NovelToon NovelToon
Kedai Kopi Berondong

Kedai Kopi Berondong

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jibril Ibrahim

Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah pilihan!

Ketika seorang wanita dihadapkan pada dua pilihan, satu pria dewasa yang menolak tua dan satunya lagi pria muda yang sok dewasa…

Mana yang akan dipilih?

"Meskipun tuaan elu, kan belum tentu matinya duluan elu!" kata pria yang lebih muda.

Aku memilih pria yang lebih tua!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Namanya Penyesalan Selalu Datang Di Akhir, Kalau Di Awal Namanya Pendaftaran

Sepanjang hari itu, suasana hatiku benar-benar rusak. Tapi aku memaksa diriku untuk tetap bernyanyi.

Ada tanggung jawab yang harus dipenuhi! kataku pada diri sendiri.

Dimulai dari pukul satu siang sampai pukul lima sore, aku mengamen di pasar tradisional. Menjelang malam, aku berpindah ke pasar kuliner. Dan selama itu aku baru berhasil mengumpulkan dua puluh ribu.

Masih butuh delapan puluh ribu lagi untuk menutupi hutang Nathan pada tetangga sebelahku. Belum lagi uang makanku sendiri.

Sementara itu ruteku juga terbatas mengingat aku harus menghindari wilayah Rere. Jadi sebisa mungkin aku hanya mengambil rute yang cukup jauh dari Kedai Kopi Berondong.

Tapi tampaknya aku salah perhitungan!

Sesaat setelah aku keluar dari salah satu tenda pedagang makanan, Berondong Tengil itu menghadangku di trotoar.

"Jadi ini keperluan yang Kakak maksud?" sindirnya bernada ketus.

Aku mengerjap dan menjilat bibir bawahku, memalingkan sedikit wajahku menghindari tatapan tajamnya.

Ekspresi wajahnya yang serius selalu berhasil membuatku gugup.

Untuk sesaat, aku tak tahu apa yang harus dikatakan. Bagaimana memulainya?

Aku sungguh kalang kabut, tidak mengira akan bertemu Rere di tempat itu.

Jaraknya lumayan jauh dari Kedai Kopi Berondong.

Dan sebelum aku sempat bereaksi, sebelum aku menyadari apa yang terjadi, Rere menyambar pergelangan tanganku dan menyeretku.

Orang banyak mengerling ke arah kami dengan bingung atau terkejut. Mungkin juga kedua-duanya.

Aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkeraman Rere, tapi cengkeraman pemuda tengil itu sekuat tang.

Dia terus menyeretku tanpa bicara sampai ke Kedai Kopi Berondong di bawah tatapan semua orang. Dan aku hanya tergagap-gagap tanpa bisa berbuat apa-apa selain mengikutinya.

Bharap dan Fahmi yang sedang mengisi live akustik di sana menggantikanku, serentak melengak melihat aku diseret ke dalam kedai dan dipaksa naik ke lantai dua.

Abram menoleh dari depan meja pengunjung dengan terkejut.

Para pengunjung menatap kami tak kalah terkejut.

Adegan itu pasti terlihat seperti pertengkaran suami-istri.

Sesampainya di lantai dua, Rere merenggut gitar dari tanganku dan menurunkannya dari bahuku. Kemudian meletakkannya di meja makan. Lalu melipat kedua tangannya di depan dada dan melontarkan tatapan tajam padaku. "Kakak sebenernya cari uang buat apa sampe mati-matian kek gini?" tanyanya bernada kecewa. Seperti orang tua yang sedang memarahi anaknya. "Kakak lagi butuh uang?"

Aku hanya tertunduk dengan ekspresi muram. Bukan urusanmu! batinku pahit.

"Gaji dari gua masih kurang, ya?" tanya Rere bernada sinis.

Aku tetap terdiam dengan mulut terkatup.

"Kakak butuh uang berapa?" desak Rere. "Bilang sama gua!"

Aku tertunduk semakin dalam.

"Jangan lupa, lu terikat kontrak di sini!" cerocos Rere mulai tak sabar.

