Seorang gadis desa yang di jerumuskan oleh ayah tirinya sampai harus bekerja di rumah bordill. Camelia, 16 tahun benar-benar merasa muak bekerja di rumah bordill itu, dia merasa dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan pada gadis muda yang bekerja di sana karena paksaan seperti dirinya. Camelia ingin merubah aturan kehidupan di desa Muara itu. Dia tidak ingin lagi melihat ada wanita yang nasibnya sama dengannya. Dia ingin menutup semua rumah bordill di desa itu, bahkan di desa-desa yang lain. Meski tidak mudah, tapi Camelia tidak akan pernah menyerah sampai nafas terakhirnya untuk mengangkat derajat kaum wanita di desanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Camelia duduk di atas pangkuan seorang pria bule yang sudah melepaskan semua atasan yang dia pakai.
"Tuan, lebih suka langsung atau pemanasan dulu?" tanya Camelia dengan sikap genitnya.
"Kamu berani sekali bertanya begitu? aku dengar kamu kembang paling populer di sini ya? berapa biasanya kamu menghasilkan uang dalam semalam?" tanya pria itu.
"Tuan bertanya begitu, apa tuan akan memberikan lebih banyak untukku? setahuku kami tidak akan di bayar bukan? karena tugas kami hanya membuat tuan puas, supaya mau membantu tuan Cokrodima, benar kan tuan?" tanya Camelia yang bicara sambil menjelajahi sekitar belakang telinga dan leher pria bertubuh tinggi, berkulit putih dan bermata biru itu.
"Tidak heran kamu yang terbaik di sini, kamu pintar juga. Tapi kadang terlalu pintar juga tidak bagus bagi seorang wanita" kata pria itu.
"Aku bahkan tidak sekolah tuan, aku hanya banyak belajar dari pengalaman. Tuan Cokrodima itu sangat kaya, dia juga sudah puluhan tahun jadi kepala desa, itu benar-benar luar biasa. Dia benar-benar pekerja keras, dia benar-benar hebat..."
Camelia tidak berhenti memuji Cokrodima, naluri seorang pria, tentu tidak akan senang kalau ada wanita yang akan menyenangkan, memuaskan dirinya membicarakan pria lain apalagi memujinya seperti itu kan.
"Kenapa terus memuji pria tua itu, apa kamu pikir kalau tidak ada kami di belakangnya dia bisa menjadi kepala desa dengan waktu yang lama seperti itu, di tempat lain, di negara lain bahkan sudah menggunakan voting untuk pemilihan kepala desa, di negaramu ini, bukankah ada pemilu? apa kamu tidak pernah dengar hal itu?" tanya pria itu tampak tidak senang Camelia terus memuji Cokrodima di depannya.
"Benarkah? tapi selama ini tidak ada hal seperti itu di desa muara ini?" tanya Camelia.
"Itu karena tidak ada yang berani mencalonkan diri. Ada 500 suara untuk calon lain, kandidat lain, kalian bisa mengajukan diri menjadi kepala desa, itu hanya 10 persen dari penduduk desa muara bukan? selanjutnya kandidat lain itu bisa kampanye, dan mengadakan sosialisasi tentang visi dan misi mereka. Tapi untuk itu setidaknya juga butuh dana jutaan" kata pria itu menjelaskan.
Camelia mencerna dengan baik, dia mulai sangat tertarik dengan jabatan kepala desa itu. Camelia pikir, dengan menjadi kepala desa, dia tidak hanya akan bisa menutup lentera malam, tapi juga semua rumah bordill di desa muara ini.
Tujuan Camelia saat ini tidak hanya ingin menutup lentera malam dan menjatuhkan Gandara. Dia ingin mengalahkan Cokrodima dalam pemilihan kepala desa kurang dari satu tahun lagi ini.
Saat Camelia sedang memikirkan apa yang menjadi tujuan barunya itu. Pria itu sudah menurunkan kain dari sutra halus berwarna merah yang Camelia pakai.
"Sedang memikirkan cara memuaskan aku?" tanya pria itu mulai mengangkat tubuh Camelia yang sudah polos ke atas tempat tidur.
"Tuan bisa membaca pikiran rupanya" kata Camelia menggigit bibir bawah pria itu.
"Kamu benar-benar nakal, aku akan pastikan kamu kesulitan berjalan setelah ini" kata pria itu yang langsung menerkam Camelia bak singa kelaparan.
Mulutnya yang lebar itu meraup pucuk dada Camelia dan beberapa kali menggigit di sana. Camelia terus mendesis menahan sakit, tapi dia tidak boleh protes. Dia ingin pria itu senang dan puas dengannya, supaya dia bisa bertanya lebih banyak lagi tentang bagaimana caranya bisa mencalonkan diri menjadi seorang kepala desa.
