, jika itu keputusan final-nya, maka itu artinya aku harus siap dengan segala konsekuensinya. Mulai dari harus mandiri mencari uang sendiri, status janda yang aku kantongi, serta rentetan pertanyaan dari saudara dan tetangga yang harus aku hadapi.

Rencanaku yang pertama: aku harus mendapatkan pekerjaan untuk menyambung hidupku tanpa bergantung pada uang suami.

Hari ini matahari bersinar terik di waktu sepagi ini saat anak-anak berseragam merah putih masih berlarian berangkat ke sekolah. Entah, aku yang tidak pernah merasakan sengatan mentari pagi yang terik seperti ini sebelumnya atau bagaimana, tapi cuaca pagi ini terlalu panas daripada cuaca cerah yang biasa digambarkan kala pagi hari.

Keringatku bercucuran, menyusuri tepian jalan raya dengan membawa stopmap merah untuk melamar pekerjaan yang sekiranya membutuhkan orang lulusan SMA.

Optimistis adalah jalan ninjaku. Walau begitu, aku cukup tahu diri. Bukan perusahaan besar yang aku datangi, melainkan kedai kopi kecil atau mini market atau toko kelontong butik atau sembako yang sekiranya mau menampung diriku untuk menyumbangkan tenaga demi mengais sedikit rupiah.

Lebih dari dua kilo meter kaki ini telah berjalan menyusuri tepian jalan raya. Beberapa tempat aku datangi untuk sekadar bertanya, "apakah di sini sedang membutuhkan karyawan?"

Tidak ada jawaban lain selain, "tidak ada" atau gelengan kepala dari mereka. Ya, setidaknya aku telah mencoba ke beberapa tempat seperti salon kecantikan, apotek, toko baju, toko sembako, toko sendal, pabrik garmen, pabrik plastik, restoran, rumah makan padang, sampai warteg. Semua sedang tidak membutuhkan pekerja tambahan.

Sandal jepit yang kupakai sepertinya sudah aus di bagian bawahnya karena telah menemaniku berjalan cukup jauh. Jangan tanyakan kondisi kakiku yang sudah buluk dan kusam karena hamparan debu yang menerpa. Semakin jauh melangkah, semakin aku khawatir jika sandal jepit ini akan putus di tengah jalan; memalukan.

Pret!

Benar, kan? Akhirnya kejadian juga. Sandal yang kugadang-gadang supaya tidak terputus sekarang, malah putus. Sandal itu tertinggal di belakangku dengan kakiku yang sudah melangkah di depan. Tanpa sadar jika alas kaki telah terlepas, baru terasa saat telapak kaki mulai terasa panas menyentuh jalan raya beraspal. Dasar sandal menyebalkan, buat malu saja!

Sayangnya, ini bukan tipe sandal jepit biasa merk swallow yang bisa dilepas pasang pengaitnya di bagian bawah. Ini sendal yang disol bawah dan bagian penjepitnya berada di tengah yang ditempel menggunakan lem.

Mau tidak mau, aku harus melepas keduanya. Itu lebih baik daripada hanya menggunakan sebelah saja.

Tot.. tot.. tot..

Suara klaskon mobil di belakangku mengejutkanku. Tanpa menoleh ke belakang, aku langsung meminggirkan diri, lebih menepi dari jalan raya.

Tot.. tot..

"Kenapa? Siapa, sih? Aku sudah minggir jauh," ucapku. Kali ini aku menoleh.

Suara klakson itu rupanya bersumber dari sebuah taksi; berikutnya terparkir di depanku. Menampilkan seorang pengemudi yang turun dari taksi itu. Seorang pria yang menggunakan topi biru tua–seperti pernah kulihat sebelumnya, tapi lupa.

"Daisya? Kamu kah itu?" Ujar pria itu bertanya.

Kupandangi dia dari atas sampai bawah, seorang pria yang berpenampilan rapi, rambut yang terlihat mengkilap dan klimis, wajah yang bersih–apa aku mengenalnya?

Menatapnya yang sedang memperhatikan balik penampilanku dari atas sampai bawah membuatku tersadar bahwa yang patut dipandang seperti itu adalah aku. Lalu, mataku beralih padaku sendiri yang meneliti detil penampilanku yang sudah menyerupai ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) yang gelandangan berjalan di tepian jalan raya tanpa rasa malu. Inilah dampak stres berkepanjangan karena tidak kunjung mendapat pekerjaan.

"Kamu Daisya, bukan?" Tanya dia sekali lagi.

Dengan ragu, aku mengangguk. Detik berikutnya dia meraih pergelangan tangan kiriku yang sedang mencangking sepasang sandal yang tadi terputus–satu. Dia membawaku menuju taksi itu, membukakan pintunya, lalu...

"Masuk!" Ucapnya memerintahku.

Kakiku berdenyut. Bukan karena takut, tetapi sakit karena berjalan cepat mengikuti gerak langkahnya, sedangkan aku yang tanpa akas kaki menginjak kerikil yang tersebar di sana.

Dengan meringis, aku yang masih was-was dan hendak menolak perintahnya malah bertanya, "Tapi, aku siapa?"

