Viona tidak pernah ingin jika pernikahannya hancur. Walaupun dia menikah bukan karena cinta, tetapi Viona sudah berjanji pada diri sendiri untuk menikah hanya sekali seumur hidup. Tentu banyak perjuangan, cobaan, dan air mata yang harus Viona hadapi.
Meluluhkan hati suaminya begitu sulit, bahkan setelah berjuang pun, perjuangannya itu masih tidak di hargai. Rey sang suami, masih menganggap Viona wanita perusak hubungannya dengan Laura. Karena pernikahan mereka membuat Rey tak bisa menikah dengan Laura yang sudah lama menjadi kekasihnya.
Akankah Viona bertahan disisi suaminya dan mempertahankan rumah tangganya? Atau memilih pergi untuk meraih kebahagiaannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.19
Viona masih enggan untuk berhenti dari pekerjaannya. Walaupun sebelumnya dia mendapatkan perlakuan tidak baik dari rekan kerjanya. Niat Viona itu baik, dia hanya ingin bekerja di sela-sela waktu senggangnya. Lagian dengan bekerja mampu membuat hari-harinya bisa melupakan Rey.
Viona baru saja sampai di kantor. Dia datang di antar oleh Alan. Tentu ada beberapa karyawan yang melihat kedatangan mereka. Alan bukan lagi lelaki asing di mata mereka. Semua karyawan Dio bahkan tahu kalau Alan itu dokter muda sahabat dari Dio.
"Terima kasih ya karena Kak Alan sudah mengantarku," ucap Viona.
"Sama-sama, Vio. Kalau begitu saya pergi dulu," pamitnya.
"Iya, Kak." Viona masih berdiri di tempatnya hingga sampai mobil Alan tak terlihat lagi di pandangan matanya.
Viona melangkah memasuki kantor. Dia menyapa karyawan yang berpapasan dengannya. Saat hendak memasuki ruang OB, tak sengaja Viona berpapasan dengan Renata.
"Enak banget ya jadi anak baru. Mau libur kerja berapa hari pun masih bisa masuk lagi. Udah gitu nggak mungkin di pecat," sindir Renata.
Viona hanya diam pura-pura tidak mendengar. Dia tidak mau mengurusi sesuatu yang menurutnya tidak penting. Tidak mau bikin pusing dengan apa yang akan di lakukan oleh rekan kerjanya lagi. Karena itu bisa membuat psikisnya kembali terganggu. Viona di minta untuk mengontrol emosi oleh Alan.
Renata melihat Viona berlalu pergi begitu saja tanpa menyahut perkataannya.
"Hei, Lo nggak ndengerin Gue bicara?" Renata terlihat murka karena sudah di cueki oleh Viona.
Viona menoleh ke belakang. "Bicara sama saya?" Viona menunjuk dirinya sendiri.
"Iya lah, memangnya bicara sama siapa lagi? Lama-lama makin ngelunjak ya anak baru." Renata memarahi Viona habis-habisan.
Viona menghela napasnya lalu tersenyum. "Kalau ada masalah pribadi jangan di bawa ke kantor! Marah-marah begitu tanpa sebab ke orang lain, apa itu namanya tidak aneh?"
Renata mengepalkan satu tangannya sambil menatap Viona tajam. Beberapa hari tidak masuk kerja membuat Viona semakin berani kepadanya. Bukan Renata namanya yang rela di tindas seperti itu.
Viona menyimpan tas miliknya di loker penyimpanan barang. Lalu bergegas pergi bekerja. Pagi ini Viona sedang bersemangat melakukan pekerjaan.
"Selamat pagi, Viona. Kamu tidak usah terlalu bersemangat seperti itu. Nanti saya di marahi Pak Dio kalau Pak Dio tahu kamu kecapean," ucap Arya yang kebetulan lewat.
"Pagi juga, Pak Arya. Saya sama sekali tidak merasa capek kok. Pak Arya tenang saja. Nanti saya juga akan istirahat jika saya capek," jawab Viona.
Tanpa mereka sadari, ada yang memfoto bahkan memvideo kebersamaan mereka. Siapa lagi kalau bukan Renata. Setelah mendapatkan hasil yang bagus, Renata berlalu pergi dari sana.