"Maafin gua," desisku parau. Kedua mataku mulai berkaca-kaca. Perkataan terakhirnya menamparku, menusuk telak di relung hatiku.

Rere berbalik cepat-cepat kemudian menghilang ke dalam kamarnya.

Tak lama kemudian, dia kembali lagi dan meletakkan amplop di meja, tepat di depan mataku.

Aku mengerjap dan menelan ludah, kemudian melirik amplop itu sekilas. Lalu menatap Rere dengan mata terpicing.

"Ini bayaran lu bulan ini," katanya dengan raut wajah serius. "Gak peduli siapa yang ngisi, gak peduli lu nyanyi apa nggak, gua mau lu stay di sini!" ia menegaskan.

Aku kembali tertunduk.

Rere ikut tertunduk. Raut wajahnya terlihat prihatin. Ia mendesah pelan dan mendekat padaku. Kemudian merunduk mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Bang Jo bilang… Kakak diusir dari kost-an," katanya sangat berhati-hati. "Padahal beberapa hari sebelumnya Kakak pinjem uang buat bayar sewa kamar."

Jo cerita sama dia? pikirku getir. Tidak mengira Jo akan mengungkit hal ini di belakangku.

"Sebenernya uangnya dipake buat apa sih, Kak?" tanya Rere bernada interogasi.

Aku kembali bungkam. Tercekat oleh kesedihan. Disergap rasa bersalah.

"Bang Jo bilang ini bukan soal uang!" ia menambahkan. "Tapi soal perubahan Kakak akhir-akhir ini. Katanya belakangan ini Kakak gak jadi diri Kakak!"

Itu benar! kataku dalam hati. Tapi aku masih tak tahu harus menjawab apa.

Rere mendesah sekali lagi, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Gua tau gua gak ada hak mencampuri masalah pribadi," katanya. "Tapi gua gak bisa gak peduli. Kakak tau siapa Nathanael?"

Aku mengerjap dan menatap Rere dengan dahi berkerut-kerut.

Nathanael?

Rere mengakses sesuatu di layar ponselnya, kemudian menyodorkan ponselnya padaku, memperlihatkan postingan di media sosial.

Judul besar pada postingan itu berbunyi: WASPADA PENIPUAN!

Gambar Nathan terlampir pada postingan itu lengkap dengan data identitas dan himbauan bagi siapa saja yang menemukannya untuk menghubungi nomor yang tertera pada postingan.

Profil pengirim seorang wanita. Dibagikan ulang sebanyak seratus kali lebih.

Finance!

Aku mengulang-ulang kata itu dalam benakku hingga kehilangan makna.

Kata-kata Nathan terngiang di telingaku.

"Finance!"

"Kamu tau bank keliling?"

"Yah! Kamu tau, kan? Banyak orang pinjem, terus kabur! Dan aku harus nombokin sana-sini. Gali lobang tutup lobang! Keliling setiap hari dari pagi sampe tengah malem, tapi masih gak cukup buat nutupin semuanya. Uangnya gak bisa muter!"

Bank keliling! batinku getir.

Keliling setiap hari dari pagi sampai tengah malam…

Tiba-tiba saja semuanya terasa masuk akal.

Banyak orang pinjam uang dan kabur.

Dia adalah salah satunya!

Seketika lututku terasa goyah. Ponsel Rere bergetar di tanganku. Tidak—bukan ponselnya. Tapi tanganku!

Rere menarik salah satu bangku dan menarikku untuk duduk.

Aku menurunkan ponsel itu ke meja, kemudian menjatuhkan kepalaku juga, menyusupkan wajahku di antara lipatan tanganku.

Untuk kedua kalinya hari itu aku menangis tersedu-sedu hingga tak bisa berbuat apa-apa.

Rere menarik bangku untuk dirinya sendiri, kemudian duduk menghadap ke arahku sambil membungkuk mencondongkan tubuhnya. Ia meletakkan telapak tangannya di bahuku dengan hati-hati, mencoba menenangkanku. "Maafin gua karena harus nunjukin ini," katanya bernada prihatin.