Bodohnya! Sebenarnya yang ingin aku katakan begini bunyinya, "tapi, aku tidak mau dan kamu itu siapa?"

Melihat tingkahku yang konyol, di sudut bibir pria itu tersungging senyuman kecil yang pasti dia sedang menertawakanku. Dan pastilah dia beranggapan jika aku adalah orang gila. Ya Tuhan, aku memang sudah gila.

Lama saling diam di dalam mobil, aku tidak bisa berkata-kata atau memulai sebuah perbincangan. Alhasil, aku hanya menunduk diam seraya memainkan jemariku yang saling bergumal di atas pangkuan.

"Kamu tidak ingat saya?"

Pertanyaan itu membuatku menoleh sesaat. "Tidak, maaf. Sebenarnya, Anda siapa?" Tanyaku dengan takut-takut, takut jika dia berniat jahat padaku.

"Saya yang pernah ada di hidupmu selama 6 tahun lamanya sampai kamu lulus SMA, lalu pergi tanpa kabar. Kamu mengingatnya?" Ujar pria itu.

"Ternyata, beberaps hari lalu aku berhasil menemukannu dalam kondisi kacau seperti itu. Kamu yang kabur dari rumah suamimu dan pulang ke orang tuamu. Itu bukan urusan saya, urusan saya adalah kenapa kamu tega meninggalkan saya, Sya," tambah pria itu.

Sekarang aku mengingat jelas supir taksi yang kemarin mengantarku pulang ke rumah orang tuaku dan dialah orang yang sama.

Tunggu, aku mengingat betul siapa pemilik kalimat itu. Hubungan selama 6 tahun? Benarkah dia muncul kembali? Namun, apakah dugaanku ini betul?

"Kak Andra?" Ucapku lirih takut salah orang.

Lantas, pria itu membuka topinya dan menolehkan lehernya, lalu menatapku beberapa detik. Dia berhasil membuat air mataku terjun bebas tanpa aba-aba.

"Saya mencarimu sekian lama, Sya. Kemana saja kamu selama ini?"

Tidak bisa lagi terbendung lagi, berharap dia tidak melihat setetes air mata yang mengalir dari pelupuk mata ini. Kubuang wajahku ke samping dan menatap keluar jendela dengan mengerjapkan mata berulang kali supaya tidak ada lagi air mata yang keluar dari kelopaknya.

"Sudah cukup kamu pergi dariku, Sya. Ini terlalu jauh," ujarnya.

"Tidakah kamu tahu, bagaimana caraku untuk menemukanmu. Kamu masuk lubang semut pun akan aku cari sampai ketemu. Karena hubungan kita belum selesai di masa lalu," ujar Kak Andra.

"Sekarang keadaanya berbeda, Kak. Aku memang suka kabur-kaburan, sampai aku terlupa bagaimana caranya kembali pulang dan menghadapi semuanya." Namun, suara itu hanya tercekat di tenggorokan tanpa bisa kulontarkan.

Rencana awal berharap menemukan pekerjaan. Akan tetapi yang kutemukan malah bukan pekerjaan, melainkan ketemu sang mantan.

Bersambung...

1
Lienda nasution
tetap aja gak baik kalau ada kdrt di dalam kelg
Wisteria
ruet seng noles ruet
Lienda nasution
bosan bacanya masalahnya itu itu saja kok ya ada wanita jaman sekarang kok kdrt bisa berulang ulang
Lienda nasution
bodoh kalau sdh kdrt tinggalkan saja kalau masih ttap bertahan sama dgn menyerahkan diri utk dibunuh pelan pelan
ilyas Baihaqi
Luar biasa
Marcel Alan Junio
cuma 1 kata untukmu daisya, bego, bego, bego
Evy
Daiysa egois banget ya... tidak apa2 jika sesekali anaknya nginap dirumah nenek dan kakek kandung nya.apalagi anaknya itu keturunan satu2nya...
Susi Yanti
bagaimana dgn Andra dong ?
Haeriyah
cerita nya seperti puisi
Astrid Gita
klo b*gonya terus²an jd males nerusin ini sih
Astrid Gita
lah wanita kok bodoh. padahal miskin bukan alasan menjadikan wanita jd bodoh.
Elma Hilma
👍
Iyah Comel
🥰🥰🥰🥰🥰
Iyah Comel
Bagus banget ceritanya😍🥰
hello shandi: Terima kasih, kak. Berhasil bikin nangis nggak? Berapa kali?
total 1 replies
Iyah Comel
sifat suka berprasangka buruknya di berubah dari masih SM almarhum suaminya sampai menikah lgi
Iyah Comel
habis nangis terbitlah ngakak pas baca "Bunda bertelur".
Iyah Comel
ada rasa kurang puas dengan ending ceritanya😭🥺
Noni Noni
makin heran ku..
Sulis Styaningsih
klo Menurut ku danisa wajar sj bersikap begitu terhadap clianta toh selama ini clianta TDK terlantar,danisa pnh tanggung jawab mengurus dgn baik..mantan mertuanya TDK berhak memaksakan kehendak..
Nur Siti
inilah ibu mertua bijak..tidak mau menambah masalah .dan ...tidak.mau menyalahkan..salah sstunya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!