..
..
Menjelang jam makan siang, di kantor kedatangan seorang wanita yang mengamuk. Wanita itu mencari keberadaan Viona. Dia adalah Diana istri dari Arya. Diana mendapat kiriman foto kebersamaan Arya dan Viona dari Renata.
"Viona .... Viona .... "Diana berteriak sambil menatap kanan kirinya.
"Maaf, Bu. Jangan membuat keributan di kantor ini! Atau saya panggil keamanan untuk mengusir ibu,” ucap seorang resepsionis kepada Diana.
"Ibu ibu, enak saja panggil saya ibu. Saya itu masih muda. Cepat panggil karyawan yang bernama Viona!" pintanya.
"Baik," ucap resepsionis itu lalu langsung menghubungi ruangan OB dan meminta Viona untuk segera ke depan.
Tak lama, Viona datang bersama Arya. Karena Arya mempunyai tanggung jawab menjaga Viona di kantor. Itu semua atas permintaan Dio selama Dio tidak ada.
"Owh jadi ini yang namanya Viona." Diana menatap penampilan Viona dari atas sampai bawah. "Cantik sih, tapi sayang pelakor."
"Jaga bicara kamu! Saya bukan pelakor," tegas Viona.
"Dian, ngapain kamu ada disini?" tanya Arya.
"Tentu mau memberikan pelajaran kepada pelakor." Diana mendekati Viona lalu menarik jilbabnya. Hingga jilbab yang di kenakannya itu berantakan.
"Stop, Dian. Viona itu bukan pelakor. Dia itu calon istri Pak Dio. Kamu jangan bersikap seperti itu!" Arya menjauhkan tangan Diana dari Viona.
"Tapi kata Renata, dia ini menggoda kamu, Mas." ucap Diana sambil menunjuk Viona.
"Oh jadi biang masalahnya itu Renata. Baiklah aku panggil Renata dulu. Biar dia yang menjelaskan semuanya. Dia sudah lancang memfitnah calon istri bos dan mengadu domba kita." Arya mengepalkan tangannya. Dia berlalu pergi ke belakang untuk mencari keberadaan Renata.
Arya menarik paksa tangan Renata agar dia ikut dengannya. Kini mereka sudah sampai di depan. Tepatnya di dekat resepsionis.
"Renata, coba kamu jelaskan semuanya! Apa yang kamu katakan kepada istri saya sehingga dia salah paham kepada saya dan Viona," pinta Arya sambil menatap Renata.
'Sial, kenapa nama Gue dibawa-bawa? Jika begini Gue bisa kena masalah,' batin Renata.
"Saya .... " Renata masih enggan menjelaskan. Ada keraguan dalam hatinya.
"Cepat jelaskan!" Arya sedikit membentak.
Akhirnya Renata pun menjawab, "Ya, memang saya sengaja memfitnah Viona. Karena saya tidak suka melihat Viona di kantor ini. Apalagi semua orang memberinya perlakuan khusus."
Plak
Satu tamparan Arya daratkan di pipi Renata. Tentu keberadaan mereka disana menjadi sorotan. Renata malu karena semua orang memperhatikannya sambil berbisik.
"Saya berusaha menjaga Viona agar tetap baik-baik saja. Dan jangan bekerja terlalu capek itu atas permintaan Pak Dio. Karena Viona itu calon istrinya Pak Dio. Tapi kamu, dengan berani memfitnah dia dan mengadu domba kami. Saya akan laporkan ini kepada Pak Dio. Tunggu saja hari pemecatanmu," ucap Arya kepada Renata.
Renata tak menjawab, dia langsung berlari pergi dari sana karena rasa malunya.
Diana meminta maaf kepada Viona karena sudah salah paham. Viona pun kini merasa lega karena dia tahu sumber masalah di kantor itu Renata. Dia juga tidak mau ambil pusing. Biarkan Arya saja yang mengatasinya.
..
..
teruskan usaha kak thor dalam penulisan nya..
moga sukses selalu 😘😘
makasih kak thor buat cerita nya..😘