Lu gak salah, Re! kataku dalam hati. Tapi terlambat!

Rere mengusap-usap bahuku tanpa bicara lagi. Kehabisan kata-kata.

Dia tertegun dalam waktu yang lama, sementara aku terus menangis.

Hingga Abram memanggilnya dan ia terpaksa turun untuk melanjutkan pekerjaannya, aku masih menangis sampai ia kembali lagi.

Sampai kedai kopi itu akhirnya tutup!

Tak lama setelah itu, aku mendengar Bharap dan Fahmi naik ke lantai dua, kemudian turun dan naik lagi.

Aku mendengar suara-suara berkeresak, berdebuk dan berkeriut selama mereka mondar-mandir.

Aku akhirnya mengangkat wajah dan menyeka air mataku. Lalu mengedar pandang untuk melihat apa yang mereka lakukan.

Ternyata mereka mengangkut barang-barangku!

"Ini—" aku tergagap-gagap sambil menatap barang-barangku dengan syok.

Bersamaan dengan itu, Rere muncul di puncak tangga sambil menenteng dua kantong plastik yang aku yakin berisi pakaian kotor dan peralatan mandiku.

"Re—" aku beranjak berdiri dan kembali tergagap-gagap.

"Barang-barang Kakak dikeluar-keluarin dari kamar sama Ibu Kost!" Rere memberitahu.

"Tapi—"

"Untuk sementara, Kakak tidur di kamar gua aja dulu," pungkasnya memotong perkataanku. "Gua tidur di kamar Abam!"

"Tapi—"

"Besok gua cariin tempat baru!" tukasnya, lagi-lagi memotong perkataanku.

Tapi… dari mana dia tahu semua ini? Aku bertanya-tanya dalam hatiku.

1
Vlink Bataragunadi 👑
ih makasih ya thor, ceritanya simple,sangat membumi tp tetap menarik ♡
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Makasih apresiasinya, Kak!
total 1 replies
Vlink Bataragunadi 👑
tuh kaaan sudah kudugong....
Vlink Bataragunadi 👑
ih baik2 ya orang nyaaa, jadi terharu....
Vlink Bataragunadi 👑
astagaaaaaa edaaaan si Nathaaan bangkeeeeeeee
Vlink Bataragunadi 👑
aduh Galang lu ditipu habis2an kah?
Vlink Bataragunadi 👑
what?!!! dih! bangun Galatia lo cm dimanfaatin doaang eleeh
Vlink Bataragunadi 👑
laaah jangan2 di cuma numpang makan doang >_<
Vlink Bataragunadi 👑
wkwkwk sa ae lu knalpot Damri
Vlink Bataragunadi 👑
makjlebbbbb ≧∇≦
Vlink Bataragunadi 👑
lg musim ama brondong skrg mah wkwkwk
Vlink Bataragunadi 👑
nah loooo,,, cemburu tuh
Vlink Bataragunadi 👑
awas perangkap syaiton, galang ^o^
Vlink Bataragunadi 👑
kurang apaaa coba dia Galatiaaa ♡(∩o∩)♡
Vlink Bataragunadi 👑
acie cieeee ni berondong meresahkaaan wkwkwwk
Vlink Bataragunadi 👑
kynya ini Rere deh...
ArlettaByanca
simple....tp asiik
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: makasih apresiasinya, Kak!
total 1 replies
kiri_kanan
ceritanya seru cm sayang kependekan😁😁
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Terima kasih atas apresiasinya, Kak!
total 1 replies
NA_SaRi
Ji, gw pen baca ini, tp blm sempat🤧
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
CERITANYA BAGUS,, SAYANG PART NYA PENDEK, BUAT TU RERE NIKAH DGN GALATIA, DN BUAT SI NATHAN DITANGKAP .
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Makasih, Kak... apresiasinya.
Waktu ongoing, novel ini gak ada yang baca. Jadi gak semangat nulisnya... 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!