Malam hari tiba, lentera malam di tutup malam ini. Itu membuat Jeky sangat kecewa, meskipun dia ingin membayar dua kali lipat dari biasanya. Tapi anak buah Gandara tidak mengijinkan dia masuk, karena Camelia masih melayani tuan Peter.
Dan pada akhirnya Jeky harus pulang dengan rasa kecewanya.
Yang lain sudah banyak yang keluar dari kamar, tapi tuan Peter masih belum keluar dari kamar Camelia.
Seorang pria dengan perut buncit, keluar dari kamar salah satu kembang sambil membenarkan ikat pinggangnya.
"Tuan Cokro, lain kali berikan wanita tuan Peter itu padaku. Wanita yang kamu sediakan untukku, dia sudah lemas hanya aku pakai setengah jam" kata Pria yang usianya bahkan lebih tua dari Cokrodima itu.
'Tidak tahu malu, dia hanya seorang sekertaris rendahan di kantor gubernur. Berani sekali dia minta bertukar wanita dengan tuan Peter yang merupakan pemilik yayasan dan pabrik rokok yan karyawannya akan selalu memilihku saat pemilihan kepala desa, jangan mimpi kamu tuan Popo' batin Cokrodima.
Meski dalam hatinya kesal dan menghina tuan Popo seperti itu. Tapi Cokrodima tetap tersenyum dan terlihat sangat menghargai permintaan pria itu.
Hani di dalam kamarnya, baru saja terbangun. Beberapa saat yang lalu dia bahkan sudah pingsan, karena seorang pria bule yang berbadan besar terus menggempurnya dan tak memberinya jeda.
Dan begitu dia berusaha untuk bangun karena ingin buang air kecil. Hani merasakan perih dan sakit yang luar biasa pada miliknya.
"Aduh, sakit sekali. Agkhhh, ini pasti sobek. Para pria itu, kenapa pisang mereka panjang dan besar sekali. Pasti butuh waktu beberapa hari untuk sembuh" keluh Hani yang kesulitan untuk bangun.
Di kamar Laila juga sama, wabita yang usianya sudah lebih dewasa dari Hani dan Camelia itu bahkan tidak kuat meski hanya untuk menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang di tinggalkan oleh tamu yang di bawa Cokrodima dalam keadaan tidak mengenakan sehelai kain pun.
Di kamar lain, para kembang muda bahkan belum sadarkan diri dari pingsan karena begitu lemas akibat ulah para pria yang kebanyakan memang pria asing, maksudnya pria dari negara lain, pria bule.
Camelia masih berendam di dalam baknya dengan tuan Peter.
"Kenapa kamu ingin tahu tentang semua itu?" tanya Peter.
Di atas tubuh Peter, Camelia menggerakkan pinggulnya ke depan dan ke belakang. Gerakan itu membuat kedua buah melon yang menggantung di depan wajah Peter ikut bergerak kesana-kemari, dan itu membuat Peter tidak konsentrasi. Jadi dia hanya bisa menjawab apapun yang di tanyakan oleh Camelia dengan jujur.
"Tidak untuk apapun tuan, aku hanya seorang kembang. Mana mungkin aku punya uang sebanyak itu, lagipula siapa yang akan memilih seorang kembang menjadi kepala desa?" tanya Camelia dengan pinggulnya yang masih terus aktif memuaskan milik tuan Peter.
Mendengar hal itu, Peter hanya tersenyum. Dia pikir apa yang dikatakan Camelia itu benar. Mana mungkin Camelia tertarik mencalonkan diri, dia tidak akan punya uang sebanyak itu.
Tapi Camelia tersenyum melihat tuan Peter yang percaya pada ucapannya.
'Jutaan ya? baiklah aku akan segera kumpulkan semua uang itu. Dengan menjadi kepala desa, tidak hanya lentera malam yang bisa aku tutup. Aku bisa menutup semua rumah bordill di desa ini. Tidak akan ada lagi istri yang mengakhiri hidupnya karena suaminya tergoda oleh kembang rumah bordill, tidak akan ada lagi gadis muda yang masa depannya hancur karena di jual paksa di rumah bordill. Aku akan mengumpulkan uang dan orang-orang untuk membantuku menjadi kepala desa' batin Camelia yang sudah bertekad ingi. mencalonkan diri menjadi kepala desa.
***
Bersambung...
semangaaat camelia aq yakin kamu pasti pemenangnya💪💪💪👍👍👍